Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 52


__ADS_3

Pagi ini Venus dan Reino turun untuk sarapan, tapi meja makan sudah lebih dulu dihuni oleh Liana dan Tomi. Venus menatap heran kedua orang itu, terlebih Tomi, dia seperti tidak asing dengan pria itu, tapi tidak ingat pernah melihatnya dimana.


"Selamat pagi semua." Reino dan Venus berbarengan menyapa Liana dan Tomi.


"Selamat pagi, Rein dan Venus." Tomi membalas ucapan mereka dengan sangat ramah sambil memandang lekat wajah Venus. Sedangkan Liana hanya menyunggingkan senyum dibibirnya.


"Om, perkenalkan ini istri aku." Reino memperkenalkan Venus kepada Tomi.


"Hai, Venus. Reino sudah banyak cerita tentang kamu semalam." Tomi terus memperhatikan wajah Venus.


"Hallo, Om." Venus balik menyapa dengan wajah bingung, dia masih berusaha mengingat-ingat, dimana pernah melihat Tomi.


"Venus, ini Om Tomi yang aku ceritakan hari itu." Reino yang mengerti kebingungan Venus, kemudian memperkenalkan Tomi kepada istrinya.


"Oh, jadi ini Om Tomi ... senang berkenalan dengan Om." Venus memamerkan senyum sejuta pesonanya.


Detak jantung Tomi tiba-tiba berdetak nggak karuan saat melihat senyum ajaib Venus itu. Dirinya seperti nggak asing dengan wajah dan senyuman gadis itu.


Wajah dan senyuman gadis ini mirip sekali dengan dia. Apa jangan-jangan gadis ini?


"Venus, siapa nama orang tuamu?" Tomi bertanya dengan sangat penasaran.


"Daniel Winata dan Eliza Winata, saya putri pertama keluarga Winata, Om." Venus menjawab masih dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


"Memangnya kenapa, Om?" Reino menyela dengan rasa curiga.


"Oh, bukan apa-apa! Om cuma mau bilang kalau orang tua Venus beruntung sekali memiliki putri secantik dirinya." Tomi tertawa untuk menutupi ketegangannya.


"Aku juga beruntung memiliki istri secantik dia." Reino melirik Venus. Dan sudah bisa ditebak pipi gadis itu merona karena malu.


"Kamu bisa saja, aku jadi malu." Venus mencubit pelan lengan Reino.


"Aaw ... sakit!" Rengek Reino pura-pura kesakitan. Venus dan Tomi hanya tertawa melihat tingkah manja pria tampan itu.


"Sudah ... sudah ... ayo sarapan! Rein ... jangan ladeni terus Om kamu ini, nanti kalian bisa terlambat ke kantor." Liana menyindir Tomi yang terlalu banyak basa-basi.


Akhirnya mereka berempat menikmati sarapan yang sudah terhidang di atas meja.


Namun sesekali Tomi melirik Venus, pria itu sungguh penasaran dengan Venus.


***


Venus sepertinya menyukai Tomi, sikap ramah dan hangat Tomi membuat gadis itu merasa nyaman. Tiba-tiba timbul rasa penasaran dihati Venus untuk bertanya tentang kehidupan Om suaminya itu.

__ADS_1


"Tuan Muda!" Venus memanggil Reino, tapi pria itu tak merespon panggilan istrinya.


"Tuan Reino yang terhormat!" Venus memanggilnya lagi dengan sedikit mengejek, tapi Reino tetap bergeming.


"Hey ... kau mendadak tuli ya?" Venus mulai kesal.


"Kau berisik sekali!" Reino memandang tajam istrinya itu.


"Kenapa kau tidak menjawabku?" Venus mencebik kesal.


"Apa kau sudah lupa harus memanggilku apa?"


Eh ...


Venus lupa jika dia tidak boleh memanggil Reino dengan sebutan Tuan lagi.


"Oh iya, aku lupa." Venus menepuk pelan dahinya.


"Kalau begitu ulangi!"


"Suamiku sayang." Venus memanggil Reino dengan sangat manja.


"Apa istriku sayang?" Reino menjawab panggilan Venus dengan nada yang tak kalah manjanya.


Erik yang mendengar tingkah konyol kedua insan aneh itu hanya menghela nafas frustasi.


Untuk panggilan saja kenapa dibuat repot begitu sih. Ternyata cinta bisa membuatmu menjadi konyol begini Reino. Menjijikkan sekali!


"Kau mau bilang apa tadi? Kenapa memanggilku?" Reino memandang Venus penuh tanya.


"Aku hanya ingin bertanya tentang Om Tomi, apa dia punya keluarga? Anaknya ada berapa?" Venus tampak antusias.


"Om Tomi punya seorang putra, namanya Hendrik. Aku dan Hendrik berteman sejak kecil, walaupun sifatnya dingin tapi dia anak yang menyenangkan." Reino mengenang masa-masa kecilnya dengan Hendrik.


"Lalu dimana dia sekarang?"


"Sekitar hampir 20 tahun yang lalu, Om Tomi dan keluarganya memutuskan pindah ke kota B karena ada sedikit masalah, aku juga tak tahu masalah apa? Dan sejak saat itu aku nggak pernah bertemu dengan Hendrik lagi." Wajah tampan Reino berubah sendu, guratan kesedihan tercetak jelas disana.


"Kau tidak pernah berusaha menghubunginya?" Tanya Venus.


"Aku nggak tahu harus menghubunginya kemana? Keluargaku dan keluarga Om Tomi putus kontak, lalu 5 tahun kemudian saat Papaku meninggal, Om Tomi datang ke pemakaman tapi hanya sendiri." Lanjut Reino lagi.


"Bukankah keluarga kalian sudah putus kontak, lalu bagaimana Om Tomi bisa tahu Papamu meninggal?" Venus mengernyitkan dahinya, memandang Reino dengan penuh rasa penasaran.

__ADS_1


"Kau bodoh atau apa sih? Kau lupa ya kalau keluargaku itu terkenal, kematian Papaku tersebar luas ke publik, banyak media yang menyoroti berita itu. Tentu saja Om Tomi mengetahuinya dari berita yang beredar." Reino mengusak pucuk kepala Venus, merasa gemas dengan kepolosan istrinya itu.


Erik hanya melirik kedua pasangan suami istri itu dari balik kaca spion.


"Sekarang kan kau sudah bertemu dengan Om Tomi, kenapa tidak kau tanyakan dimana Hendrik? Undang dia kerumah." Venus merapikan rambutnya yang acak-acakkan karena ulah Reino.


"Aku sudah menanyakannya kepada Om Tomi, tapi kata Om Tomi sejak kecil, Hendrik sudah pergi bersama Ibunya yang selingkuh." Reino mengehela nafas, ada rasa kecewa dihatinya.


Ciiiiitt ...


Erik mendadak mengerem, membuat Reino dan Venus hampir tersungkur ke depan.


"Hey ... apa yang kau lakukan?" Reino membentak Erik dengan sorot mata yang menyalang.


"Maaf, Tuan!"


"Kau hampir saja mencelakai kami!" Reino masih marah.


"Ssstt ... sudah! Kenapa kau marah-marah? Mungkin saja Erik terpaksa mengerem karena ada bebek yang menyeberang. Bukan begitu Erik?" Venus tersenyum sinis, gadis itu menyindir Erik.


"Tidak, Nona. Sekali lagi saya minta maaf."


"Ya sudah, jalan!" Reino mengalah.


Erik mencengkeram stiur dengan sangat kuat dan melajukan kembali mobilnya dengan perasaan geram.


***


Pria tua itu sedang duduk di sebuah kamar tidur, dia memandang sebuah foto wanita yang tersenyum di dalam dompetnya. Foto itu sepertinya dirobek, sebelah bagiannya hilang entah kemana.


"Maaf ... aku nggak bermaksud untuk membuatmu pergi selamanya. Aku tahu kau pasti kesepian, maka dari itu aku akan segera mengirim putramu untuk menemanimu disana. " Pria tua itu berbicara sendiri seperti orang gila.


"Vina, aku masih sangat mencintaimu." Lanjutnya lagi, lalu dia mencium foto wanita itu.


Kemudian pria tua itu beralih mengambil sebuah foto di meja dan memandang foto itu dengan senyum sinis.


"Hay ... adikku sayang, lihat aku sekarang. Sedikit lagi aku akan menghancurkan putramu dan merebut apa yang seharusnya menjadi milikku. Aku nggak perduli mau berapa banyak orang-orang yang melindunginya, dia pasti akan segera menyusulmu. Hahaha ..." Pria tua itu tertawa sarkas.


Pria tua itu segera meraih ponselnya dan menghubungi seseorang, dia memeritahkan seseorang di seberang sana untuk mencari tahu sesuatu sekaligus menghabisi seorang pria yang menjadi incarannya.


***


Author ngebut ni biar bisa cepat up, maaf ya kalau ada kesalahan.

__ADS_1


Jangan lupa like, rate 5 dan vote banyak-banyak.


Dukunganmu sangat berarti buat author...💜


__ADS_2