Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 69


__ADS_3

Pagi ini Venus terlihat tidak bersemangat, sejak pembicaraannya dengan Vino semalam, gadis itu hanya diam melamun. Tak ada bantahan atau pernyataan apapun yang keluar dari bibirnya untuk menjawab kata-kata Sang Kakak.


Dan di sinilah Venus sekarang, duduk di sebuah bangku taman rumah sakit, mencoba mencerna setiap perkataan Erik dan Vino, membuat hatinya dilema sendiri akhirnya.



"Hay ...!" Alvin yang tiba-tiba datang segera duduk di samping Venus.


"Eh, kamu kagetin aku saja!" Venus yang terkejut hanya mengelus dadanya.


"Aku cari-cari kamu, ternyata disini. Kamu lagi memikirkan kata-kata Kakakmu tadi malam ya?" Alvin memandangi Venus penasaran.


Venus tertunduk diam dan hanya mengangguk pelan, dia bingung harus menjawab apa? Haruskah dia mengatakan hubungannya dengan Reino kepada Alvin, walaupun pria itu pasti sudah curiga.


"Hmm ... sebenarnya ... aku dan Reino ..." Venus ragu mau melanjutkan kata-katanya.


"Aku sudah tahu, kalian pasangan suami istrikan?" Alvin langsung menyela Venus. Membuat gadis itu terkejut dan memandang heran kepada Alvin.


"Kau tahu darimana?"


"Tidak penting aku tahu darimana! Sekarang kau bisa cerita kepadaku, mungkin saja aku bisa membantu meringankan beban hatimu itu." Ucap Alvin diselingi senyum manisnya.


"Aku bingung harus memutuskan apa? Disatu sisi Kakak menginginkan kami berpisah tapi di sisi lain aku merasa nggak rela melepaskan orang yang kusayangi." Venus kembali tertunduk menyembunyikan air mata yang mulai menggenangi mata indahnya.


Mendadak Alvin memegangai dadanya yang terasa perih seperti disayat-sayat.


Kenapa hatiku rasanya sakit begini mendengar kata-katanya?


"Vin, katanya mau dengarin cerita aku? Kok malah melamun gitu sih?" Venus merajuk manja.


"Maaf ... maaf ... jadi kau maunya bagaimana?" Alvin segera memfokuskan dirinya kepada Venus.


"Entahlah, aku pun bingung!"


"Menurutku, kau bicarakan saja lagi dengan Kakakmu secara baik-baik. Mungkin saja dia berubah fikiran, maklum saja dia kan masih emosi." Sumpah demi apa pun kata-kata Alvin ini di luar kendalinya, entah mengapa mulutnya bisa berkata demikian walau sejujurnya dia berharap mereka berpisah.


"Menurutmu itu akan berhasil? Tapi aku takut menyinggung perasaan Kakak." Tanya Venus cemas.


"Mudah-mudahan saja! Kau juga harus menciptakan masa depanmu sendiri, dari pada harus terpuruk dalam keadaan yang menyakitkan ini. Karena bintang yang paling terang akan muncul di malam yang sangat gelap." Alvin berkata dengan senyuman yang mengembang.

__ADS_1


Venus kembali terdiam memikirkan perkataan Alvin, sementara Alvin sedang mengutuki dirinya sendiri karena telah berbicara begitu. Sungguh bibir dan hatinya tidak sejalan.


"Baiklah! Aku akan mencoba berbicara dengan Kakak, mudah-mudahan saja dia luluh. Makasih ya Vin." Venus menggenggam tangan Alvin, wajah muramnya kini sudah dihiasi senyuman.


"Sama-sama."


"Yuk, balik ke kamar Kakak?" Venus bangkit dari duduknya dan mengajak Alvin.


"Kamu duluan saja! Nanti aku menyusul, aku masih ingin disini." Ucap Alvin.


"Ya sudah, aku tinggal ya?"


Alvin hanya mengangguk dan Venus pun melangkah pergi meninggalkan Alvin di taman dengan perasaan yang galau.


Alvin memejamkan matanya dan menghela nafas, mencoba menahan sakit dihatinya.



***


Pagi ini Tomi sudah bersiap untuk pulang, dia sudah berdiri di teras depan rumah Reino, disana juga ada Liana dan Diana. Wajah Tomi mendadak sumringah saat melihat sebuah mobil memasuki gerbang utama rumah Reino dan terparkir di hadapannya, Liana dan Diana pun terperangah melihat seseorang yang keluar dari dalam mobil itu.


"Maaf, Nyonya ... Tuan Muda sedang tidak ingin di ganggu! Jadi saya tidak bisa memberitahukan keberadaannya." Erik menundukkan kepalanya.


"Lalu buat apa kau pulang jika Reino tidak ikut?" Tanya Diana angkuh.


"Saya ada urusan sebentar, Nona. Saya permisi ...!" Erik segera berlalu dari hadapan Tomi, Liana dan Diana. Dia segera berlari menuju belakang rumah.


"Sekarang giliranmu, Diana! Cepatlah dan jangan sampai gagal, karena kesempatan ini nggak datang dua kali." Tomi mengingatkan Diana yang masih bingung dengan kedatangan Erik yang sudah diprediksi oleh Tomi.


"Baiklah, Om!" Diana masuk mengambil tasnya dan kemudian berlalu cepat ke luar perkarangan rumah Reino untuk memesan taxy online. Agar Erik tidak mnegetahui jika Diana sedang mengikutinya, gadis itu sengaja memesan taxy online dan bukan menaiki mobilnya.


"Darimana kau tahu jika supir itu akan datang?" Liana memandang Tomi penuh tanya.


"Sudah ku katakan, hanya feeling saja! Baiklah, aku pergi!" Tomi tersenyum kemudian pergi meninggalkan Liana yang masih kebingungan.


Sementara itu di paviliun belakang rumah Reino, Erik sedang mencari-cari sosok Ina. Tapi tidak dia temukan, lalu Erik berlari ke dapur dan akhirnya menemukan Ina yang sedang memantau para koki memasak makan siang.


"Ina, kau baik-baik saja?" Erik memandangi Ina dari ujung kepala sampai ujung kaki. Raut wajahnya terlihat cemas. Para-para koki pun ikut heran melihat tingkah Erik.

__ADS_1


"Iya, aku baik-baik saja! Memangnya ada apa?" Ina kaget melihat kedatangan Erik terutama sikap anehnya.


"Syukurlah, kalau begitu!" Erik menghela nafas lega.


"Ada apa sih?" Ina menjadi penasaran.


"Tidak ... tidak apa-apa, aku hanya bermimpi buruk tentangmu, aku takut terjadi apa-apa. Ya sudah, aku pergi dulu." Erik berbohong untuk menjawab rasa penasaran Ina.


Pria itu pun berlalu meninggalkan Ina dengan perasaan geram dengan rahang yang mengeras, dia teringat kejadian tadi pagi yang membuat dia buru-buru menemui Ina.


Flashback on ...


Pagi-pagi sekali ada panggilan masuk dari nomor baru di ponsel Erik, awalnya Erik ragu untuk menjawabnya tapi ponselnya terus berdering, akhirnya karena rasa penasaran, Erik pun menjawab panggilan masuk itu.


"Hallo, siapa ini?" Erik bertanya dengan nada yang datar.


"Akhirnya kau menjawabnya juga!"


"Kau ...? Mau apa kau meneleponku?" Erik yang tanda dengan suara seseorang di seberang sana langsung bertanya dengan ketus.


"Waow ... tenanglah, jangan emosi begitu! Aku cuma mau menyampaikan kepadamu, jika dalam 30 menit kau tidak datang, gadis yang menjadi mata-matamu akan segera meninggalkan dunia ini."


"Kau jangan macam-macam! Dia tidak bersalah! Jangan sakiti dia!" Erik membentak si penelpon.


"Hahaha ... aku rasa kau sangat mengenalku, apa kau pernah melihatku bermain-main dengan ucapanku? Datanglah, sebelum dia berakhir di dalam tanah! Hahaha ..."


"Hey ... jangan macam-macam!!" Erik berteriak membentak si penelpon, tapi panggilan masuk itu sudah terputus.


"Ada apa? Siapa yang menelepon!" Reino yang mendengar teriakan Erik segera menghampirinya dan bertanya dengan wajah bingung.


"Bukan siapa-siapa, Tuan!" Erik berbohong untuk menutupi semuanya dari Reino, dia nggak ingin kedoknya terbongkar karena si penelpon.


"Lalu mengapa kau marah-marah?" Reino semakin penasaran.


"Maaf, Tuan ... saya permisi sebentar!" Erik segera berlalu tanpa menjawab pertanyaan Reino.


Reino hanya menghela nafas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Erik, walaupun hatinya masih sangat penasaran.


Flashback off ...

__ADS_1


***


__ADS_2