Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 57


__ADS_3

"Tuan Muda." Erik menghampiri Reino yang duduk di bangku taman rumah sakit dengan pandangan kosong lurus ke depan.


"Ini salahku!" Reino berbicara dengan nada datar tanpa menoleh ke arah Erik.


"Tidak begitu, Tuan!"


"Kalau saja aku tidak egois dan mau mengatakannya kepada Venus, semua ini pasti tidak terjadi! Ini semua salahku!" Reino mulai meninggikan suaranya.


"Ini sudah takdir, Tuan. Anda tidak bersalah!" Erik berbicara secara logika. Sejujurnya hati Erik pun mengakui semua itu, tapi dia tetap berusaha menenangkan Reino.


Kenapa kau baru menyadari keegoisanmu disaat semuanya sudah seperti ini, Reino?


Andai kau tidak keras kepala.


"Aku hanya takut Venus meninggalkanku saat dia mengetahuinya. Aku takut Vino mengambilnya dariku!" Reino meremas rambutnya kuat, rasa bersalah di hatinya sungguh besar. Dia merasa menyesal.


Bahkan dia mengabaikan poselnya yang berdering nyaring di saku celananya.


Erik hanya terdiam, memandang iba kepada Reino. Tiba-tiba ponsel Erik berdering, hatinya menjadi was-was saat melihat ada panggilan masuk dari dokter Kenan, pria itu buru-buru menjawabnya.


"Hallo, kau dimana?" Kenan.


"Di taman rumah sakit." Erik menjawab tanpa basa-basi.


"Baiklah, aku kesana." Kenan.


Kenan segera mengakhiri panggilan masuk itu, Erik sedikit merasa lega karena Kenan menelpon bukan untuk memberi kabar buruk, setidaknya untuk saat ini Erik bisa tenang.


"Siapa?"


"Dokter Kenan, Tuan." Erik menjawab dengan tegas. Reino hanya menghela nafas dan masih setia memandang lurus ke depan.


Mendadak suasana menjadi hening, di taman hanya ada mereka berdua malam-malam begini.


"Erik ...?" Reino memanggil supir sekaligus pengawalnya itu dengan suara yang pelan.


"Iya, Tuan?"


"Apa Vino akan baik-baik saja?" Reino bertanya dengan suara yang bergetar.


"Kita doakan saja yang terbaik untuk Tuan Vino." Erik memaksakan senyuman dibibirnya.


"Aku sungguh menyesal menutupi semua ini dari Venus, andai aku ju ..." Kata-kata Reino terhenti saat suara teriakan Kenan mengagetkannya.


"Hey ... sedang apa kau disini?" Kenan berjalan mendekati Reino dan Erik.


"Aku hanya mencari udara segar saja!" Jawab Reino berbohong.


Kenan mendudukkan badannya tepat di samping Reino, pria jenaka itu menghela nafas kasar.


"Bagaimana kondisi Vino?" Reino bertanya.

__ADS_1


"Sejujurnya aku katakan, kemungkinan dia bertahan hidup kecil, dia koma karena mengalami gegar otak dan patah tulang kaki, ada pendarahan di otaknya, tapi aku nggak berani bilang kepada Om Robby, takut Omnya syok."Kenan mengusap kasar wajahnya.


"Ya ... Tuhan!" Hati Reino seperti terlempar dari tempatnya. Mendadak dia merasa telah menjadi orang yang sangat jahat, Reino sungguh menyesal telah menutupi semua ini dari Venus.


Erik yang mendengar penjelasan Kenan menutup kuat matanya, dia benar-benar nggak sanggup membayangkan jika sesuatu yang buruk terjadi dengan Vino dan Venus tahu semuanya.


"Aku mohon lakukan apa saja untuk menyembuhkannya!" Reino memelas memandang Kenan penuh harap.


"Kenapa kau perduli sekali kepadanya?"


"Hmm ... aku hanya kasihan saja kepadanya." Reino mencoba menutupi kegugupannya.


Kenan memandang curiga kepada Reino, dia tahu Reino bukan tipe manusia yang perduli dengan orang lain.


Aku yakin kau menyembunyikan sesuatu.


***


Di depan ruang ICU, Venus dan Robby sedang memandangi tubuh Vino yang terbaring lemah dengan penuh selang dari balik kaca, terlihat wajahnya yang pucat dan kepalanya diperban.


Suasana di ruang ICU sangat hening, hanya terdengar suara mesin ventilator yang terhubung ke tubuh Vino. Venus terus memandangi wajah tampan yang terlelap dengan damai itu.


"Kau teman Vino kan? Apa kau teman dekatnya?" Suara Robby tiba-tiba memecah keheningan.


"Kami hanya sekedar teman kerja saja, Tuan. Dia menjalin kerja sama di perusahaan tempat saya bekerja." Venus menjawab dengan apa adanya.


"Oh ... tadinya aku kira kalian punya hubungan spesial." Robby tersenyum sambil memandang lekat wajah Venus.


"Aku malah berfikir Vino pasti sangat menyukaimu karena kau mirip dengan mendiang Ibunya." Ucap Robby jujur.


"Haaa ...? Benarkah?"


"Iya, terutama senyummu itu, mirip sekali dengan senyuman Ibunya." Lanjut Robby lagi.


"Pantas saja waktu itu dia pernah memanggilku Ibu." Kenang Venus.


"Oh iya? Dan satu lagi, namamu juga sama seperti nama adiknya." Robby membeberkan fakta lain.


"Wah ... kebetulan sekali ya? Apa adiknya Tuan Vino juga seumuran denganku?" Tanya Venus penasaran.


"Iya, jika adiknya itu masih ada, seharusnya dia seumuruan denganmu." Wajah Robby mendadak sendu.


"Apa adik Tuan Vino sudah tiada? Maaf, saya sungguh tidak tahu, Tuan!" Venus merasa tak enak.


"Entahlah, adiknya itu hilang sekitar 21 tahun yang lalu saat berumur 1 tahun, sampai sekarang kami nggak tahu dia ada dimana. Vino sudah mencarinya kemana-kemana, tapi tetap tidak ketemu." Robby tertunduk menahan kesedihan hatinya.


"Pantas tadi sebelum kecelakaan, Tuan Vino datang dan mengatakan saya adalah adiknya. Dia bahkan mengajak saya pulang bersamanya, saya kira mungkin dia sedang mabuk dan teringat dengan adiknya itu." Ungkap Venus.


"Apa ...?" Robby mengangkat kepalanya, memandang lekat wajah Venus sambil memegangai dadanya yang bergemuruh hebat.


"Kenapa, Tuan? Anda baik-baik saja?" Venus terlihat cemas.

__ADS_1


"Vino nggak pernah mabuk-mabukkan! Dia pasti punya alasan yang kuat mengatakan semua itu." Bibir Robby bergetar, pria paruh baya itu sepertinya mengerti apa maksud keponakannya itu.


"Maksud, Tuan?"


"Mungkin saja kau memang Venus, adiknya yang hilang!" Robby berkata tanpa basa-basi.


"Apa ...? Nggak mungkin! Tuan jangan bercanda! Saya punya orang tua, semua ini hanya kebetulan saja!" Mendadak emosi Venus tak terkontrol, dia memundurkan kakinya beberapa langkah menjauhi Robby.


"Semua ini bukan kebetulan!" Robby berusaha meyakinkan Venus.


"Maaf, Tuan. Saya permisi!" Venus berbalik dan berjalan cepat meninggalkan Robby.


"Venus .... Venus ...!" Robby berteriak memanggil Venus.


Tapi Venus tak menghiraukannya, gadis itu berlari menajuhi ruang ICU. Dia tak lagi perduli dengan keadaan Vino, yang dia perdulikan sekarang adalah hatinya yang merasa tak terima atas perkataan Robby tadi.


Ini gila! Ini semua nggak benar!


Buuugghh ...


"Aaaww ...!" Venus memekik saat tubuhnya tak sengaja menabrak seseorang. Hampir saja Venus terjatuh kalau orang itu tidak menangkapnya.


"Kenapa kau berlari?"


"Reino ...? Ak ... aku ... mau pulang!" Venus menjadi gugup saat mengetahui orang yang dia tabrak adalah suaminya sendiri.


"Iya, tapi kenapa kau seperti orang ketakutan begini?" Reino memandang khawatir istrinya itu.


"Kau melihat hantu ya?" Kenan bercanda tapi wajahnya di buat serius.


Venus hanya menggelengkan kepalanya, dadanya kembang kempis karena nafasnya yang cepat. Gadis itu benar-benar terlihat sedang tidak baik.


"Hey ... ada apa?" Reino memandang Venus penuh tanya.


"Aku mau pulang!" Gemetar-gemetar Venus mengatakannya.


"Baiklah! Mari kita pulang!" Reino menuruti permintaan istrinya itu dan menarik Venus meninggalkan rumah sakit.


Erik pun segera mengikuti langkah Tuan Muda dan Nona Mudanya itu.


Kenan hanya memandang kepergian mereka dengan rasa penasaran.


Sebenarnya apa yang terjadi?


Selama diperjalanan, Venus hanya diam membisu. Gadis itu hanya memandang nanar ke luar jendela, dia masih terfikir perkataan Robby tadi.


***


Hai ... jangan lupa dukungannya untuk author ya sayang akuh ...


Kalau kamu suka dengan cerita aku, kamu bisa promosiin karya aku ini ,biar makin rame yang baca dan author makin semangat upnya.

__ADS_1


__ADS_2