Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 84


__ADS_3

Disebuah cafe , Diana tak henti-hentinya menangis sambil mengadu kepada Liana. Diana menceritakan semuanya, wanita paruh baya itu menggeram menahan amarah. Bahkan beberapa pengunjung yang lain sampai melirik ke arah mereka.


"Hati aku sakit, Tante ...! Aku malu sekali ...!" Diana mengoceh sambil menyeka air matanya.


"Tenanglah, Sayang! Tante akan fikirkan rencana selanjutnya." Liana mengusap-usap pundak Diana, berusaha menenangkan gadis itu.


"Cukup, Tante! Aku sudah nggak mau mengikuti permainan kotor Tante lagi, aku menyerah! Aku sudah nggak ada muka lagi untuk bertemu dengan Reino. Aku malu, Tante ...!" Diana meninggikan suaranya.


"Apa ...? Kau nggak boleh menyerah! Kau yang akan menjadi pewaris harta Brahmansa."Ucap Liana.


"Kenapa harus aku ...? Aku sudah tidak tertarik lagi, cari saja gadis lain yang bersedia mengikuti permainan ini, aku ingin pergi jauh dari kehidupan Reino, aku ingin menjalani hidupku yang normal, Tante. Aku nggak mau seperti ini!" Diana menangis sejadi-jadinya.


"Haaa ...? Kau nggak boleh pergi! Kau harus tetap disini dan menjadi Nyonya Brahmansa!" Liana memaksa Diana dengan penuh emosi.


"Jangan memaksaku, Tante! Aku sudah putuskan, aku ingin ikut orang tuaku keluar negeri. Aku permisi ...!" Diana beranjak dari duduknya dan hendak melangkah pergi, tapi katak-kata Liana mengehentikan gadis itu.


"Orang tua yang mana? Orang tua palsumu itu ...?" Liana menatap tajam ke arah Diana.


"Apa maksud, Tante ...?"


"Mungkin sudah saatnya kau tahu yang sebenarnya. Helen dan Sandro bukan orang tua kandungmu, kau hanya dititipkan kepada mereka saja." Liana membeberkan satu rahasia besar yang sudah bertahun-tahun tersimpan.


"Apa ...? Nggak ... nggak ... ini nggak benar! Tante pasti berbohong ...!" Diana berteriak tak percaya, mengabaikan pandangan pengunjung lain yang mengarah ke mereka.


"Itu benar ...! Kau bukan putri mereka!" Liana menegaskan kata-katanya sekali lagi.


"Kalau mereka bukan orang tuaku, lalu siapa ...?" Tanya Diana dengan penuh rasa penasaran.


Liana terdiam memandangi wajah Diana yang basah karena air mata, mendadak wajah wanita paruh baya itu terlihat sendu dengan bibir yang terasa berat untuk berucap.


"Kenapa Tante diam? Jawab Tante, siapa orang tua kandungku ...?"


"Aku ... akulah ibu kandungmu, Diana." Kata-kata itu akhirnya lolos dari mulut Liana.


"Hahaha ... Tante jangan bercanda? Tolong hentikan omong kosong ini!"


"Itu benar ... akulah Ibu yang melahirkanmu. Ini Mama, Sayang ..." Suara Liana terdengar lirih, bahkan air matanya kini telah terjatuh membasahi pipinya.


"Cukup ...! Aku nggak ingin mendengarnya lagi!" Diana segera berlalu meninggalkan Liana dengan perasaan hancur, kenyataan yang dia dengar seperti belati yang menghujam hatinya.


"Diana ... Diana ... tunggu ...!" Liana berteriak memanggil Diana dan mengejar gadis itu, mengabaikan pengunjung yang berbisik-bisik menggunjingnya.


Liana berhasil meraih lengah Diana saat di parkiran cafe, menahan gadis itu agar tidak pergi.


"Tunggu, kau harus mendengar semua penjelasan Mamamu ini." Ucap Liana.


"Penjelasan apa? Semua sudah jelas, kalau kau memang Ibu kandungku, berarti kau telah membuangku!" Diana berbicara dengan penuh emosi.


"Bukan seperti itu! Maaf ... Mama nggak bermaksud membuangmu, Mama hanya menitipkanmu kepada Hellen karena Mama ..."Liana tak sanggup meneruskan kata-katanya.


"Karena apa ...? Katakan ...!!!"


"Karena Mama akan menikah dengan Thomas Brahmansa .... Ayahnya Reino. Mama nggak bisa mengakuimu sebagai anak saat itu, Mama terpaksa menitipkanmu kepada Hellen yang tidak memiliki anak, Mama tahu dia pasti menyayangimu." Lanjut Liana.


"Kau membuangku demi bisa menikah dengan pria kaya, ibu macam apa kau ini?" Air mata Diana semakin banyak tertumpah. Hati gadis itu semakin sakit mendengar kenyataan ini.

__ADS_1


"Mama terpaksa ... maafkan Mama ...!" Liana memelas memohon maaf kepada Diana.


"Lalu dimana ayahku ...? Apa dia juga mengabaikanku ...?" Diana bertanya dengan bibir yang gemetar.


"Dia ... dia sudah mati!" Liana memejamkan matanya kuat, menahan rasa sakit yang mendadak menikam hatinya.


"Aku masih nggak percaya dengan semua ini! Aku benci semuanya ...!" Diana segera masuk ke dalam mobilnya dan melaju meninggalkan parkiran cafe dan juga Liana dengan kecepatan tinggi.


"Diana ...! Diana anakku ... maafkan Mama!" Liana tertunduk menyesal, air matanya berlomba turun menetes ke bumi.


"Ini semua karena keluarga Brahmansa! Aku akan membalas kalian semua." Liana menggeram menahan emosinya.


***


Semua orang di kediaman Adyatama sudah selesai makan malam, seperti janjinya, Venus yang memasak makan malam dibantu juga oleh Hanna. Sebenarnya Hanna sudah menyelesaikan pekerjaannya dan hendak pulang, tapi Robby memaksanya untuk ikut makan malam bersama.


"Baiklah, kami pamit pulang dulu." Reino dan Venus beranjak dari duduknya.


"Buru-buru sekali?" Protes Vino dengan wajah yang merengut.


"Ini sudah terlalu malam, Kak. Besok kan aku datang lagi. Jangan cemberut begitu dong!"


"Iya ...!" Vino melengos.


"Aku juga mau pamit pulang." Hanna pun ikut berpamitan kepada Robby dan Vino.


"Hemm ...!" Vino hanya berdehem.


"Iya, kalian hati-hati di jalan ya." Jawab Robby.


"Aku bawa mobil sendiri." Jawab Hanna disusul senyum hangatnya.


"Oh ..."


Tiba-tiba suara Erik mengagetkan semua orang, terutama Hanna, karena sedari tadi dia belum bertemu dengan supir sekaligus pengawal pribadi Reino itu. Hanna merasa tak asing melihat Erik, wajah pria itu sungguh familiar.


"Maaf, Tuan ... saya izin tidak ikut pulang. Saya ada urusan sebentar." Erik menundukkan kepalanya. Hanna masih berusaha memperhatikan wajah Erik yang tertunduk itu.


"Belakangan ini kau selalu minta izin untuk keluar, aku menjadi curiga." Reino menautkan alisnya memandangi Erik.


"Cckk ... kau jangan begitu! Mungkin saja Erik sedang menemui pujaan hatinya." Venus meledek Erik. Membuat wajah pria itu merona merah.


"Wah ... kau bisa jatuh cinta juga? Ku fikir kau itu tidak normal." Ucap Reino seenaknya.


Erik hanya menyunggingkan senyum dibibir mendengar ejekan Reino itu tanpa menjawabnya, walaupun di dalam hati dia tak berhenti mengumpat majikannya itu.


Dasar bocah nakal ...! Enak saja kau mengatakan aku tidak normal, mentang-mentang sudah pandai main kuda-kudaan.


"Ya sudah, pergi sana! Aku bisa pulang bersama supir." Ucap Reino malas.


"Terima kasih, Tuan. Saya permisi!" Erik mengangkat kepalanya menatap Reino.


"Hemm ..."


Hanna yang berdiri tak jauh dari Reino akhirnya mengingat siapa pria yang berada di hadapan Reino itu.

__ADS_1


"Hendrik ...!" Hanna memanggil nama seseorang, membuat semua orang tersentak kaget. Terutama Erik, jantung pria itu seperti mencelos keluar.


"Nama itu ...?" Bathin Reino.


Erik beralih memandangi Hanna dengan seksama, mencoba mengingat siapa gadis itu?


"Hendrik ...! Kau benar Hendrik kan? Aku Hanna!" Hanna berusaha meyakinkan.


"Kau mengenalnya?" Vino bertanya dengan curiga.


"Iya, dia teman sekolahku!" Ucap Hanna yakin.


"Tapi namanya Erik." Ucap Reino.


"Setauku namanya Hendrik!" Bantah Hanna.


"Hmm ... maaf, anda salah orang, Nona! Saya bukan orang yang anda maksud!" Ucap Erik.


"Tapi aku yakin sekali kau Hendrik temanku, ayolah Hen ... jangan bercanda!"


"Maaf, anda salah orang, Nona!" Erik memalingkan wajah saat semua orang menatapnya dengan curiga.


"Masa sih aku salah orang? Tapi kau mirip sekali dengan Hendrik, memang sih aku terakhir kali bertemu dengannya sekitar hampir 10 tahun yang lalu." Hanna menjadi sedikit ragu sekarang.


"Anda pasti salah, Nona. Saya hanya mirip saja dengan teman Nona itu." Erik sedikit kikuk.


"Iya, mungkinlah. Tapi kalian mirip sekali." Hanna masih memandang heran Erik.


"Ternyata cuma mirip saja, aku kira kau selama ini sedang menyamar." Venus tertawa meledek Erik.


Deg ...


Jantung Erik seperti di hantam batu besar, mendadak dirinya merasa tersindir.


"Ya sudah, mari pulang!" Venus menarik lengan Reino agar segera berjalan kemobil.


Sementara Reino masih terdiam mengikuti langkah Venus sambil berusaha mencerna situasi ini, entah mengapa mendadak hatinya merindukan seseorang yang sudah sangat lama tidak pernah dia lihat.


Selepas mobil yang membawa Reino dan Venus melaju, Erik segera pergi meninggalkan kediaman Adyatama tanpa menyapa Hanna yang masih terpaku menatapnya.


***


Yeeee ... jebakan pelakornya nggak berhasil ...!!


Hayooo ... mana ni yang kemarin suudzon dengan author ...?


Author udah maafin kok ... 😂😂✌✌ bercanda loh ...


Ini Author kasih visualnya Hanna guys ...


Kira-kira cocok nggak kalau kita jodohin dengan Vino ...? 😁


Jangan lupa like ya sayang akuh ...💜


__ADS_1


__ADS_2