
Setelah 2 jam Venus dicerca beberapa pertanyaaan oleh polisi, akhirnya dia diizinkan pulang, tapi Venus memohon untuk bertemu dengan Shane sebentar saja sebelum dia pergi dari tempat itu.
"Tolong antarkan Nona ini!" Seorang polisi memerintah salah satu bawahannya.
"Siap, Pak!"
Polisi muda itu mengajak Venus untuk mengikutinya, tapi langkah Venus terhenti saat dia menyadari Reino juga mengikutinya.
"Kau mau kemana?" Venus menatap lekat Reino yang berdiri disampingnya.
"Menemanimu bertemu Si Berengs*k itu." Reino menjawab dengan nada datar.
"Nggak usah, aku sendiri aja!"
"Aku takut dia menyakitimu." Reino terlihat khawatir.
"Hahaha ... tenanglah Tuan Muda, dia nggak akan bisa berbuat apa-apa. Dia sudah berada dipenjara, apa kau lupa?" Venus tergelak mendengar kata-kata Reino.
"Baiklah, aku akan menunggu disini." Reino pasrah dan berhenti mengikuti gadis itu. Dia tak ingin memaksa jika Venus tidak menginginkannya untuk ikut bertemu pria sialan itu.
Venus melanjutkan langkahnya mengikuti polisi muda itu dan berhenti didepan sebuah ruangan berjeruji yang pengap dan berbau tidak enak, dia menangkap sosok yang sedang terduduk dilantai sambil melipat kakinya didepan dada, dia menundukkan wajahnya, keadaannya sungguh berantakan dan kacau. Disana juga ada 3 orang pria berbadan besar dan berperawakan sangar sedang memandang Venus dengan tatapan tidak bersahabat.
"Shane Wilson, ada tamu untukmu!" Polisi muda itu memanggil Shane.
Shane mendongakkan wajahnya dan berpaling kearah suara yang memanggil namanya, seketika wajahnya berubah pias saat melihat Venus sedang berdiri disamping polisi yang memanggilnya itu.
"Saya tinggal dulu ya, Nona!" Polisi itu pamit undur diri setelah Venus membalas ucapannya dengan anggukan dan sedikit senyuman manis.
"Bagaimana rasanya berada di dalam sana?" Venus memandang Shane dengan tatapan mengejek dan tertawa sinis.
"Apa maumu, haaa ...?" Shane memandang Venus dengan penuh kemarahan.
"Aku hanya ingin memberimu selamat karena telah menjadi pecundang." Venus semakin melebarkan senyumannya, membuat emosi Shane naik seketika.
"Dasar wanita sialan! Kau tahu kan bahwa adikmu sedang hamil anakku? Kalau aku di dalam sini, aku pastikan keluargamu akan malu besar karena memiliki anak yang lahir tanpa ayah." Shane coba memprovikasi Venus.
"Keluargaku yang mana? Aku sudah nggak punya keluarga sejak kalian menjebloskanku ke penjara waktu itu." Suara Venus terdengar lirih.
"Jadi sekarang kau sedang balas dendam?" Shane semakin menggeram.
"Menurutmu apa?" Venus melipat kedua tangannya di depan dada dengan gaya yang angkuh.
__ADS_1
"Dasar wanita sialan! Aku akan membalasmu!" Shane berteriak memaki dan mengancam Venus, gadis itu hanya tersenyum.
Mendengar Shane berteriak, 3 orang pria berbadan besar itu marah dan menghampiri Shane.
"Hey ... diamlah, ini bukan hutan! Jangan berteriak!" Seorang pria kekar itu langsung melayangkan bogam mentah ke wajah Shane dan membuatnya tersungkur ke lantai.
Venus sempat kaget melihat aksi mereka, tapi dia merasa puas bisa melihat Shane merasakan apa yang dia rasakan dulu ketika pria berengs*k itu menjebloskannya ke penjara.
Selamat menikmati hari-harimu, ternyata karma cepat sekali datang.
Venus meninggalkan tempat itu dan membiarkan Shane yang merintih kesakitan karena tinjuan pria-pria beringas itu.
"Kau tidak apa-apa?" Reino memandang Venus dengan perasaan cemas.
"Memangnya apa yang akan terjadi padaku, Tuan Muda?" Venus menjawab dengan nada santai.
"Aku dengar dia berteriak tadi, apa dia menyakitimu?"
"Dia hanya berteriak bukan memukulku, kau terlalu berlebihan." Venus melangkah meninggalkan Reino yang seketika terdiam setelah mendengar ucapan gadis itu.
Berani sekali dia mengatakan aku berlebihan?
Awas kau ya!
Reino akhirnya berjalan dengan cepat mengikuti Venus yang sudah menjauh darinya, mereka akhirnya meninggalkan kantor polisi.
***
Erik melajukan mobilnya dengan kecepatan sedan, tak ada percakapan yang terjadi di dalam mobil. Sepertinya Reino merajuk dan enggan berbicara kepada Venus, sementara itu Venus hanya diam sembari memandang keluar jendela dan sesekali melirik Reino yang diam seperti patung.
"Apa kita langsung pulang kerumah?" Venus berusaha membuka suara terlebih dahulu, tapi Reino tetap diam.
"Hey ... aku bicara kepadamu! Apa pita suaramu tak berfungsi lagi ya?" Venus menjadi kesal sendiri.
Tapi Reino tetap tak bergeming, dia hanya menghela nafas pelan mendengar ucapan Venus yang terlalu berani. Erik hanya melirik kedua insan itu dari kaca spion di depannya, dia sedikit kaget karena Venus berani bicara seperti itu kepada Tuan Mudanya.
Venus yang kesal karena diacuhkan oleh Reino memerintahkan Erik untuk berhenti tepat didepan toko ice cream di depan jalan sana, " Berhenti disini!"
"Jangan!" Reino akhirnya bersuara dan melarang Erik berhenti seperti permintaan Venus.
"Aku mau beli ice cream!" Venus memandang kesal Reino.
__ADS_1
"Aku nggak perduli!" Reino berbicara tanpa menoleh Venus.
"Kau menyebalkan!" Venus memukul pundak Reino dengan kuat untuk melampiaskan kekesalannya.
"Beraninya kau!" Reino menatap tajam Venus, membuat gadis itu takut dan terdiam.
Venus hanya diam, dia kembali memandang keluar jendela dengan perasaan kesal, hingga wajah cantiknya kini terlihat cemberut. Reino melirik gadis itu dan tersenyum samar, dia puas sudah membuat Venus kesal.
Erik menjadi bingung melihat tingkah kedua majikannya itu, tapi dia lebih heran melihat sikap Tuan Mudanya yang baru kali ini bersikap kekanak-kanakkan seperti itu.
***
Begitu tiba di depan rumah bak istana milik Reino, Venus segera turun dari mobil dan membanting pintu dengan sangat keras hingga membuat Reino maupun Erik tersentak kaget.
Sepertinya dia benar-benar marah.
Biar kau tau rasanya dibuat kesal.
Reino pun keluar dari mobil setelah Erik membukakan pintu mobilnya dan berjalan pelan memasuki rumahnya, seketika mata Reino terpaku pada satu sosok yang sedang duduk bersama Liana di ruang tamu, sementara Venus telah menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Diana? Kenapa kau ada disini?" Reino memandang heran Diana yang langsung berhambur memeluknya.
"Aku sangat merindukanmu, kamu kemana saja? Kenapa tidak menjengukku?" Diana memeluk tubuh Reino dengan erat, tapi Reino berusaha untuk melepaskan pelukannya itu.
"Sudahlah, aku lelah. Aku sangat sibuk!" Reino memaksa melepaskan diri dari pelukan Diana.
"Untuk beberapa hari Diana akan tinggal disini, karena Papa dan Mamanya sedang ada urusan mendadak keluar negeri, sementara Diana masih belum sehat benar. Jadi kita harus menjaganya, Rein." Liana menjelaskan maksud kedatangan Diana dengan wajah yang berbinar.
"Oh, ya sudah kalau begitu! Aku mau ke kamar dulu." Reino terlihat acuh dan melangkah meninggalkan ruang tamu, tapi langkahnya terhenti saat Liana mulai berbicara lagi.
"Tapi Diana nggak mau wanita itu ada dirumah ini juga, dia masih trauma kepadanya."
"Apaaaa ...? Jadi Venus mau tinggal dimana?" Reino tampak tidak setuju dengan permintaan Mamanya.
"Sementara dia bisa tinggal dirumah kita yang di jalan XXX, kan lebih dekat ke kantormu."
"Tapi, Ma?" Reino masih keberatan.
"Rein, kasihan Diana! Mama sudah janji akan menajaganya, ini sementara saja kok!" Liana berbicara dengn nada lembut.
"Ya sudah, aku akan suruh dia berkemas!" Reino pun pasrah lalu beranjak pergi meninggalkan kedua wanita yang kini tersenyum dengan penuh kemenangan.
__ADS_1
***