Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 7 (S2)


__ADS_3

Hari ini Vie akan menjalani hukuman pertamanya yaitu membersihkan toilet sekolah, siswa-siswa yang lain sudah pada pulang tetapi trio gesrek masih terpaku di depan salah satu toilet yang kotor.


"Iiiuuuhhh ... jijay deh! Mimpi apa aku, harus bersihkan toilet sekotor ini?" Vie menggerutu kesal.


"Sudah nikmati saja! Hitung-hitung pahala." Ucap Raja enteng.


"Pahala dari Hongkong! Darimana ceritanya bisa jadi pahala kalau mengerjakannya tidak ikhlas?" Ujar Vie ketus.


"Makanya kau harus ikhlas! Iya kan, Din?" Raja meminta pembelaan dari Dino yang hanya diam memandang perdebatan unfaedah kedua sahabatnya itu. Sepertinya bocah yang satu ini masih berduka karena mendapat kabar kematian Naruto.


"Baiklah, kalau begitu sekarang kita kerjakan! Nah ... ambil ini!" Vie memberikan sikat kepada Raja dan Dino.


"Untuk apa ini?" Tanya Dino bingung.


"Ya untuk bersihkan toilet dong! Memangnya untuk apa lagi?" Vie menjawab dengan seenaknya.


"Lah ... kok jadi kita yang bersihkan? Yang dihukum kan kau, kumis lele!" Protes Raja dengan logat Medannya.


"Eits ... sesama sahabat harus saling tolong menolong. Memangnya kalian tega melihat aku membersihkan toilet ini seorang diri? Dimana rasa setia kawan kalian? Apa kalian sudah tidak menyayangi aku lagi." Vie berceloteh dengan penuh drama.


"Yeee ... ratu drama kumat, Ja!" Dino memutar malas bola matanya.


"Tapi ini tak adil! Aku tidak mau!" Raja menolak.


"Raja yang tampan dan baik hati, bantu aku ya? Pleaseeee ...!" Vie memohon dengan mata ala puppy eyesnya. Sungguh menggemaskan, membuat hati Raja luluh jadinya.


"Cckk ... yuk, Din ... bantu si Medusa ini!" Raja pun akhirnya pasrah. Kedua sahabat Vie itu pun membersihkan semua toilet dengan cekatan, sementara dia hanya menyiram-nyiram lantainya dengan air.


***


Setelah selesai membersihkan toilet, trio gesrek pun memutuskan untuk duduk di warung depan sekolah mereka, sementara supir yang menjemput Vie masih setia menunggu mereka.


"Ja, pesankan aku jus jeruk yang dingin dong! Aku haus sekali ini." Vie memerintah sahabatnya itu sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah.


"Pesan saja sendiri! Kenapa menyuruhku sih?" Raja berbicara tanpa memandang Vie, dia fokus mengotak-ngatik ponselnya.


"Ja, kau tega sekali! Aku lelah tahu karena membantumu membersihkan toilet." Vie memprotes seenaknya, Raja dan Dino sampai terpelongo mendengar ucapan gadis itu.


"Eh ... kerak terendam! Yang ada kita kali yang bantuin kau. Jangan memutarbalikan fakta!" Raja mengomel tak terima.


"Iya ... iya ... maaf! Ja ... Din ... pesankan aku jus jeruk dong dengan makanannya juga, terus sekalian bayarin ya?" Ucap Vie tak tahu diri.


"Wah ... lama-lama melunjak ini anak!" Kali ini Dino yang tak terima.


"Kalian kan tahu aku cuma dapat uang saku lima ribu dan sudah habis tadi waktu beli cilok, masa tega sih biarin aku kelaparan dan kehausan." Vie mulai berdrama lagi.


"Haish ... kenapa sih Tuhan takdirkan aku mempunyai teman sepertimu, menyusahkan saja!" Ucap Raja.


"Ikhlas, Ja ... hitung-hitung pahala." Ejek Dino sambil terkekeh.


"Kalau begitu kita tinggalin saja, Din. Buat apa ditemani lagi, dia sudah jatuh miskin." Raja menyindir Vie. Membuat emosi gadis itu terpancing.


"Eh ... Raja singa! Selama ini papaku menyantuni kalian, sekarang giliran anaknya susah, pada tak mau bantu?" Vie bangkit sambil berkancak pinggang. Dino dan Raja merasa bersalah dan malu sendiri.

__ADS_1


"Ya sudah, kau mau makan apa?" Tanya Raja dengan wajah sebal.


"Apa saja, yang penting bisa makan!" Jawab Vie pasrah.


"Pecel lele mau?" Tanya Raja.


"Ogah, aku tak suka lele." Vie menolak.


"Kalau nasi goreng bagaimana?" Tanya Raja lagi.


"Tidak ah, terlalu berminyak." Vie menolak lagi.


"Atau nasi kucing aja ya?" Raja bertanya sekali lagi.


"Porsinya terlalu sikit. Mana kenyang!"


"Jadi kau makan apa, ekor kadal?" Kali ini Raja bertanya dengan kesal sambil merapatkan giginya.


"Kan aku bilang terserah! Kenapa nanya terus sih? Heran deh!" Vie menjawab seenaknya, membuat Raja semakin kesal.


"Pesankan biawak rica-rica saja, Ja!" Dino berkelakar sambil tergelak karena melihat wajah kesal Raja.


"Mbak, pesan pecel lele tapi jangan pakai lele ya!" Raja berteriak memesankan makanan untuk Vie.


"Lah ... kalau tidak pakai lele, namanya bukan pecel lele dong, dek." Pemilik warung menjawab dengan bingung.


"Terserahlah apa namanya! Jangan lupa campur sianida sikit, biar yang makan cepat ...!" Jawab Raja seenaknya.


"Cepat apa?" Vie menatap tajam ke arah Raja.


"Hahaha ... kalian berdua lucu! Cocok kalau main film." Ucap Dino.


"Film apa, Din?" Tanya Raja penasaran.


"Beranak dalam kubur! Hahaha ..." Tawa Dino kembali pecah setelah meledek kedua sahabatnya itu, sepertinya dia sudah move on dari duka atas kematian Naruto.


Raja dan Vie hanya menggerutu sambil memukuli Dino.


Akhirnya pesanan Vie datang, gadis sableng itu segera menyantap makanan di hadapannya dengan lahap. Dino dan Raja sampai melongo melihat putri Reino itu.


"Ini anak lapar atau rakus sih? Makannya gitu amat." Ucap Raja bingung.


"Iya, seperti belum makan dari SD saja." Dino ikut menimpali.


"Kalian tak makan?" Tanya Vie sambil mengunyah makanan di mulutnya.


"Tidak, melihatmu makan saja, kami sudah kenyang." Jawab Raja. Vie tak menghiraukan kedua sahabat gesreknya itu, dia kembali fokus makan.


Kejadian hari ini tidak terjadi sekali, besok dan besoknya lagi masih terus berulang kejadian yang sama. Setiap hari kedua sahabat Vie itu selalu pasrah menjalani hukumannya. Bahkan Dino dan Raja bergantian membiayai makan gadis cantik itu, bermodalkan tatapan penuh harap dan kata-kata penuh drama, Vie berhasil membuat kedua sahabatnya itu luluh dan tak tega walau hati mereka menjerit karena uang saku mereka ludes.


Bahkan kuota internet pun harus mereka bagi untuk gadis yang mendadak jatuh missquine itu.


Karena Vie tak sanggup mengisi kuotanya yang habis.

__ADS_1


***


Dan disinilah Dino dan Raja berada, kedua bocah somplak itu masing-masing memeluk kaki Reino yang baru saja pulang dari kantor. Venus dan Reino bingung melihat tingkah kedua sahabat putri mereka itu, sementara Vie sedang bobok cantik di kamarnya.


"Kalian kenapa?" Tanya Reino bingung.


"Om, tolong cabut hukuman Vie. Aku mohon!" Ucap Raja memelas.


"Iya, om. Jangan hukum Vie lagi! Agar penderitaan kami berakhir." Dino ikut menimpali dengan lirih.


"Loh ... Vie yang dihukum, kenapa kalian yang menderita?" Reino semakin bingung.


"Memangnya kalian kenapa sih?" Venus yang bingung pun ikut bertanya dengan lembut.


"Hmm ... gini om ... tante, uang saku kami habis untuk membiayai makan, minum dan kuota Vie." Malu-malu Raja mengadu.


"Iya, om ... tente." Dino membenarkan.


"Oh ... jadi itu masalahnya sampai kalian minta om cabut hukuman Vie?" Reino memastikan lagi.


Duo gesrek itu mengangguk dengan wajah yang memelas.


"Ya, sudah. Ini om ganti!" Reino merogoh dompetnya.


"Tidak usah, om!" Raja dan Dino menolak karena tak enak hati.


"Tidak apa-apa. Ambillah ...!" Reino menyodorkan sepuluh lembar uang seratusan.


Mata duo gesrek pun biru melihat uang yang Reino sodorkan.


"Duit, Ja." Ucap Dino.


"Yang bilang itu rengginang siapa?" Bisik Raja.


"Nah ... ambillah! Ini untuk kalian!" Reino semakin mendekatkan uang itu ke hadapan duo gesrek.


"Baiklah kalau om memaksa, apa boleh buat!" Raja meraih uang itu.


"Terima kasih ya, om ... tante." Ujar Dino dan Raja serentak.


Venus dan Reino hanya tersenyum melihat tingkah dua bocah gesrek itu.


***


Raja : thor ... kenapa nasib kita gini amat sih?


Dino : iya, apes terus bawaannya kalau di dekat si Vie.


Vie : apaan sih kalian? Masih aja protes, kan sudah dapat sejuta, lumayan buat beli cutton bud.


Author : jangan lupa bagi tiga ya? 😂


Raja : apanya thor? Cutton budnya?

__ADS_1


Author : duitnya, bambang! 😭


__ADS_2