
Venus berjalan lemah keluar dari ruang ICU dengan mata yang sembab dan basah, guratan-guratan kesedihan masih tercetak jelas di wajah cantiknya.
Alvin semakin merasa iba dan cemas melihat keadaan gadis yang dia sukai itu.
"Kau baik-baik saja?" Alvin memandang lekat wajah Venus.
"Aku merasa sangat menyesal!" Venus tertunduk menyembunyikan air matanya yang kembali jatuh.
"Hey ... jangan menangis lagi! Doakan semoga dia baik-baik saja."
"Tapi aku takut nggak sempat meminta maaf kepadanya, Vin." Venus mendongakkan kepalanya memandang Alvin dengan air mata yang mengalir deras.
"Sudah, tenang lah!" Alvin spontan menarik Venus ke dalam dekapannya, naluri lelakinya menuntun dirinya untuk melakukan itu. Tangisan Venus pecah di dalam dekapan Alvin, menumpahkan semua kesedihan dan air matanya di didada pria itu.
Alvin mengelus lembut rambut panjang Venus, berusaha menenangkannya. Sejenak suasana menjadi hening, hati Alvin ikut merasakan kesedihan Venus.
"Berengsek ...!" Suara teriakan Reino menggelegar memecah keheningan. Reino berjalan dengan cepat dan menarik kasar Venus agar terlepas dari dekapan Alvin.
"Tuan ...!" Mata Alvin membulat sempurna melihat Reino menatapnya dengan penuh kemarahan. Sementara Venus terdiam memandangi suaminya itu dengan tatapan ambigu.
Buuuugghh ...!
Dengan cepat Reino melayangkan pukulannya ke wajah Alvin, membuat sekretarisnya itu mundur beberapa langkah dan hampir terjatuh.
"Tuan Muda, jangan ...!" Erik berteriak mencegah Reino, tapi majikannya itu tidak menghiraukannya.
Reino kembali menghampiri Alvin dan memukul pria itu untuk kedua kalinya, Venus yang melihat itu pun tak tinggal diam, dia segera berlari ke hadapan Reino dan menutupi Alvin dengan tubuh mungilnya.
"Hentikan ...!" Venus berteriak.
Plaaaaakk ...
Venus menampar kuat wajah Reino, membuat suaminya itu terkejut bukan main, dia nggak menyangka Venus akan melakukan ini kepadanya. Begitu juga dengan Erik dan Alvin, kedua pria itu juga tak kalah terkejutnya dengan aksi Venus.
"Kau ...?" Reino memandang Venus dengan mata yang memerah.
Venus terdiam memandang Reino dengan nafas yang naik turun. Mendadak kasih sayang dan sisi baik didirinya hilang entah kemana.
"Berani sekali kau menamparku dan membela dia?" Reino menatap tajam Venus.
__ADS_1
"Kenapa? Kau tidak terima ...?"
Reino menghela nafas kasar, mencoba menahan amarahnya yang sudah naik sampai keubun-ubun. Dia nggak ingin bertindak kasar kepada istrinya itu.
"Ayo kita pulang!" Reino meraih tangan Venus dan menarik gadis itu agar ikut dengannya.
"Lepaskan aku ...!!! Aku ingin tetap disini menemani kakaku!" Venus menghempaskan tangannya agar terlepas dari tangan Reino.
Sekali lagi Reino bahkan Erik terkejut bukan main mendengar kata-kata Venus.
"Apa katamu?"
"Kenapa ...? Kau terkejut karena aku sudah mengetahuinya?" Venus tersenyum sinis.
"Kau tahu dari mana?" Tanya Reino penasaran.
Venus merogoh tasnya dan mengambil selembar kertas yang berisi hasil tes DNA tadi lalu melemparkannya kewajah Reino dengan kasar, hingga kertas itu terjatuh ke lantai.
Reino memungut kertas itu dari lantai dan membacanya dengan teliti, mata Reino melotot seperti hampir keluar saat membaca isi kertas itu.
"Kau sudah tahu semua ini sebelumnya kan? Kau tahu aku bukan putri kandung keluarga Winata, bahkan kau sengaja menyembunyikan gelang sebagai petunjuk jati diriku itu dan menutupi siapa yang mendonorkan darah untukku. Pantas saja waktu itu kau bilang mengetahui semua tentangku. Kenapa kau melakukan semua ini? Kenapa ...?" Venus meluapkan kesedihan dan isi hatinya kepada Reino. Air mata gadis itu kembali turun membasahi pipinya.
"Kalau saja dari awal kau jujur kepadaku, pasti malam itu aku tidak akan menolaknya dengan begitu kejam. Kecelakaan itu pasti nggak akan terjadi, kakakku pasti nggak terbaring koma seperti ini. Kau jahat ...! Aku membencimu ...!!" Venus menangis sejadi-jadinya. Mendadak bahunya merosot ke bawah dan lututnya terhempas ke lantai, Venus tersimpu di kaki Reino. Dengan cepat Alvin dan Reino serentak ingin mengangkatnya, tapi gadis itu menepis tangan mereka.
"Aku mohon pergilah dari hidupku! Anggap saja aku sudah mati dan menjadi tumbal dihidupmu, aku benar-benar nggak ingin melihatmu lagi." Venus mengatupkan kedua tangannya memohon kepada Reino dalam posisi masih bersimpu. Lagi-lagi Reino dan Erik dibuat terkejut dengan kata-kata Venus, begitu juga dengan Alvin yang semakin bingung dengan semua drama ini.
Akhirnya apa yang Reino takutkan benar-benar terjadi.
"Nggak ...! Aku mohon jangan seperti ini, aku nggak akan pergi dari hidupmu!" Reino berjongkok mensejajarkan pandanganya dengan Venus dan ingin memeluk istrinya itu, tapi Venus mendorong tubuh Reino dengan kuat hingga pria tampan itu terduduk di lantai.
"Jangan menyentuhku! Aku nggak sudi disentuh oleh manusia yang nggak punya perasaan sepertimu! Pergi kau ...!" Venus beranjak dan berlari meninggalkan Reino.
"Venus .... Venus ...!!!" Reino ingin mengejar gadis itu tapi Erik menahannya.
"Jangan, Tuan! Biarkan Nona tenang dulu!" Erik melarang Reino.
Sementara Alvin buru-buru mengejar Venus tanpa menghiraukan Reino maupun Erik yang memandangnya.
"Kau dengar tadi apa yang dia katakan? Aku bisa mati jika hidup tanpa dia." Reino tertunduk, tanpa sadar air matanya jatuh menetes.
"Tenanglah, Tuan!" Erik memegang erat bahu Reino seolah memberi kekuatan dan ketenangan untuk majikannya itu.
__ADS_1
Inilah yang aku takutkan jika kau menutupi semuanya, Reino.
Akhirnya terjadi juga, Andai kau tidak egois dan keras kepala. Anggaplah ini pelajaran untukmu agar kau lebih dewasa.
"Erik, cari tahu siapa yang memberi informasi kepada Venus! Dia pasti orang yang sangat dekat dengan kita." Reino memberi perintah, memecah lamunan Erik.
"Baik, Tuan!" Erik mengangguk patuh.
***
Venus berlari keparkiran, dia mengabaikan semua mata yang memandang aneh kepadanya karena berlari sambil menangis. Erik pun menghampiri Venus dan memandang gadis itu dengan penuh tanda tanya, tapi dia enggan bertanya apa pun untuk menghargai privasi Venus.
"Vin, maaf ya karena aku sudah menyusahkanmu. Sekali lagi kau terluka karena aku." Venus merasa bersalah dan tak enak hati.
"Nggak apa-apa! Aku nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku merasa, aku harus menjagamu." Alvin sedikit tersenyum sambil meringis menahan sakit diwajahnya.
"Terima kasih ya! Sebaiknya sekarang kau pulang, aku nggak ingin merepotkanmu lagi."
"Ssstt ... sudah! Jangan katakan itu lagi. Aku akan tetap di dekatmu sampai kau benar-benar sudah membaik." Alvin meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Venus.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu?" Venus merasa bingung, bagaimana mungkin Alvin bisa bekerja lagi di Grafika Grup setelah kejadian tadi?
"Sudah, jangan difikirkan. Aku masih bisa bekerja di tempat lain." Alvin tersenyum manis.
"Sekarang kau mau kemana? Biar aku antarkan!" Alvin menawarkan diri.
"Hmmm ... entahlah! Aku hanya ingin menghindari dia saja." Venus tertunduk sedih. Sejujurnya dia pun nggak tahu apakah bisa melupakan Reino dan pernikahan mereka. Tapi hatinya terlalu sakit untuk memaafkan suaminya itu.
"Baiklah, kita makan siang saja! Jangan coba-coba menolak!" Alvin mencolek hidung Venus, dan gadis itu memaksakan senyuman dibibirnya.
Dari kejauhan Reino memandang kedua orang itu dengan perasaan geram, ingin rasanya dia menghampiri mereka dan menarik Venus pulang. Tapi Erik melarangnya agar Venus tidak semakin marah dan membencinya. Akhirnya Reino hanya pasrah melihat kepergian Venus dan Alvin.
***
Sekedar info, setiap hari minggu, author nggak up ya, mau istirahatkan otak karena udah lelah mikir seminggu penuh...hehehe
Sekalian mau persiapan novel baru.
Tapi karena author lagi baik hati, ini author up 1 bab lagi... hehehehe
Jangan lupa dukungannya utk author ya sayang akuh....💜
__ADS_1