
Tiba-tiba seseorang yang sangat Venus kenal memasuki ruangan private itu dengan wajah dinginnya, Venus terkesiap melihat kedatangannya.
"Maaf ... saya sedikit terlambat!"
"Kau ...?" Mata Venus membulat sempurna melihat kedatangannya.
"Selamat malam, Nona Muda. Bagaimana kabar Anda." Seseorang yang baru saja datang itu adalah Erik Si pengawal setia Reino.
"Aku baik! Ada apa kau datang kesini? Apa kalian bersekongkol?" Venus memandang Erik dan Kenan bergantian untuk meminta penjelasan.
"Tadi dia menghubungiku dan menceritakan semuanya, lalu memintaku untuk membawamu kesini." Kenan membeberkan semuanya dengan jujur. Pandangan pria jenaka itu sudah beralih dari daftar menu dan kini menatap Venus yang duduk di hadapannya.
"Apa yang kalian rencanakan? Atau jangan-jangan dia juga ..." Venus melirik pintu ruang private, cemas kalau-kalau Reino juga ikut hadir.
"Dia tidak akan datang kesini, Nona. Dia bahkan tidak tahu jika aku menemuimu." Erik yang mengerti dengan fikiran Venus segera menjawab keresahan hati Nona Mudanya itu.
"Kau yakin?" Tanya Venus untuk memastikan.
"Iya, saya yakin. Tuan Muda tidak akan keluar kemana-kemana kalau bukan untuk menemui Nona seperti tadi siang." Ucap Erik. Kenan hanya diam memperhatikan pria itu bicara.
"Maksudnya?"
"Sudah beberapa hari ini Tuan Muda Reino hanya tinggal di kamar, dia tidak ke kantor atau kemana pun, bahkan dia tidak berselera untuk makan. Dia hanya malas-malasan di kamar." Wajah Erik mulai menyedih.
"Kau pasti sedang berusaha menarik simpatiku kan?" Venus bersikap tak acuh walau pun sesungguhnya hati gadis itu sedang merasa cemas.
"Tidak Nona, saya mengatakan yang sebenarnya. Sejak Nona pergi, Tuan Muda seperti tidak memiliki semangat hidup. Dia hanya menghabiskan hari-harinya di dalam kamar hotel, dan bahkan mengabaikan urusan kantor." Erik menghela nafas kasar, berusaha menenangkan hatinya yang merasa iba dengan apa yang terjadi kepada majikannya itu.
__ADS_1
"Hotel ...? Kenapa dia tidak pulang ke rumah? Lalu siapa yang menangani urusan kantor? Bahkan Alvin juga sudah tidak ada." Venus memberondong pertanyaan itu kepada Erik, karena rasa khawatirnya semakin besar.
"Tuan tidak mau pulang ke rumah karena disana ada Nona Diana, dia nggak ingin Nyonya besar atau pun Nona Diana mengganggunya. Kalau masalah kantor, Tuan sudah serahkan kepada Nona Dira. Dia asisten Tuan yang Nona gantikan." Erik menjelaskan.
"Apa ...? Wanita rubah itu datang lagi? Mau apa dia?" Tiba-tiba hati Venus terasa panas mengetahui kehadiran Diana.
"Ya tentu saja mau merebut suami gilamu itu!" Jawab Kenan seenaknya sambil memutar malas bola matanya.
"Kau ...?"
"Aku tahu semua yang terjadi, dia sahabatku ... dan aku sangat mengenal baik dirinya. Dia tidak akan menduakanmu, tenang saja!" Lanjut Kenan cepat. Walaupun nada bicaranya serius tapi tetap saja wajah jenakanya nggak bisa ditutupi.
"Nona, saya mohon pulanglah! Tuan Muda sangat merindukan Anda, saya nggak pernah melihatnya sekacau ini karena wanita." Erik memandang Venus penuh harap. Dia berusaha mengetuk pintu hati Venus agar mau memaafkan Reino.
"Tapi dia sudah keterlaluan! Dia menutupi jati diriku dan karena perbuatannya, aku sampai menolak Kakakku yang hampir kehilangan nyawanya. Bahkan sampai sekarang Kakakku masih terbaring di rumah sakit." Venus meluapkan kekesalan dan isi hatinya.
"Nona Muda, saya tahu dia sedikit keterlaluan, saya juga tahu jika Anda dan Tuan Vino pasti marah. Tapi Anda pun harus tahu apa alasan Tuan Muda melakukan semua ini." Erik berbicara dengan raut wajah serius.
"Tuan Muda memang tahu jika Nona bukan putri kandung Tuan Winata, tapi dia tidak mengetahui dengan pasti bahwa Tuan Vino adalah Kakak kandung Nona. Tuan sudah mencari tahu tentang Nona bahkan sampai ke panti asuhan tempat Nona berasal, tapi tak banyak petunjuk yang dia dapat." Erik mengungkapkan semua yang dia ketahui.
"Lalu mengapa dia merahasiakan pendonor darah itu adalah Kak Vino?" Tanya Venus.
"Awalnya dia merahasiakan itu karena nggak ingin Nona merasa berhutang budi kepada Tuan Vino, dia cemburu saat Tuan Vino mendekati Nona. Itu buktinya bahwa Tuan Muda tidak mengetahui jika Tuan Vino adalah Kakak kandung Nona, dia juga baru mengetahuinya saat Nona memberikan hasil tes DNA itu." Wajah Erik semakin menyedih, dia berusaha sebisa mungkin untuk meyakinkan Venus dan meruntuhkan tembok keegoisan dihati gadis itu.
"Tapi seharusnya dia bisa menceritakan semuanya dari awal kepadaku, kenapa harus menutupinya begini? Sehingga aku harus nengetahui semuanya dari orang lain." Suara Venus mulai bergetar, cairan bening dipelupuk matanya pun jatuh tak tertahankan lagi.
"Nona Muda ... dia melakukan semua ini karena takut kehilangan Nona, dia takut Nona akan pergi meninggalkannya jika Nona sudah menemukan keluarga kandung Nona. Mengingat status pernikahan kalian dan perlakuan Nyonya Besar kepada Nona. Apalagi Nona selalu berkata ingin bercerai darinya, Tuan Muda takut itu benar-benar terjadi." Lanjut Erik lagi. Venus menangis sesunggukan, badannya sampai berguncang. Kenan mengusap pelan pundak Venus untuk menenangkan gadis itu.
__ADS_1
"Kenapa dia berfikir sebodoh itu?"
"Karena dia sangat mencintai Nona, saya bisa melihat semua itu. Selama saya di dekatnya, baru kali ini Tuan Muda begitu. Dia sangat perduli dan mengkhawatirkan Nona, bahkan dia bisa bertingkah konyol karena Nona. Tak bisakah Nona merasakan semua itu?" Erik memandang lekat wajah cantik Venus, menanti jawaban dari bibir mungil gadis itu.
Tangis Venus semakin menjadi, gadis itu tak menjawab pertanyaan Erik. Mendadak dia merasa telah jahat dan keterlaluan kepada Reino tapi di sisi lain dia juga merasa kecewa dengan sikap suaminya itu.
"Dan tahukah Nona, Tuan telah mendaftarkan pernikahan kalian agar sah secara hukum negara, agar Nona menjadi istri yang benar-benar diakui. Bahkan Tuan ..." Erik ragu untuk melanjutkan kata-katanya, seharusanya ini bukan jatah bicaranya.
"Bahkan apa ...?" Tanya Venus tak sabar.
"Maaf Nona, tidak jadi!" Erik mengurungkan niatnya untuk bicara. Dia merasa kelewat batas jika mengatakannya.
"Katakan ...! Jangan membuatku penasaran!" Venus meninggikan nada bicaranya.
"Bah ... bahkan Tuan Muda menginginkan seorang anak dari Nona. Maaf ... Nona." Erik menunduk. Akhirnya kata-kata itu lolos dari mulutnya, wajah Erik kini memerah karena malu telah mengatakan hal yang sangat pribadi itu.
Begitu juga dengan Venus, pipi gadis itu pun bersemu merah mendengar perkataan Erik barusan.
"Wah ... ternyata bocah gila itu sudah ingin menjadi seorang Ayah. Hahaha ..." Kenan mulai berkelakar sambil tergelak, memecahkan suasana canggung antara Erik dan Venus.
"Nona, sekali lagi saya mohon ... maafkan Tuan Muda dan pulanglah!" Erik kembali memandang Venus dengan penuh harap.
"Lalu bagaimana dengan Kakakku?"
"Kalian bisa membicarakan semua ini baik-baik, Tuan Muda juga sudah berjanji akan meminta maaf kepada Tuan Vino." Ucap Erik.
Venus terdiam, gadis itu tampak berfikir, berusaha mencerna situasi ini dan mnimbang-nimbang kepustusan apa yang harus dia ambil. Rasa kecewa dan egois mendominasi hatinya tapi dia juga sangat iba dan merindukan suaminya itu.
__ADS_1
***
Jangan lupa likenya ya sayang akuh...