
Beberapa bulan kemudian, usia kandungan Venus sudah memasuki minggu ke tiga puluh enam, perutnya sudah sangat besar dan Venus pun sudah kelihatan sulit untuk bergerak.
Hari ini Reino ada meeting mendadak dengan klien penting di luar kantor dan jaraknya lumayan jauh dari kediaman Brahmansa, sebenarnya dia sudah mengosongkan jadwalnya sampai seminggu ke depan, tapi meeting mendadak ini tak bisa dielakkan. Sementara Erik juga sedang sibuk mengurus perusahaan ayahnya yang di Jepang.
"Sayang, kau yakin tidak apa-apa kalau aku tinggal?" Reino masih memeluk tubuh gemuk Venus.
"Iya, sayang ... kau tenang saja! Sudah sana pergi, nanti kau telat." Venus mendorong tubuh Reino agar segera beranjak pergi.
"Tapi bagaimana jika tiba-tiba kau ingin melahirkan? Aku cemas sekali!" Reino kembali memeluk erat tubuh Venus.
"Kata dokter diperkirakan seminggu lagi dia baru akan lahir, lagi pula disini ada Ina dan Mama Eliza. Jadi kau tenang saja!" Venus berusaha meyakinkan sekaligus menenangkan suaminya itu. Bahkan dia sengaja meminta Eliza datang agar bisa menemaninya.
"Hmmm ... baiklah, aku pergi dulu! Tapi segera hubungi aku jika ada apa-apa!" Reino akhirnya pasrah.
"Iya, kau tenang saja, Rein! Tante akan menjaga Venus, lagi pula bayi kalian sangat baik, dia tidak menyusahkan ibunya sejak dari awal kehamilan, ibunya juga sehat dan tidak mual muntah. Jadi sekarang kau jangan cemas!" Ucap Eliza dengan wajah yang berbinar.
"Bayiku memang tak pernah menyusahkan ibunya, tapi karena mengatasnamakannya, ibunya selalu
menyusahkanku dan semua orang." Reino bergumam di dalam hati.
"Ya, sudah aku pergi!" Reino mengecup kening Venus dan berlalu pergi dengan membawa perasaan cemas.
***
Setelah menempuh perjalanan satu jam, akhirnya Reino tiba di tempat tujuannya, selama diperjalanan rasa cemas tak pernah pergi dari hati dan fikiran Reino, dia selalu memikirkan istri tercintanya itu.
"Selamat datang, Tuan Reino Brahmansa. Perkenalkan ini Tuan Satria Wijayanto, dia orang yang akan menjalin kerjasama dengan Grafika Grup." Seseorang bertubuh tambun memperkenalkan seorang pria yang sedang duduk di hadapan Reino.
Pria yang bernama Satria itu mengulurkan tangannya ke hadapan Reino, dan segera disambut oleh Reino. Mereka berjabat tangan sebagai tanda perkenalan.
"Baiklah, bisa segera kita mulai meetingnya?" Tanya Reino tak sabar.
"Baiklah, Tuan."
__ADS_1
Meeting dadakan itu pun dimulai, Reino dan Satria sama-sama fokus memperhatikan pria tambun itu menjelaskan topik meeting mereka. Perusahaan Wijaya Grup yang bergerak di bidang pembuatan ponsel android berencana menggunakan jasa Grafika Grup untuk mempromosikan sekaligus mengadakan launching produk terbaru mereka, Reino diundang ke gedung Wijaya Grup untuk melihat langsung produk yang akan dia sponsori. Setelah membahas apa saja yang perlu dibahas, akhirnya meeting selesai dengan keputusan yang telah disepakati bersama.
"Baiklah, aku permisi dulu." Setelah meeting selesai, Reino buru-buru pamit, karena dia sudah tak sabar ingin pulang dan menemui istrinya.
"Kenapa terburu-buru sekali? Kita kan masih bisa mengobrol sambil minum teh atau kopi, kau sudah jauh-jauh datang kesini, masa langsung pulang?" Satria mencoba menahan Reino.
"Maaf, lain kali saja! Istriku sedang hamil besar, aku takut terjadi sesuatu dengannya." Ucap Reino dengan raut wajah cemas.
"Oh ... begitu? Ya sudahlah, lain kali saja!"
"Hmmm ... aku permisi." Reino segera berlalu dari hadapan Satria.
Satria hanya tersenyum sambil memandangi kepergian Reino, seketika ada perasaan iri dihatinya melihat kehidupan sempurna seorang Reino Brahmansa.
"Dia pasti sangat bahagia menanti momen kelahiran anaknya. Momen yang juga aku tunggu-tunggu di dalam hidupku, tapi sayangnya itu tak pernah terjadi kepadaku." Gumam Satria di dalam hati sambil membayangkan kehidupan rumah tangganya yang jauh dari kata bahagia.
Sementara Reino yang sudah berada di parkiran gedung Wijaya Grup terkejut saat mendapat telepon dari Ina. Kekasih Erik itu mengabarkan jika tiba-tiba perut Venus sakit tapi dia tak mau dibawa ke rumah sakit.
Reino yang panik dan cemas segera memerintah supirnya melaju dengan kecepatan tinggi, dia juga tak lupa menghubungi Kenan yang rumahnya tak jauh dari kediaman Brahmansa.
"Sekarang juga kau ke rumahku, aku rasa Venus akan melahirkan. Aku sedang dalam perjalanan pulang." Reino memerintah Kenan yang kebetulan sedang tidak dinas.
"Kenapa tidak dilarikan ke rumah sakit?" Kenan.
"Sudah, jangan banyak tanya!" Reino membentak Kenan.
"Baiklah ... aku kesana!" Kenan.
Reino segera mengakhiri panggilan telepon kepada Kenan itu, perasaan pria tampan ini campur aduk antara takut, cemas dan senang. Dia benar-benar tak sabar untuk secepatnya sampai di rumah.
"Bertahanlah, sayang. Aku akan segera tiba." Bathin Reino.
***
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Reino tiba di kediamannya, pria itu segera berlari menuju kamarnya yang sudah ramai. Selain Ina, Eliza dan Kenan, disana juga ada Vino yang tadi sempat di telepon Venus karena ingin dibelikan rujak giling.
"Bagaimana kondisimu? Kau baik-baik saja? Apa anak kita akan lahir? Kenapa kau tidak mau ke rumah sakit?" Reino segera berlari mendekati Venus dan memberondong istrinya itu dengan banyak pertanyaan.
"Aku tidak apa-apa! Untuk apa ke rumah sakit?" Ucap Venus santai sambil memasukkan potongan buah segar yang dilumuri bumbu rujak.
"Tapi kata Ina perutmu sakit, aku berfikir mungkin kau akan melahirkan." Reino berbicara dengan wajah bingung sambil memandangi Venus dan Ina bergantian.
"Kau terlalu berlebihan, sama seperti Ina. Perutku memang sakit, tapi karena aku terserang Diare. Sekarang juga sudah baikan setelah aku diberi obat oleh dokter Kenan." Venus melirik Ina yang tertunduk karena merasa terlalu heboh dan berlebihan.
"Apaaa ...? Jadi kau bukan ingin melahirkan?" Tanya Reino.
"Kan aku sudah bilang, perkiraan dokter masih seminggu lagi. Jadi kau tenang saja!" Venus memasukkan potongan buah terakhir ke dalam mulutnya.
Reino hanya menghela nafas lega bercampur kesal, dia merasa malu karena kehebohan yang dia buat sendiri. Semua orang kecuali Ina hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap Tuan Muda tampan itu. Tapi begitulah Reino, cinta dan kasih sayangnya yang besar membuatnya menjadi suami yang selalu cemas dengan kondisi kehamilan Venus, padahal anak maupun istrinya itu baik-baik saja.
Setelah kejadian menghebohkan tadi siang, semua orang pun kini telah kembali ke rumah masing-masing dengan perasaan lega, terutama Ina dan Reino, disini merekalah orang yang paling cemas saat Venus sakit perut tadi.
Reino dan Venus sudah terlelap dan berpindah ke alam mimpi, waktu juga sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Tiba-tiba Venus terbangun saat merasakan gerakan yang kuat di dalam perutnya lalu banyak cairan keluar dari organ intinya, Venus yang panik bercampur cemas segera membangunkan Reino yang masih tertidur pulas.
"Rein ... Reino bangun!" Venus menggoyang-goyangkan tubuh suaminya itu agar terbangun.
"Ada apa, sayang? Aku mengantuk sekali." Reino mengerjap dan berusaha memfokuskan pandangannya.
"Sepertinya ketuban aku pecah ini, lihat sampai membasahi ranjang." Venus menunjukkan cairan yang terus keluar membasahi ranjang dan piyama tidurnya.
"Astaga! Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Reino yang mendadak sadar sontak menjadi panik dan heboh sendiri.
"Kita ke rumah sakit sekarang!"
Reino segera beranjak dan mengangkat tubuh Venus. Dia menuruni tangga dengan hati-hati dan berjalan tergesa-gesa menuju mobil yang sudah standbay menunggu mereka, Reino juga sudah meminta Ina menyusul dengan membawa barang-barang perlengkapan Venus dan bayinya. Sekali lagi perasaaan cemas menyerang Reino, dan kali ini lebih parah, bahkan Reino sudah merasakan mulas pada perutnya padahal sang istri belum merasakan apa-apa.
***
__ADS_1
Hmmm ... kira-kira ada yang tahu nggak siapa Satria Wijayanto itu?
Kalau belum tahu, kuy kenalan dengan Satria di novel aku yang berjudul SKANDAL CINTA.