Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 49


__ADS_3

Mereka sudah tiba di kediaman keluarga Winata, melihat kedatangan Reino kerumahnya, Daniel sangat senang, pria itu menyambut Reino, Venus dan Erik dengan sangat ramah atau lebih tepatnya pura-pura ramah. Sementara Eliza hanya memandang malas ke arah mereka dengan wajah masam.


"Selamat datang Tuan Muda Reino. Silahkan duduk!" Daniel menjadi salah tingkah.


"Kau tidak menyapa putrimu?" Reino mendudukkan dirinya di hadapan Daniel lalu melirik Venus yang masih berdiri di sampingnya.


"Eh ... iya, apa kabar putriku? Aku senang sekali ternyata kau masih hidup dan baik-baik saja." Daniel mendekati Venus dan ingin memeluknya, tapi dengan cepat Reino menarik Venus untuk duduk di sampingnya, membuat gadis itu kaget dengan perlakuan suaminya itu.


Enak saja kau ingin memeluk istriku. Ciih ...


Daniel yang melihat reaksi Reino menjadi kala malu dan kembali ke tempatnya semula.


"Apa yang membuat Tuan Muda datang mengunjungi rumah kami ini?" Daniel bertanya dengan hati-hati.


"Kenapa kau masih bertanya? Tentu saja ingin menemani istriku." Reino memeluk pundak Venus dengan erat. Daniel dan Eliza melirik tangan Reino yang melingkar dipundak gadis itu.


Daniel menjadi kikuk, pria itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Bagaimana kabarmu, Nak? Kenapa kau tidak hadir di pernikahan adikmu?" Daniel beralih berbasa-basi kepada Venus untuk menutupi ketegangannya.


"Aku baik, Ayah. Maaf ... waktu itu aku tidak enak badan." Jawab Venus berbohong.


Apa kehadiranku diharapkan?


Cukup sandiwaramu itu Ayah.


"Padahal kami mengharapkan kehadiranmu." Daniel cengengesan.


"Ayah, aku datang karena ingin meminjam kartu keluarga dan surat penting lainnya." Lanjut Venus tanpa menghiraukan basa-basi Daniel.


"Untuk apa?" Daniel memandang Venus penuh rasa penasaran.


"Aku akan segera mendaftarkan pernikahan kami agar sah dimata negara, jadi aku butuh berkas-berkas itu." Suara Reino langsung menyambar indra pendengaran Daniel dan semua orang yang di ruangan itu.


"Wah ... benarkah? Selamat ya anakku." Daniel masih memainkan sandiwara menjijikkannya itu dengan berpura-pura bersikap manis kepada Venus.


Venus hanya tersenyum, bagaimana pun juga Daniel tetaplah Ayahnya, sebenci-bencinya dia kepada Daniel dan Eliza, dia tetap menyayanginya. Begitu juga kepada Erika.

__ADS_1


Sementara Reino dan Erik hanya memandang malas pria parubaya yang tak tahu diri itu.


"Eliz, ayo berikan selamat kepada mereka!" Daniel menarik tangan Eliza, sambil mengedipkan matanya memberi isyarat agar menurut.


"Selamat ya!" Ucap Eliza malas dengan wajah yang datar.


"Ciih ... kenapa dia tidak mati juga sih?


Katanya dia akan menjadi tumbal?


Tau begini, harusnya waktu itu aku menyerahkan Erika kepada Tuan Reino bukan wanita sialan ini." Bathin Eliza.


"Tunggu sebentar! Aku akan mengambilkan berkas-berkas yang kau minta." Daniel beranjak ke kamar.


"Kau tidak ingin mengambil barang-barangmu yang masih tertinggal disini?" Reino mengingatkan Venus sambil mengelus-elus dengan mesra pucuk kepala istrinya itu.


"Aku tidak memiliki barang berharga disini, semua barang-barangku sudah tak layak pakai. Lagi pula kau sudah memberiku segala yang aku butuhkan, untuk apa membawa barang-barang sampahku ke rumahmu?" Venus mencerocos sambil melirik sinis ke arah Eliza yang tertunduk sambil meremas jari-jarinya, wanita sombong itu tahu Venus sedang menyindir dirinya.


"Menyedihkan sekali hidupmu sampai kau tak punya barang yang berharga sedikit pun! Apa kau juga diperlakukan dengan buruk oleh keluargamu?" Reino menyindir Eliza yang sudah berkeringat dingin. Eliza nggak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Reino kalau dia tahu bagaimana perlakuan buruk mereka kepada Venus.


"Tidak begitu! Keluargaku sangat baik dan menyayangiku, bukan begitu Mama?" Venus bertanya dengan lembut namun penuh penekanan, dia menatap sinis kepada Eliza.


Dasar wanita licik, kau sengaja menyindirku.


"Kalau begitu, ayo ke kamarmu!" Reino berdiri dan menarik lengan Venus.


"Mau apa?" Tanya Venus bingung.


"Aku hanya ingin melihat kamarmu!"


"Apa? Tidak boleh!" Eliza sontak berdiri dengan wajah yang cemas.


Bagaimana dia bisa membiarkan Reino melihat kamar Venus yang seperti gudang itu, karena ruangan itu dulunya memang gudang barang-barang tak dipakai dan sejak usia 5 tahun, Venus sudah menghuni ruangan itu.


"Kenapa?" Reino menatap tajam Eliza.


"Ka ... ka ...kamarnya berantakan, be ... belum dibereskan, Tuan!" Gemetar-gemetar Eliza mengatakan alasan yang dia rasa masuk akal.

__ADS_1


"Tidak apa-apa! Aku hanya ingin melihat, bukan menempatinya. Tunjukkan dimana kamarnya!" Reino segera menarik lengan Venus agar menuntunnya, meninggalkan Erik dan Eliza di ruang tamu.


Mereka berjalan ke belakang bangunan rumah dan berhenti di depan sebuah ruangan yang tak layak dikatakan kamar tidur wanita, Reino bingung melihat Venus membawanya ke tempat itu.


"Aku memintamu menunjukkan kamar tidurmu, bukan gudang!" Reino protes.


"Kita sudah sampai! Ini kamar tidurku." Venus masuk ke dalam rungan berukuran 3 x 3 meter, cuma ada kasur lantai dan lemari kecil. Lebihnya dipenuhi barang-barang tidak terpakai lagi.


"Jadi kau tidar di gudang ini?" Mata Reino melotot tak percaya dengan kenyataan yang dia temukan, betapa menyedihkannya hidup wanita yang sudah menjadi istrinya ini.


"Iya, tapi ini tidak buruk kok! Yang tepenting aku masih bisa hidup dan aku menikmati semua yang terjadi dalam hidupku." Venus mengulas senyum dibibirnya, berusaha menutupi rasa sedihnya agar Reino tidak perlu mengasihani dirinya.


"Kau benar-benar wanita yang baik, kau tetap bersyukur meskipun Tuhan memberimu penderitaan. Aku bersumpah, aku akan melindungi dan membahagiakanmu, nggak akan kubiarkan kau menderita lagi." Reino menarik Venus kepelukannya, mencium pucuk kepala istrinya itu berkali-kali.


Venus menyembunyikan wajahnya yang telah basah karena air mata, sejujurnya dia merasakan sakit yang luar biasa akibat perbuatan orang-orang disekitarnya. Apa salah dirinya, sehingga harus diperlakukan dengan buruk?


Sementara itu diruang tamu, Daniel datang membawa berkas yang diminta oleh Venus, namun lelaki itu mendadak bingung karena hanya mendapati Erik dan Eliza disana.


"Kemana Venus dan Tuan Muda Reino?" Daniel memandang Erik dan Eliza bergantian.


"Mereka ke kamar Venus." Eliza menjawab dengan pelan namun masih bisa didengar oleh Daniel. Sementara Erik hanya diam memandang kedua pasutri itu.


"Apa?" Daniel terperangah kaget. Habislah dia kali ini karena Reino pasti tahu dia memperlakukan Venus dengan buruk selama ini.


Lalu tiba-tiba sepasang suami istri lainnya datang dari luar rumah, mereka adalah Erika dan Shane. Sepertinya mereka baru pulang berbelanja, terlihat dari barang-barang bawaan ditangan Erika.


Erik yang melihat kedatangan dua orang itu hanya menghela nafas kasar sambil memutar bola matanya.


Kenapa mereka harus muncul sekarang?


Merusak suasana saja!


"Sedang apa kau?" Erika menohok saat melihat Erik di dalam rumahnya. Namun Erik tak menjawab pertanyaan wanita yang perutnya sudah mulai membuncit itu. Sementara Shane hanya memandang sinis Erik.


"Jaga sikapmu, Erika! Dia sedang mengantarkan Venus dan Tuan Reino." Daniel melirik Erik yang duduk di hadapannya.


"Apa? Mereka disini?" Jawab Erika dan Shane serentak.

__ADS_1


"Memangnya kenapa kalau kami ada disini?" Reino dan Venus muncul dari balik tembok. Wajah pria tampan itu terlihat kesal karena melihat Shane.


***


__ADS_2