
"Bagaimana, ceritaku bagus bukan?" Reino tersenyum bangga.
"Kau mempermainkanku?" Ucap Diana tak tahu diri.
"Hahaha ... aku nggak mempermainkanmu tapi hanya mengikuti permainanmu saja." Reino tertawa mengejek.
"Ck ...ck ... ck ... ternyata kau licik sekali. Kau sengaja menjebak suamiku rupanya." Venus berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Diam kau tumbal sialan!" Diana kembali memaki Venus.
"Hey ... berhenti memaki istriku!" Reino menatap tajam Diana.
Venus dan Erik hanya terkekeh melihat raut wajah ketakutan Diana.
"Sekarang giliran kau yang bercerita, bagaimana wanita ini mengajakmu bersekongkol ...?" Kini Reino beralih memandang pelayan yang masih setia terpaku di depan pintu.
"Nona ini menemui saya dan berjanji akan memberi saya 50 juta jika saya mau melakukan yang dia pinta, awalnya saya ragu saat dia bilang rencananya untuk memberikan obat tidur di teh, tapi setelah saya tahu targetnya Tuan Muda. Saya berpura-pura menyetujui rencananya dan berniat segera memberi tahu,Tuan. Tadinya saya bingung bagaimana cara menyampaikannya kepada Tuan, untung saja yang mengambil nampan itu adalah Tuan, jadi saya bisa mengatakannya." Pelayan itu membeberkan rencana licik Diana.
"Kerja yang bagus!" Reino memuji pelayan itu.
"Nggak, pelayan ini berbohong! Jangan percaya, Rein!" Diana masih berusaha membantah.
"Dia nggak akan berani membohongi bosnya sendiri. Mungkin kau belum tahu, hotel ini milikku dan kau sangat bodoh ingin membunuh harimau di kandangnya sendiri dengan tangan kosong. Karena hasilnya, kau yang akan mati." Reino tersenyum sinis tapi matanya menatap tajam ke arah Diana.
"Haaa ...?" Diana nggak tahu harus berkata apa lagi. Tubuhnya gemetaran, lidahnya kelu dan air matanya mulai menetes jatuh.
"Kau terkejut ...? Apa kau sudah sadar akan kebodohanmu itu? Tadinya aku berniat menolongmu dari pria itu, tapi kau malah memanfaatkan kebaikanku. Sekarang aku yakin, pertengkaranmu dengan pria tadi pasti juga cuma settingan." Reino melangkah mendekati Diana.
"Kau mau apa, Rein ...? Aku minta maaf ...!" Diana ketakutan melihat Reino berjalan mendekatinya.
"Aku cuma ingin mengingatkanmu, berhenti mengganggu kehidupanku dan juga istriku! Jika sekali lagi kau berusaha mengusik kehidupan kami, aku nggak akan memaafkanmu. Aku minta, jangan tunjukkan wajahmu lagi di hadapanku!" Reino mencengkeram leher Diana dengan satu tangan dan menatap tajam gadis licik itu.
"Re .... Rein ... tolong lepaskan aku! Sakit, Rein!"
Reino melepaskan cengkeraman tangannya di leher Diana dan melangkah mendekati Venus lalu menarik istrinya itu agar berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Aku sangat mencintai istriku, jadi jangan harap bisa memisahkan kami! Kau ingat itu!" Reino segera menarik tengkuk belakang Venus dan mencium bibir Venus dengan sangat mesra.
Diana hanya memandang adegan romantis itu dengan perasaan geram. Sedangkan Erik dan pelayan hotel itu memalingkan wajah mereka, seketika jiwa jomblo mereka meronta-ronta. Bahkan Si pelayan hotel itu masih meyakinkan bahwa dirinya tidak bermimpi saat mengetahui Venus adalah istri Tuan Muda Reino.
"Jadi Nona cantik itu benaran istri Tuan Muda? Kapan mereka menikah? Kenapa tidak pernah ada beritanya?" Tanya pelayan itu di dalam hati.
"Sudah, jangan keterlaluan begini!" Venus mendorong dada Reino dan melepaskan tautan bibir mereka.
"Memangnya kenapa?"
"Kasihan Diana, wajahnya sampai memerah begitu karena malu. Jangan sampai dia iri dengan kita." Venus melirik Diana dengan senyum penuh kemenangan.
Diana hanya memalingkan wajahnya, menahan rasa geram yang sudah menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Baiklah, sebaiknya kita pergi dari sini, sebelum aku sesak karena terlalu lama berbagi udara dengan wanita ular ini." Reino merangkul pundak Venus dan berbalik meninggalkan Diana yang masih terdiam di tempatnya. Air mata gadis itu semakin banyak menetes, kali ini hatinya benar-benar sakit karena perlakuan dan kata-kata Reino.
"Erik, bawa semua barang-barangku!" Reino memerintah.
"Baik, Tuan!" Erik menunduk patuh, dan segera memungut barang-barang Reino. Akhirnya keberadaan pria itu dimanfaatkan juga.
"Ba ... baik, Tuan Muda!" Pelayan itu pun mengangguk patuh dengan perasaan takut.
Setelah itu, Reino, Venus dan Erik pergi meninggalkan Diana di kamar hotel itu. Sementara pelayan hotel telah kembali ke pekerjaannya dengan perasaan lega karena Reino tidak jadi marah sebab kedatangannya yang terlambat tadi.
Setelah kepergian semua orang, Diana terduduk di lantai dan menangis sesunggukan.
"Aaarrgghh ... dasar bodoh! Aku bodoh ...! Bukannya mendapatkan Reino, tapi malah membuatnya membenciku bahkan nggak ingin melihatku lagi." Diana berteriak seperti orang gila.
Diana meraih ponselnya dan menyalakannya benda pipih itu lalu dia menghubungi Liana, gadis itu berencana menemui Liana dan semua yang terjadi.
"Ada apa, Di ...? Kamu kenapa?" Tanya Liana khawatir saat mendengar suara Diana beriringan dengan isak tangisnya.
"Tan, temua aku sekarang di cafe X, nanti aku ceritakan semuanya." Ucap Diana sambil menyeka air matanya.
"Baiklah ... baiklah ...! Tante segera kesana!" Diana mematikan panggilan masuk itu lalu beranjak pergi meninggalkan kamar hotel.
__ADS_1
***
Di dalam mobil, Venus hanya memandang keluar jendela, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir mungil gadis itu. Mereka bertiga menaiki mobil yang di bawa oleh pengawal Reino, sementara supir Vino sudah kembali ke kediaman Adyatama.
"Aku fikir kau akan salah paham dan marah saat melihatku di kamar hotel tadi" Hati-hati Reino membuka pembicaraan kepada Venus.
"Aku memang marah! Bahkan aku ingin sekali menghajarmu!" Venus kini berbalik dan menatap tajam Reino.
"Aku kan sudah menjelaskan semuanya tadi, aku dijebak! Untung saja aku pintar!" Reino tersenyum bangga.
"Pintar apanya? Kau membawa wanita ular itu ke dalam kamar hotel dan hampir masuk ke dalam jebakannya. Itu yang kau sebut pintar ...?" Venus menautkan alisnya memandang heran kepada Reino. Sementara Erik dan supir yang duduk dijok depan sudah terkekeh mendengar Venus menjatuhkan majikan mereka.
"Hey ... apa yang lucu? Mengapa kalian tertawa? Dasar gila ...!" Reino membentak Erik dan supir saat dia menyadari mereka sedang mentertawakannya.
"Iiihh ... kenapa kau memarahi mereka ...?" Venus memukul tangan Reino, membuat pria tampan itu meringis sakit.
"Hhhssssttt ... aaaww ..." Reino spontan memegangi tangannya yang sakit.
"Maaf ... apa itu sakit? Aku hanya memukulmu pelan." Tanya Venus bingung.
"Tidak apa-apa!"
"Sini aku lihat!" Venus meraih tangan Reino dan menarik lengan kemejanya ke atas. "Ya, Tuhan ... tanganmu kenapa begini?" Venus terkejut melihat ada lebam kebiruan di tangan Reino.
"Tidak apa-apa! Hanya terbentur meja tadi. Tenanglah, besok juga baikan." Ucap Reino berbohong untuk menutupi kejadian kecelakaan itu agar Venus tidak khawatir. Sementara Erik hanya menghela nafas lega, karena Reino tidak menceritakan kejadian naas itu kepada Venus, karena wanita itu pasti akan heboh.
"Lain kali kau harus lebih berhati-hati!"
"Baiklah istriku yang bawel!" Reino mencubit hidung mancung Venus dengan gemas, membuat gadis itu merajuk manja dan kemabali memalingkan wajahnya menatap keluar jendela mobil.
"Uluh ... uluh, istrinya aku merajuk ni." Reino menggoda Venus dengan suara yang dibuat menggemaskan. Sumpah demi apapun, Erik dan supir yang mendengar suara konyol Reino itu ingin muntah rasanya.
Reino membalikan tubuh Venus yang sedang merajuk itu menghadap dirinya, dan gadis itu hanya menurut saja. Lalu melum4t bibir mungil Venus dengan sedikit memaksa. Abaikan Erik dan Si supir yang sudah memasang mode BUTATULI.
***
__ADS_1
Jangan lupa likenya ya sayang akuh ...💜