
Sudah dua hari Vie selamat dari hukuman walaupun dia datang terlambat dari jam masuk yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah, begitu juga Dino dan Raja yang tidak lagi ikut-ikutan telat masuk.
Dan hal ini mengundang keheranan kepada semua orang baik guru maupun siswa lain di sekolah itu, bukan heran kepada Dino dan Raja yang datang tepat waktu, melainkan kepada Vie yang dapat melenggang masuk ke kelas tanpa dihukum.
Dan hasilnya, kepala sekolah pun memanggil Andra selaku guru BP untuk meminta penjelasan.
"Begini pak Andra, saya dan guru-guru lain sedikit bingung, bagaimana bisa siswi yang terlambat datang tidak dihukum dan bebas masuk ke kelas? Ada apa ini?" Teddy bertanya dengan raut wajah bingung.
"Saya memang memberi kelonggaran kepada siswi itu untuk datang terlambat, itupun di batasi hanya sampai pukul delapan pagi saja, di atas itu, dia tetap dihukum. Dan sudah dua hari ini dia selalu datang sebelum pukul delapan, jadi sesuai kesepakatan, dia tidak saya hukum." Andra menjawab pertanyaan Teddy dengan santai.
"Kelonggaran ...? Kelonggaran apa?" Teddy mengerutkan dahinya, lelaki tambun itu benar-benar bingung dengan kata-kata Andra.
"Pak, saya juga kan harus menggunakan perasaan. Siswi itu datang dari keluarga tidak mampu, dia harus ikut banting tulang membantu kedua orang tuanya yang hanya seorang penggali kubur dan penjual kacang rebus. Sudah seharusnya kita memberi keringanan agar dia masih tetap bisa sekolah meskipun harus bekerja juga. Apa sekolah ini tidak berfikir seperti itu?" Andra mulai menjelaskan dengan wajah yang serius. Dia merasa benar-benar iba dengan kisah hidup karangan Vie.
"Apaaaaa ...? Siapa yang anda maksud dengan tukang gali kubur dan penjual kacang rebus?" Teddy yang kaget segera melayangkan pertanyaan dengan nada yang tinggi.
"Ayah dan Ibu anak itu." Andra menjawab dengan yakin.
"Memangnya kau tidak tahu dia putri siapa?" Tanya Teddy lagi.
"Siapa?"
"Tuan Reino Brahmansa dan Nyonya Venus Adyatama. Dia putri mereka. Dan kau tahu, keluarganya donatur terbesar di sekolah ini." Ucapan Teddy benar-benar membuat Andra mendelik kaget. Dia tahu pasti siapa orang tua Vie, salah satu orang terkaya di kota mereka.
"Haaaa ...? Jadi bocah itu telah membohongiku?" Andra benar-benar tak menyangka Vie melakukan ini.
Teddy hanya menghela nafas sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dia sudah tahu pasti tingkah laku siswi luar biasanya itu.
"Baiklah saya akan memberinya hukuman atas kelakuannya ini!" Andra mengepalkan tangannya, dia benar-benar merasa malu dan geram. Bagaimana bisa dia dibodohi oleh bocah SMA disaat dia baru sehari menjadi guru?
"Aku akan membuatmu menyesal karena melakukan ini kepadaku, anak nakal!" Gumam Andra dalam hati.
"Iya, saya serahkan masalah ini kepada anda. Anda harus sabar-sabar menghadapi anak itu, kelakuannya terkadang sangat menjengkelkan. Kalau saja dia bukan putri dari keluarga Brahmansa, sudah lama saya mengeluarkannya dari sekolah ini." Teddy memperingatkan andra sembari mengadu dengan wajah kesal.
__ADS_1
"Baik, pak! Saya akan atasi dia! Saya permisi dulu." Andra pun beranjak dari duduknya dan hendak berlalu tapi Teddy menegur guru tampan itu.
"Pak Andra, gunakan sabuk pinggang agar anda lebih terlihat rapi." Tegur Teddy sambil menunjuk celana Andra dengan matanya.
"Iya, maaf pak. Tadi saya buru-buru, jadi lupa memakainya." Andra sedikit canggung karena Teddy memperhatikan celananya.
"Ya sudah, kembali ke ruanganmu." Pinta Teddy acuh.
"Baik, pak. Saya permisi!" Andra pun berlalu keluar dari ruang kepala sekolah dan segera melangkah menuju kelas Vie.
Saat tiba di depan kelas bocah ajaib itu, Andra sempat terpaku melihatnya sedang serius belajar. Sebagai guru yang baik, Andra tidak ingin mengganggu siswanya dalam mengejar ilmu, dia pun memutuskan untuk memanggil Vie di waktu jam istirahat saja. Lelaki itupun mengurungkan niatnya dan kembali ke ruang BP.
***
Jam istirahat telah tiba, dan kini Vie sudah berdiri di hadapan Andra sambil tertunduk dan meremas jari-jarinya.
"Kamu tahu kenapa saya panggil kesini?" Tanya Andra sambil menatap tajam ke arah Vie.
"Ya karena bapak ingin bertemu saya, kalau tidak, mana mungkin bapak panggil saya kesini." Jangan Vie seenaknya.
"Lah ... kan bapak yang ingin bertemu dengan saya, harusnya bapak tahu dong alasannya. Kenapa tanya saya?"Jawab Vie malas.
"Ok ... cukup! Saya akan to the point." Andra akhirnya menyerah berbasa-basi dengan Vie. "Saya sudah tahu kebohongan kamu!" Ucap Andra tegas.
"Kebohongan yang mana, pak?" Vie pura-pura bodoh.
"Jangan pura-pura tidak tahu!" Andra habis kesabaran menghadapi Vie. "Kamu berbohong kepada saya, kamu bukan anak dari keluarga miskin dan saya sudah tahu siapa orang tua kamu!" Andra semakin menajamkan tatapannya kepada gadis nakal itu.
"Wah ... bapak kepoin hidup saya ya?" Lagi-lagi Vie memancing emosi Andra.
Andra memejamkan matanya dan menghela nafas dengan kasar, mencoba menahan amarah yang sudah hampir meledak karena gadis di hadapannya ini.
"Benar kata Pak Teddy, aku harus sabar-sabar mengahadapi anak ini." Gumam Andra di dalam hati.
__ADS_1
"Baiklah, saya akan memanggil orang tua kamu, saya akan membicarakan kelakuan kamu ini kepada mereka." Ucapan Andra ini sukses membuat Vie ketakutan. Itu adalah ancaman terbesar untuk Vie, karena Reino dan Venus sudah memberi ultimatum, jika sekali lagi mereka di panggil ke sekolah karena ulah nakal Vie, maka uang jajan Vie akan di stop selama sebulan. Itu adalah hal yang mengerikan untuk seorang Vie.
"Jangan, pak! Saya mohon maaf!"Vie memelas sambil mengatupkan kedua tangannya di depan wajah.
"Tidak ada maaf untuk seorang penipu! Mau jadi apa kamu nanti kalau sejak dini sudah pandai menipu?" Andra menolak permintaan maaf Vie.
"Bapak boleh hukum saya apa saja, asal jangan panggil mama dan papa. Please ...!" Vie memelas.
"Saya akan telepon orang tua kamu!" Andra mengacuhkan tawaran Vie, dia ingin menghubungi orang tua gadis itu tapi tak tahu nomor teleponnya, karena dia masih baru dan belum sempat menyimpan nomor wali murid.
"Berapa nomor telepon orang tua kamu?" Andra bertanya kepada Vie.
"Saya lupa, pak!" Jawab Vie berbohong.
"Baiklah, saya akan tanyakan kepada pak Teddy!" Andra segera beranjak dari duduknya dan keluar dari ruang BP, dia bermaksud menemui Teddy untuk meminta nomor telepon orang tua Vie.
"Aku tak boleh biarkan guru itu menelepon papa, bisa jatuh miskin aku." Vie yang masih terpaku di ruangan BP segera berlari menyusul Andra.
"Pak, tunggu!" Vie berlari mengejar Andra yang sudah menjauh darinya.
Mendengar teriakan Vie, Andra pun berhenti dan berbalik menghadap siswinya itu. Tapi apes, kaki Vie tersandung dan dia jatuh tepat di hadapan Andra sambil reflek menarik celana guru tampan itu hingga melorot ke bawah. Kini terpampang dengan jelas boxer Andra yang bercorak kartun Keropi.
"Huuuuuu ... suit ... suit ...! "Seketika seluruh siswa yang melihat adegan itu bersorak meriah dan tertawa, bahkan ada beberapa siswa yang mengabadikan moment itu dengan kamera ponsel mereka.
"Ma ... maaf, pak!" Vie spontan bangun dan menaikkan kembali celana Andra.
Andra terdiam tak bisa berkata-kata lagi, lelaki itu malu setengah mati. Dia segera berlalu dari hadapan Vie dengan perasaan geram. Vie hanya menelan ludah, dia tak bisa membayangkan nasibnya setelah ini.
***
Andra : thor, kenapa harus ada adegan memalukan begini sih? Baru juga mulai ... ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Author : 😂😂😂 (author ngakak sambil salto-salto)
__ADS_1
Vie : sumpah, thor ... aku sampai anyang-anyangan karena ketawa ...😂😂😂
Andra : ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜