Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 15 (S2)


__ADS_3

Pagi ini Andra memutuskan untuk mendatangi kediaman Brahmansa, saat dia baru memasuki gerbang besar nan megah itu, kebetulan sekali Reino baru saja akan berangkat ke kantor dan Venus sedang berdiri di teras mengantarkan suaminya itu, sementara Vie sudah lebih dulu berangkat ke sekolah.


Reino yang melihat kedatangan Andra sontak memeluk pinggang Venus, sepertinya dia masih cemburu dengan mantan guru BP itu.


"Selamat pagi, tuan dan nyonya." Andra menyapa mereka dengan sopan.


"Kau ...? Mau apa kesini?" Alih-alih menjawab sapaan Andra, Reino malah bertanya dengan ketus. Venus pun menyikut pinggang Reino dan diapun mengerti maksud sang istri.


"Selamat pagi. Mau apa kesini?" Reino akhirnya membalas sapaan Andra dengan ketus dan mengulang pertanyaannya.


"Ada yang mau saya bicarakan, tuan." Ucap Andra canggung.


"Kalau begitu silahkan masuk! Kita bicarakan di dalam, tidak sopan membiarkan tamu berdiri di luar." Venus segera melangkah masuk ke rumah. Reino pun menunda berangkat ke kantor, wajahnya mendadak masam dan mengikuti langkah sang istri. Begitu juga dengan Andra, walaupun awalnya segan tapi dia akhirnya ikut masuk juga.


Mereka bertiga duduk di ruang tamu, Reino hanya memandangi Andra yang duduk di hadapan mereka dengan tatapan sinis, pria tampan yang satu ini benar-benar cemburu buta.


"Apa yang ingin kau katakan?" Tanya Reino.


"Jangan bilang kalau kau tertarik dengan istriku, aku akan mencincang tubuh menjadi potongan-potongan kecil." Gumam Reino di dalam hati sambil menatap tajam ke arah Andra.


"Begini, tuan. Saya ingin mengucapkan terima kasih karena nyonya Venus dan Vie telah menyelamatkan ibu saya bahkan melunasi biaya operasinya. Ini bukan pertama kalinya putri anda menolong ibu saya, dia pernah mengusir preman yang mengusik kios ibu saya bahkan kakinya sampai terluka karena preman-preman itu menyerangnya. Untung saja saat itu saya melihatnya. Saya benar-benar berhutang budi dengan keluarga ini." Andra menyampaikan semua rasa terima kasihnya, dia menceritakan semua aksi Vie sehingga membuat Reino dan Venus tercengang.


"Apaaa ...? berarti kakinya yang terluka waktu itu karena dia diserang preman?" Tanya Reino untuk memastikan.


"Iya, tuan." Andra menjawab dengan polos, dia tak tahu jika Vie menutupi semua ini dari orang tuanya.


"Kurang ajar! Akan ku habisi preman-preman sialan itu!" Seketika Reino yang kaget pun menggeram.


"Tenanglah, sayang! Kau harus sabar! Hargai tamu kita." Venus mengelus lembut pundak Reino untuk menenangkan suaminya itu.


"Hmmm ... sebenarnya kedatangan saya kesini selain ingin mengucapkan terima kasih, saya juga ingin mengatakan bahwa saya tidak bisa mengembalikan hutang saya dalam waktu dekat, saya masih belum mendapat pekerjaan tetap. Jadi saya mohon beri saya waktu." Ragu-ragu Andra mengatakannya, dia memohon agar Venus dan Reino memberinya waktu.


"Hutang apa? Aku tidak merasa kau memiliki hutang apapun." Jawab Venus.


"Biaya operasi ibu saya yang nyonya lunasi."

__ADS_1


"Aku ikhlas melakukannya dan tidak menganggap itu hutang. Anggap saja aku sedang beramal." Venus mengembangkan senyuman.


"Kau dengar itu? Baiklah sekarang sudah jelas! Kau bisa pergi dengan tenang dan aku akan segera berangkat ke kantor." Reino menyambar begitu saja dan secara tidak langsung dia mengusir Andra. Venus segera memelototinya sehingga membuat Reino memalingkan wajahnya.


"Tidak begitu, tuan dan nyonya! Saya akan tetap menganggapnya hutang, saya akan melunasinya. Saya tak ingin terlalu banyak berhutang budi dengan orang lain, saya takut tak bisa membalas kebaikan mereka." Andra terlihat cemas.


Reino dan Venus menghela nafas, mereka memahami maksud Andra dan menghargai keputusan lelaki itu.


"Baiklah, kalau memang itu maumu! Kami tak bisa menolak, kami menghargai kehendakmu." Ucap Venus.


"Terima kasih, nyonya dan tuan. Saya akan usahakan secepatnya melunasi hutang saya." Ujar Andra senang. Venus pun ikut tersenyum, sedangkan Reino hanya memasang wajah datar.


"Aku sudah menolong mu, sekarang giliran mu yang menolongku." Ucap Venus dengan tatapan yang penuh arti. "Kau bisa menyetir mobil?" Tanya Venus.


"Kau mau apa?" Reino bingung dengan ucapan sang istri. Tapi Venus tak menjawabnya dan hanya menggenggam tangan Reino dengan masih tersenyum.


"Iya, bisa. Dulu sewaktu masih kuliah, saya pernah kerja part time menjadi supir taksi online. Memangnya nyonya ingin meminta tolong apa?" Andra penasaran.


"Jadilah supir sekaligus pengawal untuk putriku! Bukankah kau membutuhkan pekerjaan? Aku akan memberimu gaji yang besar. Bagaimana?" Venus memandang Andra penuh harap.


"Sayang, kau dengar sendiri kan tadi, Vie tidak aman sendirian di luar sana! Dia bahkan di serang preman tanpa sepengetahuan kita, kau mau putri kita celaka? Jadi apa aku salah jika memberikan pengawal untuknya?" Venus menjelaskan maksudnya.


"Tapi kenapa harus dia? Kan masih ada pengawal yang lebih berpengalaman dengan ilmu bela diri yang mengagumkan, mereka pasti bisa melindungi putri kita. Bukan bocah ini!" Reino melirik Andra dan menyepelekannya.


"Sudahlah, aku punya alasan mengapa aku meminta dia menjadi supir sekaligus pengawal putri kita!" Venus mulai kesal dengan Reino. "Bagaimana? Kau bersedia?" Venus beralih ke Andra yang sedari tadi hanya terdiam memandangi perdebatan pasangan suami istri itu.


Andra masih terdiam, dia tak tahu harus berkata apa? Dia bingung kenapa Venus memintanya menjadi supir dan pengawal Vie. Sejujurnya Andra ingin menolak, mengingat bagaimana hubungannya dengan gadis ajaib itu, tapi dia tak enak hati untuk melakukan itu dan dia juga membutuhkan pekerjaan.


"Iya, saya bersedia." Akhirnya dengan berat hati Andra menjawab.


"Syukurlah." Venus menghela nafas lega. Sementara Reino hanya mendengus kesal, sejujurnya dia tak setuju karena rasa cemburunya yang tak masuk akal itu, tapi dia tak berani menolak kemauan sang istri. Karena Reino tahu, jika dia melarang Venus, makan istrinya itu pasti akan merajuk tujuh hari tujuh malam dan itu sangat mengerikan untuk seorang Reino Brahmansa.


"Kalau begitu kapan saya mulai bekerja, nyonya?" Tanya Andra.


"Segera setelah ibumu pulih." Jawab Venus.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu, nyonya dan tuan. Ibu saya pasti sedang menunggu saya." Andra beranjak dari duduknya dan pamit undur diri.


"Iya, titip salam untuk ibumu." Ucap Venus dengan tersenyum manis.


"Iya, nyonya. Saya permisi." Andra pun berlalu dari hadapan Reino dan Venus.


Selepas kepergian Andra, Reino segera menyerang Venus dengan pertanyaan yang sudah memenuhi kepalanya.


"Apa alasanmu melakukan semua ini? Kau merencanakan sesuatu?" Reino menatap Venus dengan curiga.


"Aku hanya berusaha melakukan yang terbaik untuk putriku saja. Jadi berhentilah mencurigaiku!" Venus memutar bola matanya dengan malas.


"Tapi kau mencurigakan!" Lanjut Reino.


"Hentikanlah, Reino! Sebaiknya kau berangkat ke kantor, kau sudah telat. Aku takut kau semakin gila kalau berlama-lama disini!" Venus berlalu dari hadapan suami itu.


"Hey ... apa yang kau katakan barusan?" Reino mengejar Venus dan segera menggendongnya.


"Reino, turunkan aku! Berangkat sana!" Venus memberontak.


"Aku putuskan untuk cuti hari ini dan mengurungmu di kamar bersamaku! Ini hukuman karena kau nakal!" Reino membawa Venus menuju kamarnya sambil tersenyum licik.


Setelah itu apa yang terjadi dengan mereka berdua?


Jawabnya ada di ujung langit


Kita kesana dengan seorang anak


Anak yang tangkas dan juga pemberani


Bertarunglah Dragon Ball


Dengan segala kemampuan yang ada


Eh ... author kok jadi nyanyi ... maaf ya ...✌😂

__ADS_1


***


__ADS_2