Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 96


__ADS_3

Siang ini Reino dan Erik tengah bersiap untuk berangkat meeting di luar, sejak tidak ada Alvin dan belum mendapat gantinya, Eriklah yang sementara merangkap menjadi sekretaris Reino.


Bukan tanpa alasan, Reino melihat potensi yang luar biasa dari Erik, pria itu cerdas dan mudah mengerti. Reino juga menawarkan agar Erik menjadi sekretarisnya menggantikan Alvin, tapi Erik menolak dengan alasan tidak tertarik di dunia bisnis. Dia bersedia menjadi sekretaris Reino hanya sampai Tuan Muda itu mendapatkan pengganti Alvin saja.


"Bagaimana, semuanya sudah kau persiapkan?" Tanya Reino.


"Sudah, Tuan!" Erik mengangguk patuh.


"Baiklah, kita berangkat sekarang!"


"Kenapa terburu-buru sekali? Memangnya kau mau kemana?" Tiba-tiba suara Johan mengangetkan mereka. Pria itu sudah berdiri di depan pintu ruangan Reino.


"Paman Gober? Ada apa kesini? Aku sedang ada meeting di luar." Reino mendongakkan kepala dan memandang Johan.


"Aku hanya ingin memantau perusahaan saja, apakah kau sudah mengurus perusaan ini dengan benar atau tidak." Johan melangkah masuk dan mendekati meja kerja Reino.


"Tenang saja, Paman! Semua aman terkendali! Kalau begitu aku berangkat dulu ya, aku terburu-buru." Reino beranjak dan melangkah menuju pintu keluar, diikuti juga oleh Erik yang berjalan di belakangnya.


"Hey ... aku ikut!" Suara Johan menhentikan langkah Reino dan Erik.


"Ikut ...? Aku mau meeting, bukan piknik. Untuk apa Paman ikut?" Reino menautkan kedua alisnya, memandang bingung kepada Johan.


"Aku ingin melihat bagaiamana caramu memimpin rapat! Ayolah, nanti kita terlambat!" Johan berjalan melewati Reino dan Erik, kedua pria itu hanya terperangah melihat tingkah Johan.


Reino pasrah mengikuti langkah Johan, begitu juga dengan Erik. Mereka bertiga masuk ke dalam mobil dan Erik segera melajukan mobil yang dikendarainya dengan kecepatan sedang. Tanpa sepengetahuan ketiga orang itu, ada sebuah mobil yang mengikuti mereka dari jarak aman.


***


Sebelumnya ...


Diana sudah keluar dari rumah sakit, Liana segera mengajak putrinya itu untuk pulang ke rumah ayah kandungnya, seperti yang dia janjikan. Liana sengaja tak memberitahukan kepada Diana siapa ayahnya, dia beralasan ingin membuat kejutan. Awalnya Diana keberatan, tapi akhirnya dia menurut karena Helen membujuknya.

__ADS_1


Liana membawa Diana masuk kesebuah rumah yang besar dan megah, terlihat beberapa pengawal yang berjaga di rumah itu. Diana terus mengikuti langkah Liana yang membawanya naik ke lantai dua tanpa bertanya apapun walau pun hatinya penasaran, sepertinya gadis itu sedang berusaha menenangkan hatinya yang bergemuruh antara senang, sedih dan marah.


Akhirnya langkah Diana dan Liana terhenti di depan sebuah pintu kamar, Liana segera memutar handle pintu itu dan membukanya dengan lebar.


"Ayo masuk, sayang!" Liana mempersilahkan Diana masuk. Gadis itu hanya menurut.


"Selamat datang di rumah putriku!" Seorang pria paruh baya sedang berdiri memandang Diana dengan senyum yang mengembang dibibirnya.


"Kau ...? Jadi kau ayahku? Ini tidak mungkin!" Diana terkejut bukan main, dia sampai menutup mulutnya yang terbuka karena kaget.


"Iya, sayang! Dialah ayah kandungmu!" Liana menjawab keraguan Diana.


"Jadi Reino itu saudaraku? Bagaimana mungkin kalian bisa menikahkan aku dengan saudaraku sendiri? Ini tak masuk akal!" Diana berteriak tak percaya.


"Hahaha ... saudara? Saudara apanya? Dia bukan saudaramu! Sepertinya kau belum tahu siapa saudaramu yang sebenarnya ya?" Pria paruh baya itu tertawa sambil meledek Diana.


"Maksudnya?" Diana semakin bingung.


"Sudahlah, tak usah kau fikirkan! Masih banyak yang tidak kau ketahui. Sekarang yang terpenting kau sudah berkumpul dengan orang tua kandungmu. Kita akan hidup bahagia setelah ini." Ucap Diana mencoba menenangkan putrinya itu.


"Kau sepertinya penasaran sekali ya? Baiklah, ayahmu ini akan menceritakanya dengan senang hati. Ayah dan Ibumu memiliki hubungan walaupun tidak didasari cinta, yaaa ... katakanlah ibumu hanya pemuas nafsu saja dan sialnya ibumu hamil dirimu, sementara ayah sudah berkeluarga dan mencintai wanita lain." Pria itu mulai menceritakan kisahnya yang terdengar seperti aib dimasa lalu tanpa merasa malu dan bersalah.


"Serendah itukah ibuku ini?" Diana memandang sinis kepada Liana yang tertunduk menahan malu. " Dan kau katakan kehamilan ibuku suatu kesialan? Pria macam apa kau ini?" Diana memandang pria itu dengan tatapan penuh amarah.


"Tenanglah dulu putriku! Semua tak seburuk yang kau fikirkan, ayah tetap menafkahi kalian meskipun ayah tak bisa menikahi ibumu, ayah tetap bertanggung jawab. Saat itu ayah merencanakan seauatu untuk merebut hak ayah dan kami terpaksa menitipkanmu kepada Hellen."


"Keterlaluan ..! Lalu mengapa sekarang kalian ingin menjodohkanku dengan Reino? Apa sebenarnya yang kalian rencanakan?" Diana bertanya dengan raut wajah penasaran bercampur marah, mata gadis itu sudah berkaca-kaca karena menahan sakit dihatinya.


"Mengirim Reino beserta istrinya ke neraka dan merebut harta keluarga Brahmansa. Tadinya ayah berencana, setelah kau menikah dengan Reino, ayah akan segera menghabisinya agar harta itu jatuh ketanganmu. Tapi rencana itu berantakan karena kebodohan ibumu ini yang menikahkan dia dengan putri keluarga Adyatama." Pria paruh baya itu melirik Liana dengan tatapan tidak suka.


"Aku terpaksa melakukannya untuk menutupi rumor kutukan istri pertama itu, semua orang mengetahui rumor itu. Aku berfikir setelah menikahkan dia dengan Reino, aku akan segera menghabisinya, tapi tanpa kuduga, dia selamat dan masih hidup." Liana berusaha membela diri.

__ADS_1


"Haaa ... ternyata aku bodoh sekali, aku tak menyadari rencana licik kalian itu. Aku fikir ibuku ingin menghabisi Venus cuma agar aku bisa segera menikah dengan Reino, tapi ternyata aku salah! Kalian tega ingin menghabisi Reino cuma karena harta? Padahal dia begitu sayang dan mempercayai kalian selama ini." Diana menggeleng-gelengkan kepala, tak habis fikir dengan niat jahat kedua orang tuanya itu.


"Hahaha ... kau jangan naif Diana, terkadang untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, kita harus mengorbankan orang lain." Ucap pria itu dengan wajah licik.


"Cckk ... cckk ... cckk ... aku tak menyangka kedua orang tuaku begitu kejam dan licik." Diana menyunggingkan senyum dibibirnya. Liana dan pria itu hanya tersenyum penuh arti.


Tiba-tiba ponsel pria paruh baya itu berdering, dia hanya melirik Diana dan Liana bergantian tanpa menjawab panggilan masuk di ponselnya itu.


"Sayang, sebaiknya sekarang kau istirahat, kau kan baru keluar dari rumah sakit. Mintalah pelayan menunjukkan kamarmu." Liana mendorong bahu Diana agar segera keluar dari kamar. Liana mengerti maksud lirikan pria itu.


Diana menuruti Liana, dia berlalu keluar kamar. Tapi tanpa sepengetahuan mereka, Diana menguping pembicaraan pria itu dengan si penelpon.


Mata gadis itu membulat sempurna saat mendengar rencana kedua orang tuanya itu.


"Baiklah, aku akan ikut andil dalam rencana kalian!" Gumam Diana dalam hati sambil tersenyum licik. Lalu Diana merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang, tapi tak ada jawaban. Akhirnya dengan terburu-buru, Diana melangkah keluar dan pergi dengan mengendarai mobilnya tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya itu.


Setengah jam kemudian, Diana tiba di kediaman Brahmansa, dia segera masuk dan mencari keberadaan Venus. Kebetulan Venus sedang duduk di ruang keluarga.


"Diana ...? Mau apa kau datang kesini?" Venus bertanya dengan tatapan tidak suka.


"Ikut aku!!!" Diana segera menarik lengan Venus dan menyeretnya ke luar.


"Kau mau membawaku kemana? Jangan macam-macam, Diana!" Venus berusaha memberontak, tapi Diana tak menghiraukanya.


"Kalau kau masih ingin melihat Reino, maka diam dan ikut denganku!"


Para pengawal yang melihat Diana menarik lengan Venus berusaha menghadang mereka, tapi Venus memberi isyarat agar pengawal-pengawal itu membiarkan mereka pergi. Akhirnya para pengawal mengalah dan membiarkan Diana membawa Venus pergi dengan mobilnya dengan perasaan cemas.


Diana melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kesuatu arah.


***

__ADS_1


Masih penasaran nggak?


Likenya jangan lupa ya sayang akuh ...💜


__ADS_2