Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 27 (S2)


__ADS_3

"Nah ... itu dia." Vie menunjuk kearah Davin dan papanya. "Davin, sini!" Vie berteriak memanggil bocah itu sambil melambaikan tangan.


Davin dan papanya pun berjalan mendekati meja Vie dan rombongannya, betapa terkejutnya Reino, Venus, Vino dan Hanna saat melihat siapa papanya Davin.


"Alvin ...?" Teriak Reino, Venus, Vino dan Hanna serentak.


"Wah ... ternyata kalian? Aku sungguh tak menyangka bisa bertemu kalian lagi disini." Alvin yang tak lain adalah papanya Davin terlihat tekejut tak percaya.


"Mari gabung, silahkan duduk." Vino mempersilahkan Alvin duduk.


"Davin, sini!"Vie memanggil Davin dan meminta bocah itu duduk di sampingnya sambil mengusir Dino agar berpindah tempat. "Kau pindah dong, Dinosaurus!"


"Cckk ... ini kan tempatku?" Dino menolak.


"Cepat pindah! Dia anaknya teman papaku loh." Vie memelototi Dino.


"Iya ... iya ...! Dasar perusuh!" Dino melengos dan mengalah, dia merelakan tempatnya diduduki oleh Davin dan berpindah ke samping Raja.


Andra hanya memperhatikan tingkah Vie itu dengan tatapan tidak suka, dan saat matanya bertemu dengan mata Vie, Andra segera memalingkan pandangannya.


Acara makan malam pun dimulai, mereka makan sambil bertukar cerita dan bercanda tawa. Reino, Alvin dan Vino mengulang kisah masa lalu mereka membuat semua orang tertawa. Sesekali tatapan mata Alvin tertuju ke Venus tapi dengan cepat dia alihkan sebelum ada yang menyadarinya.


"Oh ... iya, istrimu tidak ikut?" Tanya Reino kepada Alvin.


"Istriku sudah lama sekali meninggal dunia, dia terseret ombak di pantai ini saat Davin berumur lima tahun." Jawab Alvin dengan wajah yang menyedih.


"Maaf ... aku tidak tahu. Aku turut berduka cita." Ucap Reino tak enak hati.


"Tidak apa-apa. Terima kasih."


"Ya sudah, mari lanjutkan lagi makannya." Ujar Vino menutup suasana yang mendadak haru.


Merekapun melanjutkan makannya, tiba-tiba Ayumi menyodorkan sesendok nasi goreng seafood miliknya ke hadapan Andra, sontak membuat lelaki itu dan semua orang terkejut.


"Kak mau cicipi makanan aku tidak?"


"Tidak, terimakasih!" Tolak Andra lembut. Spontan membuat Ayumi malu dan cemberut.


Sementara Vie hanya melirik mereka dengan senyum mengejek. Tapi tiba-tiba Davin menyodorkan ikan bakar ke depan mulut Vie.


"Coba cicipi deh! Ikan bakarnya enak banget!"


Vie membuka mulutnya dan memakan ikan bakar yang disuapi Davin itu, Andra hanya memandanginya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Wah ... benar, ikannya enak banget. Aku mau lagi dong!" Ucap Vie sambil melirik Andra.

__ADS_1


Sementara duo gesrek yang melihat semua itu merasa semakin yakin bahwa ada yang tidak beres, keduanya pun mengikuti tingkah Davin dan Vie bermaksud untuk mengejek.


"Ja, ubur-ubur bakarnya enak deh. Mau cicipi tidak?" Tanya Dino sambil menyodorkan sendok kosong ke arah mulut Raja.


"Aaaaaaakkk ... aaaammmm ... nyam ... nyam ... nyam." Raja pura-pura makan.


"Enakkan?"


""Wah ... ubur-uburnya enak banget. Aku mau lagi dong!" Raja berbicara dengan nada mengejek. Sontak membuat gelak tawa semua orang, kecuali Vie dan Andra.


Vie tahu duo gesrek sedang mengejeknya, tapi dia tak bisa marah mengingat ada Davin dan papanya disini, dia sedang menjaga sikapnya.


***


Setelah makan malam selesai, mereka semua kembali ke resort. Karena lelah bermain seharian, merekapun tertidur kecuali Andra. Lelaki tampan itu tak bisa tidur sama sekali, entah mengapa ada sesuatu yang mengganggu hati dan pikirannya.


Dia bingung, kenapa setiap kali melihat Vie akrab dengan Davin, seperti ada sesuatu yang menusuk jantungnya. Andra memutuskan turun dari ranjang dan berjalan kearah jendela, dia berdiri memandangi hamparan laut yang luas dan taburan bintang di langit malam.


Raja terbangun dan menyadari Andra sedang terpaku di depak jendela, bocah gesrek itupun ikut turun dan berjalan mendekati Andra.


"Kok belum tidur, pak?" Tanya Raja.


"Belum mengantuk." Jawab Andra tanpa menoleh kearah Raja yang berdiri di sampingnya.


"Eng ... ti ... tidak kok!" Elak Andra.


"Hahahaha ... saya tahu kok, pak. Pasti lagi memikirkan Vie. Bapak sukakan dengan Vie?" Raja semakin kelewatan.


"Kamu bicara apa sih? Jangan asal bicara." Andra masih berusaha menutupi.


"Sudahlah, pak! Jangan berpura-pura lagi dengan saya. Kalau bapak suka, kenapa tidak diungkapi saja? Sakit loh ditutupi terus!" Ucap Raja yakin.


Andra hanya menghela nafas berat, lelaki itu tertunduk diam sejenak.


"Mungkin lebih baik ditutupi saja. Terlalu tidak tahu diri jika saya menyukai anak majikan saya sendiri."


"Bapak ... bapak ... yang namanya cinta itu tidak akan memandang status dan perbedaan. Cinta ya cinta, dia tidak butuh yang lain." Kata-kata Raja terdengar begitu bijak. Andra mengernyitkan dahinya memandangi bocah dihadapannya yang mendadak dewasa.


"Tahu apa kamu tentang cinta?"


"Saya hanya meniru ucapan pemeran drama yang sering ibu saya tonton, pak." Raja cengengesan sambil menggaruk kepala belakangnya.


Andra hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar jawaban polos bocah itu.


"Bapak tenang saja! Saya dan Dino akan selalu mendukung bapak kok, kita akan bantu bapak agar bisa dekat dengan Vie." Raja berbicara dengan semangat.

__ADS_1


"Tidak usah! Biarkan saja seperti ini."


"Lah ... kenapa, pak?" Tanya Raja bingung.


"Karena seperti yang saya katakan tadi, saya tahu diri. Walaupun mungkin Vie mau menerima saya tapi saya yakin tuan Reino dan nyonya Venus tidak demikian." Jawab Andra pasrah.


"Bapak kan belum mencoba? Kenapa sudah menyerah?"


"Lebih baik seperti itu! Ya sudah, kamu tidur lagi sana! Terima kasih nasihatnya ya. Dan satu lagi, jangan panggil saya bapak! Umur saya baru dua pulu tiga tahun dan panggilan itu membuat saya merasa tua, lagipula saya bukan guru kalian lagi." Ucap Andra tegas.


"Terus panggil apa dong?"


"Terserah." Andra menjawab sekenanya sambil beranjak naik ke atas ranjang, diikuti Raja yang juga kembali naik ke atas ranjangnya.


***


Keesokan paginya, Vie beserta keluarga dan teman-temannya sedang menikmati sarapan di sebuah restoran tak jauh dari resort mereka. Tiba-tiba ponsel Vie berdering, ada pesan dari Davin. Gadis cantik itu segera membuka dan membacanya.


"Aku tunggu di tempat kemarin ya". Davin


"Ok."Balas Vie dengan senyum yang mengembang.


Vie buru-buru menghabiskan sarapannya dan beranjak dari tempatnya.


"Aku pergi dulu ya."


"Kau mau kemana, sayang?" Tanya Reino bingung.


"Aku ada janji dengan Davin, pa. Kami mau main di pantai." Jawab Vie girang sambil melirik kearah Andra yang berusaha fokus pada makanannya.


"Kau tidak mengajak yang lain?" Kali ini Venus yang bertanya.


"Kalau mereka mau, mereka bisa ikutan kok! Aku pergi ya. Bye ..." Vie bergegas pergi.


"Ya sudah, hati-hati ya, sayang."


"Iyaaaa ..." Teriak Vie.


"Sepertinya Vie cocok dengan anaknya Alvin, baru kenal saja mereka sudah akrab begitu. Aku jadi terfikir untuk menjodohkan mereka berdua!" Reino berbicara dengan santai, tersungging senyum penuh arti disudut bibirnya.


Ucapan Reino itu sontak membuat Venus dan duo gesrek memandang Andra dengan khawatir, sementara yang dipandang sedang berusaha menenangkan hatinya yang mendadak ngilu.


Ternyata pagi-pagi sekali sebelum sarapan, duo gesrek sudah memberi laporan kepada Venus tentang informasi yang Raja dapat tadi malam. Dengan begitu, Venus pun tahu bahwa Andra menyimpan rasa kepada putrinya.


***

__ADS_1


__ADS_2