
Reino dan Venus sudah kembali dari Paris.
Venus sedang duduk di tepi ranjang sambil memandangi layar ponselnya, sedari tadi wanita ini hanya diam bergeming, sesekali tertawa sendiri.
Reino yang baru saja keluar dari kamar mandi sedikit bingung melihat tingkah aneh Venus dan segera menghampiri istrinya itu.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Reino sembari meletakkan punggung tangannya ke dahi Venus.
"Memangnya ada apa? Mengapa kau bertanya begitu?" Venus menjawab pertanyaan Reino dengan pertanyaan juga, wanita bingung melihat sikap suaminya.
"Ku lihat kau tertawa sendiri, aku takut kau ..." Reino tak berani melanjutkan kata-katanya dan hanya memandang cemas sang istri.
"Gila ...! Kau pasti ingin bilang kalau aku gila, iyakan ...?" Emosi Venus naik 2 level. Nadanya mulai meninggi.
"Eh ... bukan begitu! Aku hanya khawatir saja, siapa tahu kau kesambet. Siapa yang bilang kau gila?" Reino berusaha membela diri.
"Ngeles saja! Tega-teganya ngatain istri sendiri gila! Aku tuh lagi lihatin foto-foto kamu saat di Paris." Ucap Venus menohok sambil menunjukkan layar ponselnya yang dihiasi foto Reino sedang tertidur.
"Hey ... kapan kau ambil foto itu?" Reino melotot memandangi layar ponsel istrinya.
"Setelah selesai berbelanja dan ku lihat kau tertidur pulas sekali."
"Kenapa aku tidak tahu?" Reino mengerutkan dahinya bingung.
"Nah ... sekarang ketahuan siapa yang gila! Kau kan sedang tertidur, bagaimana bisa tahu kalau aku ambil fotomu?" Suara Venus melembut dan meledek Reino.
"Benar juga ya?" Reino mengangguk setuju. " Eh ... kau mengatakan suamimu sendiri gila ya?" Reino menatap tajam Venus.
"Memang kau gila! Cuma orang gila dan gelandangan yang tidur disembarangan tempat." Venus semakin meledek Reino.
"Waktu itu aku tertidur karena lelah dan jenuh menunggumu berbelanja!" Reino berusaha membela diri.
"Bukan hanya di butik, kau juga tertidur saat kita di pantai dan di taman. Apa kau sedang jenuh juga waktu itu, haaa ...?" Venus kembali meninggikan suaranya sambil menunjukkan dua foto Reino yang tertidur di dua tempat berbeda.
"Wah ... kau selalu mengambil fotoku ketika aku tidur. Apa wajahku semenggemaskan itu, sampai kau mengabadikannya?" Reino menggoda Venus dengan wajah jenakanya.
"Ciihh ... kepedean sekali kau! Itu sebagai bukti kalau kau seperti orang gila yang tidur disembarangan tempat! Dasar tukang tidur!" Venus mencebik kesal.
"Bukankah itu semua karena kau? Gara-gara ngidammu yang aneh-aneh itu, aku jadi kurang tidur!" Ucap Reino membayangkan setiap malam Venus selalu membangunkannya untuk mencari makanan yang aneh-aneh.
"Oh ... jadi kau tidak ikhlas menuruti ngidamku? Kau hanya pura-pura perduli saja kepada anak kita, iya?" Venus mencak-mencak dengan tatapan yang seolah ingin menghabisi Reino detik itu juga.
"Bu ... bukan seperti itu, sayang. Aku ikhlas kok!" Reino mengutuki mulutnya yang salah bicara.
__ADS_1
"Kau bohong! Nak ... nanti kita cari ayah yang baru ya? Yang ikhlas perduli sama kita." Venus berbicara sendiri sambil mengelus perutnya yang masih rata.
"Eh ... apa kau bilang! Enak saja mau cari ayah baru! Itukan anakku!" Reino berteriak tak terima.
"Habis kau tak ikhlas menuruti ngidamku!"
"Aku ikhlas kok! Apa pun yang kau minta aku ikhlas, sayang." Reino menarik Venus ke dalam pelukannya.
"Mana buktinya?" Tanya Venus manja.
"Ya sudah sekarang kau ingin apa? Aku pasti tur ..." Reino tak melanjutkan kata-katanya saat dia menyadari sesuatu. Terakhir kali Venus ngidam, dia membuat repot semua orang. Mendadak Reino ngeri membayangkan kejadian waktu itu.
Flashback on ...
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua siang waktu Paris, seharusnya orang-orang sudah menyantap makan siangnya. Tapi tidak dengan Venus, sedari pagi dia tidak berselera untuk makan apapun, wanita yang sedang hamil muda itu hanya memakan strobery, membuat Reino cemas bukan main.
"Sayang, kau harus makan! Kasihan anak kita, dia pasti sedang lapar sekarang. Kau juga bisa sakit perut kalau cuma memakan buah itu." Reino menyodorkan sepiring spageti ke hadapan Venus, tapi tak digubrisnya.
"Aku tidak berselera memakan itu!" Tolak Venus sambil memasukkan buah strobery ke dalam mulutnya.
"Jadi sekarang kau ingin apa? Katakan! Aku pasti akan membelikannya!" Ucap Reino.
"Aku ingin makan kue yang dari ambon itu!"
"Kue apa?" Reino menautkan kedua alisnya memandang bingung istrinya itu.
"Itu loh sayang, yang warna kuning lalu ada lubang-lubangnya seperti sarang lebah." Venus menjelaskan kue yang dia maksud.
"Mana ku tahu, kalau memang dari Medan, kenapa namanya bukan bika medan saja, kenapa harus bika ambon coba? Anehkan?" Venus berbicara dengan polos, membuat Reino semakin gemas.
"Mungkin yang membuatnya orang Ambon, tapi tinggalnya di Medan." Jawab Reino ngasal. Sumpah, Reino ingin sekali tertawa saat ini, tapi dia tahan.
"Ya sudah, aku mau makan itu sekarang!" Pinta Venus.
"Apa? Disini mana ada, sayang! Adanya cuma di Indonesia, itupun tidak semua kota di Indonesia ada."
"Sayang, aku ngidam ni! Anak kita maunya makan itu! Kalau tidak aku mogok makan ni!" Ancam Venus.
"Tapi aku harus cari kemana? Kita baru akan pulang lima hari lagi, sabar ya sampai kita pulang? Sekarang kamu makan ini dulu. Nanti kalau sudah di tanah air, aku pasti beliin, kalau perlu dengan tokonya sekalian!" Reino mencoba bernego dengan Venus.
"Aku maunya sekarang!" Venus merajuk dengan wajah cemberut.
Reino menghela nafas kasar melihat tingkah istrinya, sejak hamil ini, Venus berubah menjadi manja, sensitif, egois. dan suka mengancam. Reino yang frustasi segera meraih ponselnya dan menghubungi Erik alias Hendrik.
"Hallo, ada apa kau meneleponku? Mau pamer bulan madumu?" Erik.
"Apaan sih? Aku butuh bantuanmu saat ini!" Ucap Reino malas.
"Apa ...? Jangan yang menyusahkan ya!" Erik
__ADS_1
"Tolong belikan bika ambon! Dan antar kesini!" Reino mengatakannya tanpa merasa bersalah.
"Apaaaaa ...? Kau gila ya? Sudah ku katakan jangan yang menyusahkan, kau malah menyuruhku untuk itu? Sudah jauh pun masih merepotkan saja!" Erik.
"Tapi ini permintaan ibu hamil! Dia tidak mau makan, dia cuma mau makan itu katanya. Di Paris mana ada bika ambon. Tolonglah, anggap saja ini permintaan keponakanmu." Ucap Reino frustasi.
"Haaa ... ya Tuhan, berarti aku harus ke Medan untuk membelinya? Belum lahir saja anakmu sudah merepotkan orang, persis seperti ayahnya!" Erik.
"Dasar bodoh! Bukan berarti bika ambon dari Medan, kau hanya dapat membelinya di Medan! Di kota kita juga ada kok! Aku pernah lihat temanku membelinya di Chocho Cake and Bakery." Ucap Reino menohok.
"Baiklah, kalau aku membelikannya, lalu siapa yang mengantarnya ke Paris? Pasportku sudah mati!" Erik.
"Ya ampuuun ...! Kalau begitu aku akan suruh Vino yang mengantarkannya, ini kan keponakan dia juga." Reino pasrah.
"Baiklah, aku akan belikan lalu memberinya kepada Vino. Kau hubungi dia, suruh dia bersiap-siap!" Erik.
"Ya, sudah cepat!"
Panggilan telepon Reino dan Erik pun berakhir, dan kini Reino beralih menghubungi Vino lalu menceritakan semuanya dengan suara yang di buat memelas dan dramatis, agar Vino iba.
"Haaaa ... ya Tuhaaaan ... untung saja dia adik dan keponakanku! Baiklah, aku akan pesan tiket kesana, kirimkan alamatnya. Setelah Erik datang, aku segera berangkat ke Paris." Vino.
Setelah mengakhiri panggilan teleponnya bersama Vino, Reino segera mengirim alamat hotel mereka dan menghela nafas lega. Reino mendekati Venus dan membujuk kembali istri tercintanya itu.
"Sayang, kakakmu akan membawakan bika ambonnya kesini, tapi kau harus makan sekarang! Karena kakakmu akan tiba besok pagi, aku tak mau kau sakit." Reino berusaha bernego sambil menyodorkan spageti ke hadapan Venus.
"Wah ... benarkah? Baiklah, aku akan makan sekarang!" Venus mendadak sumringah dan segera melahap spageti yang di sodorkan Reino.
Seketika Reino mengusap kasar wajahnya, tak tahu harus berkata apa lagi.
"Kenapa tidak dari tadi saja kau makan seperti ini? Kenapa harus merepotkan orang lain dulu?" Gumam Reino dalam hati, tak habis fikir melihat tingkah istrinya itu.
Keesokan paginya, suara pintu kamar hotel Reino di ketuk dari luar, Venus yang sudah bangun segera membuka pintu dan wanita itu mengembangkan senyum di bibirnya.
"Kakak, mana bika ambonnya?" Tanya Venus saat melihat Vino yang datang.
"Ini." Vino menunjukkan sebuah bungkusan di tangannya. Venus segera meraih bungkusan itu dan membukanya dengan tidak sabar.
"Wah ... bika ambon." Venus segera mengambil sepotong bika ambon dan memakannya dengan lahap.
Reino dan Vino hanya menggeleng-gelengkan kepala heran melihat tingkah wanita cantik yang sedang hamil muda itu. Bahkan dia tak ingat untuk menawarkan kepada kakak dan suaminya.
Flashback off ...
***
Kalau yang sudah baca novel aku yang berjudul SKANDAL CINTA, pasti tahu toko kue yang dimaksud ama babang Reino ...😁✌
Gimana ...? Lanjut ...?
__ADS_1
Likenya dulu ya sayang akuh ...💜