Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 18 (S2)


__ADS_3

Tapi naas, kaki Vie tersandung sesuatu dan gadis itu jatuh tersungkur ke aspal. Hasilnya lutut kiri Vie terluka dan berdarah, Andra yang panik segera membantunya berdiri.


"Kau tidak apa-apa?" Andra cemas. Kali ini dia bertanya tanpa memanggil Vie dengan sebutan nona.


"Jangan sentuh aku! Ini semua karena kau! Andai kau tidak mengejarku, aku pasti tidak berlari dan terjatuh!" Vie menepis tangan Andra dengan kasar, dia membentak dan menyalahkan Andra sambil meringis kesakitan. Tapi Andra tidak memperdulikan ocehan Vie, dia hanya fokus memperhatikan luka di lutut gadis itu.


"Kau terluka. Ini harus segera dibersihkan dan diberi obat agar tidak infeksi. Mari kita pulang, aku akan membantumu berdiri!" Ucap Andra cemas.


"Tidak perlu! Kau pulang saja sendiri! Aku mau ke lapangan."


"Kau jangan keras kepala! Kau harus pulang!" Andra memerintah dengan tegas.


"Tidak mau!" Vie masih membantah dan berusaha berdiri sendiri. Dia mencoba untuk berjalan dengan kaki yang pincang.


Kesabaran Andra benar-benar habis menghadapi gadis ajaib ini, tanpa permisi Andra segera mengangkat tubuh Vie dan membopongnya di pundak.


"Lapaskan aku! Aku ingin turun!" Vie yang terkejut sontak memukul-mukul badan Andra agar menurunkannya, tapi lelaki itu tak menghiraukannya dan membawa Vie pulang.


Untung saja mereka tidak terlalu jauh dari kediaman Brahmansa, jadi Andra masih sanggup membopong Vie sampai ke rumah.


Setelah tiba di rumah, Andra segera menjatuhkan Vie di atas sofa. Venus dan semua orang melihat adegan itu menjadi bertanya-tanya.


"Ada apa ini?" Venus memandang Vie dan Andra bergantian.


"Nona terjatuh saat berusaha melarikan diri." Ucap Andra dengan wajah datar, walaupun sejujurnya dia lelah mengejar dan membopong Vie, tapi tak dia perlihatkan. Keringatnya saja sampai menetes membasahi pelipis dan lehernya.


"Melarikan diri?" Tanya Venus bingung.


"Iya, nyonya. Nona melarang saya mengantarnya ke lapangan. Saat saya tidak mengizinkan dia pergi tanpa saya, dia malah kabur dengan memanjat tembok pagar. Ketika ketahuan saya, dia berusaha melarikan diri dan terjatuh, akibatnya kaki nona terluka, tapi dia tetap bersikeras untuk kelapangan. Jadi saya terpaksa membawanya pulang dengan cara seperti ini. Saya mohon maaf, nyonya." Andra menjelaskan semuanya dan menunduk memohon maaf.


"Tidak apa-apa! Caramu sudah benar!" Venus tersenyum kepada Andra.


"Mama ... aku hanya ingin bermain sepak bola ke lapangan, masa harus diantar dan dikawal segala sih? Aku tidak mau!" Vie membantah.


"Kalau tidak mau, tidak apa-apa. Tapi jangan keluar rumah! Kau itu seorang wanita, jadi bersikaplah sewajarnya. Jangan bertingkah seperti anak lelaki. Sekarang juga obati luka di kakimu itu dan beristirahatlah." Venus beranjak dari hadapan Vie dengan tersenyum samar.

__ADS_1


"Puas kau sekarang? Tadinya aku merasa bersalah atas kelakuanku kepadamu waktu itu, tapi sekarang aku tahu, kau memang pantas mendapatkannya! Kau menyebalkan! Aku membencimu!" Vie berbicara dengan penuh emosi dan kemudian berlalu pergi dari hadapan Andra.


Lelaki tampan itu tak membalas ucapan Vie, ada rasa kesal sekaligus menyesal dihatinya. Dia kesal melihat tingkah gadis ajaib itu tapi dia juga menyesal karena pernah bersikap kasar kepadanya. Andra mengerti, Vie marah karena sikap kasar Andra beberapa waktu lalu, jadi saat melihat Andra dia hanya berusaha menunjukkan kalau dia juga tidak suka dengan lelaki itu. Tapi Andra tahu, Vie adalah gadis yang baik dan dia berhutang budi dengannya.


***


Setelah membersihkan lukanya dan memberikan obat, Vie yang masih kesal memutuskan untuk duduk di taman belakang rumahnya bersama duo gesrek yang segera datang saat Vie memintanya.


"Kau kenapa lagi sih? Dari tadi pagi, wajahmu ditekuk terus seperti lipatan kain." Raja memperhatikan wajah Vie dengan seksama.


"Aku kesel banget dengan dia!" Ucap Vie ketus.


"Maksudmu pak Andra?" Tanya Dino.


"Siapa lagi? Dosa apa sih yang telah aku lakukan sehingga aku teraniaya seperti ini?" Vie mulai berlebihan.


"Eh ... kulit kuaci, tak usah lebay deh! Kalau kau tanya dosa apa yang telah kau lakukan? Sampai Upin Ipin SMA pun tidak akan selesai kalau di sebutkan satu persatu." Raja berbicara dengan malas.


"Memangnya apa yang aku lakukan? Aku hanya gadis manis yang polos." Vie pura-pura lugu.


"Ciihh ... masih bertanya juga!" Raja melengos.


"Heee ... kalian sebenarnya datang mau menghiburku atau membullyku, haaa ...?" Vie berbicara dengan nada yang tinggi, dia kesel karena duo gesrek meledeknya.


"Iya ... iya ... maaf! Sekarang ceritakan apa yang terjadi?" Raja bertanya dengan serius.


Vie pun menceritakan semuanya kepada dua sahabat gesreknya itu dari awal sampai akhir tanpa ada yang tertinggal.


"Pak Andra sih tidak salah, dia hanya menjalankan tugas." Dino berbicara dengan logis.


"Jadi maksudmu, aku yang salah? Gitu?" Vie menatap tajam ke arah Dino.


"Bukan, aku yang salah!" Dino melengos dan memutar bola matanya.


"Hee ... kelabang betina, apa susahnya sih menurut? Biar saja dia mengantarkan dan menjagamu, yang penting kau bisa keluar. Memangnya kau mau dikurung di rumah terus?" Tanya Raja.

__ADS_1


"Ya, tidak maulah! Tapi aku malas jika dia terus mengikutiku." Ucap Vie.


"Abaikan saja dia. Lama-lama juga dia bosan dan akhirnya mengundurkan diri." Lanjut Raja.


Tapi bersamaan dengan itu, Andra datang menghampiri trio gesrek. Kehadirannya sontak membuat Raja terkejut sambil menelan salivanya, pasalnya dia baru saja berkata yang tidak baik tentang Andra.


"Hai, pak!" Raja dan Dino menyapa Andra dengan canggung. Lelaki itu hanya membalasnya dengan sedikit tersenyum.


"Maaf, nona sudah saatnya kita belajar!" Ucap Andra sambil memandang ke arah Vie yang mengacuhkannya.


"Hmmm ... kalau begitu kami pamit dulu ya, Vie. Yuk Din, kita mau main jelangkung saja. Permisi, pak!" Duo gesrekpun buru-buru kabur dari situasi horor itu.


"Nona, yuk!" Andra mengajaknya sekali lagi. Dan gadis itu pun berjalan tanpa memandang apalagi menjawab Andra. Dan lagi-lagi Andra hanya bisa menghela nafas melihat sikapnya.


Namun saat baru memasuki rumah, mereka berpas-pasan dengan Reino yang baru pulang dari kantor. Melihat sang putri yang berjalan dengan pincang, Reino sontak panik dan melangkah mendekati Vie.


"Kakimu kenapa?" Tanya Reino cemas.


"Aku terjatuh saat ingin ke lapangan, pa." Jawab Vie dengan manja sambil berhambur memeluk papanya.


"Apaaa ...? Bagaiamana bisa?" Reino menautkan alisnya. "Apa kau tidak menjaga putriku? Kenapa dia bisa sampai jatuh dan terluka begini?" Reino beralih menatap tajam ke arah Andra yang terdiam.


"Tapi tuan, saya ..." Andra berusaha menjelaskan.


"Sudahlah ...! Aku sudah tahu dari awal kalau kau tidak pantas dijadikan pengawal untuk putriku!" Reino menyela tanpa mau mendengar penjelasan Andra.


"Hey ... tuan besar! Kenapa kau memarahinya? Yang bersalah itu putrimu, bukan dia!" Venus baru turun karena mendengar keributan di bawah, wanita itu memarahi suaminya.


"Maksudnya?" Reino bingung.


Venuspun menceritakan apa yang diceritakan Andra tadi kepada Reino, mendadak wajah tampan Reino memerah karena malu bercampur kesal.


"Ternyata kau nakal sekali!" Reino menjewer telinga Vie karena kalah malu.


"Aduh ... aduh ... ampun, pa!" Vie berteriak heboh.

__ADS_1


Andra hanya memandang Venus dan menganggukkan kepala sebagai tanda terima kasih karena sudah membelanya, Venuspun membalasnya dengan tersenyum.


***


__ADS_2