Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 13 (S2)


__ADS_3

Setibanya di rumah sakit, Andra buru-buru masuk ke ruangan UGD yang sudah ada Venus disana. Karena Mirna sudah sadar, dokter meminta Venus menemaninya sambil menunggu persetujuan operasi dari Andra.


"Ibu." Andra berlari mendekati Mirna yang masih terbaring lemah dengan selang oksigen di hidungnya, dia menggenggam erat tangan ibunya itu dan mengabaikan Venus yang berdiri di sampingnya.


Mirna hanya memandang Andra dengan tatapan sayu, karena terlalu lemah, wanita paruh baya itu tak menjawab putranya.


Sementara Venus hanya memandang Andra dengan tatapan penuh arti.


"Jadi ini mantan guru BP Vie itu? Tampan dan masih muda ternyata." Gumam Venus dalam hati.


"Hmm ... maaf, sebaiknya kau segera mengurus persetujuan operasi ibumu, karena dia harus segera dioperasi sebelum terlambat." Venus pun membuka suara untuk mengingatkan Andra.


"Apaaaa ...? Ibu akan dioperasi?" Andra yang terkejut spontan menoleh ke arah Venus. Dia mengenal siapa Venus, karena wanita itu beberapa kali nongol di televisi bersama sang suami. Dan dia juga tahu pasti Venus yang membawa ibunya.


"Iya, ada penyempitan di pembuluh darah menuju jantungnya, maka dokter menyarankan untuk operasi pemasangan ring."Venus menjelaskan apa yang dokter katakan kepadanya tadi.


"Ya ... Tuhan ibu!" Andra kembali memandangi Mirna dan masih menggenggam erat tangannya.


"Sebaiknya cepatlah! Biar aku yang menemaninya disini selama kau pergi." Pinta Venus.


"Iya, baiklah! Saya titip ibu ya, nyonya." Andrapun berlari keluar dari ruang UGD.


"Kalau dia sudah sampai disini, lalu kemana Vie?" Venus bingung dan segera meraih ponselnya untuk menghubungi putrinya itu sembari berjalan menjauh dari Mirna.


"Hallo, ma. Ada apa?" Vie.


"Kau dimana?" Tanya Venus.


"Aku baru saja tiba di depan rumah sakit, tadi aku terjebak macet, ma." Vie.


"Ya sudah cepatlah kesini! Mantan gurumu itu sudah datang." Venus segera mematikan panggilan masuknya sebelum Vie menjawab.


Sementara di parkiran, Vie segera turun dan melangkah masuk ke dalam ruang UGD.


"Memangnya kenapa kalau dia sudah datang? Aku tidak perduli! Aku akan ajak mama pulang, biar saja dia mengurus ibunya sendiri! Dasar tidak tahu diri!" Vie menggerutu dengan wajah cemberut. Ternyata gadis itu masih kesal karena sikap kasar Andra.


***


Vie melangkah dengan malas memasuki ruang UGD, dia menjadi salah tingkah karena melihat Mirna sudah bangun.


"Bu Mirna sudah sadar ya?" Vie basa-basi.

__ADS_1


Mirna hanya tersenyum sambil memandangan wajah Vie tanpa menjawabnya, dan gadis itu pun tertunduk tak enak hati mengingat kejadian waktu itu. Dia takut Mirna masih marah kepadanya.


Sebenarnya sebelum Vie dan Andra datang, Venus sudah mengatakan siapa dia serta menjelaskan semuanya, meskipun Mirna tak bertanya, tapi Venus mengerti arti tatapan bingung Mirna saat melihatnya. Dan Mirna berusaha mengucapkan terima kasih walaupun hanya dengan gerakan bibir tanpa suara. Karena agak sesak, Mirna jadi sulit berbicara.


"Kemana dia, ma?" Bisik Vie sambil celingak-celinguk.


"Sedang mengurus persetujuan operasi ibunya." Jawab Venus.


"Ya, sudah ... kalau begitu mari kita pulang, ma! Anaknya kan sudah datang dan bu Mirna juga sudah sadar!" Vie menarik lengan Venus menjauh dari Mirna.


"Eh ... nanti dulu! Mama sudah berjanji akan menemani ibunya sampai dia kembali." Venus menahan Vie.


"Untuk apa repot-repot sih, ma? Kita sudah menolong membawa ibunya kesini, setelah itu biar dia yang mengurus semuanya. Disini juga ada perawat yang bisa menemani bu Mirna, kenapa harus mama?" Vie mengomel kesal dengan suara pelan agar Mirna tidak mendengarnya.


Venus menjadi heran melihat putrinya itu, bukankah tadi dia yang bersemangat menolong Mirna? Mengapa sekarang dia bersikap begini?


"Kau kenapa? Apa yang terjadi?" Venus penasaran.


"Tidak ada apa-apa!" Vie menggeleng.


"Kalau begitu mama titip ibu ini ya. Mama ingin ke toilet sebentar." Venus pun berlalu meninggalkan Vie yang wajahnya semakin masam.


Saat berjalan keluar dari ruang UGD, tak sengaja Venus melihat Andra sedang berbicara dengan seseorang dari pihak rumah sakit dengan tampang memelas, lalu kemudian lekaki itu pergi.


"Maaf, saya mau bertanya. Apa yang dibicarakan kerabat saya tadi?" Tanya Venus dengan sedikit berbohong.


"Dia meminta keringanan biaya operasi ibunya." Jawab seseorang itu.


"Memangnya berapa biaya operasinya?" Tanya Venus lagi.


"Delapan puluh juta."


Venus terdiam sejenak, dia menghela nafas pelan.


"Aku yang akan membayarnya, tapi aku minta lakukan yang terbaik." Ucap Venus dengan tegas.


"Baiklah kalau begitu. Silahkan ikut saya!" Seseorang itu mengajak Venus ke ruangannya.


Sementara itu Andra yang baru masuk ke ruang UGD terkejut melihat keberadaan Vie disana.


"Kau ...? Sedang apa?" Tanya Andra.

__ADS_1


"Main petak umpat!" Jawab Vie ketus.


"Hee ... aku bertanya dengan serius!" Andra menatap tajam ke arah Vie.


"Memangnya aku perduli!" Vie melengos dan beranjak pergi meninggalkan ruang UGD. Mirna hanya memandangi interaksi kedua insan itu.


Andra menghela nafas melihat sikap Vie, dia juga kesal dengan dirinya sendiri karena tak bisa bersikap manis dengan gadis itu. Harusnya dia berterima kasih, bukan malah membuat Vie kesal.


Tidak lama berselang, dokter dan beberapa perawat datang ke ruangan UGD.


"Kita akan mulai operasinya. Mari, bu ... kita bersiap." Pinta seorang dokter dengan senyum ramah.


Mirna yang takut hanya menggenggam erat tangan sang putra.


"Ibu jangan takut! Semua akan baik-baik saja." Ucap Andra untuk menenangkan Mirna.


Para perawatpun membawa Mirna ke ruang operasi, sementara Andra hanya berjalan mengikutinya dengan langkah gontai. Andra bingung memikirkan biaya operasinya, tapi dia tak mungkin membiarkan kondisi ibunya semakin buruk.


Sedangkan Vie buru-buru mengajak Venus pulang sebelum mamanya itu kembali ke kamar Mirna, dia benar-benar kesal kepada Andra.


"Ayo dong, ma. Kita pulang saja." Rengek Vie.


"Iya, kita akan pulang tapi setelah berpamitan dengan ibu itu dan juga anaknya, sangat tidak sopan kita pulang begitu saja, sayang." Ucap Venus sambil berjalan menuju ruang UGD.


Vie pun akhirnya mengalah dan berjalan mengikuti Venus.


Saat memasuki ruang UGD, Venus dan Vie sedikit terkejut karena Mirna sudah tidak ada disana. Venus pun bertanya kepada perawat yang berjaga.


"Maaf ... ibu yang tadi disini kemana ya?" Tanya Venus.


"Dia sudah dipindahkan ke ruang operasi." Jawab Perawat itu.


"Oh, kalau begitu, terima kasih." Lanjut Venus. Perawat itu hanya mengangguk dan tersenyum.


"Itukan, ma. Bu Mirna sudah di bawa ke ruang operasi. Ya sudah yuk kita pulang saja. Lagipula ini sudah hampir sore." Vie mencoba merayu Venus.


"Tapi kita bisa berpamitan dengan anaknya itu?" Venus masih bersikeras.


"Sudahlah, ma. Sebentar lagi papa pulang loh."


"Ya, sudahlah ..." Venus pun mengalah dan menuruti Vie, gadis itu tersenyum samar karena berhasil merayu mamanya.

__ADS_1


Kedua ibu dan anak itu pun meninggalkan rumah sakit tanpa berpamitan.


***


__ADS_2