Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bonus episode 8


__ADS_3

Sudah satu jam Venus berada di ruang bersalin, tapi wanita itu masih belum merasakan sakit sedikitpun, sementara air ketuban sudah pecah. Dokter dan perawat yang menangani Venus sedikit cemas dengan kondisi pasien mereka ini, terlebih jika melihat wajah sang suami yang sudah pucat dan berkeringat dingin.


Sudah lima kali Reino bolak balik ke kamar mandi karena merasa mulas, cukup aneh memang, saat sang istri belum merasakan sakit, malah suaminya yang mulas tak karuan.


"Sepertinya sang bayi tidak ingin menyakiti ibunya ya? Kalau begitu kami akan menyuntikkan obat perangsang agar rasa sakitnya datang, tapi jika ini tidak berhasil, maka kita harus mengoperasinya." Seorang dokter wanita berbicara dengan wajah serius.


Mendengar kata operasi, jantung Reino seperti mencelos keluar, lelaki itu semakin takut membayangkan perut istrinya dibelah, mendadak perut Reino mulas lagi.


"Maaf, aku permisi ke kamar mandi dulu. Lakukanlah yang terbaik untuk anak dan istriku." Reino segera berlari meninggalkan ruang bersalin.


"Hey ... kenapa kau bolak balik ke kamar mandi sih?" Tanya Venus bingung melihat suaminya itu.


"Itu biasa terjadi kepada calon ayah baru yang gugup menanti kelahiran anak pertama mereka, Nona." Ucap dokter itu sambil tersenyum memandang kepergian Reino.


"Oh, begitu? Ada-ada saja!"


Dokter itu pun segera menyuntikkan obat perangsang sakit kepada Venus.


***


Sudah enam jam berlalu sejak dokter menyuntikkan obat perangsang sakit itu dan kini Venus tengah merintih merasakan setiap kontraksi yang datang, sedangkan Reino, entah sudah berapa kali dia bolak balik ke kamar mandi karena mulas yang menyerangnya. Lelaki itu berkeringat dingin bahkan wajahnya lebih pucat dari wajah sang istri yang akan melahirkan. Vino yang sudah datang juga tak kalah khawatir, dia terus berjalan mondar-mandir di depan ruang bersalin, wajah cemas dan paniknya tak bisa dia tutupi. Padahal Ina dan Eliza sudah berusaha menenangkan pria itu, tapi tetap saja sia-sia.


"Baiklah, sudah saatnya, ikuti intruksi saya. Tarik nafas yang dalam lalu mengejan sekuatnya, terus ulangi sampai kepala bayinya keluar." dokter wanita itu memberi perintah.


Venus dan Reino mengangguk bersamaan, membuat dokter dan beberapa orang perawat tersenyum melihat Reino yang ikut mengangguk.


"Baiklah, kita mulai!"


"Eeeeeemmmmppp ...!" Venus dan Reino menarik nafas dalam lalu mengejan bersamaan. Dokter dan perawat yang melihat ulah Reino benar-benar tak bisa menahan untuk tidak tersenyum.


"Sekali lagi!" dokter itu memberi instruksi.


"Eeeeeeeeemmmppp ...!" Sekali lagi Venus dan Reino menarik nafas dalam lalu mengejan secara bersamaan. Bahkan Venus yang benar-benar kesakitan sampai mencengkeram kuat lengan suaminya sambil meneteskan air mata.

__ADS_1


Lagi-lagi dokter dan perawat dibuat geli dengan tingkah Reino yang ikut mengejan, mereka mau mati rasanya menahan tawa.


"Wah ... kepalanya sudah keluar! Sedikit lagi!" dokter itu berkata dengan antusias untuk memberi semangat kepada Venus.


Mendengar kata-kata dokter itu, Venus semakin bersemangat mengejan, sementara Reino, bukannya menyemangati sang istri, lelaki ini malah menyandar lemas di dinding saat melihat ada kepala keluar dari daerah inti istrinya. Antara takjub dan ngeri, Reino sampai gemetaran dengan mata yang membulat sempurna.


"Eeeeeeemmmmppp ..." Venus mengejan untuk kesekian kalinya dan kali ini tanpa diikuti oleh suaminya itu.


"Oooeeeekk ... ooooeeekk ..." Suara tangisan bayi seketika menggema di ruang bersalin. Venus yang lemas semakin banyak menitikan air matanya, seketika hilang sudah semua sakit yang tadi dia rasakan, kini berganti bahagia dan rasa syukur.


"Bayinya perempuan, cantik seperti ibunya." dokter itu menggendong bayi Venus dan segera meletakkannya di atas dada sang ibu yang sudah terbuka.


Dengan lucunya si bayi menggerakkan kepalanya mencari put*ng susu si ibu, proses ini dinamakan inisiasi dini. Reino benar-benar terharu melihat perjuangan sang istri melahirkan putri cantik mereka.


"Terima kasih, sayang. Aku sangat mencintaimu." Reino mencium kening Venus dengan penuh kasih sayang, bahkan air matanya sampai menetes karena bahagia.


***


Setelah di bersihkan dan diadzani, sekarang bayi cantik Venus dan Reino sedang tertidur pulas di dalam gendongan Eliza. Ina yang gemas tak henti-hentinya menciumi pipi gembulnya, tapi sang bayi tetap tertidur pulas.


"Iya, tentu saja kami akan menjadi orang tua yang baik, kan tidak mungkin menjadi orang utan yang baik." Reino mengejek ucapan kakak iparnya.


"Kau ini! Sudah menjadi ayah, masih saja kurang ajar!" Vino memukul pelan pundak Reino dengan mata yang menyalang.


"Hahaha ... maaf, aku kan cuma bercanda!" Reino tergelak melihat ekspresi kakak iparnya itu.


"Sudah, kalian jangan berantam terus!" Venus memelototkan matanya ke arah Vino dan Reino. " Kak, Hanna tidak datang?" Tanya Venus.


"Dia masih sangat repot mengurus persiapan pernikahan kami, kalau sudah selesai, pasti dia datang." Jawab Vino. Sebenarnya beberapa minggu lagi, Vino dan Hanna akan segera melangsungkan pernikahan di kediaman Hanna, jadi saat ini, Hanna sangat sibuk mengurus semuanya.


"Oh, iya ... si cantik ini akan kalian beri nama siapa?" Eliza bertanya sambil menciumi pipi bayi Venus dengan gemas.


"Namanya NEVI QUEEN BRAHMANSA." Ucap Reino dan Venus serentak. "Panggil saja baby Vie!" Lanjut Venus.

__ADS_1


"Wah ... nama yang cantik seperti orangnya." Ucap Eliza takjub. Lalu mendadak wajah Eliza berubah sendu, "Andai Erika dan anaknya masih hidup, mereka pasti bahagia seperti ini juga." Eliza tiba-tiba teringat dengan putri dan cucunya yang telah tiada.


"Mama ... jangan bersedih! Kita doakan semoga Erika tenang disana." Venus mengelus pundak Eliza yang tengah duduk di sampingnya sambil menggendong baby Vie. Dan wanita paruh baya itu hanya tersenyum.


"Kalau begitu, mari sini, oom tampan mau gendong kamu juga." Vino mencoba menggendong baby Vie. Eliza menyerahkan bayi mungil yang sedang terlelap itu kepada Vino.


Dan apesnya, begitu berpindah ketangan Vino, baby Vie sontak menangis dengan kuat.


"Oooooeeeekkk ... oooooeeeekkk ..."


"Kenapa kau menangis bayi cantik? Cup ... cup ... diam ya, sayang." Vino berusaha menenangkan baby Vie, tapi tetap tidak berhasil.


"Lihatlah, anak kecil saja tidak suka kepadamu!" Reino mengejek kakak iparnya itu. "Kemarikan, dia pasti diam ditangan papanya!" Ucap Reino yakin sembari mengambil putri kecilnya itu dari gendongan Vino.


"Ciihh ... sombong sekali kau!" Vino mengupat Reino sambil menyerahkan baby Vie ke tangannya.


Kini baby Vie sudah berada digendongan sang ayah, tapi tangisnya tak juga mereda.


"Kenapa dia masih menangis juga?" Tanya Reino bingung.


"Lihatlah, ternyata anak kecil juga tak suka kepadamu. Hahaha ..." Vino berbalik meledek Reino sambil tertawa mengejek.


"Cckk ... berisik!" Ucap Reino sebal.


Sementara Venus, Ina dan Eliza hanya tersenyum melihat perdebatan dan raut kebingungan kedua pria itu.


"Kemarikan putriku! dia tidak suka kepada kalian berdua!" Venus mengambil alih putrinya itu. Dan benar saja, baby Vie berhenti menangis saat berada di gendongan sang ibu.


Reino dan Vino memandang takjub ke arah Venus dan baby Vie. Memang benar, tempat ternyaman seorang anak adalah dekapan sang ibu.


Baby Vie pun kembali terlelap, pipi gembulnya benar-benar membuat semua orang gemas melihatnya.


Akhirnya lengkap sudah kebahagiaan Reino dan Venus karena telah dikaruniai seorang putri cantik yang sehat.

__ADS_1


***


Lanjut atau udahan ini guys ...? 😁


__ADS_2