
Sejak kejadian di kios Mirna waktu itu, Vie tak lagi berani datang kesana, dia benar-benar merasa bersalah dan malu kepada Mirna, dia tak enak hati karena telah membuat putranya malu dan sampai mengundurkan diri.
Dan hari ini ada pertandingan sepak bola dan Vie memutuskan tidak akan ikut bermain ataupun sekedar menonton, dia lebih memilih ikut Venus berbelanja ke mall. Walaupun dia sangat jenuh karena harus berkeliling bersama sang mama, tapi saat ini mungkin itulah yang terbaik untuk mengalihkan fikirannya dari pertandingan sepak bola di lapangan. Dan sekarang kedua ibu dan anak itupun sedang diperjalanan pulang.
"Mama perhatikan belakangan ini kau tidak pernah lagi ke lapangan. Ada apa?" Tanya Venus.
"Aku menuruti perintah mama. Kan mama selalu melarangku bermain bola di lapangan dan aku menurut." Jawab Vie berbohong.
"Kau benar putriku kan?" Vie menangkup pipi Vie dengan kedua telapak tangannya dan memandang heran putrinya itu.
"Bukan, ma. Aku putri tetangga sebelah rumah kita." Ucap Vie seenaknya.
"Kau ini ada-ada saja!" Venus mencubit pipi Vie.
"Habis pertanyaan mama aneh sekali, masa seorang ibu meragukan putrinya sendiri?" Vie cemberut.
"Mama cuma heran saja, sejak kapan kau menjadi penurut?"
"Sejak negara api menyerang." Jawab Vie asal.
"Wah ... ternyata kau masih putriku yang menyebalkan." Ucap Venus memandang malas ke arah Vie.
Mobil yang membawa Venus dan Vie pun memasuki jalan menuju rumah Reino. Dari kejauhan tepatnya di depan kios Mirna terlihat beberapa orang berkerumun.
"Ma, ada apa ya? Kenapa orang-orang berkerumun disana?" Tanya Vie dengan raut wajah penasaran sambil menunjuk ke arah kios Mirna
"Mana mama tahu! Kau fikir mama cenayang, bisa tahu segalanya." Venus melengos.
Saat mobil mereka berada di depan kios Mirna, Vie pun segera meminta supir untuk berhenti.
"Stop, pak!" Vie pun segera turun dari mobil dan berlari ke arah kerumunan orang -orang itu.
Venus yang bingung melihat tingkah putrinya itu pun akhirnya ikut turun.
"Ada apa, pak!" Vie bertanya kepada seorang lelaki yang berdiri di hadapannya.
"Ada wanita tiba-tiba pingsan." Jawab si bapak.
__ADS_1
"Apa ...? Jangan-jangan itu bu Mirna?" Vie mendadak cemas dan menembus orang-orang untuk memastikan siapa yang pingsan.
"Bu Mirna ...!" Teriak Vie saat melihat wanita yang sedang tergeletak itu adalah si pemilik kios. "Kenapa hanya dilihati saja sih? Tolong bawa ke rumah sakit dong!" Vie memarahi beberapa orang yang hanya berdiri memandanginya.
"Maaf, non. Takutnya dia terkena penyakit menular." Jawab salah seorang lelaki bertubuh kurus.
"Dia ibuku dan dia tidak memiliki penyakit menular. Sekarang juga tolong angkat dia ke mobilku!" Vie berteriak memerintah orang-orang tak berguna itu dengan geram. Dia tak tahu harus melakukan apa selain membawa Mirna ke rumah sakit.
Beberapa orang akhirnya mengangkat tubuh lemah Mirna dan memasukkannya ke dalam mobil lalu Vie meminta teman-temannya yang sedang bermain sepak bola untuk menutup kios Mirna. Venus pun terkejut dengan aksi putrinya itu, tapi dia enggan bertanya karena menyelamatkan Mirna jauh lebih penting daripada rasa ingin tahunya.
Mobil yang membawa mereka melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat, Vie sangat panik dan cemas, sementara Venus hanya memperhatikan sikap tak biasa putrinya itu dengan perasaan bingung.
"Sejak kapan dia perduli dan mencemaskan orang lain sampai seperti ini?" Gumam Venus dalam hati.
***
Venus dan Vie sedang menunggu di depan ruang UGD, sementara Mirna sedang diperiksa di dalam.
Tiga puluh menit kemudian, seorang dokter keluar dari sana, Venus dan Vie segera bertanya kondisi Mirna.
"Apa kalian keluarganya?" Dokter itu bertanya balik.
"Buk ..." Venus tak sempat menjawab karena Vie menyela dengan cepat.
"Iya, kami keluarganya. Bagaimana kondisi tante saya?" Ucap Vie sebelum Venus selesai bicara. Lagi-lagi Venus terperangah dengan sikap Vie, dia benar-benar merasa ada yang aneh.
"Oh ... baiklah, begini ... pasien terkena infark miokardial atau serangan jantung karena terjadi penyumbatan dipembuluh darahnya, jadi kami harus segera melakukan tindakan operasi pemasangan ring secepatnya." Dokter itu menjelaskan.
"Apa ...? Operasi ...?" Vie dan Venus kaget dan saling pandang.
"Kalau begitu pihak keluarga bisa mengurus berkas persetujuan operasinya. Saya permisi dulu." Lanjut dokter itu lagi dan kemudian beranjak pergi.
"Bagaimana ini, ma? Apa yang harus kita lakukan?" Vie bingung sekaligus cemas.
"Kita harus memberi kabar kepada keluarganya, biar mereka yang mengurus semuanya. Kita tidak berhak mengambil keputusan apapun." Venus memberi pengertian. "Apa kau tahu dimana keluarganya?" Tanya Venus.
"Iya, aku tahu, ma!" Jawab Vie dan segera merogoh ponselnya dan menghubungi Reino.
__ADS_1
"Hallo, ada apa, sayang?" Reino.
"Pa, apa papa masih menyimpan kertas yang berisi alamat guru BPku waktu itu? Disana ada nomor teleponya jugakan?" Tanya Vie.
"Papa lupa meletakkannya dimana. Atau mungkin saja sudah terbuang. Memangnya untuk apa?" Reino.
"Tidak ada! Ya sudah deh, pa!" Vie mengakhiri panggilannya tanpa menunggu Reino membalas ucapannya.
"Kenapa kau bertanya begitu kepada papamu? Memangnya ibu ini siapa?" Venus semakin kebingungan.
"Dia ibu dari guru BPku itu, ma. Tidak ada waktu lagi, aku harus segera ke rumahnya! Mama tunggu disini dulu ya? Aku pergi!" Vie segera berlari meninggalkan Venus yang masih melongo karena mendegar kata-kata putrinya itu.
***
Vie sudah tiba di depan rumah Andra, dia agak ragu untuk mendekati rumah itu mengingat lelaki itu sangat membencinya, tapi dia tak ada pilihan lain, dia harus menemuinya dan memberi kabar.
Vie melangkah semakin dekat dan tiba-tiba Andra keluar dari rumah, Vie menjadi panik dan hendak bersembunyi tapi keburu ketahuan oleh mantan gurunya itu.
"Mau apa kau kesini?" Tanya Andra ketus.
"Hmmm ... anu, bu Mirna ... terkena serangan jantung dan pingsan di kios." Vie menjelaskan dengan gemetar karena takut.
"Apa yang kau lakukan kepada ibuku hingga dia sampai terkena serangan jantung?" Andra panik dan menatap tajam ke arah Vie. Dia berfikir pasti Vie membuat ulah dan menyebabkan ibunya syok dan terkena serangan jantung.
"Tidak ... aku tidak melakukan apapun! Aku ..." Vie menggeleng. Tapi belum sempat Vie selesai bicara, Andra sudah memotongnya.
"Dimana dia sekarang?"
"Di UGD rumah sakit Medica." Jawab Vie.
Andra segera mengunci pintu rumahnya dan bergegas pergi dengan sepeda motornya, meninggalkan Vie yang tertunduk dengan perasaan sedih sekaligus kesal karena sikap Andra.
"Kenapa sih dia tidak bisa sedikit saja bersikap baik kepadaku? Dasar tidak tahu diri, bukannya berterima kasih karena aku sudah menolong ibunya, tapi malah menuduhku macam-macam!" Vie menggerutu. Mendadak sifat sombong dan kasarnya aktif karena kesal.
Akhirnya dia pun kembali ke rumah sakit untuk menjemput Venus yang masih menunggu disana.
***
__ADS_1