Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 93


__ADS_3

Reino berjalan malas menuju dapur, semua pelayan dan koki terlihat takut karena majikan mereka seumur-umur baru ini bertandang ke dapur. Bahkan Erik yang sedang mengambil air dingin dikulkas pun terkejut bukan main melihat kehadiran Tuan Mudanya itu.


"Mau apa bocah ini?" Bathin Erik.


"Hey ... kau, mari sini!" Reino memanggil koki wanita itu dengan raut wajah masamnya.


"Iya, Tuan ... ada yang bisa saya bantu?" Koki itu tertunduk takut.


"Tolong ajarkan aku membuat ayam goreng! Venus sedang ingin makan ayam goreng buatanku."


"Apaaa?" Koki itu terperangah mendengar perintah Reino.


"Uhuk ... uhuk ..." Erik yang sedang minum sampai terbatuk-batuk karena mendengar kata-kata Reino.


"Minum pelan-pelan! Kau bisa mati karena tersedak!" Reino memandang sinis kepada Erik.


"Iya, Tuan ... maaf." Erik menunduk patuh.


"Hey kau, apa aku harus mengulang kata-kataku?" Reino memandang sebal koki itu.


"Ti ... tidak, Tuan! Saya akan mengajarkan anda memasak ayam goreng." Ucap koki itu patuh. Memang apa lagi yang bisa dia katakan?


Erik hanya melirik Reino sambil menenggak kembali air dingin di gelas yang dia pegang.


"Ya sudah siapkan bahannya, aku mau paha ayam sebelah kanan dan pastikan ayamnya masih perawan!" Reino berbicara tanpa rasa bersalah.


Erik yang sedang minum sampai menyemburkan air dari dalam mulutnya karena terkejut mendengar permintaan aneh Reino.


"Hey ... kau jorok sekali! Kenapa menyemburkan air begitu?" Reino menatap tajam ke arah Erik yang sibuk mengelap mulutnya yang basah.


"Maaf, Tuan! Saya tidak sengaja!" Erik tertunduk, wajahnya sampai memerah menahan tawa.


"Sebaiknya aku pergi dari sini, sebelum aku ikutan gila." Gumam Erik dalam hati dan berlalu pergi dari dapur.


"Maaf, Tuan ... apa bisa dibedakan paha kanan dan kiri?" Takut-takut koki itu bertanya sambil menunjukkan wadah yang berisi potongan paha ayam.


"Cckk ... mana ku tahu! Coba yang ini, sepertinya ini yang kanan. Eh ... tapi bentuknya sama semua, mana jarinya sudah tidak ada lagi. Aaarrgghh ... ada-ada saja!" Reino frustasi sendiri memilih paha ayam yang diinginkan istrinya itu.


"Yang ini saja, Tuan! Sepertinya Nona Muda juga tidak akan tahu yang mana paha kanan dan kiri." Koki itu dengan pedenya berkata sambil menunjuk sebuah paha ayam.


"Benar juga, ya sudah ... pilih yang mana saja! Tapi pastikan ayamnya masih perawan ya?" Reino mendadak ikut-ikutan konyol seperti Venus.


"Apa? Memangnya ada ayam perawan?" Koki itu mendadak bingung.


"Tidak ada ya?" Reino bertanya dengan wajah polosnya.

__ADS_1


"Hmm ... anak ayam sepertinya perawan, Tuan!" Ucap koki itu dengan wajah jenakanya, dia benar-benar tak habis fikir dengan tingkah konyol majikannya hari ini. Dan para pelayan yang mendengar obrolan mereka juga sudah hampir mati karena menahan tawa.


"Kau ini! Sudah sana cepat buatkan!" Reino meninggikan suaranya dan menatap tajam koki itu.


"Loh, tapi katanya Tuan yang akan membuatkannya?" Tanya koki itu bingung.


"Sudah kau saja! Venus juga tidak akan tahu."


"Siapa bilang aku tidak akan tahu? Aku akan menunggumu disini! Cepat buatkan!" Suara Venus mengagetkan Reino dan semua orang. Nona Muda itu sudah duduk di meja makan di dekat dapur.


"Iya ... iya ...!" Reino menjawab dengan malas, pria itu segera memakai celemek dan mulai memasak, tentunya dengan instruksi si koki.


***


Setelah hampir dua jam, Reino akhirnya selesai juga membuatkan ayam goreng yang nyaris gosong untuk istri tercintanya. Waktu yang cukup fantastis untuk sekedar membuat ayam goreng saja, sudah lima potong ayam yang benar-benar gosong akibat ulah Reino, bahkan dapur sudah seperti kapal pecah dibuatnya. Judulnya sih sesuai intruksi koki tapi tetap saja Reino bertindak sesuka hatinya, bukan koki yang mengajarinya tapi sebaliknya malah Reino yang sok-sokan mengajari si koki.


"Tarrraaaa ... ayam goreng buatan papa tampan sudah selesai." Reino berbalik dan berniat memperlihatkan hasil karyanya kepada Venus, tapi sayang istrinya itu sudah tertidur. Venus meletakkan kepala diatas meja dengan berbantalkan tangannya.


"Yaaaa ... dia tertidur! Aku kelamaan ya masaknya?" Reino meletak ayam goreng itu di dekat Venus dan dia pun terduduk di depan pintu dapur yang terhubung ke luar.


"Ternyata memasak itu sangat melelahkan!" Reino meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.



"Kemana semua orang? Kenapa rumah ini sepi sekali?" Suara seseorang yang tak asing menusuk gendang telinga Reino.


"Hai ... Paman!" Reino yang baru saja keluar dari dapur, segera menyapa Johan.


"Huuu ... kau ternyata disini! Apa itu?" Johan memandang heran Reino, jari telunjuknya sudah mengarah ke Tuan Muda itu.


"Ini celemek." Reino yang tahu maksud Johan menjawab apa adanya.


"Iya, aku tahu itu celemek! Maksudku kenapa kau memakainya?" Tanya Johan.


"Tadi aku memasak untuk Venus."


"Sejak kapan?" Tanya Johan lagi.


"Apanya?" Reino menautkan alisnya, menatap Johan dengan bingung.


"Kau jadi bapak rumah tangga. Hahaha ..."Johan meledek. Ada tawa yang menggema keluar dari mulut Johan.


"Cckk ... sejak istriku hamil dan ngidam."Reino menjawab dengan malas.


"Kau lagi belajar jadi suami yang baik ya? Bagus ... bagus ...!" Johan mengacungkan jempolnya kepada Reino. "Lalu dimana istrimu?" Tanya Johan.

__ADS_1


"Itu ... disana! Dia kelamaan menunggu aku masak, jadi ketiduran." Reino menunjuk ke arah Venus yang berada di dalam dapur. Johan memutar kepalanya mengikuti arah yang ditunjuk Reino.


"Kasihan sekali! Dasar suami tidak berguna! Kau membiarkan istrimu tidur dengan posisi begitu disaat dia sedang hamil. Tulang belakangnya sakit, dasar bodoh!" Johan mendekati Reino dan menjewer telingan pria itu.


"Aaaaaawww ... aduh sakit, Paman! Mana aku tahu kalau itu tidak baik! Lagipula dari tadi aku sibuk memasak." Reino memekik dan berusaha membela dirinya.


Mendengar teriakan Reino dan keributan yang terjadi antara Suaminya itu dengan Johan, Venus pun tersentak bangun.


"Eeeeengg .... emmpp ..." Venus mengerjap, berusaha mengumpulkan kesadarannya. "Ada apa?" Venus menatap heran ke arah Reino dan Johan.


"Kau sudah bangun? Kalau begitu mari kita makan, aku sudah selesai membuatkan ayam goreng pesananmu." Reino berusaha mengalihkan situasi agar terbebas dari Johan.


"Hai ... Venus. Selamat ya atas kehamilannya." Johan melambaikan tangannya dan tersenyum manis. Pria paruh baya itu sudah melepaskan jewerannya ditelinga Reino.


"Hai juga, Om. Terima kasih ya. Kalau begitu mari kita makan bersama." Venus beranjak dari duduknya dan segera berjalan sambil membawa piring berisi ayam goreng buatan suaminya itu.


Reino, Venus dan Johan berjalan menuju meja makan utama. Pelayan sudah menghidangkan beberapa menu makanan di atas meja untuk makan malam.


"Silahkan Om." Venus mempersilahkan Johan untuk makan.


"Terima kasih, cantik!" Ucap Johan sambil melirik Reino yang wajahnya sudah masam. Dia sangat tidak suka jika ada yang merayu istrinya, termasuk Johan sekalipun.


Mereka bertiga segera menyantap hidangan di meja makan, Venus dengan lahap memakan ayam goreng nyaris gosong buatan Reino.


"Enak?" Tanya Reino penasaran.


"Tentu dong! Ini kan buatan suami aku." Venus tersenyum sambil mengunyah ayam goreng itu dimulutnya.


"Masa sih? Wujudnya saja sudah tak meyakinkan." Johan memandang tak percaya ayam goreng nyaris gosong itu rasanya enak.


"Iya, benaran enak kok! Om mau?"


"Tidak ... tidak, Om takut keracunan!" Johan meledek Reino. Sumpah, wajah Reino saat ini sudah semakin masam.


"Sini aku cicipi!" Reino segera memasukan potongan kecil ayam goreng itu kemulutnya. Dan wajah tampannya mendadak berubah.


"Huuweeekk ... pahit sekali!" Reino memuntahkan kembali ayam yang ada dimulutnya.


"Kau jorok sekali!"


"Apanya yang enak? Jangan dimakan lagi!" Reino segera mengangkat piring yang berisi ayam goreng itu dan membuang ayamnya ke tong sampah.


"Hey ... tapi aku suka! Kenapa dibuang?" Venus memekik tak terima. Tapi Reino tak perduli.


"Hahaha ..." Sementara Johan, tawanya pecah menggema di seluruh ruangan.

__ADS_1


***


Likenya ya sayang akuh ... 💜


__ADS_2