Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 39


__ADS_3

Vino masih menunggu jawaban dari pria yang mendadak jadi bisu itu, Reino malas menjawab pertanyaan yang membuatnya jengah.


"Hey ...Rein, asistenmu itu dimana?" Pertanyaan serupa terlontar lagi dari bibir Vino.


"Dia sedang sibuk!"


"Wah ... sayang sekali ya, padahal aku ingin menyapanya juga." Wajah tampan Vino mendadak pias, guratan kekecewaan tercetak jelas di wajahnya.


"Kau kurang beruntung!" Reino memaksakan senyuman dibibirnya.


"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu


Lain kali aku mampir lagi." Vino beranjak keluar dari ruangan Reino.


Reino hanya mengangguk dan tersenyum, tentunya itu senyuman pura-pura. Jauh di hati kecilnya dia bersyukur, perusuh itu akhirnya pergi.


Namun tanpa di duga, begitu keluar dari ruangan Reino, Vino berpas-pasan dengan Venus yang kebetulan hendak masuk juga ke ruangan Reino untuk mengantarkan berkas.


"Wah ... nggak disangka kita bertemu disini." Wajah Vino mendadak sumringah saat melihat Venus di hadapannya.


"Tuan Vino ...? Bagaimana kabarmu?" Venus tersenyum manis, membuat Vino merasa damai karena melihat senyuman itu.


"Kabarku baik! Bagaimana dengan dirimu?"


"Aku juga sangat baik, Tuan." Venus kembali memamerkan senyum ajaibnya.


"Kau sudah makan siang?"


"Belum, ini kan masih pukul 10.00 ... belum waktunya makan siang, Tuan." Venus melirik arloji di pergelangan tangannya untuk memastikan pukul berapa saat ini.


"Kalau begitu aku akan menunggu sampai pukul 12.00 nanti." Vino berkata dengan yakin.


"Maksud, Tuan?" Venus pura-pura tidak mengerti maksud Vino.


"Aku ingin mengajakmu makan siang bersama. Aku harap kau tidak menolak!" Ucap Vino sedikit memaksa.


"Tapi maaf, Tuan. Sejak kejadian itu, Tuan Reino tidak mengizinkan saya keluar dari gedung ini tanpa pengawal." Wajah Venus mendadak cemas.


"Dia sangat melindungi karyawannya ya? Aku akan meminta izin kepadanya! Dia pasti mengizinkan." Vino hendak melangkah kembali masuk keruangan Reino, tapi dengan cepat Venus menahannya.

__ADS_1


"Eh ... tidak ... tidak usah, Tuan! Biar saya saja yang minta izin." Venus menolak tindakan Vino, karena dia tak ingin membuat masalah dengan Reino. Dia akan berpura-pura sudah meminta izin kepada Reino dan menolak ajakan Vino dengan alasan Reino tidak mengizinkan. Walaupun sejujurnya Venus ingin sekali bisa mengobrol dengan Vino, dia merasa ada sesuatu yang membuatnya tertarik untuk dekat dengan Vino.


"Baiklah, kalau begitu berikan nomor teleponmu agar aku bisa menanyakan keputusanmu." Vino beralasan agar bisa mendapatkan nomor ponsel Venus.


Dengan polosnya Venus memberikan nomor ponselnya kepada Vino. "081261xxxx, itu nomor saya, Tuan."


"Baiklah, aku akan menghubungimu nanti!" Vino berlalu meninggalkan gedung Grafika Grup dengan perasaan senang yang luar biasa, ternyata nggak sia-sia kunjungannya hari ini.


Venus melanjutkan langkah masuk ke ruangan Reino setelah Vino berlalu, dia membuka pintu ruangan CEO itu dengan hati-hati dan kaget saat mendapati Reino sedang berdiri dan menatap dirinya.



"Apa yang kalian bicarakan tadi?" Pertanyaan itu lolos dari mulut Reino tanpa basa-basi. Raut wajah pria itu sungguh terlihat tak senang.


Tanpa mereka sadari, Reino melihat CCTV yang terhubung ke laptopnya. Sebenarnya dia hanya ingin memastikan apakah Vino benar-enar sudah pergi, tapi dia malah melihat pria itu bertemu dengan Venus.


"Maksud kamu apa sih?" Venus pura-pura tidak tahu.


"Jangan pura-pura tidak mengerti! Katakan apa yang kau dan kecoa itu bicarakan?" Nada suara Reino mulai meninggi, saking kesalnya sampai menyebut nama Vino pun dia tidak mau.


Kecoa? Ya ampun Tuan Muda, itu hewan yang sangat menjijikkan. Bisa-bisanya kau menyamakan hewan itu dengan pria setampan dan sekeren Vino.


"Dia hanya mengajakku makan siang." Venus pasrah dan mulai membeberkan obrolannya tadi.


"Tentu saja tidak! Aku nggak ingin kau menuduhku selingkuh lagi dan menghukumku seperti tadi." Wajah Venus mendadak merona mengingat kejadian tadi pagi, pria di hadapannya ini telah mencuri ciuman pertamanya tanpa izin.


Ya iyalah tanpa izin, namanya juga mencuri.


"Pergilah makan siang bersamanya!" Perintah itu keluar begitu saja dari mulut Reino, membuat Venus terperangah tak percaya.


"Kau serius?" Tanya Venus memastikan.


"Apa aku terlihat sedang bermain-main?"


Venus menggeleng pelan. Gadis itu merasa curiga, kenapa tiba-tiba dia baik sekali?


Apa yang sedang dia rencanakan?


***

__ADS_1


Pukul 12.00 ...


Setengah jam yang lalu Vino sudah menghubungi Venus untuk menanyakan kepastiannya, betapa bahagianya Vino saat Venus menerima ajakan makan siangnya. Entah kenapa sejak bertemu gadis itu, Vino nggak bisa berhenti memikirkannya, rasa penasaran pria itu membuatnya hilang akal dan bertingkah konyol, seperti yang dia lakukan tadi, bertandang ke Grafika Grup hanya untuk bertemu Venus.


Di restoran yang sudah ditentukan, Vino telah menanti kedatangan Venus, senyuman terukir di bibir pria tampan itu saat melihat Venus berjalan mendekatinya.


Namun senyuman itu mendadak hilang, saat matanya menangkap sosok yang tak asing baginya.


Ccckk ... kenapa si gunung es itu ikut juga sih?


Mengganggu saja!


"Hai ... Tuan Vino, sudah lama menunggu ya?" Venus melambaikan tangannya dengan senyum manis.


"Hai ... silahkan duduk Venus ... Rein. Aku juga baru datang kok." Vino mempersilahkan mereka duduk dengan memaksakan sedikit senyuman.


Yup ... Reino ikut makan siang bersama Venus dan Vino, bahkan Erik juga ikut bersama mereka, pantas saja dia mengizinkan Venus pergi, ternyata dia sudah merencanakan ini.


Dasar licik! Itulah yang dari tadi diumpatkan Venus, selama diperjalanan gadis itu hanya cemberut setelah tahu rencana suaminya.


Makan siang yang seharusnya menyenangkan, kini berubah menegangkan karena Tuan Muda menyebalkan ini ikut. Vino berulang kali menghela nafas karena kesal, Reino yang menyadari kekesalan hati rekan bisnisnya itu hanya menyunggingkan bibirnya dan menatap sinis.


Acara makan siang hanya sekedar makan saja, jauh dari rencana awal Vino. Padahal CEO V2 Grup itu sudah berencana untuk mencari tahu kehidupan Venus dan semua tentangnya, tapi harus gagal karena ulah Reino. Bagaimana mau bertanya, si dingin Reino terus memandang Vino dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


Mereka berempat makan tanpa berbicara sedikit pun, tiba-tiba Venus tersedak dan terbatuk-batuk, reflek Reino dan Vino menyodorkan minuman mereka ke hadapan Venus.


Gadis itu kaget melihat reaksi spontan kedua pria tampan itu, takut menyinggung hati salah satu dari mereka, akhirnya Venus tak menerima minuman yang di berikan oleh keduanya, Venus memilih untuk meminum miliknya sendiri.


Kedua makhluk aneh itu merasa canggung dan salah tingkah, akhirnya mereka juga meminum punya mereka masing-masing.


Erik hanya mengulum bibirnya sendiri menahan tawa karena tingkah konyol dua orang itu.


Dari kejauhan Alvin sedang memperhatikan mereka dari dalam mobilnya, sekretaris Reino itu sengaja mengikuti mobil Tuannya.



"Sepertinya aku memiliki dua saingan sekarang. Apa aku bisa mengalahkan mereka dan mendapatkan hatinya? Aku bahkan nggak punya banyak kesempatan untuk mendekatinya." Alvin berbicara sendiri sambil terus memlihat kearah Venus.


Entah mengapa, setiap orang yang melihat Venus pertama kalinya, akan jatuh hati dan tertarik kepada gadis itu.

__ADS_1


Senyuman ajaibnya itu mampu meluluhkan hati para pria.


***


__ADS_2