
Jam kantor telah usai, Reino dan Venus sedang diperjalanan pulang kerumah. Tak ada percakapan apapun diantara kedua pasutri aneh itu, sampai Venus memberanikan diri untuk bertanya.
"Tuan Muda ..."
"Hemmm ..."
"Tuan Vino itu temanmu ya?" Venus bertanya dengan hati-hati, takut suaminya itu salah pengertian karena dia bertanya tentang pria lain.
"Kami hanya rekan bisnis." Reino menjawab singkat.
"Tapi sepertinya kau sudah kenal dengan Tuan Vino sebelumnya? Buktinya kalian tidak berkenalan lagi dan kalian juga terlihat akrab." Venus semakin penasaran.
"Kau kenapa kepo sekali sih? Kau suka kepadanya?" Reino beralih memandang Venus dengan curiga. Itu kan, Tuan Muda yang satu ini salah paham.
"Tidak ... bukan begitu! Aku hanya ingin tahu saja, kenapa kau menuduhku sembarangan? Menyebalkan!" Venus mengalihkan pandangannya ke luar jendela, wajah cantiknya kini sudah ditekuk. Reino yang menyadari istrinya itu sedang sebal segera menjawab pertanyaan yang dilontarkan Venus tadi.
"Kami memang sudah pernah bertemu sebelumnya, dia temannya Kenan." Reino sengaja tidak mengatakan kepada Venus bahwa Vinolah yang mendonorkan darah untuknya, agar Venus tidak merasa berhutang budi dan menjadi dekat dengan pria itu. Tentu saja alasannya karena dia cemburu.
"Apa susahnya tinggal menjawab? Kenapa dipersulit?" Venus mengerucutkan bibirnya, membuat Reino gemas melihatnya.
"Kau ini?" Reino mengusak-ngusak pucuk kepala Venus, sehingga rambut gadis itu berantakan karena ulahnya.
"Sudah hentikan, kau merusak rambutku!" Venus berusaha menyingkirkan tangan Reino dari kepalanya, pria itu pun menghentikan aksinya dan tersenyum manis.
"Buatkan ayam mentega untuk makan malam!" Reino memberi titah.
"Kenapa harus aku? Bukankah kau sudah membayar mahal koki jebolan master chef dirumahmu?" Venus berbicara tanpa menoleh Reino, dia masih sibuk membereskan rambutnya yang berantakan.
"Aku bosan makan masakan mereka! Sekali- sekali aku ingin memakan masakanmu." Reino mencari-cari alasan untuk menutupi bahwa dia merindukan ayam mentega buatan istrinya.
"Baiklah ... tapi sebagai imbalannya, aku pinjam novel romance yang kau baca kemarin ya? Aku bosan di kamar." Venus memasang wajah imutnya dengan senyum ajaib sejuta pesona.
Erik terkesiap mendengar kata-kata Venus, merasa ada yang aneh dengan majikannya itu.
Sejak kapan dia membaca novel romance?
Bukankah selama ini dia hanya membaca berkas-berkas dan kontrak kerja saja?
Mendengar ucapan Venus, Reino mendapatkan ide untuk menggoda istrinya itu. Reino mendekatkan bibirnya ke telinga Venus, membuat gadis mendadak kikuk.
"Kalau begitu aku akan menemanimu di kamar agar kau tidak bosan." Reino berbisik pelan ditelinga Venus, wajah gadis itu mendadak merona. Lalu Reino terkekeh dengan senangnya.
Erik hanya melirik kedua insan aneh itu dari balik kaca spion lalu tersenyum samar.
Baru kali ini aku melihatmu tertawa seperti itu, Reino.
***
__ADS_1
Reino dan Venus sedang menikmati makan malam, sejak Liana dan Diana tidak ada, kehidupan rumah tangga mereka semakin baik.
"Kau sangat menyukai ayam mentega ya?" Venus memandangi Reino yang sedang makan dengan lahap.
"Ibuku selalu memasakkannya untukku sewaktu aku kecil, dan ayam mentega buatanmu rasanya persis seperti buatan ibuku." Reino menjawab dengan mulut yang penuh.
"Makanlah yang banyak! Kalau kau mau, aku bisa membuatkannya setiap hari untukmu." Venus memasukan sesuap nasi ke dalam mulutnya.
"Tidak usah! Aku akan meminta kau membuatkannya kalau aku sedang ingin saja."
"Aku akan membuatkannya dengan senang hati." Venus melebarkan senyuman dibibirnya.
Setelah makan malam, Venus kembali ke kamarnya, sementara Reino dan Erik masih mengobrol di ruang kerja.
"Tuan Muda, apakah Tuan tidak berfikir tentang sesuatu?" Erik bertanya dengan hati-hati. Mendengar pembahasan tentang Vino tadi, Erik jadi memikirkan hal itu.
"Apa?"
"Apa Tuan tidak ingin mencari tahu tentang kehidupan Tuan Vino? Misalnya keluarga atau saudara kandungnya?" Erik melanjutkannya lagi.
"Untuk apa aku mencari tahu kehidupan kecoa perusuh itu? Seperti tidak ada kerjaan saja!" Reino menggerutu.
"Apa Tuan tidak berfikir, mungkin saja Tuan Vino adalah saudara atau keluarga Nona Muda."
"Apa maksudmu?" Reino menautkan alisnya memandang Erik penuh tanya.
"Tuan kan tahu Nona Muda bukan putri kandung Tuan Winata, dia dititipkan di panti asuhan, golongan darahnya cocok dengan Tuan Vino bahkan wajah mereka juga sedikit mirip. Dan apa Tuan tidak melihat sikap Tuan Vino kepada Nona Muda? Mereka seperti memiliki ikatan" Erik menjelaskan kecurigaannya kepada Reino, hati Reino seperti mencelos keluar dari tempatnya.
Erik hanya menghela nafas melihat keterkejutan majikannya itu.
Bagaimana kau bisa menyadarinya Reino?
Kalau kau hanya sibuk dengan rasa cinta dan cemburu kepada istrimu, sampai kau menjadi bodoh untuk menyadari semua hal yang terjadi di sekitarmu.
"Aku sudah mencari tahu dimana wanita yang bernama Lena itu, tapi dia seperti hilang ditelan bumi." Reino putus asa.
"Kita pasti bisa menemukannya setelah memastikan apakah Nona Muda dan Tuan Vino adalah saudara." Ucap Erik yakin.
"Kau benar juga!"
"Kata Ibu panti, Nona Muda kecil memiliki gelang perak bertuliskan namanya, kita bisa jadikan itu untuk membongkar identitas Nona Muda yang sebenarnya." Erik memberikan ide yang masuk akal.
"Kalau begitu aku akan selidiki semuanya."
Reino segera menelpon seseorang untuk mencaritahu kehidupan Vino sampai sekecil-kecilnya.
***
__ADS_1
Disebuah cafe, Vino sedang duduk bersama Kenan. Sedari tadi Vino hanya termenung, pria itu terlihat sedang memikirkan sesuatu. Kenan terus memperhatikan sikap temannya yang tak biasa itu.
"Woy ... mikirin apaan sih? Lagi galau ya?" Kenan mengagetkan Vino, membuat pria itu tersentak kaget.
"Berengs*k ... ngagetin aja!" Vino melempar kentang goreng di hadapannya kearah Kenan.
"Habis segitu amat melamunnya, sampai-sampai aku dianggap nggak ada," Kenan mencebik kesal.
"Sorry ... sorry ... aku lagi kepikiran seseorang."
"Siapa yang sudah membuat seorang Vino Adyatama jadi begini? Cerita dong!" Kenan meledek Vino.
"Asisten CEO Grafika Grup." Jawab Vino jujur.
"What ...? Sejak kapan kau melirik wanita dari kalangan biasa-biasa saja? Bukankah seleramu wanita-wanita sosialita yang kaya raya." Kenan semakin mengejek temannya itu.
"Diamlah kau! Aku bukan ingin memacarinya, aku hanya penasaran saja dengannya. Nama dan senyumnya mirip sekali dengan orang-orang yang sangat aku rindukan." Vino mulai meluapkan isi hatinya.
"Siapa? Mantan-mantan pacarmu?"
"Bukan bodoh!" Jawab Vino ketus.
"Lalu?"
"Ibu dan adikku." Jawab Vino dengan wajah yang berubah sedih.
"Hahaha ... kau ini, itu pasti hanya kebetulan saja! Kenapa kau terlalu memikirkannya?" Kenan tergelak, merasa lucu dengan jawaban Vino. Dasar Kenan, apa dia tidak menyadari raut wajah penuh kesedihan Vino.
Kenan hanya tahu bahwa Vino kehilangan adiknya saat masih kecil, tapi dia tak pernah tahu nama atau apapun tentang adik Vino yang hilang itu.
"Tapi aku merasa ada sesuatu diantara kami. Aku seperti melihat sosok ibuku dan juga adikku di dalam dirinya."
"Kalau begitu kau tanyakan saja siapa keluarganya? Pastikan dia adikmu atau tidak?" Kenan memberi usul.
"Sudah, dia putri Daniel Winata." Wajah Vino berubah kecewa.
"Apa? La ... lalu siapa nama adikmu?" Kenan terperangah mendengar ucapan Vino, mendadak jantungnya berdegub tak beraturan.
"Venus ... nama adikku Venus Adyatama." Vino menjawab dengan pasti, membuat mulut Kenan ternganga dengan mata yang melotot karena kaget.
***
Maaf semalam author nggak up, habis ikut panjat pucang, jadi kecapekan ...😂😂🇮🇩
Ni author kasih visualnya Erik ya guys ....
Jangan lupa vote banyak-banyak ya...
__ADS_1
ERIK