Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 12


__ADS_3

Reino berjalan mendekati tubuh Venus yang tertidur dengan pulas di atas ranjang, seketika netranya menangkap bagian baju Venus yang sedikit terbuka akibat ulah Si berengs*k Shane tadi. Dua kancing baju Venus terbuka dan memamerkan belahan dadanya yang putih mulus, pemandangan yang hanya pernah Reino lihat di film - film.


Reino menjadi gugup sendiri, jantungnya berdetak lebih cepat bahkan wajah tampannya bersemu merah. Dia merasakan ada gejolak, mungkinkah itu hasrat?


Buru - buru Reino menarik selimut dan menutupi tubuh Venus sebelum dia hilang kendali, lalu pria itu menjauh dan duduk di sofa. Reino hanya memandangi Venus dari jauh, dia menunggu wanita itu bangun dari tidurnya.


Dua jam kemudian, Venus mulai terbangun, sepertinya dia telah bebas dari pengaruh obat tidur tadi. Venus mengerjapkan matanya, berusaha memfokuskan pandangan. Dia menoleh kearah sofa, dan samar - samar melihat seseorang yang sedang berbaring di atas sofa dengan wajah yang ditutupi dengan sebuah jas. Sepertinya dia ketiduran saat menunggu Venus bangun.


Venus memijit kepalanya yang masih terasa pusing lalu berusaha mengingat apa yang terjadi. Seketika mata Venus membulat sempurna saat ingatannya menangkap sebuah kejadian di bar tadi, Venus segera bangun dari tidurnya dan hendak turun dari ranjang tapi lagi - lagi dia kaget saat melihat kancing bajunya terbuka, dia buru buru mengancingnya kembali. Wajah Venus memerah menahan malu dan geram, dia segera berdiri menghampiri sosok yang sedang tertidur di sofa dan memukulnya dengan bantal.


"Dasar berengs*k!" Venus berteriak sambil berulang kali memukul Reino dengan bantal, sehingga membuat Reino tersentak kaget.


"Hey .... Apa yang kau lakukan? Kau cari mati ya?" Reino menarik jas yang menutupi wajahnya dan menatap tajam kearah Venus.


"Haaaa .... Apa? Jadi kau ...." Venus kaget melihat orang yang dia pukul itu adalah suaminya sendiri, karena tadi Venus mengira dia adalah Shane.


"Kenapa kau memukulku?" Reino mengubah posisinya menjadi duduk.


"Ma .... Maaf .... Aku kira tadi kamu itu Shane." Venus tertunduk takut melihat tatapan tajam Reino yang seperti menusuk jantungnya.


"Oh, pacarmu yang tadi?"


"Bukan, dia bukan pacarku, dia pacar adikku!" Venus spontan menggelengkan kepalanya menolak tuduhan Reino.


"Dia memberimu obat tidur dan hampir memperkos*mu tadi kalau aku tidak datang." Reino terlihat kesal.


"Apaaaaa? Pantas tadi rasanya aku mengantuk sekali, dasar bajing*n!" Venus meremas jemarinya menahan geram kepada Si berengs*k Shane dan menhempaskan tubuhnya di sofa tepat disamping Reino, membuat pria itu sedikit kaget dengan aksinya.


"Bagaimana bisa kau terjebak olehnya? Bukankah seharusnya kau pergi dan pulang bersama Erik?" Reino menautkan kedua alisnya, memandang Venus dengan tatapan menyelidik.


Venus terdiam merasa semakin takut, dia tahu bahwa dirinya bersalah karena telah berani pergi bersama Shane, padahal tadi Erik sudah melarangnya.


"Maaf .... Dia berjanji akan memberi kabar tentang adikku, dia memaksaku untuk ikut bersamanya. Aku nggak ada pilihan, aku ingin sekali mengetahui kabar adik dan juga orang tuaku." Venus semakin tertunduk.


"Sebegitu perdulinya kau kepada orang - orang yang sudah mencampakkanmu?" Reino terharu melihat kepedulian Venus kepada keluarganya, sampai - sampai tadi dia hampir saja celaka.


"Bagaimana pun juga, mereka tetap keluargaku."

__ADS_1


Setidaknya itu adalah alasan yang tepat agar Tuan Muda tampan ini tidak marah kepadanya, tujuan Venus ingin mengetahui kabar Erika dan keluarganya yaitu agar dia bisa membalas perbuatan mereka. Tapi tanpa terduga dia malah masuk keperangkap Shane yang licik.


"Jadi kau sudah mendapat kabar tentang adikmu?


"Sudah, kata Si berengs*k itu, adikku sedang hamil dan dia enggan untuk bertanggung jawab." Venus berbicara dengan wajah datar, dalam hatinya dia senang dengan apa yang menimpa Erika walaupun dia merasa sedikit kasihan.


"Dasar bajing*n!" Reino menggeram dan mengeraskan rahangnya.


"Apa aku boleh meminta tolong sesuatu?" Venus memandang Reino penuh harap.


"Apa?"


"Aku ingin menuntutnya dan menjebloskannya ke penjara, apa kau bisa bantu?"


Sejenak Reino tampak berfikir, lalu memandang lekat wajah Venus, "Kenapa kau ingin menjebloskannya ke penjara?"


"Tentu saja karena dia berusaha memperkos*ku!" Venus berbicara dengan nada tinggi, lagi - lagi Reino dibuat kaget dengan sikap gadis itu.


"Hey, turunkan nada bicaramu!" Reino menajamkan tatapannya.


"Habis aku kesal, kenapa kau masih bertanya juga sih?" Venus mengerucutkan bibirnya dan memalingkan pandangannya dari Reino, membuat Rino gemas dengan wajah cemberutnya itu.


"Aku hanya ingin dia mendapat pelajaran saja." Venus menjadi gugup, dia nggak mau Reino tahu bahwa dia sedang ingin membalas dendam kepada Shane.


"Begitukah?" Reino terlihat ragu, membuat Venus semakin kikuk.


"Iya .... Eh, tapi darimana kau tahu aku disini?" Venus mengalihkan pertanyaannya.


"Ada yang menelponku, dia mengatakan bahwa istriku masuk ke hotel XX bersama seorang pria."


"Siapa?" Venus terlihat penasaran.


"Entahlah, dia menggunakan private number, aku nggak bisa melacaknya. Tapi dia seorang wanita."


Venus terdiam dan berfikir, dia berusaha menerka - nerka siapa si penelpon itu, dari mana dia tahu kalau Shane membawa dirinya ke hotel?


Sebenarnya apa motif wanita itu?

__ADS_1


"Lalu bagaimana kau bisa menemukan kamar ini dan masuk kesini?" Venus bertanya lagi.


"Mungkin kau tidak tahu, selain memiliki perusahaan periklanan, aku juga memiliki beberapa bisnis property salah satunya hotel ini. Aku bisa mendapat informasi apapun dan dengan muda masuk ke hotel ini." Reino melirik Venus, dia ingin melihat reaksi gadis itu saat tahu kekayaannya.


"Oh .... Begitu! Pantas saja kau bisa dengan mudah menemukanku dan masuk kekamar ini." Venus berbicara dengan reaksi yang biasa saja.


"Kau tidak berbangga dengan kekayaan suamimu ini?" Reino memandang heran Venus.


"Buat apa berbangga? Itukan kekayaanmu, bukan kekayaanku." Venus menyunggingkan senyum dibibirnya.


"Tapi kau istriku!"


"Tidak, Tuan Muda! Aku hanya tumbalmu, sebentar lagi aku juga akan mati." Wajah Venus berubah sendu.


"Berhentilah berkata seperti itu dihadapanku, kau tidak perlu mengingatkan statusmu itu, aku tidak suka mendengarnya!" Reino menjadi kesal mendengar kata kata Venus, entah mengapa setiap Venus mengatakan itu, hati Reino menjadi sakit dan sedih.


Venus bingung melihat reaksi dan ucapan Reino, tadi dia yang berkata kalau Venus adalah istrinya tapi dalam sekejap dia mengakui bahwa Venus adalah tumbal.


Sebenarnya apa yang kau pikirkan Tuan Muda?


Sikapmu aneh sekali!


Reino merogoh saku dan mengambil ponselnya lalu menghubungi salah satu pengawalnya.


"Jebloskan bajing*n itu ke penjara, pastikan dia mendekam disana dalam waktu yang lama!" Reino memerintah dengan nada tegas.


"Baik, Tuan!" Pengawal.


"Kau sudah puas?" Reino melirik Venus.


Venus tersenyum senang, "Terima kasih!"


"Ayo kita pulang!" Reino mengajak Venus pulang kerumahnya.


Sementara ditempat lain, Shane yang sudah tak berdaya dan babak belur dihajar pengawal Reino hanya pasrah dengan nasibnya. Dia tau mereka akan memenjarakannya, tapi itu lebih baik daripada mati konyol disini. Dia yakin orang tuanya akan menjamin dan membebaskannya.


***

__ADS_1


Sebenarnya aku udah up dari tadi malam, tapi nggak lolos, jadinya terpaksah buat ulang.


Jangan lupa like, vote dan rate 5 ya sayank akuh....


__ADS_2