
Venus dan baby Vie sudah pulang ke rumah, seperti mendapat mainan baru, semua orang selalu berkumpul di kediaman Brahmansa hanya untuk memandangi dan mencium bayi yang super menggemaskan itu.
Di kamar Venus sudah berkumpul Vino, Hanna, Eliza dan Daniel. Mereka mengerumuni box bayi tempat bayi lucu itu sedang tertidur pulas sehabis menyusu kepada mamanya, Hanna yang gemas, tak henti-hentinya menciumi pipi gembul dan mulusnya. Venus dan Reino hanya memandangi keempat orang itu dengan senyum yang mengembang.
Sementara Ina sedang memantau para koki memasak makan malam. Sejak menjadi kekasih Erik, Ina tak lagi menjadi kepala pelayan karena Erik tak mengizinkannya agar Ina tak merasa minder dengan status mereka. Tapi hari ini, Ina sengaja mengatur dan memantau pekerjaan koki karena akan ada acara makan malam di rumah ini, apalagi dia tahu Erik akan pulang, Ina meminta koki membuatkan makanan kesukaan kekasihnya itu.
"Dia sangat lucu ya?" Vino memandangi baby Vie sambil merangkul pundak Hanna.
"Iya, dia sangat menggemaskan sekali! Aku tak bisa berhenti menciumnya." Hanna masih menoel-noel pipi baby Vie.
"Kau mau?" Tanya Vino.
"Mau apanya?" Hanna beralih memandang Vino dengan raut wajah bingung.
"Kalau kau mau, aku akan membuatkannya untukmu. Jangankan satu, sebelas juga aku sanggup membuat yang seperti ini." Jawaban frontal Vino keluar begitu saja tanpa difilter, membuat semua orang yang mendengarnya menjadi salah tingkah.
"Apaan sih?" Hanna memukul pelan pundak Vino sambil tersipu malu, wajah gadis itu seketika bersemu merah.
"Waow ... mau membuat kesebelasan ya?" Reino meledek kakak iparnya itu dengan wajah jenaka.
"Cckk ... jangan ikut campur!" Vino menatap tajam Reino yang langsung disambut gelak tawa semua orang.
"Ssssttt ... nanti si cantik ini terbangun!" Hanna meletakkan jari telunjuknya di depan bibir dan meminta semua orang jangan berisik.
"Tenang saja, Hanna ... dia tak akan terbangun kalau sedang tertidur pulas seperti itu. Dia baru akan terbangun jika ada maunya saja." Venus mencoba menjelaskan kebiasaan putri kecilnya itu.
"Wah ... ternyata dia anak yang baik budi, makin gemas deh!" Hanna kembali mencium pipi baby Vie.
"Hai ... semua, aku ingin bertemu Queen Brahmansa!" Erik yang baru saja tiba dari Jepang, tiba-tiba masuk ke kamar Venus dan langsung berjalan menuju box bayi, membuat semua orang terkejut dengan kedatangannya.
"Wah ... dia cantik sekali!" Erik takjub melihat baby Vie. "Hallo gadis cantik, ini Oom yang paling keren sejagat raya. Mudah-mudahan saja setelah dewasa, kau tidak menyebalkan seperti ayahmu." Erik berbicara seolah-olah baby Vie mendengarkannya.
"Ciihh ... keren apanya?" Vino mencibir Erik.
"Hey ... jaga mulutmu itu! Enak saja mengatakan aku ini menyebalkan!" Reino pun memekik tak terima.
"Kau memang menyebalkan! Kenapa tidak terima?" Erik menjawab seenaknya.
__ADS_1
"Kau ini, pulang-pulang sudah bikin kesal!"
"Sudah ... sudah ...!!! Kenapa sih kalian selalu bertengkar seperti anak kecil?" Kali ini Venus yang marah. Wanita itu menatap tajam Reino dan Erik.
"Ampun, Nona Muda!" Erik meledek Venus dengan wajah yang dibuat melas. Venus hanya menggelengkan kepala melihat tingkah lelaki itu.
"Eh ... lihat, si cantik bangun!" Hanna heboh melihat baby Vie menggeliat dengan mata yang terbuka sedikit.
"Itu karena dia tahu kalau Oom terkerennya datang. Sini, aku mau coba menggendongnya!" Erik yang kepedean segera mengangkat tubuh mungil baby Vie dan menggendongnya, berbeda dengan saat di dalam gendongan Reino dan Vino, baby Vie tidak menangis di dalam gendongan Erik.
"Anak kecil pun tahu mana tangan orang keren, lihat dia tenang sekali." Ucap Erik bangga.
Namun tiba-tiba ...
"Hooooeeekk ..." Baby Vie memuntahkan susu yang dia minum tadi dan mengenai baju Erik.
"Yaaaa ... dia muntah!" Wajah Erik berubah masam dan baby Vie malah tersenyum ala bayi.
Sontak semua orang menertawai nasib apes Erik, lelaki itu segera mengembalikan baby Vie ke dalan box bayinya.
"Anak kecil pun tahu, mana Oom yang menjijikkan! Hahaha ..." Vino mengejek Erik lalu tertawa puas sekali.
Erik tak menghiraukan ejekan itu dan semua orang yang menertawakannya, pria itu keluar dari kamar Venus dan segera memebersihkan dirinya.
***
Semua orang sudah berkumpul di meja makan, termasuk juga Venus. Sebenarnya Reino sudah melarang istrinya itu untuk ikut turun, mengingat dia baru saja melahirkan dan harus beristirahat total. Tapi Venus tetap memaksa untuk makan malam bersama yang lain. Sedangkan baby Vie yang sudah tidur dititipkan kepada baby sitternya.
Sejenak tak ada percakapan diantara kedelapan orang itu, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang saling berbenturan. Sampai saat Venus mulai membuka percakapan disela-sela makan malam hening itu.
"Hanna, bagaimana persiapan pesta pernikahanmu dan kakak?" Tanya Venus.
"Semuanya lancar, persiapannya sudah sembilan puluh sembilan persen. Tinggal menunggu hari H nya saja." Jawab Hanna sambil melirik Vino yang sedang memandangnya.
"Syukurlah, aku doakan mudah-mudah lancar terus sampai hari H." Lanjut Venus.
Semua orang mengamini doa Venus.
__ADS_1
"Hmmm ... aku juga mau menyampaikan sesuatu!" Kali ini Erik pun mulai angkat bicara.
"Ada apa? Sepertinya serius?" Reino dan semua orang memandang lekat wajah Erik.
"Aku sudah memutuskan untuk menikahi Ina akhir bulan ini."
"Haaa ... apa?" Ina yang terkejut spontan memandang ke arah Erik.
"Wah ... kalau begitu, alangkah lebih baik pernikahan kalian disatukan saja dengan pernikahan kakak!" Venus memberi usul dengan antusias.
"Ah ... enak sekali dia! Aku sudah keluar uang banyak untuk pesta pernikahan ala negeri dongeng itu, dia tinggal ikutan saja." Vino menggerutu sambil melirik Hanna. Konsep negeri dongeng itu adalah permintaan sang calon istri.
"Kau fikir aku mau menumpang dipestamu? Aku akan membuat pesta sendiri yang lebih mewah dari pestamu!" Erik yang tak mau kalah pun membalas ucapan Vino.
"Buat saja sana!"
"Kalian ini benar-benar seperti anak kecil, selalu saja berkelahi! Tidak malu apa dengan umur?" Reino berlagak menasihati kedua orang itu.
"Eleh ... kau pun sama! Kau juga selalu berkelahi dengan mereka, memangnya kau tidak malu dengan umur?" Venus mengehela nafas dan memutar bola matanya dengan malas.
"Sayang, kenapa kau berkata begitu?" Tanya Reino.
"Aku hanya sekedar mengingatkanmu! Kalian bertiga itu cocoknya di juluki Trio Kwek Kwek!" Jawab Venus.
Dan ucapan Venus itu disambut tawa dari semua orang, membuat acara makan malam itu menjadi penuh kegembiraan. Walaupun mereka selalu berdebat dan bertengkar, tapi jauh di dalam hati mereka saling menyayangi satu sama lain. Kejadian dimasa yang lalu, membuat mereka semakin memahami arti sebuah keluarga sesungguhnya. Mereka telah berjanji akan membuat semuanya menjadi lebih indah.
***
Curhat author ...
Guys, mungkin bonus episodenya akan segera habis.
Dan author ada niat untuk ngelanjutin season 2 nya disini, kisah tentang kehidupan sehari-hari dan tingkah laku NEVI QUEEN BRAHMANSA remaja. Tapi tokoh utama cerita ini tetap ada kok dan alurnya lebih ringan jadi tidak seberat cerita ini.
Tapi itu masih niat author loh, tergantung minat dan permintaan pembaca juga.
Author mau lihat berapa banyak yang minat dan setuju author lanjutin season 2 nya disini. Karena kalau nggak banyak yang minat, niatnya author batalkan.
__ADS_1
Komen ya kalau setuju guys ...🙏🙏