
"Tidak bisa!" Suara tegas itu mengagetkan semua orang. Ketiga orang itu sontak berbalik ke arah suara itu.
"Tuan Muda?" Alvin segera menundukkan kepalanya memberi hormat sekaligus takut.
Venus tertunduk tak berani menatap Reino yang sudah berdiri dan memasang wajah tak bersahabat, sementara Vino hanya menghela nafas melihat pria menyebalkan itu datang.
"Aku ada meeting di luar, Venus akan menemaniku." Reino mencari alasan.
"Tapi, Tuan ..." Alvin mendadak bingung sendiri, bukankah dia yang mengatur jadwal meeting tapi kenapa dia tak tahu kalau sekarang ada meeting di luar?
Mungkinkah bosnya ini salah jadwal?
"Kenapa? Ini meeting mendadak, jadi tidak ada dijadwal." Reino menjawab kebingungan Alvin, dia tahu apa yang ada difikiran sekretarisnya itu.
"Tapi berkas-berkas ini?" Venus melirik berkas-berkas ditangannya.
"Serahkan semuanya ke Alvin! Dia akan lembur hari ini." Reino menyeringai licik.
"Apa ...? Tapi, Tuan ...?" Alvin kaget dan ingin protes, bukankah pekerjaannya sudah selesai semua, kenapa dia harus lembur?
"Kenapa? Kau ingin protes?"
Itu hukuman karena kau telah berani mendekati istriku.
"Tidak, Tuan!" Alvin pasrah.
Reino hanya tersenyum sinis penuh kemenangan. Sementara ke tiga orang itu semakin bingung melihat tingkah Tuan Muda ini.
"Ayo, cepatlah!" Reino memerintah Venus.
"Baiklah, aku ambil tas dulu." Venus menyerahkan berkas-berkas ditangannya kepada Alvin lalu masuk kembali ke ruangannya.
"Oh iya, Alvin ... secepatnya gelar jumpa pers untuk mengklarifikasi berita-berita yang beredar di publik, kau atur segalanya!" Reino memerintah sekretarisnya itu.
"Baik, Tuan!" Alvin mengangguk setuju.
"Kenapa kau masih disini?" Kini pandangan Reino beralih ke Vino yang sedari tadi hanya terdiam di sampingnya, pria itu masih mencerna sikap Reino yang selalu berusaha menghalanginya berbicara dengan Venus.
"Kau mau mengusirku?" Vino memandang sebal Reino.
"Tidak, kalau kau masih ingin berlama-lama disini dan menemani Alvin, silahkan! Aku permisi dulu!" Reino tersenyum sinis lalu berlalu dari hadapan Vino dan Alvin saat Venus sudah keluar dari ruangannya.
Reino dan Venus berjalan beriringan meninggalkan dua pria yang masih memandangi kepergian mereka dengan kebingungan.
Tanpa mereka ketahui, sedari tadi Reino telah memperhatikan semua gerak-gerik mereka dari rekaman CCTV di laptopnya, bahkan saat berbicara dengan Vino pun, dia sesekali melirik laptopnya yang terlihat jelas Alvin sedang berada di dalam ruangan Venus.
__ADS_1
Saat di dalam mobil, Venus segera menyerang Reino dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah memenuhi kepalanya dari tadi.
"Kenapa kau melakukan ini?" Venus menatap tajam sosok yang duduk di sampingnya itu. tapi yang ditatap pura-pura fokus kelayar ponselnya.
"Melakukan apa?" Jawab Reino datar tanpa menoleh Venus.
"Aku tahu tidak ada meeting mendadak di luarkan? Ini cuma akal-akalan kau saja!"
"Kenapa kau menuduhku seperti itu?" Reino pura-pura tak tahu dan masih enggan memandang ke arah Venus, membuat gadis itu semakin kesal.
"Karena kau nggak mau aku mengobrol berdua dengan Tuan Vino! Kau cemburu!" Vino meninggikan suaranya, rasanya geram sekali berbicara tanpa direspon oleh pria menyebalkan ini.
"Kau terlalu percaya diri! Siapa juga yang cemburu?" Reino menjawab dengan mengejek.
"Oh gitu? Erik ... berhenti!" Venus berteriak memerintah supir itu untuk menghentikan laju mobilnya.
"Baik, Nona!" Erik menuruti perintah Nona Mudanya dan menepikan mobilnya sambil melirik kedua insan aneh itu.
Kenapa kau jual mahal begitu sih Tuan Muda?
Susah sekali ya kau mengakui kecemburuanmu?
"Hey ... kau mau apa?" Reino bingung melihat tingkah istrinya itu.
"Kau ...!" Reino mendadak panik mendengar kata-kata istrinya itu.
"Kenapa kau berhenti, seharusnya kau jalan saja!" Reino beralih memarahi Erik.
"Maafkan saya, Tuan!" Erik melajukan kembali mobilnya disaat Reino hendak keluar mengejar Venus yang masih berdiri ditempatnya dengan wajah masam.
"Dasar bodoh! Kenapa kau jalan? Berhenti!" Reino kembali berteriak memarahi Erik yang melajukan mobilnya, dan pria sabar itu segera menghentikan kembali mobil yang dia kendarai itu dengan perasaan kesal.
Kenapa dia marah kepadaku?
Memangnya aku salah?
Sepertinya Erik salah paham, maksud Reino kenapa tadi Erik berhenti dan tidak jalan saja saat Venus memerintahnya. Haduh ... Erik gagal fokus ni.
Reino segera turun dari mobil dan berlari mengejar Venus yang berada agak jauh darinya, Erik memandang Reino sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kenapa kau harus susah payah berlari Reino?
Bukankah aku bisa memutar balik mobil ini.
Kenapa sejak jatuh cinta, mendadak kau jadi bodoh begini?
__ADS_1
Setelah jaraknya cukup dekat dengan Venus, Reino langsung menarik lengan gadis itu. Keringat bercucuran di sekitar pelipis dan lehernya, dia masih terengah-engah karena berlari. Reino mengatur nafasnya sebelum memulai berbicara kepada Venus.
"Kenapa mengejarku?" Tanya Venus sambil berusaha melepaskan pegangan tangan Reino dilengannya, tapi tenaganya tak cukup kuat.
"Tentu saja mau menjemputmu, kau kan istriku. Ayo kembali ke mobil!" Reino menarik lengan Venus agar kembali ke mobil.
"Nggak mau!" Venus tak beranjak sedikit pun dari tempatnya berdiri.
"Kenapa?"
"Kau nggak lihat mobilnya jauh sekali? Bukankah Erik bisa memutar balik dan menjemput kita kesini? Kenapa kita harus susah-susah berjalan kesana?" Venus mencebik kesal sambil menunjuk mobil yang berhenti lumayan jauh dari mereka.
Tiba-tiba kesadaran Reino kembali 100% dan kebodohannya meluap bersama keringat yang keluar dari tubuhnya saat menyadari betapa jauhnya dia berlari tadi.
Mendadak hatinya merasa geram sekaligus malu, mengutuki kebodohannya sendiri.
"Kau merepotkan saja!" Reino memandang Venus dengan raut wajah jengah. Lalu pria itu menelpon Erik agar segera menjemput mereka.
Venus mengulum senyum dibibirnya, seketika dia merasa puas telah membuat suaminya itu terlihat bodoh karenanya ulahnya.
Anggap saja kita impas hari ini.
Setelah menutup telepon dari Reino, Erik terkekeh sendiri mengingat kebodohan Reino.
Kau pasti malu sekali setelah menyadari kebodohanmu ini bocah sombong.
Erik segera memutar balik mobilnya lalu mendekati Venus dan Reino, terlihat guratan-guratan kekesalan diwajah tampan Tuan Muda itu.
Sepanjang perjalanan Reino hanya diam dengan wajah yang sedikit ditekuk, sepertinya dia masih kesal dengan kebodohannya. Sementara Venus hanya memandang keluar jendela mobil, memandangi pepohonan yang berjajar di pinggir jalan sambil senyum-senyum sendiri.
Erik melirik kedua insan itu dari balik spion, lalu tersenyum samar.
"Erik, kita ke kediaman Winata sekarang!" Tiba-tiba suara Reino mengagetkan Erik dan Venus.
"Haa ...? Ba ... baik, Tuan!" Erik sedikit gugup dan kembali fokus memperhatikan jalanan.
"Kenapa kita kesana, bukankah ini masih jam kantor?" Venus protes tidak senang.
"Kau lupa ya? Kita kan mau ambil berkas-berkasmu."
"Kenapa buru-buru sekali sih?" Venus menggerutu.
Reino hanya melirik gadis itu tanpa menjawabnya, dia masih lelah dan nggak ingin berdebat lagi dengan istrinya itu.
***
__ADS_1