Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 99


__ADS_3

Ikatan tangan Johan sudah terbuka, pria paruh baya itu ragu-ragu meraih berkas yang berada di hadapannya, mendadak wajah Johan dipenuhi kilatan amarah saat membaca isi berkas itu.


"Apa-apaan ini? Bagaimana bisa ada tanda tangan Thomas disini?" Johan menunjuk surat wasiat palsu itu. Reino dan Erik terkesiap melihat surat yang di tunjukkan oleh Johan.


"Apa yang tidak bisa aku lakukan? Tentu saja aku memalsukannya. Sudah, cepat tanda tangan!" Tomi memerintah Johan.


"Aku tidak mau tanda tangan! Ini ilegal dan melanggar hukum!" Johan mencampakkan berkas itu ke hadapan Tomi, sehingga membuat pria licik itu emosi.


"Tadinya aku ingin main halus, tapi sepertinya kalian tak bisa dilembuti, jadinya aku terpaksa main kasar. Black ... hancurkan jarinya! Untuk apa dia memiliki jari jika tidak dia gunakan dengan baik!" Tomi berteriak memerintah salah satu anak buahnya.


"Apa?" Reino dan Erik memekik panik.


Anak buah Tomi yang bernama Black itu datang dengan membawa sebuah batu besar, dia menarik tangan Johan dan bersiap untuk menghantamkan batu itu ke jari-jari Johan.


"Kau masih tidak mau tanda tangan?" Tomi bertanya.


"Tidak ...!!!" Johan masih tetap pada pendiriannya.


"Paman ..." Reino menatap khawatir kepada Johan. Dan pria paruh baya itu hanya menggeleng.


"Baiklah, lakukan!" Tomi memberi titah.


Buuugghh ...


"Aaarrgghh ..." Johan berteriak menahan sakit saat batu besar itu menghantam jari-jarinya.


"Paman ...!" Reino berteriak tak tega melihat tangan Johan yang sudah berdarah. "Aku mohon, Paman ... tanda tangan saja!"


"Tidak Rein!!" Johan masih bertahan sembari menahan sakit di tangannya.


"Aku nggak akan maafin diri aku sendiri jika terjadi sesuatu dengan Paman, aku mohon tanda tangan saja!" Reino memohon dengan wajah memelas.


"Uluh ... uluh ... manis sekali kalian berdua. Sekarang cepat tanda tangan atau aku hancurkan jari-jarimu?" Tomi mengejek dan mengancam Johan.


"Paman ..." Reino memandang Johan masih dengan wajah memohon.


"Baiklah!" Johan akhirnya pasrah dan menandatangani surat wasiat palsu itu.


Maafkan aku, Thomas.

__ADS_1


Tomi memungut surat wasiat palsu itu dan memerintah anak buahnya untuk kembali mengikat Johan.


"Nah ... gini kan bagus!Aku akan bacakan, surat ini menjelaskan jika adikku mewariskan 50% hartanya untuk istrinya dan 50% lagi untuk putranya, tapi jika putranya meninggal, otomatis seluruh hartanya jadi milik istrinya. Setelah ini aku akan mengirim kalian ke neraka. Bagaimana? Kerenkan?" Tomi menjelaskan isi surat itu kepada Reino dan Erik.


"Kau licik sekali, bangs4t!!" Reino memaki Tomi dengan penuh amarah.


"Makilah aku sepuasnya, sebelum ajal menjemputmu!" Tomi mengejek Reino.


"Aku menyesal terlahir ke dunia sebagai anakmu, aku merasa kotor karena darahmu mengalir di badanku!" Erik berteriak dengan tatapan penuh kebencian.


"Hahaha ... anak bodoh! Dari awal aku sudah mengajakmu bekerja sama, tapi kau lebih memilih melindungi sepupumu ini. Bahkan kau rela menjadi kacungnya bertahun-tahun. Sekarang ku kabulkan keinginanmu agar bisa terus bersama sepupumu ini di neraka. Hahaha ..." Tomi tertawa puas sekali setelah menghina putranya sendiri. Bahkan Liana pun ikut tertawa mengejek Erik dan Reino.


"Black ... bawakan racunnya! Kita akan mulai eksekusinya." Tomi kembali memerintah anak buahnya itu.


"Kau mau apa?" Reino mendadak panik.


"Aku akan menyuntikkan racun ke tubuh kalian, setelah kalian mati, aku akan memasukkan jasad kalian ke dalam mobil dan menerjunkannya ke dasar jurang. Boooommm ... selesai. Hahaha ..." Tomi membeberkan rencana jahatnya sambil tertawa penuh kemenangan.


"Kau benar-benar gila! Psikopat!" Reino kembali memaki Tomi.


"Polisi akan menangkapmu, kau takkan lolos!" Johan menimpali ucapan Reino sambil meringis menahan sakit.


"Hahahaha ... terserah kalian mau bicara apa! Aku tak perduli! Tapi sebelum kau mati, katakan dimana surat wasiat asli itu kau simpan?" Tomi beralih menatap Johan.


"Mau apa lagi kau?"


"Tentu saja memusnahkan surat wasiat sialan itu. Cepat katakan!" Tomi membentak Johan.


"Di apartemenku, di dalam laci meja kerjaku." Ujar Johan.


"Dimana apartemenmu dan berapa kode kuncinya?" Tanya Tomi lagi.


"Di jalan XYZ lantai 5, kode pintu 220690" Jawab Johan pasrah.


"Baiklah akau akan mengutus anak buahku untuk mengambil surat itu dan memusnahkannya. Sekarang suntikkan racun itu ke tubuh mereka!" Tomi kembali memberi perintah.


"Kau benar-benar tidak waras! Kau juga tega mau menghabisi putramu?" Tanya Johan.


"Putra ...? Putra ku sudah mati! Dia hanya anak durhaka yang pembangkang, dia pantas mendapatkan ini." Tomi melirik Erik yang sedang memandang sinis kepadanya.

__ADS_1


"Aku lebih baik mati dari pada harus menjadi putramu! Dari kecil kau selalu menyakitiku dan juga ibuku, sampai akhirnya ibuku sakit dan meninggal. Dan aku memutuskan untuk menyamar menjadi Erik agar bisa melindungi Reino dari manusia licik sepertimu." Erik meluapkan kemarahan dan rasa sakit hatinya. Reino hanya memandangi Erik dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Baiklah, aku sudah bosan mendengarkan kalian berbicara, sekarang saatnya kalian mati. Itu racun arsenic, racun yang sama untuk membunuh adikku. Dalam hitungan menit kalian akan bertemu malaikat pencabut nyawa. Hahaha ..." Tomi berbalik membelakangi ketiga orang itu sambil tertawa puas.


Pengawal Tomi yang membawakan suntikan racun itu segera mendekati Johan dan bersiap untuk menyuntiknya. Reino, Erik dan Johan hanya memejamkan mata pasrah dengan takdir mereka.


Bahkan air mata Reino jatuh menetes saat dia membayangkan wajah Venus dan bayi di dalam kandungannya.


Selamat tinggal sayang, aku mencintaimu.


Buuugghh ...


Tiba-tiba pengawal yang memegang suntikan itu tersungkur ke lantai, semua orang terkejut saat melihat beberapa orang berpakaian hitam datang dari luar gudang dan mengepung mereka.


"Apa aku terlambat?" Vino muncul dari balik punggung salah seorang pria berbadan tegap.


"Kau ...?" Semua orang tersentak kaget.


Tanpa basa basi, perkelahian pun terjadi antara anak buah Vino dan Tomi, keadaan jadi kacau. Dengan kaki yang masih pincang, Vino buru-buru hendak menyelamatkan Reino, Erik dan Johan. Tapi naas, salah seorang anak buah Tomi menerjang Vino dari belakang membuat pria itu jatuh tersungkur sebelum sempat menyelamatkan ketiga orang itu.


Anak buah Tomi itu segera menyeret Vino dan menodongkan pistol ke kepala pria itu.


"Menyerah atau kuledakkan kepala bos kalian!" Teriak anak buah Tomi. Otomatis semua anak buah Vino menyerah karena takut majikan mereka di tembak.


"Hahaha ... si cacat belagak ingin jadi pahlawan rupanya." Tomi melangkah mendekati Vino.


"Kau persis seperti ayahmu yang sok hebat itu! Kalian sama-sama datang menjemput ajal." Ucap Tomi mengejek.


"Apa maksudmu?" Vino mendadak penasaran dengan kata-kata Tomi.


"Ups ... kau belum tahu rupanya? Baiklah, sepertinya aku akan bercerita lagi untukmu." Tomi menyunggingkan senyum dibibirnya.


***


Likenya dong sayang akuh ...💜


Author udah lembur ni buat nulis kelanjutannya ...


Ringankanlah jempol kalian untuk klik like, Biar author semangat ...😁😁

__ADS_1


__ADS_2