Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 26 (S2)


__ADS_3

Tiba-tiba perhatian semua orang tertuju kepada seorang gadis yang sedang berteriak meminta tolong, dia seperti akan tenggelam terseret ombak.


"Toloooong ... tol ... loong ..."


"Itu Ayumi." Dafa berteriak menunjuk ke arah gadis itu.


Sontak Andra berlari dan menceburkan diri untuk menyelamatkan Ayumi, entah bagaimana gadis itu bisa terseret ombak.


Dengan sedikit kesulitan Andra berenang menghampiri Ayumi, saat jarak mereka cukup dekat, Andra pun berhasil menggapai Ayumi dan membawanya ke tepi pantai.


Semua orang panik, Reino dan Vino pun berlari menghampiri mereka.


"Bagaimana kondisinya?" Tanya Reino cemas.


"Tenanglah dulu." Vino berusaha menenangkan Reino karena dia tahu Andra sedang berusaha membantunya.


Andra membaringkan Ayumi yang sudah tidak sadarkan diri, dia melakukan CPR dengan menekan-nekan dada gadis itu, tapi tak ada reaksi. Akhirnya Andra melakukan nafas buatan, meniupkan udara dari mulutnya ke mulut Ayumi. Dan otomatis bibir Andra bertemu bibir gadis itu.


Akhirnya Ayumi sadar dan terbatuk-batuk, dia memuntahkan banyak sekali air.


Gadis itu sontak memeluk Andra dan menangis ketakutan, Andra yang merasa risih berusaha melepaskan pelukannya.


"Sudah-sudah, sayang ... kau akan baik-baik saja. Sebaiknya kau kembali ke kamar dan istirahatlah, om akan carikan dokter." Ucap Reino sambil menggendong Ayumi.


Reino memang sangat menyayangi keponakannya itu seperti putrinya sendiri.


Setelah Reino membawa Ayumi pergi, Andra mencari-cari sosok Vie, tapi gadis itu hilang entah kemana. Bahkan tak ada yang menyadari kepergiannya karena semua orang panik dengan keadaan Ayumi.


***


Vie sedang duduk sendiri di atas pasir dengan tatapan lurus memandang hamparan laut yang luas, tempatnya kini duduk agak jauh dari tempat mereka bermain tadi. Vie sengaja pergi meninggalkan orang-orang yang tengah sibuk mencemaskan Ayumi, dia merasa tak suka melihat Andra perhatian apalagi memberi nafas buatan untuk gadis centil itu.


"Dasar penipu, katanya tidak suka dengan gadis seksi, tapi begitu lihat Ayumi tenggelam, langsung ditolongi biar bisa pegang-pegang badan Ayumi yang seksi itu. Pakai kasih nafas buatan segala lagi. Ayumi juga, ngapain sih peluk-peluk? Cari kesempatan saja." Vie mengomel sendiri.


"Iiiihhh ... aku kenapa sih? Untuk apa sih mikirin mereka? Bodoh amat deh!" Vie melengos.


"Kau bisa bicara dengan makhluk halus ya?" Seseorang tiba-tiba duduk di samping Vie.


"Eh ... tidak kok." Vie yang kaget sontak menoleh kearah orang itu.


"Aku kirain bisa. Kenalin aku Davin, kamu?" Bocah yang bernama Davin itu mengulurkan tangannya kearah Vie.


"Vie." Vie menjabat uluran tangan Davin.

__ADS_1


"Kenapa kau bicara sendiri disini? Aku sampai mengira kau gila atau sedang berbicara dengan makhluk halus tadi." Ledek Davin.


"Enak saja bilangi aku gila!" Vie melotot kearah Davin.


"Hahaha ... iya juga sih. Mana ada orang gila secantik dirimu."


"Eleh ... gombal!" Vie memutar bola matanya.


"Biarin, daripada gembel?" Ucap Davin dengan senyum yang mengembang.


"Kau itu gembel." Vie mendorong bahu Davin.


"Memang ada gembel setampan dan sekeren aku?" Tanya Davin sombong.


"Ciihh ... narsis!"


"Hahaha ... kau lucu." Davin tertawa riang.


"Memangnya aku pelawak apa?"


Seketika suasana akrab pun tercipta meskipun mereka baru beberapa menit berkenalan. Vie dan Davin memiliki karakter yang sama yaitu sama-sama mudah akrab dengan orang lain.


Tapi tanpa sepengetahuan Vie, dari jauh Andra melihat keakrabannya bersama Davin. Lelaki tampan itu hanya menghela nafas dengan raut wajah yang sulit diartikan.


"Oh iya, kau disini bersama siapa?" Tanya Davin.


"Bersama keluarga dan teman-temanku. Kalau kau sendiri bersama siapa?"


"Aku hanya berdua bersama papa." Jawab Davin.


"Mamamu tidak ikut?"


Mendadak wajah Davin berubah sendu, bocah itu tertunduk diam.


" Mamaku sudah lama sekali meninggalkanku. Dia sudah tenang di atas sana." Ucap Davin dengan suara yang bergetar sambil mendongakkan kepalanya memandang langit.


"Oh ... maaf, aku tidak tahu." Vie merasa tak enak hati.


"Tidak apa-apa kok." Davin memandang Vie dengan senyum yang mengembang.


"Kalau aku boleh tahu, mamamu sakit apa?" Tanya Vie penasaran.


"Mama tidak sakit, mama terseret ombak di pantai ini saat aku masih berumur lima tahun. Makanya tiap tahun, aku dan papa selalu datang kesini untuk mengenang mama." Davin bercerita dengan suara yang lirih.

__ADS_1


"Aku turut berduka ya." Ucap Vie.


"Terima kasih ya, Vie." Balas Davin.


"Bagaimana kalau nanti malam kau dan papamu ikut makan malam bersama kami?"


"Apa boleh? Aku takut mengganggu." Ucap Davin sungkan.


"Tidak apa-apa. Papa dan mama pasti senang bisa bertemu denganmu dan juga papamu." Vie berusaha meyakinkan Davin karena dia tahu bocah itu pasti sungkan.


"Baiklah, aku akan tanya papa dulu. Nanti aku kabari lagi.


Dan kedua bocah itupun saling bertukar nomor ponsel.


***


Malam harinya, mereka semua sedang bersiap menikmati makan malam di tepi pantai. Tampak Andra dan Vie tak saling bicara, duo gesrek merasa heran sendiri, suasana seperti kembali ke masa Vie masih memusuhi mantan gurunya itu. Padahal belakangan ini hubungan mereka sudah membaik, bahkan mereka terlihat sangat akrab. Tapi kenapa sekarang berubah lagi?


Raja dan Dino yang duduk berhadapan hanya berbicara dengan isyarat mata mereka, seolah-olah mereka memiliki ilmu teletubies eh maksudnya telepati.


"Bagaimana kondisimu, sayang?" Reino bertanya kepada Ayumi yang duduk di samping Andra. Gadis itu sengaja mengatur agar dia bisa duduk di samping supir tampan itu. Sementara Vie yang duduk di hadapan mereka pura-pura tak acuh.


"Sudah baikan kok, om." Jawan Ayumi lembut.


"Lain kali kalau hendak main air itu hati-hati ya, sayang. Jangan sendirian, bahaya kalau terseret ombak seperti tadi. Untung ada Andra yang cepat menyelamatkan kamu, kalau tidak?" Ucap Venus sambil melirik Andra dan Vie yang terduduk fokus dengan ponsel mereka masing-masing. Tak ada reaksi apapun dari keduanya.


"Iya, Tante."


"Ya sudah, mari kita mulai makan." Pinta Reino.


"Hmmm ... pa, tunggu! Aku boleh ajak temanku bergabung dengan kita tidak?" Tanya Vie penuh harap. Andra spontan melirik kearah Vie.


"Teman?" Reino menautkan kedua alisnya.


"Iya, kami baru berkenalan tadi. Dia anak yang baik dan dia disini hanya berdua dengan papanya. Boleh kan, pa?" Tanya Vie lagi. Kali ini Andra memandang Vie dengan tatapan ambigu. Tapi Vie mengabaikannya.


"Ya, sudah. Mana dia?"


"Sebentar ya, tadi katanya dia sudah di sekitar sini." Vie celingak-celinguk mencari sosok Davin yang katanya sudah dekat dengannya.


"Nah ... itu dia." Vie menunjuk kearah Davin dan papanya. "Davin, sini!" Vie berteriak memanggil bocah itu sambil melambaikan tangan.


Davin dan papanya pun berjalan mendekati meja Vie dan rombongannya, betapa terkejutnya Reino, Venus, Vino dan Hanna saat melihat siapa papanya Davin.

__ADS_1


***


__ADS_2