
Setelah tiba di kantor, Alvin buru-buru menemui Reino di dalam ruangannya.
"Permisi, Tuan ... kita akan adakan jumpa pers 1 jam lagi." Alvin berbicara sambil sedikit menundukkan kepalanya.
"Baiklah, lalu bagaimana dengan Vino Adyatama? Apa kau sudah menghubunginya?" Reino bertanya.
"Maaf, Tuan Muda ... Tuan Vino tidak bisa dihubungi, saya juga sudah menghubungi sekretarisnya, tapi katanya Tuan Vino tidak datang ke kantor hari ini." Alvin menjelaskan.
"Apa yang dia lakukan? Apa dia mau lari dari masalah ini?" Reino menggeram.
"Ya sudah, biar aku saja yang hadir di jumpa pers itu." Lanjut Reino lagi.
"Baik, Tuan!" Alvin mengangguk setuju, kemudian berlalu dari ruangan Reino.
Sementara itu di rumah Kenan, Vino sedang duduk dengan malas sambil menyandarkan kepalanya di sofa, sudah 1 jam dia hanya begitu sambil memejamkan mata tapi tak tertidur.
"Kau kenapa? Bukankah seharusnya kau bekerja di kantormu? Kenapa malah bermalas-malasan disini?" Kenan memandang Vino dengan penuh kebingungan.
"Aku sedang tak ingin bekerja!" Jawab Vino malas, masih dengan posisi yang sama.
"Sejak kapan kau jadi pemalas begini?"
"Sejak aku menjadi temanmu! Kau telah menularkan malasmu kepadaku." Kelakar Vino untuk menghibur dirinya.
"Berengs*k kau!" Kenan melemparkan bantal sofa ke wajah Vino. Sontak pria tampan itu membuka matanya dan memandang Kenan dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia seperti telah mengingat sesuatu.
"Kenapa kau menatapku begitu?"
"Hey ... bukankah kau bilang, Venus pernah tinggal disini." Vino mendadak bersemangat.
"Iya, lalu kenapa?" Kenan mengerutkan dahinya, mencoba memahami maksud Vino yang belum dia utarakan.
"Dimana kamarnya?" Tanya Vino antusias.
"Disana." Kenan menunjuk salah satu kamar yang pernah di tempati Venus. Vino segera beranjak dan melangkah ke kamar yang ditunjukkan oleh Kenan.
"Hey ... kau mau apa?" Kenan berteriak dengan rasa penasaran tapi Vino sudah berlalu tanpa menjawabnya.
Vino memasuki kamar yang dulu pernah ditempati oleh Venus, Kenan yang penasaran pun mengikuti langkah teman baiknya itu.
Vino celingak-celinguk mencari sesuatu, dia juga membongkar laci meja nakas dan beralih ke meja hias.
"Apa yang kau cari?" Kenan semakin bingung melihat tingkah Vino.
"Aku cuma berusaha mencari sesuatu yang bisa membantuku mengungkap kebenaran." Vino berbicara tanpa menoleh ke arah Kenan, dia masih fokus membongkar laci meja hias.
Mata Vino membulat sempurna, wajahnya mendadak sumringah saat dia menemukan sesuatu di dalam sana.
"Apa ini miliknya?" Vino menunjukkan sesuatu yang dia dapat itu kepada Kenan.
__ADS_1
"Iya, tentu saja! Mana ada wanita lain yang pernah menempati kamar ini selain My Preety." Jawab Kenan dengan yakin.
"Sejak kapan kau mengganti nama adikku?" Vino tidak terima Kenan memanggil Venus dengan sebutan itu.
"Kau yakin sekali dia adalah adikmu." Kenan mengejek Vino.
"Dengan ini, aku akan buktikan kalau dia adalah adikku." Vino beranjak dari kamar itu dengan membawa benda yang dia temukan di laci meja hias tadi.
"Iya ... iya ... lakukanlah sesuka hatimu." Kenan yang mengerti maksud Vino, menjawab dengan malas.
Vino meninggalkan rumah Kenan, di dalam mobil, dia menyalakan ponselnya yang sempat dinon aktifkan karena dia nggak ingin diganggu oleh siapa pun, banyak notif panggilan masuk dan pesan.
"Astaga, aku lupa ada jumpa pers!" Vino tersadar setelah membaca pesan masuk dari sekretarisnya itu. Buru-buru dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa secepatnya tiba di gedung Grafika Grup.
***
Di ruang aula gedung Grafika Grup, wartawan dari berbagai media sudah berkumpul disana, acara jumpa pers pun akan segera dimulai, Reino sudah berdiri ditempatnya dan menyapa para awak media yang sedang meliput.
"Selamat siang semua. Terima kasih telah bersedia hadir di acara jumpa pers ini, saya langsung saja untuk mempersingkat waktu. Mengenai rumor yang beredar bahwa tragedi penembakan yang terjadi di acara launching kemaren akibat persaingan bisinis itu tidaklah benar. Tidak ada persaingan bisnis dalam kasus ini." Reino berbicara dengan tegas dan berwibawa.
"Kalau begitu apa penyebab penembakan itu terjadi, Tuan?" Seorang wartawan wanita bertanya.
"Kami juga belum tahu, sampai saat ini pihak kepolisian masih menyelidiki kasus ini." Reino menjawab dengan apa adanya.
"Lalu kemana Tuan Vino Adyatama? Mengapa dia tidak menghadiri jumpa pers ini?" Seorang pria tambun kembali bertanya.
"Aku sudah disini! Maaf aku sedikit terlambat." Vino muncul dari pintu masuk aula dan segera berjalan mendekati Reino.
Wartawan-wartawan itu kembali mencerca berbagai pertanyaan kepada Vino maupun Reino, mereka sampai menanyakan masalah pribadi kedua pria tampan itu. Kapan lagi bisa meliput jumpa pers 2 CEO muda yang sukses dan super tampan seperti mereka sekaligus dalam satu kesempatan.
"Maaf, apakah Tuan Vino belum ada rencana menikah?" Wartawan wanita berambut panjang bertanya dengan senyum mengembang.
"Kalau sudah saatnya, kalian juga akan tahu." Vino menjawab dengan diselingi senyum manis dan menggoda.
"Bagimana dengan Anda, Tuan Muda Reino? Kapan Anda akan menikahi Nona Diana? Bukankah kalian sudah lama berpacaran?" Seorang wartawan wanita lainnya bertanya lagi.
"Lalu bagaimana dengan kutukan istri pertama itu?" Lanjut wartawan itu.
Wajah Reino mendadak berubah tak bersahabat, pertanyaan itu sukses menyulut emosinya. Reino segera melirik Venus yang memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Saya tidak ingin membahas masalah pribadi disini! Dan yang perlu kalian tahu, saya dan Diana tidak ada hubungan apa-apa." Reino berbicara dengan nada marah. Wartawan wanita yang bertanya tadi tertunduk takut, dia sadar bahwa sudah kelewatan bertanya.
__ADS_1
Vino terkesiap mendengar pertanyaan wartawan itu, dia baru tahu hubungan Diana dan Reino, lalu cerita kutukan itu. Vino seperti pernah mendengar cerita tentang kutukan itu.
Alvin dan Erik hanya melihat acara jumpa pers ini dari tempat mereka berdiri tanpa ikut campur sedikit pun, biarlah kedua pria itu yang meladeni semua pertanyaan wartawan dengan jawaban mereka sendiri.
Dari tempat yang jauh, seorang pria tua sedang menonton acara jumpa pers mereka dari layar televisi.
"Hahaha ... 2 lalat bodoh sedang mengadakan jumpa pers. Dasar bocah-bocah sialan, aku akan segera mengirim kalian ke neraka menyusul orang tua kalian." Pria paruh baya itu tertawa ala pemeran antagonis dan memandang mereka dengan penuh kebencian.
***
Acara jumpa pers selesai, Vino buru-buru pergi dari gedung Grafika Grup, Reino dan Alvin memandang heran kepergian Vino itu, biasanya dia pasti menemui Venus dulu sebelum pergi.
"Tumben sekali kecoa itu tidak mengganggu istriku." Gumam Reino dalam hati.
Reino segera mengalihkan pandangannya ke Venus, gadis itu sudah melangkah lemah meninggalkan ruang aula. Reino segera mengejarnya, Alvin memandang bingung sikap Reino itu.
"Sebenarnya mereka ada hubungan apa? Aku yakin hubungan mereka bukan sekedar atasan dan bawahan." Bathin Alvin.
Sementara Erik hanya menghela nafas melihat sikap dan kelakuan Reino yang berlari mengejar Venus.
Kau sangat mencintainya, hingga kau menjadi bodoh begitu, Reino.
Dan tanpa sadar kau sendiri yang akan membongkar rahasia pernikahan ini nanti.
"Tunggu, kau marah?" Reino menarik lengan Venus.
"Kenapa aku harus marah?" Venus berbicara dengan nada datar sambil melepaskan tangannya dari cengkeraman Reino.
"Karena pertanyaan wartawan sialan tadi." Reino memandang cemas Venus.
"Ayolah, Tuan Muda ... jangan cemas begitu, aku cukup tahu diri. Dari awal aku tahu posisiku." Venus memaksakan senyum di bibirnya, walaupun hatinya sedikit sakit. Gadis itu kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Reino.
"Tapi ... Venus ...!" Reino sedikit berteriak memanggil istrinya itu, mengabaikan beberapa karyawan yang memandang heran kepadanya.
***
Hai ... pada penasaran nggak sama wujud si pria jenaka, Kenan ...?
Ni author kasih visualnya dokter Kenan ...
Biar makin semangat ngehalunya ...
Jangan lupa like, rate 5 dan vote banyak2...💜
Dokter KENAN
__ADS_1