Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 104 (Tamat)


__ADS_3

Reino sedang duduk di ruang kerjanya sambil membolak-balik berkas di hadapannya, lalu tiba-tiba Erik datang menghampiri pria tampan itu.


"Rein ... tugasku sudah selesai disini, sudah saatnya aku pergi." Erik berbicara tanpa basa basi. Membuat Reino tersentak kaget.


"Kau mau kemana?" Tanya Reino dengan tatapan bingung.


"Melanjutkan kembali hidupku!"


"Hey ... hidupmu itu disini! Aku sudah putuskan untuk memberikan hak om Tomi kepadamu seperti wasiat kakek. Mulai sekarang kau yang menjadi direktur utama di Grafika Grup." Ungkap Reino.


"Tapi ..." Erik tampak ragu.


"Tidak ada tapi-tapian! Kakek akan kecewa jika kau menolak! Selamat bergabung." Reino mengulurkan tangannya ke hadapan Erik.


Walaupun awalnya tampak ragu, namun akhirnya Erik pun setuju dan menjabat uluran tangan Reino dengan senyum yang mengembang.


***


Reino dan Venus masih menikmati pagi mereka sambil berpelukan di dalam satu selimut, pertarungan panas semalam membuat tubuh mereka lelah dan malas untuk beranjak dari pembaringan.


"Aku sudah meminta dokumen aslimu kepada Vino dan akan segera mendaftarkan pernikahan kita agar sah di mata negara." Reino menyelipkan anak rambut Venus ke belakang telinganya.


"Wah ... kau sangat takut kehilangan aku rupanya?" Venus meledek suaminya itu.


"Tentu saja! Aku bisa mati jika kehilanganmu. Aku tak bisa hidup tanpamu." Reino mengecup bibir Venus.


"So sweet ...! Aku tersanjung sekali mendengarnya."


"Dan ada lagi, aku akan segera mengadakan resepsi pernikahan kita. Aku ingin seluruh dunia tahu siapa nyonya Reino Brahmansa." Reino semakin mengeratkan pelukannya.


"Benarkah? Kapan?" Tanya Venus dengan antusias.


"Kurasa bulan depan adalah waktu yang tepat. Aku akan mempersiapkan semuanya." Jawab Reino.


"Lalu apa setelah itu kita juga akan berbulan madu seperti pasangan-pasangan lainnya?" Venus bertanya dengan wajah memohon.


"Memangnya kau mau kemana?" Reino menautkan alisnya.


"Paris."


"Tapi kau sedang hamil, apa tidak masalah kau pergi dengan pesawat sejauh itu? Aku takut terjadi sesuatu dengan kandunganmu!" Reino sedikit khawatir.


"Kita akan konsultasi dengan dokter dulu nanti. Bagaimana?" Ucap Venus.


"Baiklah. Apa sih yang tidak untuk tuan putriku." Reino mencubit hidung Venus dengan gemas lalu menarik tubuh polos istrinya itu ke dalam pelukannya.


Mereka kembali menikmati pagi dengan bermesraan di dalam kamar.

__ADS_1


***


Sebulan kemudian, hari yang ditunggu-tunggu semua orang pun tiba.


"Kau sudah siap?" Erik bertanya kepada Reino yang sedang berdiri di depan jendela kamarnya. Pria itu terlihat semakin tampan dengan stelan jas yang dia kenakan.



"Tentu saja!" Reino mengembangkan senyuman di bibirnya.


Reino dan Erik pun melangkah menuju mobil, disana juga sudah ada Kenan dan Johan. Kali ini Kenan yang bertindak sebagai supir, dia segera melajukan mobil menuju kediaman Adyatama.


***


Di kediaman Adyatama, semua orang sudah berkumpul menanti kehadiran sang pengantin. Rumah Vino disulap bak istana, bunga-bunga cantik dan lampu-lampu indah menghiasi setiap sudutnya.


Reino, Erik, Kenan dan Johan sudah tiba di kediaman Adyatama, semua orang memandang takjub kepada Reino yang kadar ketampanannya bertambah berkali-kali lipat hari itu. Tuan muda itu tak henti-hentinya tersenyum kepada semua orang untuk menunjukkan rasa bahagianya.


Sementara itu di dalam kamarnya, Venus sudah selesai berdandan. Vino yang menghampirinya, terkesiap melihat kecantikan adik yang berbalut gaun putih itu dengan memegang seikat bunga.



"Kak, aku sudah cantikkan?" Tanya Venus, sambil berpose dengan memamerkan tawanya di hadapan Vino.


"Perfect ...! Kau cantik sekali!" Vino segera menggandeng tangan adiknya itu dan menuntunnya ke tempat acara.


Venus dan Vino berjalan menuruni anak tangga, semua mata tertuju kepada Venus yang terlihat sangat menawan, semua orang berdecak kagum kepadanya. Di anak tangga terakhir, Reino mengulurkan tangannya ke hadapan Venus dan disambut oleh istrinya itu. Mereka berjalan bergandengan tangan menuju pelaminan. Semua orang memberi selamat dan doa restu kepada sepasang pengantin yang sedang berbahagia itu. Bahkan banyak wartawan yang meliput, seketika berita pernikahan Reino dan Venus menjadi trending topik di publik, menghapus rumor kutukan istri pertama yang sempat beredar.


"Aku titip adikku! Kalau kau sampai menyakitinya, aku akan menghabisimu!" Ucap Vino dengan pura-pura mengancam.


"Kau tenang saja, kakak!" Reino menjawab sambil menepuk pelan pundak Reino.


"Hey ... sudah kukatakan jangan memanggilku begitu!" Vino memelototkan matanya.


"Iya, kakak ipar!"


"Kau ini!" Vino mengangkat tangannya dan tanpa diduga malah memeluk adik iparnya itu.


Membuat semua orang terkejut dengan aksinya.


"Jaga dia seperti kau menjaga nyawamu!" Ucap Vino.


"Kau tenang saja! Aku pasti akan membahagiakannya!" Reino membalas pelukan Vino.


Semua orang terharu melihat kelakuan kedua pria tampan itu, bahkan Venus sampai menitihkan air mata bahagianya.


"Eheemm ... mesra sekali kedua ipar ini." Tiba-tiba suara seorang wanita mengagetkan mereka. Sontak Reino dan Vino saling melepas pelukannya.

__ADS_1


"Hanna ... kau datang juga?" Venus memekik senang. wanita itu tak lain adalah Hanna.


"Hai ... selamat ya, semoga bahagia selalu." Hanna memberi ucapan selamat kepada Venus dan Reino.


"Terima kasih!" Jawab Reino dan Venus serentak.


Melihat kedatangan Hanna, mendadak Vino menjadi salah tingkah sendiri. Menyadari perubahan ekspresi Vino, Reino dan Venus hanya tersenyum penuh arti.


Kemudian Daniel dan Eliza juga datang, mereka mengucapkan selamat kepada sepasang pengantin itu, bahkan Eliza memeluk Venus dengan sangat erat, wanita paruh baya itu terisak pilu.


"Maafkan kami ya Venus? Maafkan semua perbuatan mama dan ayah kepadamu." Ucap Eliza.


"Mama ... sudah! Aku sudah maafkan mama dan ayah, jauh sebelum kalian meminta maaf." Venus membalas pelukan Eliza dan ikut meneteskan air mata.


"Terima kasih ya, nak. Hatimu sungguh baik." Eliza melepaskan pelukannya.


Setelah acara selesai, Reino dan Venus berangkat ke Paris. Setelah berkonsultasi dengan dokter dan memastikan keamanan kandungan Venus, dokter pun mengizinkan gadis itu pergi dan membekalinya dengan obat-obatan yang mungkin Venus butuhkan selama di perjalanan.


***


Akhirnya Reino dan Venus tiba di kota Paris, mereka sedang menikmati keindahan menara eiffel di sore hari dari balkon kamar hotel yang mewah.


"Bagaimana, kau suka?" Tanya Reino yang memeluk pinggang Venus dari belakang dan meletakkan dagunya di pundak sang istri.


"Iya, aku suka sekali! Terima kasih ya!" Ucap Venus dengan senyuman yang mengembang.


"Hanya terima kasih? Apa kau tidak ingin memberiku sesuatu?" Reino semakin mengeratkan pelukannya.


"Maksudnya?" Venus memutar kepalanya dan melirik sang suami.


Reino seketika membalik tubuh Venus agar menghadapnya. Kini mereka sudah saling berhadapan dan mengunci pandangan satu sama lain.


"Aku sangat mencintaimu." Reino segera meluma4t bibir Venus tanpa menunggu balasan istrinya itu.



Awalnya hanya ciuman yang lembut, tapi lama-lama menjadi ciuman yang panas dan menggairahkan.


Reino melepaskan tautan bibir mereka dan mengangkat tubuh Venus lalu membaringkannya di atas ranjang.


"Hey ... apa yang kau lakukan?" Tanya Venus bingung.


"Aku mau mengunjungi anakku!" Jawab Reino seenaknya sambil membuka paksa pakaian Venus.


"Haaa ...?" Venus melongo kaget.


"Sayang ... papa datang!" Reino segera melahap habis istri tercintanya itu.

__ADS_1


Kota Paris menjadi saksi pertarungan panas pengantin baru yang tidak baru lagi itu, memadu cinta dan kasih.


💜TAMAT💜


__ADS_2