Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 42


__ADS_3

Pagi yang cerah ini tak seperti biasanya, Reino dan Venus masih terlelap, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 07.00, seharusnya mereka sudah berangkat ke kantor.


Reino terbangun lebih dulu, dia tersenyum saat mendapati wajah cantik istrinya yang tertidur dengan sangat menggemaskan. Reino tak bisa berhenti memandangi Venus dari balik selimut.



"Sayang, semakin aku mengetahui banyak hal tentang hidupmu, aku semakin takut kehilangan dirimu." Reino berbicara dengan pelan sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga Venus.


Reino tak bisa berhenti memandangi wajah cantik yang masih terlelap itu, dia kembali mengecup bibir dan kening Venus dengan lembut.



Venus menggeliat, pelan-pelan dia membuka mata dan memfokuskan pandangannya. Wajah Venus memerah saat netranya menangkap sosok Reino yang sedang memandanginya.


"Tu .... Tuan Muda?" Venus malu-malu.


"Jangan memanggilku begitu! Sekarang aku suamimu yang sah." Reino memprotes.


Memang sebelumnya kau siapaku?


"Jadi aku harus memanggilmu apa?"


"Suamiku atau Sayangku juga boleh." Reino tersenyum manis.


"Mendengarkannya saja aku sudah geli sekali, bagaimana mengucapkannya?" Venus memasang wajah jijik untuk menggoda Reino.


"Kau ini! Kau mau aku melahapmu lagi?" Reino sekarang punya ancaman baru untuk Venus.


Mendengar ancaman Reino, Venus buru-buru hendak beranjak kabur dari suaminya itu.


"Aaaaaawww ...!" Venus berteriak saat dia merasakan sakit di daerah intinya.


"Kenapa?" Reino spontan ikut bangun dan mendekati Venus.


"Ituku sakit sekali." Venus meringis menahan perih.


"Masih sakit sekali ya?" Reino khawatir.


"Iya, ini semua karenamu!"


"Maaf ...! Habis kau selalu menggodaku, aku jadi nggak tahan." Reino mengada-ada dengan menyalahkan Venus.


"Apa? Kapan aku nenggodamu?" Alis Venus menekuk tajam, tak terima dengan tuduhan sembarangan suaminya itu.


"Setiap saat di dalam pikiranku. Lagipula kitakan suami istri, wajarkan kalau begituan." Reino menjawab dengan polos.


"Kau lupa ya? Kita menikah karena terpaksa, aku hanya untuk di jadikan tumbal bukan istri yang sesungguhnya." Wajah Venus mendadak sedih.


"Tapi dari awal aku menikahimu, aku sudah bertekad akan selalu menjaga dan melindungimu. Bagiku kau seorang istri bukan tumbal, aku hanya menunggu kau benar-benar siap dan bisa menerima pernikahan ini." Reino menangkup wajah Venus dengan kedua tangannya, dan memandang wajah cantik Venus dengan penuh cinta.


"Lalu bagaimana dengan Diana dan kutukan itu?" Tanya Venus lagi.


"Aku tak pernah mencintai Diana dan aku rasa kutukan itu juga nggak ada."


"Apa kau mencintaiku?" Pertanyaan ini lolos begitu saja dari mulut Venus, ada sebuah harap dihati gadis itu.


Reino hanya terdiam memandang lekat wajah cantik istrinya. Melihat reaksi diam Reino, Venus merasa menyesal bertanya begitu.

__ADS_1


Tok ... tok ... tok ...


Pintu kamar Venus diketuk, lalu terdengar suara Ina memanggil dari luar.


"Nona Muda ... apa Nona sudah bangun?"


Mendengar teriakan Ina, Reino melepaskan tangkupan tangannya diwajah Venus, dia buru-buru turun dari ranjang dan memakai celananya lalu membuka sedikit pintu kamar Venus.


"Tuan Muda? Maaf ..." Ina yang kaget melihat Reino yang membuka pintu langsung menundukkan kepalanya.


"Ada apa?"


"Saya ingin membangunkan Nona Muda, untuk menanyakan Tuan, karena Tuan tidak ada di kamar dan Erik sudah menunggu di bawah." Ina menjelaskan maksudnya.


"Hari ini kami tidak ke kantor! Dan tolong antarkan sarapan kesini!" Reino memerintah.


Reino tahu Venus masih kesakitan, dia sengaja cuti agar istrinya bisa istirahat.


"Baik, Tuan! Saya permisi." Ina mengangguk dan berlalu pergi dengan pertanyaan-pertanyaan di dalam kepalanya.


Kenapa Tuan Muda berada di kamar Nona Muda? Apa mereka sudah ...?


Ah ... kenapa aku jadi usil begini? Mereka suami istri, wajar kalau mereka tidur sekamar.


Reyno segera menutup kembali pintu kamar Venus dan mendekati istrinya yang masih duduk di atas ranjang dengan selimut yang membalut tubuh polosnya.


"Kau bisa keluar dari kamarku? Aku mau mandi." Venus memelas.


"Kenapa harus mengusirku?" Reino bertanya dengan heran.


"Aku malu." Venus tertunduk dengan pipi yang merona.


"Kenapa harus diingatkan sih?" Venus yang semakin malu melemparkan bantal kearah Reino.


"Kau lucu sekali kalau malu-malu begitu, aku jadi ingin melahapmu lagi." Reino tersenyum licik dan mendekati Venus.


"Hey ... jangan lagi! Masih sakit ni!" Venus merengek manja.


"Hmmm ... iya, nanti saja kalau sudah nggak sakit lagi." Reino semakin membuat wajah Venus merah seperti kepiting rebus.


"Dasar mesum!"


"Tapi kau suka kan?"


"Nggak!"


"Hahaha ...!" Reino tergelak melihat tingkah istrinya itu.


"Aku mau mandi! Aaw ..." Venus hendak berdiri, tapi dia memekik karena daerah intinya masih sangat sakit.


Reino yang melihat Venus kesakitan, segera menarik selimut yang membalut tubuh Venus dan menggendong gadis itu.


"Mari ku gendong ke kamar mandi." Reino membawa Venus ke kamar mandi.


Venus yang terkejut dengan aksi tiba-tiba Reino sangat malu dan menyembunyikan wajah didada bidang suaminya itu.


Akhirnya mereka berdua mandi bersama untuk pertama kalinya, Venus masih merasa sangat malu dan Reino terus menggodanya.

__ADS_1


Sementara itu, setelah dari kamar Venus, Ina menemui Erik untuk mengatakan bahwa hari ini kedua majikannya itu tidak masuk kantor.


Erik merasa heran, selama menjadi supir dan pengawal Reino, dia nggak pernah melihat Reino cuti tanpa alasan yang kuat.


Akhirnya Ina menceritakan apa yang dia lihat tadi, dan Erik pun memahami apa yang terjadi.


Ternyata kau benar-benar melakukannya Reino, kau memang bocah penurut.


Erik tersenyum samar, dan mengingat kejadian tadi malam saat bersama Reino.



Flashback on ...


Setelah menelepon orang suruhannya untuk mencari tahu tentang kehidupan Vino, Reino tampak gelisah. Erik terus memperhatikan sikap majikannya itu.


"Ada apa, Tuan? Kenapa Tuan sepertinya gelisah?" Erik bertanya dengan hati-hati.


"Erik, kau pernah jatuh cinta?" Pertanyaan Reino ini membuat Erik nyesal telah bertanya sebelumnya.


Erik hanya terdiam dengan wajah datarnya, tak berniat menjawab pertanyaan Tuan Muda itu. Ini hal pribadi yang nggak seharusnya dibahas. Melihat Erik diam, Reino menjadi kesal.


"Kenapa aku bertanya kepadamu? Tentu saja kau tidak pernah jatuh cinta, kaukan jomblo seumur hidup." Reino memandang sebal Erik.


Erik hanya menyunggingkan senyum dibibirnya mendengar ejekan majikan nggak ada akhlaknya itu.


Aku memang jomblo, tapi bukan berarti aku nggak pernah jatuh cinta ... Tuan Muda.


Kau juga baru kali ini jatuh cinta, bisa-bisanya kau mengejekku.


Seketika Erik teringat kepada gadis yang diam-diam dia cintai, gadis yang nggak mungkin dia miliki.


"Jadi Tuan gelisah karena Nona Muda?" Erik bertanya lagi. Membuat Reino heran, kenapa dia bisa tahu?


"Kenapa kau bisa tahu?" Reino mengerutkan dahinya.


Erik menarik nafas dalam lalu menghelanya." Saya hanya menebak saja, Tuan."


Siapa lagi yang bisa menjungkir balikkan hatimu dan merubahmu jadi konyol kalau bukan istrimu itu.


"Tebakanmu benar, aku khawatir jika suatu hari nanti dia menemukan keluarganya dan dia akan meninggalkanku. Sementara kami hnaya nikah siri." Wajah Reino menyedih.


"Kalau begitu nikahi Nona Muda secara sah dimata agama dan negara." Erik memberi saran yang logis.


"Kalau dia meminta cerai?"


"Tuan harus miliki dia seutuhnya, kalau bisa Tuan harus memiliki anak dari Nona Muda, agar Nona tidak bisa pergi dari Tuan lagi." Ucapan Erik seperti seorang yang profesional.


Ciih ... bicara apa aku ini?


Kenapa terdengar geli sekali?


Reino yang tidak terlalu polos sangat mengerti maksud ucapan Erik, pria tampan itu tersenyum licik dan segera melangkah menuju kamar Venus.


Erik hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Tuan Muda yang sedang di mabuk cinta itu.


Flashback off ...

__ADS_1


***


Votenya yang banyak ya say....


__ADS_2