
Mendadak wajah Venus berubah, air matanya jatuh bagaikan hujan. Alvin yang melihat itu, segera menghampiri Venus.
"Ada apa? Kenapa kau menangis?" Alvin memandang bingung sambil memegangi pipi Venus yang basah.
"Vino .... Vino ..." Venus terbata-bata nggak sanggup melanjutkan ucapannya.
"Iya, Vino kenapa?" Alvin semakin khawatir.
"Ini ...!" Venus hanya menunjukkan selembar kertas yang dia keluarkan dari amplop tadi.
Alvin membaca kertas itu dengan seksama, mendadak wajah Alvin berubah bingung sekaligus tak percaya.
"Apa ...? Kau dan Vino saudara kandung?" Alvin menekan nada bicaranya dengan bola mata yang hampir keluar saat
melihat kertas hasil tes DNA Venus dan Vino, mengabaikan beberapa pengungjung lain yang memandangi mereka.
Venus tertunduk dengan tetesan air mata yang semakin banyak, mencoba mencerna semua kejadian ini. Venus benar-benar bingung harus berbuat apa? Rasanya sangat sulit menerima kenyataan ini begitu saja.
"Maaf, aku permisi!" Venus melangkah cepat meninggalkan cafe itu dengan selembar kertas yang harus dia pertanyakan kebenarannya.
"Kau mau kemana? Venus ...!"
Alvin mengejar Venus sampai ke parkiran cafe, dan menahan langkah gadis itu.
"Kau mau kemana?" Tanya Alvin.
"Aku mau pulang ke rumah Ayah." Venus berbicara dengan gemetar.
"Dimana alamatnya?"
"Di jalan XXX."
"Baiklah, mari aku antar!" Alvin menawarkan dirinya untuk mengantarkan Venus, dia nggak mungkin membiarkan gadis yang disukainya pergi sendiri dalam keadaan kalut begini.
Venus hanya menurut kepada Alvin.
Sementara itu di gedung Grafika Grup, Reino dan Erik sedang sibuk mencari keberadaan Venus. Reino berkali-kali menghubungi Venus, tapi tak ada jawaban.
Lalu Reino mengecek semua CCTV dan hanya menemukan saat Alvin dan Venus berbicara lalu Venus pergi ke arah tangga darurat dan Alvin keluar dari pintu depan.
Braaaakkk ...
__ADS_1
"Bedebah ...!! Berani sekali dia membawa kabur istri orang? Mau cari mati dia ya?" Reino menggebrak meja kerjanya dengan penuh kemarahan. Erik hanya terdiam tak berani berkata apa-apa.
Dasar bodoh! Kemana kau membawa Nona Muda? Tamatlah riwayatmu!
Reino meraih ponselnya dan menghubungi nomor Alvin, tapi ponsel Alvin tak bisa dihubungi, membuat pria tampan itu semakin murka.
"Bangs4t ...! Kau benar-benar ingin mati rupanya!" Reino melemparkan ponselnya ke lantai, hingga membuat layar benda pipih itu retak. Kemarahan dan kecemburuan Reino sudah benar-benar menguasainya.
Erik sampai tersentak kaget melihat kelakuan Reino itu.
"Erik ...! Kerahkan semua pengawal untuk mencari mereka!" Reino memberi titah.
"Baik, Tuan!" Erik mengangguk dan segera keluar untuk menemui para penjaga yang notabene adalah bawahannya.
"Kenapa kau melakukan ini, Venus?" Reino tertunduk meremas rambutnya, menahan emosi dan kecemburuan yang besar.
***
Venus mengetuk pintu rumah Daniel, sementara Alvin hanya menunggunya di dalam mobil sesuai permintaan Venus. Tanpa menunggu lama, pintu itu sudah dibuka oleh Erika.
"Ada apa lagi kau kesini?" Erika memandang malas ke arah Venus.
"Aku mau bertemu Ayah."
"Apa maksudmu?" Venus menautkan kedua alisnya, memandang bingung Erika.
"Ups ... kau belum tahu rupanya? Aku juga baru tahu sih kalau kau itu bukan anak kandung Ayahku." Erika membeberkan fakta yang sangat mengejutkan Venus, hati gadis itu seperti mencelos keluar.
"Apa ...? Kau pasti berbohong!" Venus menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.
"Apa untungnya aku berbohong? Kau tidak percaya? Lihat ini!" Erika memutar sebuah video rekaman diponselnya yang sengaja dia ambil secara diam-diam saat menguping pembicaraan Daniel dan Vino waktu itu.
Venus memperhatikan rekaman video itu dengan serius dari awal sampai akhir, air matanya tumpah ruah tak tertahankan lagi.
"Nggak ...! Ini nggak mungkin ...!!!" Venus berteriak sejadi-jadinya, hatinya benar-benar hancur mengetahui semua rahasia bahagia dan menyakitkan sekaligus.
Eliza yang mendengar teriakan Venus segera keluar dari rumah dengan kebingungan.
"Ada apa?" Eliza melirik Erika untuk meminta penjelasan.
"Dia baru saja menonton film pendek yang aku rekam ini, Ma." Erika menunjukan rekaman video itu kepada Mamanya itu. Eliza yang juga baru tahu isi rekaman itu terperangah tidak percaya saat mengetahui Venus adalah adik Vino.
__ADS_1
"Ma ... katakan ini tidak benarkan? Ayah dan Mama adalah orang tua kandungku kan?" Venus meraih tangan Eliza memohon kepastian.
"Lepaskan tanganku! Kau sudah tahu kebenarannya sekarang, jadi berhentilah memanggilku Mama, aku bukan Mamamu!" Eliza menghempaskan tangan Venus yang menggenggam tangannya.
"Jadi itu benar? Aku bukan putri kandung kalian? Jadi karena itu kalian memperlakukanku dengan penuh kebencian selama ini? Tapi apa salahku?" Venus sesunggukan, air matanya semakin deras.
Erika dan Eliza hanya memalingkan wajah mereka dengan angkuh, Alvin yang melihat itu segera keluar dari mobil dan menghampiri Venus.
"Untuk apa kalian mengadopsiku kalau tidak bisa menyayangiku? Bertahun-tahun kalian memperlakukanku dengan sangat buruk, tapi aku tetap menyayangi kalian. Kalian tega menyiksa dan memenjarakanku, bahkan menukarku dengan harta seolah-olah aku nggak punya harga diri. Kalian manusia yang nggak punya hati!" Venus meluapkan semua kesedihan dan sakit hatinya atas perlakuan keluarga angkatnya itu selama ini.
Plaaaakk ....
"Jaga ucapanmu! Dasar anak nggak tahu diri! Pergi kau dari rumahku! Aku muak melihatmu!" Eliza menampar Venus karena tidak terima dengan perkataan gadis itu.
"Venus ...! Kau tidak apa-apa?" Alvin segera menghampiri Venus yang terisak sambil memegangi pipinya yang panas akibat tamparan Eliza.
"Wah ... siapa lagi ini? Selingkuhanmu ya? Dasar wanita ******!" Eliza menghina Venus sambil tangannya bersidekap di depan dada. Erika hanya tersenyum sinis memandangai Venus.
"Jaga bicara Anda, Nyonya! Saya sekretarisnya Tuan Muda Reino dan saya akan melaporkan kejadian ini kepada Tuan Reino!" Alvin menatap tajam ke arah Eliza dan Erika membuat kedua ibu dan anak menelan salivanya karena takut.
"Ayo sayang, kita masuk saja!" Eliza menarik Erika masuk untuk menghindari tatapan Alvin yang seperti ingin membunuh mereka.
"Sudahlah, mari kita pergi dari sini!" Alvin mendekap bahu Venus dan memapah gadis itu berjalan menuju mobilnya.
"Tolong antarkan aku ke Rumah sakit Medica!" Venus berkata dengan pelan.
"Baiklah!" Alvin merasa sangat iba sekaligus cemas dengan Venus, gadis cantik itu terlihat sangat kacau.
***
Venus masuk ke dalam ruang ICU dengan perasaan campur aduk, ruangan yang sunyi dan dingin, cuma ada suara mesin ventilator disana, sementara Alvin hanya menunggu di luar.
Langkah kaki Venus mendekat ke ranjang yang diatasnya terbaring tubuh lemah Vino dengan banyak selang dan alat medis lainnya. Dipandanginya wajah pucat dengan beberapa luka di pipinya sedang terlelap dengan begitu tenang. Venus bersimpu di samping ranjang Vino sambil menggenggam erat tangan dingin itu.
"Kakak ..." Gemetar-gemetar Venus memanggil Vino, air matanya benar-benar tertumpah. Tapi yang di panggil tetap diam tak merespon.
"Kakak bangun ...! Maafkan aku ... maaf, Kak." Venus terisak, pundaknya bergetar. Hatinya benar-benar hancur menerima kenyataan ini, Venus sungguh menyesal menolak Vino waktu itu dan mengabaikannya beberapa hari ini.
***
Sumpah deh guys .... air mata author ikutan jatuh pas nulis bagian ini ...ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1
Mendadak author jadi lebay dan melow begini sih ....
Kira-kira ada gak ya, yang ikutan nangis pas baca ceritaku yang ini?