
"Venus ... nama adikku Venus Adyatama." Vino menjawab dengan pasti, membuat mulut Kenan ternganga dengan mata yang melotot karena kaget.
"Apa?" Kenan terkejut sekaligus tak percaya dengan semua ini.
Bukankah putri Daniel Winata itu adalah Erika?
Ternyata gadis menyebalkan itu adalah asisten Reino. Apa benar dia adik kandung Vino?
Tapi nama adik Vino adalah Venus, persis seperti nama sepupunya Reino yang cantik itu. Aku jadi bingung.
"Kau kenapa? Kau mengetahui sesuatu?" Vino memandang lekat wajah Kenan.
"Putri Daniel Winata adalah Erika, jadi maksudmu Erika itu adalah adikmu yang hilang?" Kenan mulai menyelidik.
"Bukan ... bukan ... namanya bukan Erika, namanya Venus. Kan aku sudah bilang namanya mirip seperti nama adikku." Vino meyakinkan Kenan.
"Tapi setahuku putri Daniel Winata itu adalah Erika, dan Venus adalah sepupu Reino, dia yatim piatu makanya saat ..." Belum sempat Kenan membeberkan apa yang dia tahu, ponselnya berdering nyaring. Kenan segera merogoh saku dan mengeluarkan ponselnya, ternyata ada panggilan masuk dari rumah sakit.
"Hallo, ada apa?" Kenan menjawab dengan malas.
"Maaf ... dokter, ada banyak pasien gawat darurat korban kecelakaan beruntun, kami membutuhkan bantuan Anda." Pihak rumah sakit.
"Baiklah, aku segera kesana!" Kenan segera menutup panggilan masuk itu dan berdiri dari kursinya.
Walaupun ini bukan jam dinasnya lagi, tapi sebagai seorang dokter, Kenan harus selalu siap dipanggil kapanpun.
"Ada apa? Kau mau kemana?" Vino bingung melihat Kenan berdiri, dia masih menunggu Kenan melanjutkan kata-katanya tadi.
"Sorry, ada panggilan gawat darurat dari rumah sakit, aku harus segera pergi. Nanti kita lanjutkan lagi." Kenan segera berlalu dari hadapan Vino dengan tergesa-gesa.
"Tapi ..." Vino tak sempat mengatakan apa-apa karena Kenan sudah menjauh, ada sedikit rasa sesal dihatinya.
Aku harus mencari tahu siapa sebenarnya dia.
Aku berharap dia memang benar adikku.
***
Venus sedang duduk bersandar di tepi ranjang, gadis itu sedang fokus membaca novel roman yang dia pinjam dari Reino tadi. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar.
__ADS_1
"Masuk!" Venus mempersilahkan orang itu untuk masuk tanpa menoleh nya dan masih fokus membaca novel dipangkuan nya itu.
Orang itu masuk dan menutup kembali pintu kamar Venus lalu menguncinya dari dalam, membuat Venus kaget dan segera mengangkat kepalanya memandang seseorang yang kini berdiri di hadapannya.
"Kau ...? Mau apa kau kesini?" Wajah Venus mendadak panik.
"Aku mau tidur!" Seseorang yang tak lain adalah Reino itu langsung membanting badannya di atas ranjang Venus, membuat gadis itu spontan turun dari ranjang.
"Hey ... kau salah kamar, Tuan Muda!"
"Sepertinya tidak! Ini kamarmu kan?" Reino bertanya dengan wajah jenakanya.
"Iya."
"Berarti aku tidak salah kamar dong?" Reino tersenyum licik.
"Kau mau apa? Keluar dari kamarku!" Venus meninggikan suaranya , mengusir Reino.
"Berani sekali kau mengusirku dari rumahku sendiri! Kau ingat, terakhir kali kau mengusirku, malamnya kau ditikam Boy. Sekarang kau mengusirku lagi, kau mau kualat sama suami?" Reino mengoceh panjang lebar dengan tatapan yang menajam. Dan kali ini dia membawa embel-embel suami untuk membungkam mulut gadis itu.
"Kau kan punya kamar sendiri, kenapa tidak tidur di kamarmu saja? Kenapa harus di kamarku?" Venus melembutkan nada bicaranya. berharap pria keras kepala itu luluh dan pergi dari kamarnya.
"Aku sedang ingin tidur di kamarmu!" Reino menjawab seenaknya.
"Jika kau berani keluar dari kamar ini, aku akan mengurungmu seumur hidup di rumah!" Ancaman Reino berhasil menghentikan langkah Venus, hatinya benar-benar geram melihat tingkah suaminya itu.
"Ya sudah, kalau begitu aku tidur di sofa saja." Venus melangkah ke sofa.
"Jika hitungan ke tiga kau tidak naik ke atas ranjang, mulai besok kau kupecat! Satu ...!" Reino mulai menghitung, lagi-lagi Reino menggunakan kekuasaannya untuk mengancam Venus.
Venus menghela nafas kasar dan pasrah melangkah mendekati ranjang, dengan kuat dia membanting badannya disamping Reino, meletakkan guling sebagai pembatas antara dirinya dan Reino.
"Jangan macam-macam!" Venus memberi peringatan keras kepada Reino dan segera menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
"Hey ... berani sekali kau! Memangnya kenapa kalau aku macam-macam?" Reino menarik selimut yang menutupi tubuh Venus dengan kasar, lalu menatap gadis itu dengan tatapan penuh hasrat.
"Kau mau apa?" Venus mulai panik dan takut.
"Aku mau dirimu." Jawaban itu seperti petir bagi Venus, apa yang baru saja dikatakan suaminya itu?
__ADS_1
Reino yang sedang bercanda atau Venus yang sedang bermimpi, kenapa mendadak Reino seperti ini?
Bukankah pernikahan mereka hanya status saja, apa sekarang Reino benar-benar menganggap ini pernikahan yang sesungguhnya?
"Kau kesambet dimana?"
"Ssstt ... jangan berisik! Nikmati saja!" Reino menindih tubuh Venus dan mulai mendekati wajahnya ke wajah gadis itu hingga bibir mereka bersentuhan.
Reino menikmati bibir Venus dengan sedikit kasar, sepertinya Reino sangat menikmati ciuman mereka itu. Namun tiba-tiba ...
"Aaaaarrrgghh ...!" Reino berteriak melepaskan tautan bibirnya dan bibir Venus.
Venus segera mendorong kuat tubuh kekar suaminya itu hingga terjatuh dari atas badannya kemudian dia bangun dan duduk ditepi ranjang dengan senyum penuh kemenangan.
"Kenapa kau menggigit bibirku?" Reino memandang Venus dengan tatapan tajam sambil meraba-raba bibirnya yang sakit karena di gigit oleh Venus.
"Habis gemas sih." Venus merasa puas karena telah mengerjai suaminya itu.
"Berani sekali kau!" Reino
menerkam tubuh Venus yang duduk di sampingnya, hingga mereka sama-sama terhempas ke ranjang.
"Ampun .... Tuan Muda ...aaaahhh ..." Venus memekik saat Reino mengecap leher jenjangnya dan meninggalkan tanda kepemilikan di sana.
Lalu Reino beralih kebawah dan membuka paksa piyama Venus, hingga dada putih mulus itu terpampang jelas di hadapan matanya. Pemandangan yang sempat menggodanya dulu, kini bisa dia nikmati.
Reino segera membuka kaos dan celananya, begitu juga dengan semua kain yang menutupi tubuh Venus, gadis itu hanya pasrah.
"Tuan Muda ...?" Venus memandang lekat wajah tampan Reino.
Ada rasa takut dihatinya tapi entah mengapa dia nggak bisa menolak semua perlakuan suaminya itu.
"Aku ingin memilikimu seutuhnya." Suara Reino mulai serak, memandang Venus dengan matanya yang sayu.
"Tapi, aku ...."
"Ssstt ... jangan bicara apa-apa lagi." Reino meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Venus.
Reino pun mulai menyatukan diri mereka dengan perlahan karena dia tak ingin menyakiti Venus, sebab ini yang pertama bagi wanita itu. Keduanya menikmati malam panjang ini dengan penuh gelora dan rasa cinta.
__ADS_1
***
Maaf ya kalau adegan malam pertamanya kurang greget, karena author agak gimana gitu ngetik adegan ini...😁