Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 56


__ADS_3

Malam yang gelap dan sunyi, Venus sedang berjalan tak tentu arah. Di ujung jalan ada yang memanggil namanya.


"Venus ...!!!"


Venus mengernyitkan dahinya memandang lekat sosok yang memanggilnya itu.


"Vino?" Venus terkaget saat melihat sosok yang memanggilnya itu adalah Vino.


Vino tersenyum dan melambaikan tangannya, Venus ingin menghampiri Vino namun tiba-tiba seseorang menarik lengannya.


"Tetap disini!" Reino menahan Venus agar tidak mendekati Vino.


"Kau? Tapi dia memanggilku."


Reino hanya menggelengkan kepalanya dan tetap menahan Venus.


Lalu tiba-tiba sebuah mobil menabrak tubuh Vino hingga dia tercampak dan terhempas dengan kuat ke aspal, banyak darah berceceran di dekat Vino.


Venus yang melihat kecelakaan itu pun berteriak histeris.


"Tidaaaaak ...!!!"


"Venus sadarlah! Venus ...!!!" Reino mengguncang-guncang tubuh Venus yang masih terbaring, gadis itu mengigau karena bermimpi buruk. Reino sangat panik.


"Vino!!!" Venus tersadar dari pingsannya setelah berteriak memanggil nama itu, dia segera menghamburkan diri memeluk Reino.


"Kau kenapa?" Reino mengeratkan pelukannya ditubuh Venus dan mengusap dengan lembut rambut panjangnya.


"Aku bermimpi buruk, aku bermimpi Tuan Vino ditabrak. Aku takut sekali." Venus yang gemetaran membenamkan wajahnya didada bidang Reino, berusaha mencari kenyamanan disana.


"Sudahlah! Itu kan cuma mimpi!" Reino berusaha menenangkan istrinya itu.


"Tapi rasanya seperti nyata! Aku takut!"


"Ya sudah, ada aku disini. Kau jangan takut lagi." Reino mencium pucuk kepala Venus berkali-kali.


"Aku masih bingung, kenapa Tuan Vino berkata seperti itu tadi?" Venus melepaskan pelukannya dan memandang Reino dengan penuh tanya.


"Hmmm ... entahlah, mungkin ..." Reino tak melanjutkan perkataannya saat panggilan masuk dari Kenan membuat ponselnya berdering.


"Hallo, ada apa kau menelponku malam-malam begini?" Reino bertanya dengan malas.


"Vino .... Vino, Rein ..." Kenan


"Vino kenapa?" Tanya Reino penasaran. Venus juga ikut terhenyak mendengar pertanyaan Reino.


"Vino kecelakaan! Dia kritis! Sekarang dia ada di rumah sakit Medica." Kenan.


"Apa?" Reino yang tersentak kaget sampai membuka mulutnya dengan mata yang membulat sempurna. Dia tak lagi menghiraukan telepon dari Kenan.


"Ada apa?" Venus menjadi panik melihat reaksi suaminya itu, dia tahu pasti ada yang tidak beres.


Reino memandang Venus dengan dada yang bergemuruh hebat, mendadak lidahnya kelu.


"Katakan ada apa?" Venus semakin panik.


"Vino kecelakaan. Dia kritis!"

__ADS_1


"Apa?" Venus yang kini ikut terkejut segera menutup mulutnya yang ternganga karena mendengar kabar buruk itu.


Mimpiku kenyataan!


"Aku akan segera kesana!" Reino segera berdiri tapi Venus menahannya.


"Aku ikut!"


Reino mengangguk dan mereka bergegas keluar dari kamar. Di depan pintu utama, mereka bertemu dengan Erik yang sedang duduk termenung.


"Erik, segera ke rumah sakit Medica!" Reino memberi titah.


"Ada apa, Tuan?" Erik memandang bingung.


"Vino kecelakaan! Dia keritis!"


"Ya, Tuhan!" Erik yang terkejut bukan main hanya terdiam di tempatnya.


"Apa jangan-jangan itu pesan terakhirnya?" Gumam Erik dalam hati sambil mengingat saat Vino memintanya untuk menjaga Venus, mendadak badan pria itu gemetar dengan pikiran-pikiran buruknya.


"Erik, apa yang kau lakukan? Cepat!" Reino membuyarkan lamunan Erik.


"Ba ... baik, Tuan!" Erik segera masuk ke dalam mobil dan melesat pergi.


***


Di depan ruang UGD RS Medica, sudah ada sekretaris Vino yang bernama Tian sedang harap-harap cemas menunggu kabar Bosnya.


"Dimana dia? Bagaiamana kondisinya?" Reino langsung memberondong pertanyaan kepada Tian.


"Tuan Vino masih di dalam bersama dokter Kenan, kondisinya masih kritis." Tian berbicara dengan raut wajah cemas dan penuh duka.


Venus mendekati Reino dan mengusap pelan pundaknya suaminya itu agar lebih tenang.


"Apa keluarganya sudah tahu?" Tanya Venus.


"Sudah Nona!" Jawab Tian.


Tiba-tiba Reino berdiri dan berjalan meninggalkan ruang tunggu, semua orang bingung melihatnya.


"Kau mau kemana?" Venus penasaran. Namun Reino tak menjawab dan terus melangkah pergi.


"Sebaiknya Nona Muda menunggu disini saja! Saya akan menemani Tuan Muda." Erik yang mengerti apa yang terjadi segera mengikuti langkah majikannya itu.


Venus yang menurut hanya memandangi kepergian dua orang itu dengan perasaan cemas dan penasaran.


Selepas kepergian Reino dan Erik, seorang pria berumur sekitar 40 tahunan berjalan dengan tergesa-gesa, wajahnya terlihat begitu cemas. Bahkan dia mengabaikan Venus yang berdiri di sampingnya.


"Bagaimana kondisinya?"


"Belum ada perubahan, Tuan Besar! Dia masih ditangani di dalam." Tian berbicara dengan tegas sambil menundukkan kepalanya.


"Haaa ... ya Tuhan! Bagaimana ini bisa terjadi?" Pria itu mengusap wajahnya kasar.


"Polisi masih menyelidiki kasus ini, Tuan!" Lanjut Tian.


"Maaf, apakah Tuan adalah Ayahnya Tuan Vino? Saya turut prihatin atas apa yang menimpa putra Tuan." Hati-hati Venus bertanya dan mengucapkan rasa prihatinnya sambil tersenyum manis.

__ADS_1


"Kau ...? Kau siapa?" Pria itu memandang Venus dengan tatapan yang sulit diartikan.


Wajah dan senyumnya mirip sekali dengan Vina. Siapa dia?


"Saya Venus, temannya Tuan Vino."


"Saya Robby, Omnya Vino." Pria yang bernama Robby itu masih terus memandangi Venus dengan tatapan yang aneh. Membuat Venus sedikit risih.


Nama itu?


"Oh ... maaf, saya mengira Tuan adalah Ayahnya Tuan Vino."


"Bukan, dia yatim piatau, sejak kecil saya yang mengurusnya sampai dia dewasa." Kenang Robby.


"Sekali lagi saya minta maaf, Tuan. Saya benar-benar nggak tahu." Venus menundukkan kepalanya, merasa tak enak hati.


"Tidak apa-apa." Robby tersenyum dan masih terus memandangi Venus. Dia merasa seperti melihat sosok yang sangat dia sayangi.


Tiba-tiba Kenan dan seorang dokter lain keluar dari ruang UGD dengan wajah sendu, sontak Robby, Venus dan Tian berjalan mendekati kedua dokter itu.


"Bagaimana kondisinya?" Robby bertanya dengan tidak sabar.


Kenan menghela nafas sebelum menyampaikan kondisi Vino. " Dia mengalami gegar otak dan patah tulang kaki sebelah kiri ... dia koma."


"Apa?" Jantung Venus seperti terlepas dari tempatnya, seluruh tubuhnya gemetar.


"Oh ... Tuhan, Vino." Robby terduduk di kursi, pria paruh baya itu menangis sesunggukan sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Tuan Kenan, apa dia akan sembuh? Kapan dia akan bangun?" Venus memandang Kenan dengan mata yang basah dan wajah yang penuh kesedihan.


"Kita doakan saja yang terbaik untuknya. Kami akan melakukan apa pun demi kesembuhannya." Kenan menghapus cairan bening yang lolos dari sudut matanya. Untuk pertama kalinya pria jenaka itu merasakan kesedihan yang begitu besar.


Dia kakakmu, dia mencarimu bertahun-tahun. Kau tahu betapa hancurnya dia saat kau menolaknya.


"Boleh aku melihatnya?" Tanya Robby penuh harap.


"Kami akan memindahkannya ke ruang ICU, Tuan bisa melihatnya disana." Ucap seorang dokter yang berdiri di samping Kenan.


"Dimana Reino?" Kenan berjalan mendekati Venus.


"Tadi dia pergi bersama Erik, aku nggak tahu kemana?"


"Cckk ... kemana dia?" Kenan meraih ponselnya dan segera menghubungi Reino tapi tidak ada jawaban. Lalu dia beralih menelepon Erik.


"Hallo, kau dimana?" Kenan bertanya saat panggilannya dijawab oleh Erik.


"Di taman rumah sakit." Erik


"Baiklah, aku kesana." Kenan menutup panggilannya dan berlalu dari hadapan Venus.


"Tuan Kenan mau kemana?" Venus menghentikan langkah Kenan.


"Aku ada urusan sebentar. Tunggulah disini, temani Om Robby." Kenan tersenyum dan melanjutkan langkahnya.


Venus merasa heran dengan tingkah ketiga pria itu, mengapa mereka seakan kompak meninggalkan Venus disini.


***

__ADS_1


Maaf ... ya para pembaca setia aku, kalau di beberapa bab ini akan ada irisan bawang yang bertebaran.


Jangan lupa dukungannya buat authornya ...💜


__ADS_2