Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 46


__ADS_3

"Sekali tepuk, dua lalat bodoh akan mati. Aku akan menghancurkan kalian secara bersamaan." Lanjut pria itu lagi dengan seringai liciknya.


"Tuan ..." Pria misterius pelaku penembakan tadi sudah tiba di hadapan bosnya dengan menundukkan kepala memberi hormat, dia lolos dari kejaran polisi dan pengawal Reino.


"Kerjamu bagus! Acara nggak bermutu itu hancur dalam sekejab."


"Maaf, Tuan ... tapi mengapa Anda meminta saya menembak model itu, kenapa saya tidak boleh menembak salah satu dari mereka?" Pria misterius itu terlihat bingung karena sebelum melakukan aksi penembakakn tadi, dia dilarang oleh bosnya itu untuk menembak ke arah Reino dan sekutunya.


"Kau bodoh atau apa? Disana juga ada putraku, bagaimana kalau tembakan pelurumu mengenainya? Kau fikir aku orang tua seperti apa yang membiarkan anaknya terancam." Pria paruh baya itu mendadak kesal dan marah-marah.


"Maafkan saya, Tuan!" Pria misterius itu menunduk takut.


"Sekarang pergilah, aku ingin menikmati kemenangan pertamaku." Pria tua licik itu mengusir semua pengawalnya beserta pria misterius itu keluar dari ruangannya.


Beberapa saat kemudian, pintu ruangan pria tua itu dibuka dengan kasar, dari balik pintu itu muncul seorang pria dengan tatapan tajam dan wajah penuh amarah.


"Hentikan semua ini!"


"Kau datang?" Pria tua itu terperanjat melihat seseorang di hadapannya.


***


Reino dan Vino sudah selesai memberi keterangan di kantor polisi, Vino menghantarkan Reino pulang, karena mobil Reino masih dipakai Erik untuk mengantar Venus.


"Apa kau memiliki musuh atau saingan bisnis?" Vino bertanya dengan hati-hati, salah bicara sedikit saja, pria dingin di sampingnya ini bisa marah-marah nggak jelas.


"Sepertinya tidak!" Reino menjawab acuh.


"Lalu siapa dia? Apa motif nya?" Vino sejenak berfikir.


"Entahlah, mungkin saja dia musuhmu!" Reino menjawab seenaknya.


"Aku anak yang baik, mana mungkin punya musuh. Semua orang menyukaiku." Ucap Vino dengan percaya diri.


"Ciih ... rasa percaya dirimu besar sekali!"


Lalu keheningan menyelimuti keduanya, sampai akhirnya Vino memberanikan diri untuk bersuara lagi.


"Hey ... Rein, aku ingin bertanya sesuatu." Vino memperlambat laju mobilnya.


"Apa?"


"Sebenarnya apa hubunganmu dengan Venus? Aku yakin dia bukan sekedar asistenmu." Vino mulai memancing Reino.


"Kenapa kau usil sekali?" Reino menjawab tanpa menoleh kearah Vino karena dia berusaha menutupi kegugupannya.


"Aku hanya penasaran saja. Ayolah ... Rein, katakan!" Vino terus memancing dan sedikit memaksa.

__ADS_1


Ada jeda sejenak, Reino terlihat melamun, dia terfikir sesuatu.


Kenan ... iya, dokter gila itu pasti sudah mengatakan bahwa Venus adalah sepupuku.


Dan sekarang Si kecoa ini sedang memancingku.


"Sebenarnya dia sepupuku!" Reino akhirnya menjawab pertanyaan Vino tadi, tentunya dia masih berbohong.


"Hmmm ... sepupu? Lalu dimana tempat tinggalnya?" Vino mulai lagi dengan pertanyaan berikutnya, membuat Reino sedikit kesal tapi dia masih bersabar agar tetap terlihat tenang.


"Dia tinggal bersamaku." Reino menjawab dengan malas, pura-pura fokus memandang layar ponsel di hadapannya.


"Apa dia punya saudara? Misalnya seorang Kakak laki-laki." Vino bertanya lagi dan kali ini pertanyaannya benar-benar membuat Reino kesal tingkat dewa.


"Kau benar-benar usil sekali ...!!! Kenapa kau terus bertanya tentangnya?" Reino mencak-mencak.


"Aku hanya ingin tahu, mungkin saja suatu saat nanti kami berjodoh!" Vino menjawab seenaknya dengan senyum jenaka menghiasi bibirnya. Dia sengaja membuat kesal Tuan Muda dingin ini untuk membalas sikap kasarnya.


"Kau ini ... dia sudah menikah! Buang saja angan-anganmu itu!"


"Wah ... benarkah? Sayang sekali ya? Jadi dia tinggal bersama suaminya di rumahmu?" Vino masih terus menggoda Reino.


(Usil sekali ya Vino)


"Begitulah! Kalau suaminya tahu, kupastikan kau akan berhenti bernafas!" Tuan Muda mulai mengeluarkan hobi mengancamnya.


"Hahaha ... mengerikan!" Vino terkekeh geli mendengar ancaman Reino.


***


Hari sudah beranjak malam, rembulan mulai mengintip di balik mega hitam dan bintang-bintang pun telah menampakkan sinarnya. (Uhuy ... puitis banget author ni)


Reino sedang duduk termenung di tepi ranjangnya, tatapan pria itu kosong lurus ke depan. Venus yang baru saja masuk segera mendekati Reino dan mengagetkan suaminya itu.


"Hey ... lagi latihan jadi patung ya?" Venus mendudukkan tubuhnya di hadapan Reino, membuat pria itu sedikit terkejut.


"Cckk ... bikin kaget aja!"


"Masih memikirkan kejadian di acara launching tadi ya?" Venus bertanya.


"Hemmm ..."


"Sudah ada gambaran siapa pelakunya?" Lanjut Venus lagi.


"Belum."


"Jadi bagaimana kondisi model yang tertembak itu?"

__ADS_1


"Dia sudah lebih baik, untung pelurunya nggak menembus organ dalam." Reino menjawab dengan wajah yang melas.


Sebenarnya bukan kejadian penembakan itu yang membuatnya gusar, melainkan pertanyaan-pertanyaan Vino tadi.


Entah kenapa Reino menjadi semakin takut jika suatu saat terbukti Vino adalah Kakaknya Venus dan gadis itu lebih memilih keluarganya.


Mungkin benar kata Erik, mereka harus mendaftarkan pernikahan mereka agar sah dimata negara dan mereka harus segera memiliki anak.


"Hmm ... besok kita akan kerumah orang tuamu." Reino berkata tanpa basa basi.


"Mau apa kesana?" Venus terlihat bingung.


"Mau mengambil berkas-berkasmu, aku akan mendaftarkan pernikahan kita agar sah dimata negara."


"Haa ...? Kenapa kau tiba-tiba terfikir seperti itu?" Venus semakin bingung dengan keputusan Reino yang mendadak ini.


"Agar kau tidak bisa lari dariku!"


"Memangnya aku mau lari kemana? Kau kan tahu keluargaku tidak mau menerimaku lagi." Venus merengut.


"Mana tahu. Mungkin saja suatu saat kau lari kepelukan pria lain seperti tadi." Reino memutar kembali memori saat Vino memeluk tubuh istrinya itu.


"Hey ... mulutmu itu kalau bicara jangan sembarangan ya! Bukan aku yang berlari kepelukannya tapi dia yang tiba-tiba memelukku!" Venus sudah berdiri sambil berkancak pinggang dengan tatapan tajam setajam silet.😛 Tak terima dengan tuduhan suaminya itu.


"Berani sekali kau!" Tatapan penuh emosi Reino lebih menyeramkan, Venus menelan salivanya dengan susah payah. Mendadak dirinya menyesal sudah bersikap tidak sopan kepada Tuan Muda ini.


"Maaf ... habis kau menuduhku sembarangan, aku jadi kesal." Venus tertunduk dengan bibir yang dimonyongi ke depan. Sumpah demi apapun, Reino sangat gemas jika melihat tingkah istrinya itu.


Reino segera menarik Venus hingga terjatuh ke atas pangkuannya, gadis itu tersentak kaget dan wajahnya mulai bersemu merah.


"Aku akan menghukum bibirmu yang nakal ini!" Reino merangkum kedua sisi wajah Venus dan menatap netra hitamnya dalam-dalam.


"Kau selalu saja memanfaatkan situasi!" Venus menggerutu kesal dengan wajah merah merona.


"Kenapa wajahmu merah begitu? Kau lucu sekali." Reino menggoda Venus, membuat gadis itu hampir gila karena malu.


Reino menarik wajah Venus mendekat ke wajahnya, gadis itu memejamkan mata, rasanya sungguh malu kalau harus memandang suaminya dengan jarak kurang lebih 5 centi meter begini. Lalu ...


Cuup ...


Satu kecupan mendarat dibibir ranum Venus.


"Aku mau anak dari kamu!" Reino berbisik mesra ditelinga Venus, seketika gadis itu membuka matanya dengan membulat sempurna.


Belum sempat Venus berkata apa-apa, Reino membalik tubuh Venus lalu menghempaskannya ke atas ranjang. Reino pun segera melancarkan aksinya menuju proses pembuatan dedek bayi.


Maaf adegannya aku skip ya, biarkan mereka berdua saja yang tahu seperti apa proses pembuatan dedek bayi versi mereka.

__ADS_1


***


Jangan lupa like, rate 5 dan vote banyak-banyak ya ...


__ADS_2