
Erika sudah berada di parkiran apartemen Shane, dia terpaksa membayar ongkos taxy dengan cincin nikahnya, karena Erika tidak membawa uang sepeserpun, hanya cincin itu yang bisa dia gunakan. Lagipula dia berfikir, untuk apa masih menyimpan cincin nikah itu sedangkan pernikahannya telah hancur.
Erika yakin Shane sedang berada di apartemennya dan terkaannya benar, tak berapa lama kemudian Shane keluar dari apartemennya bersama seorang wanita, dia wanita yang sama ketika Erika memergoki mereka waktu itu.
Mendadak hati Erika panas, gadis itu segera berlari menghampiri Shane dan wanita itu.
"Dasar bajing4n ...!!! Manusia tak punya hati, setelah kau menyakitiku, kau masih bisa bermesraan dengan wanita ****** ini?" Erika berteriak memaki Shane dan wanita itu. Gadis itu berusaha mencekik leher Shane, tapi Shane berhasil melepaskan cengkeramannya karena tenaganya kalah kuat dengan pria itu.
"Erika ...! Berani sekali kau melakukan ini? Sekarang juga aku akan menceraikanmu!" Shane membentak istrinya itu dengan tidak tahu malu.
"Oh ... baguslah! Aku juga tak sudi menjadi istri dari orang yang telah membunuh anakku." Erika berbicara dengan penuh emosi. Beberapa orang yang berlalu lalang melirik ke arah mereka.
"Apa ...? Aku membunuh anakmu?" Shane tampak terkejut.
"Iya, aku keguguran karena perbuatanmu waktu itu. Kau telah membunuh darah dagingmu sendiri. Kau pembunuh ...!!!" Erika kembali berteriak sampai memancing perhatian orang-orang yang berjalan melewati mereka. Shane merasa risih dengan tingkah Erika.
"Tutup mulutmu ...!!! Jangan berteriak disini!"
"Sudahlah, Sayang ... jangan hiraukan dia." Wanita yang bersama Shane itu ikut berbicara dengan tatapan sinis.
"Ciih ... dasar pelakor ...! Yang satu pembunuh dan yang satunya lagi pel4cur, kalian serasi sekali." Erika memaki dan mengejek sapasang manusia tak tahu malu itu.
"Kau cari mati ya? Ikut aku ...!!!" Shane menarik Erika dan memaksanya masuk ke dalam mobil dengan perasaan geram.
"Sayang, kau mau membawa dia kemana?" Kekasih Shane itu bertanya dengan raut wajah bingung.
"Aku akan membawanya ke tempat yang jauh, kau tetaplah disini." Shane masih memegangi Erika yang memberontak dan berusaha keluar dari mobil Shane.
Wanita itu hanya menuruti perintah Shane walahpun merasa keheranan.
"Lepaskan aku! Aku mau keluar!" Erika berteriak dan meronta-ronta.
"Diam ...! Atau ku habisi kau sekarang juga!" Kata-kata Shane membuat Erika terdiam karena takut.
Shane melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Erika yang semakin panik pun berusaha membuka pintu mobil tapi sudah terkunci.
"Aku mau turun!"
Shane hanya diam bergeming, emosi dan amarah benar-benar merasuki diri pria kurang ajar itu.
"Kau dengar tidak? Aku mau turun!" Erika berteriak sekali lagi.
__ADS_1
Shane tetap diam, dan semakin mempercepat laju mobilnya. Entah niat apa yang ada di fikiran pria itu.
Melihat situasi ini, Erika tidak tinggal diam, dia segera merebut stir mobil Shane dan berusaha menginjak rem agar mobil itu berhenti. Membuat mobil Shane berjalan dengan tidak karuan.
"Hey ... apa yang kau lakukan? Lepaskan!"Shane menjadi panik melihat tingkah Erika. Tapi gadis itu tidak menghiraukannya dan masih berusaha merebut kemudi ditangan Shane.
Brrraaaaakkk ...
Tiba-tiba sebuah truk datang dari arah berlawanan, dan tabrakan pun tak dapat dielakkan lagi. Bagian depan mobil Shane remuk dan banyak darah berceceran.
***
Mobil yang membawa Erik, Reino, Venus dan juga Daniel terhenti di tengah jalan karena macet, sementara Eliza masih menunggu di rumah sakit, mana tahu Erika kembali kesana. Perasaan cemas kepada Erika dan rasa kesal karena jalanan yang macet membuat emosi semua orang naik sampai ke ubun-ubun.
"Ada apa? Kenapa macet sekali?" Reino bertanya dengan wajah kesal.
"Sepertinya ada kecelakaan, Tuan." Ucap Erik mencoba menerka.
"Kenapa perasaan aku tidak enak ya? Aku ingin turun!" Mendadak hati Venus cemas, dia merasa curiga yang kecelakaan adalah Erika. Mengingat kondisi adik tirinya itu sedang tidak baik.
"Untuk apa kau turun?" Tanya Reino.
"Kau ada-ada saja!" Reino melengos.
Mendengar nama Erika, membuat Erik pun menjadi berprasangka buruk, sepertinya ucapan Venus ada benarnya juga, apa salahnya memastikan.
"Kalau begitu biar saya saja yang keluar untuk memastikan!" Erik segera turun dari mobil tanpa menunggu persetujuan semua orang.
Erik berlari mendekati mobil yang kecelakaan itu, membelah kerumunan orang-orang agar bisa melihat dari dekat korbannya. Mata Erik membulat sempurna, bahkan mulutnya sampai ternganga melihat korban yang masih terduduk di dalam mobil, beberapa polisi yang dibantu warga sedang berusaha mengeluarkan salah satu korban itu dari dalam mobil yang hancur dan remuk.
"Erikaaaaaa ...!!!" Teriakan Erik mengagetkan semua orang yang berkumpul disana. Pria itu segera mendekati tubuh Erika yang penuh darah dan berusaha membantu mengeluarkan gadis itu.
Sementara di dalam mobil, Reino, Venus dan Daniel sudah gelisah menanti Erik yang tidak juga kembali.
"Kenapa dia lama sekali? Dia hanya memastikan atau ikut menonton kecelakaan itu?" Tanya Reino kesal.
"Kalau begitu aku akan menyusulnya!" Daniel segera turun dari mobil dan berlari mendekati kerumunan orang-orang. Ada perasaan cemas di hati pria tua itu.
"Cckk ... mengapa semua orang keluar?" Reino berdecak kesal.
Venus hanya menghela nafas melihat wajah kesal suaminya itu.
__ADS_1
Daniel melangkah mendekati bangkai mobil yang ringsek itu, rasanya mobil itu tidak asing untuk Daniel, perasaan pria itu semakin tak karuan. Dan terdengar isak tangis dari balik punggung seseorang yang sedang terduduk memeluk tubuh seorang wanita yang dipenuh darah. Dan Daniel tahu pasti siapa pria itu.
"Erik ...!" Daniel berjongkok dan memegang pundak pria yang tak lain adalah Erik. Mendadak rasa takut menyerang pria paruh baya itu.
Erik berbalik menghadap Daniel dengan mata yang memerah dan basah, dan menunjuk seseorang yang dipelukannya dengan lirikan matanya.
"Erika ...!" Daniel menyebut nama putrinya itu dengan suara yang gemetar.
"Kita sudah kehilangan dia. Dia sudah tiada." Suara Erik terdengar lirih. Pria itu sudah mengecek nadi dan nafas Erika, tapi semua sudah berhenti. Sementara jasad Shane sudah dimasukan ke dalam kantung jenazah.
"Apa ...? Ini nggak mungkin! Erikaaaa ...!!!" Teriakan Daniel bersahutan dengan suara klakson kendaraan yang menambah ketegangan.
"Kita terlambat ...! Tuhan sudah mengambilnya." Erik meracau sambil memeluk kembali jasad Erika seolah tak ingin melepaskan gadis itu. Tak menghiraukan Daniel dan orang-orang yang memandang haru kepadanya.
"Erika ... mengapa kau pergi secepat ini? Mengapa kau meninggalkan Ayah dan Mamamu?" Daniel segera menarik jasad putrinya itu dari pelukan Erik.
Erik membiarkan Daniel meluapkan kesedihan hatinya karena kehilangan Erika.
Erik beranjak meninggalkan Daniel dan melangkah lemah kembali ke mobil untuk memberi kabar kepada Reino dan Venus.
"Ada apa? Kenapa bajumu penuh darah begini? Lalu apa itu ...? Kau menangis?" Reino mencecar pertanyaan saat melihat Erik kembali dengan keadaan yang berantakan. Bajunya yang dipenuhi darah Erika dan wajah sedihnya yang basah karena air mata.
Selama bekerja dengannya, baru kali ini Reino melihat Erik menangis.
"Erika ... yang kecelakaan itu Erika dan suaminya." Erik berbicara dengan suara yang bergetar.
"Apaaaa ...?"
"Lalu bagaimana kondisinya?" Venus mendadak panik.
Erik tertunduk menggelengkan kepalanya, satu titik air mata kembali menetes dipipinya. "Mereka meninggal di tempat."
"Ya ... Tuhan Erika!" Venus segera turun dari mobil dan berlari menghampiri jasad adik tirinya itu. Reino pun ikut turun dan menyusul istrinya, meninggalkan Erik yang terisak menahan kepedihan hatinya.
Kenapa kau pergi secepat ini?
Kau bahkan tak mengetahui jika aku mencintaimu, aku belum sempat mengatakannya.
***
Author kesel ... dari kemarin up tapi nggak lolos-lolos....😤😢
__ADS_1