
Venus sedang berjalan menuruni anak tangga, tiba-tiba matanya tertuju kepada satu sosok yang sedang berdiri di depan lemari guci antik peninggalan kakek Reino. Venus yang penasaran, segera menghampiri sosok itu.
"Ina ... sedang apa kau?" Venus bertanya. Ternyata sosok yang dimaksud adalah Ina.
"Saya sedang membersihkan guci-guci antik ini, Nona. Hari ini jadwal bersih-bersihnya." Ina berbicara sambil mengelap sebuah guci yang besar.
"Oh ... jadi kau yang dipercayakan untuk membersihkan guci-guci antik ini?"
"Iya, Nona. Dulu sih ini tugas ibu saya, tapi setelah ibu saya meninggal, ini menjadi tugas saya." Lanjut Ina.
"Oh ... jadi ibumu juga pernah bekerja disini?" Tanya Venus lagi.
"Iya, Nona."
Tiba-tiba Erik dan Reino datang dari luar rumah, mereka baru saja memberi keterangan di kantor polisi. Sejak rahasianya terbongkar, Erik merubah penampilannya. Pria itu semakin terlihat tampan dan modis dengan gaya barunya, tentu saja dia melakukan semua itu atas permintaan Reino.
"Wah ... kak Hendrik semakin tampan saja deh. Keren sekali!" Venus meledek Erik, walaupun dalam hati dia memang mengakuinya.
"Hey ... kenapa kau hanya memuji kakak sepupuku? Adiknya ini juga semakin tampan." Reino memprotes karena cemburu. Sementara Erik hanya tersenyum menanggapi ucapan kedua pasutri itu.
Mendengar kata-kata Reino, Ina yang tidak tahu menahu tentang kejadian kemarin dan kedok Erik pun tersentak kaget. Tanpa sengaja gadis itu menyenggol guci antik besar yang sedang dia bersihkan.
Prrrraaanggg ...
Guci antik itu terjatuh dan hancur menghantam lantai. Sontak membuat Reino, Venus dan Erik menoleh ke arah Ina dengan wajah terkejut. Bahkan Reino maupun Venus sampai melotot dan membuka mulutnya.
"Apa yang kau lakukan?" Reino berteriak sembari berjalan menghampiri Ina dengan raut wajah marah.
"Ma ... maaf, Tuan ... saya tidak sengaja." Ina tertunduk takut.
"Bertahun-tahun guci ini dijaga dan kau malah menghancurkannya?" Reino membentak Ina.
"Sudahlah, sayang ... dia kan tidak sengaja! Memangnya kalau kau marah-marah, guci itu bisa utuh lagi? Nggak kan?" Venus mengelus pundak Reino dan berusaha meredam amarahnya.
"Ini apa?" Erik memungut sesuatu yang tertangkap indera penglihatannya. Reino dan Venus segera melirik benda yang terlihat seperi buku dalam ukuran kecil itu.
"Ini terlihat seperti buku harian. Tapi darimana datangnya? Dan punya siapa?" Reino merebut buku itu dari tangan Erik.
"Sepertinya dari dalam guci yang pecah itu." Ucap Venus.
Reino membuka buku catatan harian itu dan membaca lembar demi lembar isinya, "Ini milik kakek."
__ADS_1
Lalu dipertengahan buku itu, Reino menemukan sebuah surat.
"Surat apa ini?"Reino membuka surat itu. Mata Reino membulat sempurna setelah membacanya.
"Ada apa? Apa isi surat itu?" Tanya Erik sedikit penasaran.
"Bacalah sendiri!" Reino menyodorkan surat itu kepada Erik.
Erik segera meraihnya dan membacanya dengan seksama. Mendadak wajah Erik berubah, tatapannya sulit di artikan.
"Kemarikan buku itu! Dia harus melihat semua ini." Erik merampas buku catatan harian yang dipegang oleh Reino dan melangkah pergi dengan terburu-buru.
"Hey ... kau mau kemana?" Reino berteriak kebingungan.
"Rein, ada apa?" Tanya Venus juga dalam keadaan bingung.
"Nanti aku akan menceritakan semuanya. Kau tetap disini! Aku akan menyusul Erik." Reino pun ikut berlalu menyusul Erik.
***
Erik dan Reino sudah berada di kantor polisi, dibalik jeruji besi seorang pria tua yang tak lain adalah Tomi sedang memandang mereka dengan tatapan tidak suka.
"Untuk menyerahkan ini." Erik menyerahkan buku catatan harian itu kepada ayahnya.
"Apa ini?" Tomi menerima buku itu dengan penasaran.
"Bacalah! Itu curahan hati kakek."
Tomi membuka lembar pertama dan membacanya, ekspresinya mendadak berubah sendu.
Aku tak tahu harus seperti apa mengungkapkannya.
Aku mungkin bukan ayah yang baik untuk anak-anakku, tapi aku menyayangi mereka dengan sepenuh hatiku. Tomi dan Thomas, kalian hartaku yang paling berharga.
Tomi membuka lembar kedua dan kembali membacanya.
Aku tak pernah berniat membeda-bedakan putraku, hanya saja keadaan memaksaku untuk berlaku tidak adil. Kasih sayangku tetap sama untuk kedua putraku.
Di lembar berikutnya, wajah Tomi semakin penuh kesedihan.
Putraku Tomi, maafkan ayah yang tak bisa mengakuimu di hadapan dunia. Ini semua salah ayah.
__ADS_1
Tapi kau harus tahu, ayah sangat menyayangimu sama seperti ayah menyayangi adikmu.
Hanya saja ayah tak mampu melawan takdir, sehingga kau hanya dianggap anak angkat. Maafkan ayah ...
Tomi kembali membuka lembaran buku itu dengan perasaan yang bergemuruh, matanya mulai berkaca-kaca.
Untuk kedua putraku, sekarang kondisi ayah sedang tidak baik, ayah takut suatu saat Tuhan memanggil ayah untuk menghadapNya. Maka dari itu ayah telah persiapkan semuanya agar tidak terjadi keributan.
Untuk Tomi anakku ...
Maaf, ayah hanya bisa menghibahkan 30% harta ayah kepadamu. Bukan karena ayah tak menyayangimu, tapi karena seluruh dunia mengetahui jika kau hanya anak angkat, ayah tak bisa memberikan lebih untukmu. Andai ayah bisa, ayah pasti akan membaginya secara adil. Ayah sudah persiapkan surat hibahnya, tinggal menunggu tanda tangan notaris saja.
Untuk anakku Thomas ...
Ayah memberimu harta 70% karena seluruh dunia tahu kaulah putra kandungku, tapi kau harus tetap membantu saudaramu. Jalani perusahaan dengan baik dan selalu rendah hati. Ayah berharap kalian selalu akur dan saling menyayangi.
Air mata Tomi mulai jatuh, terbesit penyesalan dan kesedihan di dalam hatinya. Dengan tangan yang gemetar, Tomi membuka selembar surat yang terselip di buku harian itu.
Ternyata itu surat wasiat dari Bram yang berisi pernyataan hibah 30% hartanya untuk Tomi tapi belum di tanda tangani notaris.
Melihat surat itu, tangis Tomi pecah. Betapa menyesalnya dia telah melakukan semua ini karena berfikir Bram tidak adil dan membedakannya. Dia sampai menghabisi adiknya sendiri karena salah paham, dia berfikir Bram lebih menyayangi Thomas. Dia telah dibutakan oleh kedengkian dan keserakahannya sendiri, bahkan dia harus kehilangan putrinya karena semua itu.
"Maafkan aku ... maafkan aku ...!"Tomi bersujud sambil memeluk surat dan buku harian itu, air mata penyesalannya menetes tanpa henti.
Erik dan Reino yang melihat semua itu pun ikut terharu, bahkan air mata mereka pun ikut terjatuh.
Sekarang mereka paham, mengapa Bram melarang orang lain menyentuh guci-guci antik itu selain orang yang dia percaya untuk membersihkannya, walaupun pun mereka masih bingung, apa alasan Bram menyimpan buku harian dan surat hibah itu di dalam guci?
Yang pasti, kematian mendadak Bram membuatnya tak sempat menyampaikan surat itu kepada Tomi dan semua orang.
Sementara di sebuah rumah sakit, Liana sedang duduk melamun sambil memeluk sebuah guling, tatapan matanya kosong dengan mulut yang berbicara sendiri.
"Kalian tahu, mereka jahat! Dianaku hilang ... Dianaku pergi jauh sekali." Liana terisak sambil memeluk guling itu.
"Reino ... kau sudah menjadikan Dianaku tumbal cintamu, kau membuat Dianaku sedih. Diana ... Diana anakku, pulanglah sayang, temani mama main, kita akan main boneka bersama. Hahaha ... kamu yang jadi ibunya ya?" Liana meracau tak karuan, sebentar menangis lalu tertawa tanpa sebab.
Sejak mendengar kabar Diana meninggal, Liana syok berat dan menjadi depresi, sehingga membuat kejiwaan wanita itu terganggu. Liana terpaksa dirawat di rumah sakit jiwa karena kondisinya itu.
***
Likenya dong sayang akuh ...💜
__ADS_1