
Vino masih terdiam, netra hitamnya tak beralih sedikit pun dari wajah cantik Venus.
Mendadak wajahnya berubah sendu saat mendengar nama gadis itu.
"Kau baik-baik saja, Tuan?" Venus bertanya dengan rasa penasaran.
"Hmmm ... maaf ... maaf, namamu mengingatkanku kepada seseorang." Vino tersentak dan menjadi kikuk.
"Oh ... pasti kekasihmu ya, Tuan?" Venus tersenyum manis.
Lagi-lagi Vino terkesiap melihat senyuman Venus, dia seperti melihat sosok seseorang yang begitu dia sayangi.
Senyuman itu?
Aku sangat merindukan senyuman itu.
"Kau sudah selesai berkenalan dengan asistenku ini? Bisa kita mulai meetingnya?" Reino menyela dengan tatapan tak bersahabatnya. Pria itu merasa terganggu dengan sikap Vino.
"Oh ... baiklah, mari kita mulai." Vino mengalihkan pandangannya ke Reino.
Selama meeting berjalan, mata Vino masih terus memandang kearah Venus. Reino yang menyadari hal itu merasa kesal dan menggerutu dalam hati.
Berhentilah memandanginya bodoh!
Setelah setengah jam berlalu, meeting pun selesai.
"Bagaimana kerja sama kita?" Reino bertanya untuk memastikan.
"Iya, aku setuju untuk bekerja sama dengan Grafika Grup." Vino menjawab dengan mata yang melirik Venus.
"Kalau begitu silahkan tanda tangan kontrak kerja samanya." Reino menyodorkan selembar kertas dan Vino segera menandatanganinya, lalu mereka berjabat tangan.
"Hmmm ...Nona Venus, bisakah aku tahu nama belakangmu?" Vino beralih kepada Venus yang duduk disebelah Reino.
"Namaku Venus Winata, putri dari Daniel Winata."
"Oh ... ternyata kau putri keluarga Winata?" Guratan kekecewaan seketika menghiasi wajah tampan Vino.
"Kau belum memperkenalkan namamu, Tuan!"
"Kau bisa menanyakannya kepadaku nanti!" Reino memandang sebal Venus.
"Untuk apa bertanya kepadamu kalau aku bisa bertanya langsung kepada orangnya!" Venus menjawab seenaknya, membuat wajah tampan Reino mendadak masam. Vino hanya memandang bingung sikap Venus kepada Reino, yang buka selayaknya atasan dan bawahan.
"Aku Vino Adyatama." Vino memperkenalkan dirinya, membuat perdebatan kecil sepasang suami istri itu berhenti.
"Senang berkenalan denganmu, Tuan." Venus memamerkan lagi senyuman ajaibnya yang bisa meluluhkan siapapun yang melihatnya.
__ADS_1
Reino yang sedari tadi memperhatikan interaksi kedua manusia itu berulang kali mendengus kesal, dia sungguh tidak menyukai situasi ini.
"Baiklah, meeting kita sudah selesai! Terima kasih atas waktunya." Reino segera mengakhiri adegan yaang membuat moodnya buruk ini.
"Ok, aku permisi dulu! Sampai jumpa lagi Nona Venus." Vino pamit dengan senyuman yang mengembang. Reino semakin kesal dengan sikap manis Vino kepada istrinya itu.
Apa dia bilang?
Sampai jumpa lagi?
Kalau tidak karena kerja sama yang menguntungkan ini, aku pasti sudah mengusirmu!
Perusahaan Grafika Grup yang bergerak dibidang modeling dan periklanan menjalin kerja sama dengan V2 Grup, yaitu perusahaan fashion. Vino berencana untuk mempromosikan fashion-fashion terbaru dari perusahaannya melalui perusahaan periklanan Reino.
***
Seminggu berlalu, sejak pertemuannya dengan Venus, Vino tidak bisa berhenti memikirkan gadis itu. Nama dan senyuman gadis itu selalu menghantui fikirannya, Vino benar-benar nggak tahan, hari ini dia memutuskan untuk menemui Venus di Grafika Grup. Vino melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan kota B agar bisa segera bertemu dengan gadis yang mengganggu fikirannya itu.
Selama seminggu ini juga kehidupan Reino dan Venus mulai membaik, terlebih karena Liana dan Diana sudah tidak mengusik mereka lagi.
Diana sudah kembali ke kediaman Wirawan, sedangkan Liana sedang berlibur ke luar negeri untuk menenangkan fikirannya.
Sementara itu di gedung Grafika Grup, Venus tengah fokus mengotak-ngatik ponsel di ruangannya, lalu tiba-tiba Alvin datang dan mengajaknya untuk makan siang.
"Makan siang, yuk?" Alvin bertanya penuh harap.
"Sudah waktunya makan siang ya?" Venus melirik arloji ditangannya. Waktu telah menunjukkan pukul 12.05 siang.
Setidaknya itulah yang ada di fikiran Venus.
Venus dan Alvin pun berlalu meninggalkan gedung Grafika Grup, Alvin berencana mengajak Venus makan siang di salah satu restoran seefood yang tak jauh dari kantor mereka.
Tanpa mereka sadari ada beberapa orang yang sedang mengawasi mereka dari kejauhan.
Sementara itu, Reino melangkah memasuki ruangan Venus, pria tampan itu bermaksud hendak mengajak Venus makan siang, tapi dia tak mendapati gadis itu disana. Reino meraih ponselnya dan segera menghubungi Venus.
"Kau dimana?" Reino bertanya dengan nada tinggi saat panggilannya tersambung.
"Aku akan makan siang bersama Alvin di restoran seefood dekat kantor." Venus
"Kenapa tidak bilang dulu?"
"Maaf ... aku lupa!" Venus.
Reino memutuskan panggilannya dan segera menuju restoran yang dimaksud oleh Venus dengan perasaan kesal, bagaimana bisa gadis itu lupa meminta izin pergi apalagi perginya dengan pria lain. Entah mengapa hati Reino menjadi panas.
Tiba-tiba mobil yang dikendarai Alvin dicegat oleh sebuah mobil berwarna hitam, Alvin yang kaget segera membanting stir ke kiri dan hampir saja menabrak tiang papan reklame, beruntung mobilnya cepat berhenti.
__ADS_1
Dari dalam mobil hitam itu keluar 4 orang pria berbadan besar dengan wajah yang sangar, mereka langsung menggedor kaca mobil Alvin.
"Siapa mereka?" Venus terlihat panik.
"Entahlah! Aku harus keluar untuk memastikan!" Alvin hendak turun, tapi Venus menahannya.
"Jangan keluar! Aku akan minta bantuan Tuan Reino!" Venus gemetaran karena takut.
Namun belum sempat Venus menghubungi Reino, kaca mobil sebelah kanan sudah di pecahkan oleh salah satu pria berotot itu dengan menggunakan linggis. Kaca-kaca berhamburan kemana-mana, bahkan melukai lengan Venus.
Praaaaang ...!!!
"Aaaaaaawww ...!" Venus berteriak kaget.
"Keluar ...!" Seorang pria bebadan kekar itu membuka pintu mobil dari dalam dan menyeret Venus keluar.
"Hey ... lepaskan!" Alvin secepatnya keluar dari mobil dan bermaksud menyelamatkan Venus, tapi dirinya sudah di keroyok oleh 3 orang pria asing itu.
"Alviiiiin ...! Toloooong ...!" Teriakan Venus seperti angin lalu, selain kondisi jalan yang tak terlalu ramai, kebanyakan orang-orang yang lewat hanya melihat dan takut untuk ikut campur.
Salah seorang dari mereka menyeret Venus untuk masuk ke dalam mobil, tapi tiba-tiba seseorang menerjang tubuh pria yang menyeret Venus hingga tersungkur ke aspal.
"Tuan Muda?" Venus terkesiap melihat pria yang datang itu adalah Reino.
"Kau baik-baik saja?" Reino memandang Venus dengan tatapan cemas.
"Iya, tapi tolong Alvin!"
Reino mendekati pria-pria yang mengeroyok Alvin, dan memandang mereka dengan tatapan membunuhnya. "Lepaskan dia!"
"Jangan ikut campur!" Seorang pria bertato membentak Reino dan berhenti memukul Alvin.
"Beraninya kau membentakku, bajing4n!" Reino mengeraskan rahangnya.
"Habisi dia!" Pria bertato itu dan kedua temannya menyerang Reino, meninggalkan Alvin yang sudah terkulai lemas.
Reino melawan mereka satu persatu, tapi karena perlawanan tak seimbang akhirnya Reino pun kehabisan tenaga dan kalah. Venus yang semakin ketakutan berteriak meminta tolong, tapi tak ada satupun yang berani menolong mengingat pria-pria berperawakan seperti preman itu sangat beringas.
"Hey ... lepaskan mereka!" seseorang yang baru datang berteriak mengalihkan pandangan ke 3 pria sangar itu.
***
Ni Author kasih visualnya Vino ...
Jangan lupa dukung terus karya author ya.
Vote banyak-banyak biar author makin semangat....🙏🙏😊
__ADS_1
Vino Adyatama