
Hari ini weekend dan pagi ini trio gesrek mendapat tantangan bertanding sepak bola dengan bocah kompleks sebelah, tentu saja mereka menerima tantangan itu, terutama Vie, gadis itu sangat bersemangat karena dia memang hobi bermain olah raga itu.
"Hee ... kalian sudah dimana?" Tanya Vie kepada kedua sahabat gesreknya itu melalu pesan grup whatsapp yang hanya beranggotakan mereka bertiga.
"Udah di jalan." Balas Raja.
"Aku duluan ke lapangan deh!" Vie membalas lagi.
"Ok." Hanya itu jawaban Raja. Sementara Dino tak membalas apa-apa karena dia sedang bersama Raja.
Vie pun berjalan mengendap-endap menuju pintu keluar, dia takut Venus melihatnya, karena sang mama pasti melarangnya bermain bola, tapi Vie tak pernah perduli. Namun Vie tak menyadari bahwa Venus sudah berdiri memandangnya dari atas tangga.
"Kau mau kemana, nona muda?" Suara Venus mengagetkan Vie.
"Eh ... mama. Aku mau lihat pertandingan bola dengan Raja dan Dino." Vie berbohong.
"Hanya menonton? Kau tidak ikut bermain?" Tanya Venus.
"Ti ... tidak, ma. Aku hanya menonton saja." Vie mulai gugup.
"Kemarin kau juga katakan hanya menonton, tapi ternyata kau ikut bermain. Kau itu anak perempuan, jadi bertingkahlah selayaknya anak perempuan yang wajar, Vie!"
"Tapi aku suka bermain bola, daripada bermain cinta, entar mama juga yang repot kalau aku menikah muda." Vie menjawab seenaknya.
"Yang suruh kau bermain cinta dan menikah muda siapa? Memangnya kau tidak bisa memilih permainan lain yang lebih feminim?" Venus memprotes.
"Hmmm ... nanti coba aku fikirkan lagi, ma! Ya sudah aku pergi dulu, sudah telat ini."Vie segera beranjak ke lapangan yang tidak terlalu jauh dari rumah mewahnya itu.
"Awas saja kalau kau masih bermain bola!" Ancam Venus. Tapi putrinya itu sudah berlari menjauh darinya.
***
Vie berjalan sendiri menuju lapangan, walaupun dia putri keluarga Brahmansa namun tak ada pengawalan khusus, bukan karena Reino tak perduli dengan keselamatan sang putri, tapi karena Vie menolaknya dengan alasan risih jika kemana-mana diikuti pengawal.
Tanpa sepengetahuan Vie, ada dua pasang mata yang sedang memantau pergerakannya.
"Bro, itu dia gadis yang memprovokasi pengeroyokan aku kemarin." Adu seorang lelaki yang tak lain adalah preman yang dikeroyok Raja dan kawan-kawan waktu itu. Kali ini dia membawa seorang teman untuk membalas kelakuan Vie.
"Kayaknya sih anak orang kaya. Bagaimana kalau kita culik dan minta tebusan?" Preman kedua memberi usul.
"Wah ... boleh juga tuh! Sambil menyelam minum air." Ucap preman pertama lengkap dengan peribahasanya.
"Kita mau menculik gadis itu bukan mau menyelam." Jawab preman kedua polos.
__ADS_1
"Itu peribahasa, tungir!" Preman pertama menoyor kepala preman kedua.
"Oh ... kirain mau ajak menyelam." Preman kedua manggut-manggut.
Merekapun berjalan dengan hati-hati sambil memperhatikan keadaan di sekeliling, begitu dirasa aman. Kedua preman itu langsung menyergap Vie.
"Mau kemana kau, haa ...?" Preman kedua menarik tangan Vie. Gadis itu pun sontak memberontak, tapi tenaganya kalah kuat dengan pria bertubuh tambun itu.
"Lapaskan aku! Mau apa kalian?" Vie memberontak.
"Aku mau balas dendam! Kau masih ingatkan siapa aku?" Tanya preman pertama.
"Ingat dong! Kau satu-satunya manusia burik yang pernah aku lihat di muka bumi ini, jadi mana mungkin aku lupa." Vie menjawab seenaknya.
"Wah ... kurang ajar ini bocah!" Preman pertama naik darah dan mengangkat tangannya ingin menampar Vie, tapi ...
Buuugghh ...
Tiba-tiba seorang pria yang baru datang menerjang preman mini itu dengan kuat sehingga dia tersungkur ke tanah,.
"Pak Andra ...?" Vie terkejut melihat pria yang menerjang preman itu adalah mantan guru BPnya.
"Lepasin dia!" Andra berteriak memerintah preman kedua yang masih memegangi tangan Vie.
"Ini aku lepasin!" Preman kedua itu mendorong Vie hingga terjatuh dan kemudian kabur. "Cabut yuk, bro!"
"Terima kasih ya, pak."
"Aku bukan bapakmu, jangan panggil seperti itu!" Protes Andra.
"Jadi panggil apa dong?"
"Ayo berdiri dan segera pulang!" Andra berbicara tanpa memandang ke arah Vie yang masih terduduk di aspal. Dia tak menghiraukan ucapan Vie.
"Aaawww ..." Vie berusaha berdiri tapi kakinya terasa sakit sekali, hingga di kembali duduk di aspal. Andra hanya melirik gadis itu.
Andra pun berjongkok dan memeriksa kaki Vie yang sakit itu, ternyata ada luka yang berdarah sepertinya terkena sesuatu yang tajam.Lalu pergelangan kakinya sedikit lebam dan membengkak.
"Sudah tidak usah! Aku tidak apa-apa." Vie yang risih dengan perlakuan Andra pun menepis tangan lelaki itu.
"Kakimu sepertinya juga terkilir, aku akan mengantarmu pulang!" Ucap Andra masih fokus melihat kaki Vie.
"Tidak usah!" Vie menolak dan berusaha berdiri namun kakinya sangat sakit dan dia terjatuh kembali, untuk saja Andra cepat menangkapnya sehingga membuat posisi mereka sangat dekat.
__ADS_1
"Sudah lepaskan!" Vie segera mendorong Andra agar menjauhinya.
Namun tanpa basa-basi Andra segera mengangkat tubuh Vie dan mendudukkan gadis itu di atas motornya.
Vie terkesiap melihat tindakan mantan gurunya itu.
"Dimana rumahmu?" Tanya Andra dengan nada bicara yang datar.
"Di depan jalan sana." Vie menunjuk arah rumahnya.
Tanpa menjawab, Andra segera naik ke atas motornya dan melaju pergi. Setelah itu tak ada pembicaraan diantara mereka.
***
Vie dan Andra sudah tiba-tiba di depan gerbang sebuah rumah yang sangat mewah bak istana, tak beberapa lama kemudian gerbang itu terbuka dengan sendirinya. Sepeda motor Andra pun masuk ke pekarangan rumah Vie yang sangat luas, tampak beberapa pengawal berjaga di depan rumahnya sedang memandang cemas nona muda mereka.
Dengan susah payah Vie berusaha turun dari motor Andra karena kakinya sakit bila dibuat bertumpu, tapi lagi-lagi tanpa permisi Andra yang sudah lebih dulu turun segera mengangkat tubuh ramping Vie dan menggendongnya.
"Eh ... sudah lepaskan!" Vie memberontak.
"Ada apa, nona?" Seorang pengawal mendekati Andra dan Vie dengan cemas.
"Dia terluka dan sulit berjalan. Tolong bukakan pintunya!" Andra menjelaskan dan memerintah pengawal itu untuk membukakan pintu utama tanpa memperdulikan ucapan Vie.
Setelah pintu terbuka, Andra pun berjalan memasuki Kediaman Brahmansa sambil menggendong gadis yang sangat dia benci itu.
Dia mendudukkan Vie di sofa dan segera beranjak pergi tanpa berbicara sepatah katapun kepada gadis itu, bahkan sekedar memandang pun dia tak mau. Meskipun dia menolong Vie tapi rasa bencinya masih ada untuk mantan siswinya itu, dia hanya tak bisa melihat wanita disakiti.
"Pak, Andra!!!" Teriak Vie dan membuat Andra menghentikan langkahnya di ujung pintu keluar tapi dia tak berbalik memandang Vie.
"Terima kasih ya." Ucap Vie.
"Hemmm ..." Andra membalas dengan deheman dan melanjutkan langkahnya meninggalkan kediaman Brahmansa.
Vie hanya menghela nafasnya melihat sikap dingin sang mantan guru itu.
"Sepertinya dia masih marah dan membenciku." Gumam Vie dalam hati.
"Kamu kenapa Vie?" Venus bertanya dengan raut wajah cemas saat melihat sang putri meringis sambil memegangi kakinya.
"Tadi Vie jatuh, ma. Tapi tidak apa-apa kok!"
"Ya ... ampun, sayang. Kok bisa sih?" Venus mendadak panik.
__ADS_1
Dan akhirnya seisi rumah heboh karena putri keluarga Brahmansa itu terluka, Reino yang ikut-ikutan panik segera memanggil dokter Kenan untuk memeriksa kondisi sang putri. Vie hanya geleng-geleng kepala melihat kedua orang tuanya yang super lebay dan heboh itu.
***