Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 91


__ADS_3

Seorang pria paruh baya sudah berada di depan pintu apartemen Shane dan segera membukanya, karena dia tahu kode sandi pintu apartemen putranya itu. Iya ... pria paruh baya itu adalah Willson, ayahnya Shane.


Mata Willson membulat sempurna saat melihat seorang wanita sedang tertidur di atas ranjang putranya.


"Hey ... bangun kau!" Ayah Shane segera berteriak membangunkan wanita tak tahu malu itu.


Wanita yang tak lain adalah kekasih Shane itu tersentak bangun dan memandang heran kepada Willson.


"Siapa kau?" Tanya wanita itu dengan tatapan tidak suka.


"Harusnya aku yang bertanya, siapa kau? Berani sekali kau tidur di apartemen putraku?" Willson menatap tajam ke arah wanita itu.


"Putra ...? Berarti kau ..." Wanita itu tak berani melanjutkan kata-katanya. Mendadak wajahnya berubah panik.


"Iya aku Willson, ayah dari Shane Willson. Sekali lagi aku bertanya, siapa kau? Dan sedang apa kau disini?" Willson mengulang kembali pertanyaannya.


"A ... aku Jessica. Aku kekasih putramu." Wanita yang diketahui bernama Jessica itu tertunduk sambil meremas jari-jarinya.


"Oh ... jadi kau penyebab semua ini? Karena dirimu, aku kehilangan putra, menantu dan calon cucuku. Kau perempuan ******! Sekarang juga kau pergi dari sini!" Willson sangat murka mengetahui jika Jessica lah wanita penyebab hancurnya rumah tangga Shane dan Erika.


Sebelum ke apartemen Shane, Willson sudah lebih dulu menemui Daniel untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi sehingga semua harus berakhir seperti ini, dengan penuh rasa duka dan emosi, Daniel menceritakan semuanya. Willson merasa tidak enak hati atas kelakuan putranya, dia tak henti-hentinya memohon maaf kepada Daniel dan Eliza. Tapi nasi sudah menjadi bubur, yang terjadi tak mungkin kembali dan yang telah mati, takkan hidup lagi.


"Apaaa ...? Maksudnya Shane ..." Jessica tak sanggup melanjutkan kata-katanya, tubuh wanita itu sudah gemetar.


"Iya, Shane dan Erika tewas karena kecelakaan. Dan sekarang aku minta kau pergi dari sini!" Willson mengusir wanita itu dengan penuh emosi.


Jessica segera mengemas barang-barangnya dengan perasaan sedih, dia tak bicara sepata katapun. Hatinya hancur, walaupun dia hanya selingkuhan Shane, tapi wanita itu juga mencintai Shane.


Akhitnya Jessica berjalan gontai meninggalkan apartemen Shane, air matanya tak berhenti menetes. Willson hanya menghela nafas, menahan sakit dan kesedihannya melihat apartemen putranya itu, barang-barang peninggalannya.


Willson memandang sebuah figura foto Shane, pria paruh baya itu tersenyum sambil mengusap wajah putranya.


"Tenanglah disana, putraku." Ada setitik air mata yang lolos dari pelupuk mata Willson.


***


Sudah tiga hari kepergian Erika, tapi suasana duka masih terasa di kediaman Winata, guratan kesedihan masih terukir diwajah semua orang. Hari ini Venus memutuskan pulang ke rumah Reino, walaupun berat karena harus meninggalkan Eliza dan Daniel yang masih berduka, tapi Venus tak punya pilihan, dia harus kembali ke rumah suaminya.

__ADS_1


Venus pulang dengan dijemput oleh Erik, sementara Reino sudah lebih dulu pulang ke rumah setelah acara pemakaman Erika semalam karena ada pekerjaan mendadak.


Di dalam mobil Venus terus memperhatikan Erik yang sedang fokus mengemudi, dia teringat ucapan Daniel semalam.


Flashback on ...


Venus sedang duduk sendiri di kamar Erika, dia membolak balik lembar demi lembar album foto masa kecil mereka, sesekali Venus tersenyum sembari meneteskan air matanya.


"Venus ... boleh Ayah masuk?" Daniel berdiri di ambang pintu kamar Erika.


"Silahkan, Ayah." Venus menutup album foto yang ada dipangkuannya.


"Ada yang mau Ayah sampaikan, ini tentang pengawal pribadi suamimu itu."


"Makaud Ayah ... Erik? Memangnya ada apa?" Venus menautkan kedua alisnya, memandang Daniel penuh tanya.


"Iya, sepertinya dia menyukai Erika. Lihat saja perhatiannya saat Erika sakit, dia selalu datang menjenguk Erika dan dia juga menangis saat memeluk Erika di tempat kejadian kemarin. Ayah bisa melihatnya, dia menyukai adikmu." Daniel yang sudah duduk di samping Venus segera meluapkan isi hatinya.


"Apa benar begitu, Yah? Aku tidak pernah memperhatikannya." Venus sedikit ragu.


"Ayah juga baru menyadarinya. Jika tahu begini, lebih baik Ayah menikahkan Erika dengan Erik daripada dengan bocah berengsek itu." Daniel menggeram mengingat Shane.


Daniel hanya menghela nafas, wajah tua mendadak muram.


"Kalau begitu, kau beristirahatlah! Ayah mau menemani Mamamu dulu." Daniel beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan Venus, tapi langkah kakinya terhenti sebelum sampai di batas pintu lalu pria paruh baya itu berbalik menatap Venus.


"Venus ..."


"Ada apa, Yah?" Venus bingung melihat sikap Daniel.


"Maafkan semua perbuatan Ayah dan Mama selama ini ya? Ayah menyesal sekali telah menyia-nyiakan putri sebaikmu." Suara Daniel terdengar bergetar.


Venus segera berdiri dan berhambur memeluk Daniel, gadis itu terisak di dalam pelukan ayah angkatnya itu. Sudah sangat lama dia tidak merasakan hangat pelukan seorang ayah.


"Aku sudah memaafkan Ayah dan Mama, aku berterima kasih sekali karena Ayah telah menikahkan aku dengan Reino." Venus semakin mengeratkan pelukannya dan Daniel mengelus kepala putri angkatnya itu dengan lembut.


Suasana haru pun tercipta diantara kedua ayah dan anak itu, walaupun tanpa hubungan darah, tapi bukan berarti kasih sayang tak bisa hadir di antara mereka.

__ADS_1


Flashback off ...


"Erik, kita ke taman di ujung jalan sana ya?" Venus memerintah Erik.


"Haa ... taman? Mau apa kesana, Nona?" Tanya Erik bingung.


"Sudah jangan banyak tanya!"


Erik hanya diam menuruti perintah Nona Mudanya itu walaupun hatinya bertanya-tanya, mau apa Venus kesana?


***


Erik dan Venus sudah duduk disebuah bangku taman, tadinya Erik menolak saat Venus mengajaknya, namun gadis itu terus memaksa, akhirnya Erik mengalah.


"Erik ... sejak kapan kau menyukai Erika?" Venus bertanya tanpa basa basi.


"Haa ... ma ... maksud Nona apa?" Erik mendadak gugup.


"Ayolah, Erik ... jangan berpura-pura tidak tahu maksudku! Aku tahu kau menyukai Erika, jujurlah Erik! Jangan menyimpannya sendiri, itu pasti akan menyakitkan." Venus menatap lekat wajah Erik yang berubah kikuk.


Erik terdiam, mencoba menata hatinya, berusaha mengumpulkan keberanian untuk mengakui perasaan yang dia pendam.


"Aku mulai menyukai Erika sejak pertama kali melihatnya waktu mengantarkan Nona dan Tuan ke kediaman Winata. Aku tak tahu bagaimana rasa ini bisa hadir, tapi aku cukup tahu diri, aku tak pantas menyimpan perasaan ini untuknya." Erik tertunduk menahan rasa sakit dan sedih dihatinya.


"Erik, setiap orang berhak menyimpan rasa untuk orang lain. Meskin pun tak selamanya harus memiliki tapi setidaknya kau bisa ungkapkan rasa itu, jangan memendamnya sendiri." Ucap Venus.


"Iya, tapi aku terlalu pengecut untuk mengakuinya. Sekarang rasa cintaku sudah terkubur bersama jasad Erika dan akan menjadi kenangan di memoriku." Erik menyeka setitik cairan bening yang jatuh dari matanya.


"Sabar ya, Erik. Aku yakin kau akan menemukan cinta yang lain setelah ini. Kebahagiaan pasti datang untukmu." Venus menepuk pelan pundak Erik membuat pria itu sedikit terkejut dengan tindakan Venus.


Erik hanya menganggukkan kepalanya dan memaksakan senyuman dibibirnya.


"Ya sudah, yuk pulang!" Venus segera beranjak dari duduknya. Tapi tiba-tiba pandangan Venus menghitam, kepalanya seperti berputar dan akhirnya tubuh Venus melemah jatuh menghantam tanah.


"Nona ...!" Erik yang panik melihat Venus pingsan segera mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya ke mobil.


***

__ADS_1


Warning ...!


Cerita ini sudah hampir tamat. Bakal ada kejutan dan konflik tak terduga. Akan ada rahasia besar yang terbongkar. Tunggu terus kelanjutannya ya sayang akuh ...💜


__ADS_2