Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 21


__ADS_3

Diana dan Liana sudah tiba di pemakaman, disana sudah hadir Daniel beserta istri dan anaknya, tapi sungguh nggak ada raut kesedihan diwajah mereka sedikit pun.


Tidak ada orang lain dimakam itu selain mereka.


Reino masih bersimpu di samping batu nisan yang bertuliskan nama Venus, pria tampan itu memamerkan wajah sedihnya.


"Kau sudah tenang sekarang. Semoga orang yang melakukan ini kepadamu, akan mendapatkan balasannya." Reino berbicara pelan tapi penuh penekanan seraya mengusap nisan Venus.


Semua yang mendengar ucapan Reino hanya tertunduk ngeri membayangkan balasan apa yang akan di dapat pembunuh itu nanti.


"Selamat jalan putriku, baru saja kita bertemu, tapi kau telah meninggalkan Ayah." Daniel pun mendramatis perkataannya, membuat Reino jijik dengan ucapannya itu.


Eliza dan Erika hanya memandang malas pria itu, mereka tahu Daniel sedang berpura-pura agar Reino simpati. Erika merasa puas dan senang dengan apa yang menimpa Venus, kebencian kepada Venus membutakan mata hatinya untuk memandang kasih sayang dan kebaikan Venus selama ini kepadanya.


"Pergilah ke Neraka gadis bodoh! Ini balasan atas kelakuanmu kepadaku dan Shane." Gumam Erika dalam hati.


"Rein, aku turut berduka." Diana menghampiri Reino dan mengelus pelan pundak pria itu, tapi Reino diam tak bergeming, hanya tangannya yang mengepal karena geram.


Akhirnya mereka semua meninggalkan pemakaman itu, meninggalkan nisan yang bertuliskan nama VENUS WINATA.


Tapi tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dari jauh. Seorang pria berperawakan tinggi besar sedang tersenyum sinis, sesekali meringis menahan perih akibat luka robek ditangannya.


Akhirnya kau mati juga.


Dengan begitu dia bisa segera menikahi pewaris tunggal Grafika yang sombong itu.


Reino berjalan cepat menuju mobilnya, Erik segera membukakan pintu untuk majikannya itu dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan area pemakaman dan semua orang disana.


Diana n Liana hanya memandang sinis kepada Daniel beserta keluarganya, mereka tak saling menyapa, lalu berlalu pergi menggunakan mobil masing-masing.


"Tante, aku masih belum percaya bahwa wanita sialan itu sudah mati." Diana terlihat ragu.


"Jadi menurutmu, siapa yang mereka kubur di makam itu? Patung?" Liana berbicara dengan ketus.


"Entahlah, Tante. Aku hanya masih belum percaya saja." Wajah Diana berubah masam.


"Kau tidak lihat wajah sedih putraku tadi? Dia tidak pandai berdrama apalagi membohongiku. Sudahlah, yang penting kau akan segera menikah dengan Reino." Liana menatap lekat wajah Diana.


"Iya, Tante ... maaf ..." Diana tertunduk menyesal karena sempat meragukan kematian Venus.


Erik yang mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi segera menurunkan kecepatannya saat mereka sudah menjauh dari mobil Liana dan Daniel.

__ADS_1


"Bagaimana perkembangan kasus ini? Bukti apa yang polisi dapat?" Reino bertanya dengan penasaran.


"Tidak ada bukti lain di TKP selain CCTV rumah itu yang mati dan bercak darah Nona Muda, Tuan. Bahkan sidik jari dan pisau yang digunakan pelaku untuk menikam Nona Muda juga tidak ditemukan. Sepertinya dia sangat profesional." Erik menjelaskan dengan tegas.


"Shiit ...! Kejadian ini persis seperti ketika Diana jatuh dari tangga, CCTV dirumah mati, bahkan semua rekamannya hilang. Untung saat itu Ina melihat kejadian sebenarnya." Reino menggeram membayangkan kejadian itu. Sesaat setelah mengantarkan Diana ke rumah sakit waktu itu, Reino pulang kerumah dan mengecek CCTV dirumahnya, tapi semua mati dan rekamannya terhapus.


"Sepertinya dia orang yang sama dengan kejadian Nona Diana, dia pasti orang yang bebas berkeliaran di rumah, jadi dia bisa leluasa masuk keruangan CCTV tanpa dicurigai pengawal." Erik berbicara dengan logika.


"Kau benar sekali! Kita harus selidiki ini dengan hati-hati."


"Baik, Tuan!" Erik mengangguk setuju dan kemabali fokus mengendarai mobilnya.


***


Malam ini, Reino hanya duduk diam ditepi ranjangnya, dia membayangkan wajah Venus yang tertawa manis kepadanya, rasanya dia sangat merindukan sosok istrinya itu saat ini.


Tok ... tok ... tok ...


Pintu kamar Reino diketuk dari luar.


"Masuk!" Reino mempersilakan orang itu masuk.


"Hai .... Sayang!" Liana muncul dari balik pintu yang dia buka.


"Ada yang mau Mama bicarakan." Liana duduk disamping Reino.


"Apa?"


"Istri pertamamukan sudah mati, berarti sekarang kamu bisa menikah dengan Diana dong, Sayang?" Liana berbicara dengan penuh harap.


"Ma ... Venus baru saja tiada, aku masih kehilangan! Apa pantas aku memikirkan pernikahanku dengan Diana sekarang?" Reino meninggikan suaranya.


"Dari awalkan kita semua tahu, wanita itu hanya tumbal, memang kematiannya yang kita harapkan! Kenapa sekarang kau terlalu merasa kehilangan?" Liana tidak senang dan mulai emosi.


"Siapa yang mengharapkan kematiannya? Aku atau Mama?" Reino berdiri dan menatap tajam Liana.


"Kau ini ...?" Liana pun ikut berdiri dan melotot kearah Reino.


"Sudahlah, Ma! Aku ingin sendiri, keluarlah!" Reino memalingkan wajahnya kesembarang arah.


Liana pun keluar dari kamar Reino, perasaan geram masih menyelimutinya, ingin sekali dia meluapkan kemarahannya tapi dia tahan karena takut Reino akan benar-benar membatalkan perjodohan dengan Diana.

__ADS_1


Wanita paruhbaya itu melangkah menuju kamarnya, dia berjalan melewati kamar Venus yang tertutup rapat, sayup-sayup Liana mendengar suara wanita menangis di dalam sana.


Liana semakin mendekat dan melekatkan telingannya ke pintu kamar Venus untuk memastikan suara yang dia dengar itu, namun wajahnya berubah ketakutan saat telinganya benar-benar menangkap suara tangisan yang terdengar pilu itu.


Liana buru-buru lari menuju kamarnya, tanpa sengaja dia menabrak Diana yang baru saja keluar dari kamar.


"Buuugghh ...


"Aaaawwww ...!" Dia memekik kesakitan saat tubuh Liana menabraknya hingga dia terduduk di lantai.


"Ada apa, Tante? Kenapa berlari begitu? Seperti dikejar hantu aja." Diana merasa heran melihat Liana yang berlari ketakutan sampai-sampai menabraknya.


"Memang ada hantu!" Liana kembali berlari dan masuk ke kamarnya lalu mengunci pintu.


Diana semakin heran melihat tingkah Liana, dia bangkit dari lantai dan menghampiri Liana ke kamarnya.


"Tante, bukain dong! Tante kenapa?" Diana mengetuk pintu kamar Liana, diketukan ke 3 baru wanita itu membukakan pintu untuk Diana.


"Tante kenapa sih?"


"Tante dengar suara wanita menangis di kamar Venus, mungkin itu hantunya Venus." Liana sangat ketakutan, tubuhnya sampai gemetar.


"Hahaha .... Tante, hari gini mana ada hantu! Tante salah dengar kali?" Diana tergelak tak percaya.


"Tante serius, Di. Itu pasti suara Venus, dia jadi hantu." Liana semakin merinding ketakutan.


"Masa iya sih di zaman modern gini masih ada hantu?" Diana terlihat berfikir.


"Ya sudah kalau tidak percaya, kamu dengarin saja sana sendiri!"


"Eh ... nggak deh, Tante! Aku juga takut!"


"Tadi sok-sokan nggak percaya, tapi ternyata takut juga." Liana memutar bola matanya, menatap malas Diana.


Sementara gadis itu hanya tersipu malu.


"Ya, sudah ... Tante istirahat, aku mau ke bawah ambil minum." Diana berlalu keluar dari kamar Liana.


Liana buru-buru mengunci kembali pintu kamarnya.


***

__ADS_1


Jangan lupa like dan votenya yang banyak ya sayang akuh....


biar aku makin semangat up nya....😊


__ADS_2