Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 27


__ADS_3

Praaaaang ...!


Liana melemparkan nampan yang ada dipangkuannya, hingga sisa bubur dan jus tercecer kemana-mana.


Mika hanya tersenyum samar, lalu memasang wajah paniknya dan menghampiri Liana.


"Ada apa, Nyonya?"


"Jauhkan semua itu dariku! Segera bersihkan!" Liana berteriak memerintah Mika, wajahnya kini semakin pucat seperti mayat, jantungnya jangan ditanya lagi, seperti ada ratusan kuda yang berlarian disana.


"Baik, Nyonya!" Mika berlalu mengambil alat pel untuk membersihkan kekacauan itu dengan wajah yang masam.


"Ada apa, Tante?" Diana yang mendengar keributan itu segera menghampiri Liana.


"Wanita itu menelpon, Tante ... dia meneror, Tante." Liana sangat ketakutan, tubuhnya sampai gemetaran.


"Mana mungkin, Tante! Dia kan sudah mati!"


"Itu benar, Di! Tante udah nggak tahan lagi! Tante menyerah, Diana!" Liana mulai terisak.


"Tante tenanglah! Jangan sampai ..." Kata-kata Diana terhenti saat ada panggilan video dari nomor yang tidak dia kenal, Diana menjawab panggilan video itu dengan ragu.


Seketika wajahnya berubah ketakutan saat si penelpon muncul di layar ponselnya dengan wajah yang pucat.


"Hantuuuuu ...!" Diana berteriak dan langsung melemparkan ponselnya ke ranjang tepat disebelah Liana lalu gadis itu berlari keluar dari kamar Liana.


Liana yang kebingungan melirik layar ponsel Diana, seketika matanya melotot melihat sosok wanita di dalam layar ponsel itu.


"Venus ...? Aaaaaarrrgghh ...!!!" Liana pun ikut berlari menyusul Diana, berpas-pasan dengan Mika yang masuk ke dalam kamar Liana membawa alat pel.


Mika melangkah mendekati ranjang Liana lalu memungut ponsel Diana yang tergeletak begitu saja di atas ranjang, gadis itu berdecak kesal saat menatap seseorang di layar benda pipih itu.


"Kau menyusahkanku saja!" Mika mematikan panggilan video itu dengan kesal.


Diana berlari menuruni anak tangga untuk mencari Reino atau siapan pun, tapi tidak ada siapa-siapa, sepertinya Reino sudah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali. Tanpa sengaja Diana menabrak Boy yang baru datang dari luar.


Buuugh ...!


"Aduuuuhh ...!!" Diana memekik saat tubuhnya menabrak tubuh besar Boy.


"Berhati-hatilah, Diana! Kau seperti baru melihat hantu saja!" Boy menangkap tubuh Diana yang hampir saja jatuh karena tertabrak olehnya.


"Aku memang baru melihat hantu! Venus menerorku!" Diana sangat ketakutan.


"Hahaha ... omong kosong apa ini? Mana ada hantu pagi-pagi begini!" Boy tertawa mengejek ala aktor antagonis.

__ADS_1


"Cukup, Boy! Yang dikatakan Diana itu benar! Aku juga melihatnya!" Liana yang baru datang segera membela Diana.


"Tapi ini nggak masuk akal!" Boy masih meragukan omongan mereka.


"Kalau kau sudah melihatnya dengan mata kepalamu, baru kau akan percaya!" Diana memandang sebal Boy.


"Aku sudah nggak tahan dengan semua ini! Aku takut, baru kali ini ada hantu yang menerorku." Liana menghela nafas kasar.


"Berhati-hatilah! Jangan sampai Reino tahu hal ini, atau ..." Boy nggak melanjutkan kata-katanya saat matanya menangkap sosok Mika yang berjalan pelan menuruni anak tangga.


"Kalau tidak ada keperluan lagi, saya permisi, Nyonya." Boy menundukkan kepalanya dan berlalu meninggalkan Liana dan Diana. Mika hanya meliriknya dengan tatapan curiga.


Sementara tanpa mereka sadari, ada yang memperhatikan mereka dari kejauhan.


***


Malam ini Liana memberanikan diri turun untuk makan malam bersama Reino dan Diana, Liana hanya menundukkan kepalanya saat melewati pintu kamar Venus. Sementara Mika makan malam bersama Ina dan pelayan lainnya di paviliun belakang.


"Sepertinya Mama sudah lebih baik sekarang?" Reino tersenyum memandang Liana.


"Mama hanya rindu makan malam bersamamu." Liana berbicara dengan nada datar.


"Aku senang melihat Mama kembali seperti dulu lagi, andai saja Venus juga ada disini." Wajah Reino berubah sedih, senyum dibibirnya mendadak hilang.


"Sudahlah, jangan membicarakan wanita itu lagi!" Liana ngeri membayangkan kalau Venus tiba-tiba muncul disini.


"Tentu ...! Bahkan aku juga ikut menurunkan mayatnya ke dalam tanah. Memangnya kenapa?"


"Tidak ... tidak apa-apa!" Diana memaksakan senyum di bibirnya.


Berarti dia benar-benar sudah mati.


Reino nggak mungkin berbohong.


"Oh iya, Rein ... jadi kapan kalian akan melangsungkan pernikahan? Mama sudah tidak sabar!" Liana bertanya dengan antusias.


"Aku belum memikirkannya! Aku sangat sibuk belakangan ini." Reino berbicara tanpa menoleh Liana maupun Diana, pria tampan itu hanya fokus pada makanannya.


"Kutukan itu sudah terjadi, berarti sekarang kau sudah bisa menikah dengan Diana, kita akan membuat pesta yang sangat mewah nanti." Liana berbicara dengan senyum yang mengembang.


"Ma, bisakah kita tidak membicarakannya sekarang?" Reino memandang malas Liana.


"Kenapa kau selalu mengulur waktu, Rein? Wanita itu sudah mati bahkan sudah jadi hantu, apa lagi yang kau tunggu?" Liana mulai emosi melihat sikap acuh Reino.


"Tante, sudahlah! Beri Reino waktu." Diana berpura-pura menenangkan Liana, walaupun di dalam hatinya sendiri, dia sangat kesal dengan sikap pria itu.

__ADS_1


"Tapi, Di ... kau sudah terlalu lama menunggu. Tante sudah tak sabar memiliki menantu sepertimu."


"Cukup, Ma!!! Aku malas membahas semua ini! Aku akan istirahat! Selamat malam!" Reino berbicara dengan nada tinggi dan beranjak dari meja makan. Begitulah cara Reino menghindari pembicaraan yang tak berguna dengan Liana.


Liana dan Diana hanya terdiam dan memandang kepergian Reino dengan perasaan geram.


***


Malam sudah semakin larut, Boy sedang duduk sendiri di tepi ranjangnya, dia terpikir kata-kata Diana tadi siang.


Apa benar orang mati bisa gentayangan?


Atau sebenarnya dia memang masih hidup?


Tapi dimana dia sekarang?


Dan siapa yang selalu mengganggu tiap malam itu?


Pertanyaan-pertanyaan itu berkeliaran difikiran Boy, pria bertubuh tinggi besar itu mengusap wajahnya dan membuang nafas kasar, entah kenapa seharian ini hatinya jadi tidak enak karena perkataan Diana itu.


Rasanya Boy sungguh sulit untuk percaya bahwa di zaman sekarang ini masih ada hantu yang bergentayangan, tapi semua hal aneh yang dialami Liana dan Diana sungguh di luar akal sehatnya.


Drrrtt ...


Ponsel Boy bergetar, dia buru-buru menjawab panggilan masuk itu.


"Katakan ada apa?"


Sejenak Boy terdiam mendengarkan perkataan seseorang yang menelponnya itu.


"Apa ...!!!" Boy terkejut nyaris tak percaya mendengar apa yang disampaikan seseorang di seberang sana. Lalu panggilan masuk itu berakhir, Boy mengeraskan rahang nya dan mengepal kuat tangannya, hatinya sangat geram.


Kraaaak ...


Sebuah suara dari luar kamarnya mengagetkan Boy, dia segera keluar untuk mengecek suara apa itu. Boy mengedarkan pandangannya ke segala arah, namun dia tak menemukan apapun yang mencurigakan selain pepohonan dan hamparan bunga ditaman sekitar kamarnya. Kamar Boy terpisah dari rumah utama, tepatnya berada di depan paviliun para pelayan.


Lalu pria itu melangkah meninggalkan kamarnya menuju rumah utama, sementara dari balik sebuah pohon yang cukup besar, ada seseorang sedang memandang pundak Boy yang semakin menjauh dengan perasaan lega.


***


Setelah ini akan ada banyak flashback-flashback mencengangkan, tunggu di bab berikutnya besok ya guys ...


Jangan lupa like dan vote banyak-banyak, biar aku makin semangat up nya.


Entar kalau votenya naik banyak, aku kasih visualnya Venus deh.

__ADS_1


Hahaha ... maaf ya kalau author ngelunjak...😁


__ADS_2