
Venus masih terdiam merenungi semua ini, hatinya menjadi dilema antara menuruti keegoisannya atau kerinduannya kepada Reino. Sejujurnya gadis itu mulai luluh mendengar ucapan Erik tadi tapi entah mengapa masih ada keraguan dihatinya untuk kembali pulang bersama Reino.
Suara nyaring ponsel Kenan memecah keheningan di ruangan itu, ternyata Vino yang menelepon. Kenan menjawab panggilan masuk dari Vino itu dengan malas.
"Ada apa? Baru sebentar saja tidak bertemu, kau sudah merindukanku ya?" Tanya Kenan meledek Vino.
"Ciih ... kau bawa kemana adikku?" Vino
"Aku tidak akan mengajaknya kawin lari, aku hanya meminjamnya sebentar." Kenan berkelakar plus dengan wajah jenakanya.
"Kalau begitu cepat kembalikan adikku!" Vino.
"Iya ... iya, bawel!" Kenan menutup panggilan masuk dari Vino sambil menggerutu.
"Siapa?" Tanya Venus.
"Siapa lagi kalau bukan Kakak tercintamu itu." Kenan mendengus kesal.
"Kakak sudah bangun ya? Dia pasti mencariku! Kalau begitu aku pergi dulu!" Venus segera beranjak dari duduknya.
"Tapi, Nona ...?"
"Aku akan memikirkannya lagi!" Venus menyela cepat sebelum Erik selesai bicara.
"Hey ... kita belum memesan apa-apa!" Kenan berteriak.
"Lain kali saja!" Venus buru-buru keluar dari ruang private itu.
"Aku harus mengantarnya, kalau tidak Kakaknya yang gila itu akan mengamuk. Aku pergi dulu!" Kenan pun berlalu mengikuti langakah Venus. Tinggallah Erik sendiri di ruangan itu, dia menghela nafas sambil mengusap wajahnya.
Aku sudah membantumu menejelaskan semuanya, Reino. Aku berharap kalian segera berbaikan, aku nggak bisa melihatmu kacau dan hancur seperti ini.
***
Liana, Tomi dan Diana sedang mengobrol di ruang keluarga. Mereka sedikit penasaran karena sudah beberapa hari ini Reino tidak pulang kerumah, bahkan Venus juga sama.
"Tante, sebenarnya Reino kemana sih? Apa dia sedang menghindariku?" Diana bergelayutan di tangan Liana, wajahnya sedari tadi cemberut. Tiap hari Diana selalu menanyakan keberadaan Reino yang hilang bak ditelan bumi.
"Tante juga tidak tahu, Di. Tante sudah mencari tahu keberadaannya, mencari ke kantornya, tapi tidak ada yang tahu. Bahkan kata mereka sudah beberapa hari ini Reino tidak datang ke kantor." Ucap Liana.
"Tante bilang pria yang mengaku Kakaknya Si tumbal itu kecelakaan, mungkin saja mereka disana." Diana mencoba mengingatkan Liana.
"Tapi Tante tidak tahu dia dirawat di rumah sakit mana? Bahkan wartawan saja tidak mengetahui dimana dia dan bagaimana kondisinya, mereka telah menyembunyikannya." Liana sedikit kesal karena tak berhasil menemukan apa yang dia cari.
Tanpa sepengetahuan Liana dan semua orang, Kenan telah meminta pihak rumah sakit Medica untuk menutup informasi tentang Vino kepada media dan publik. Jadi yang bisa menjenguk Vino hanya orang-orang terdekatnya saja. Itu demi menjaga kenyamanan Vino, mengingat Vino adalah salah satu sosok yang cukup terkenal.
__ADS_1
"Kenapa tidak menanyakannya kepada Erik saja, Tante?" Diana bertanya dengan manja.
"Haa ... supir sialan itu pasti menutupi keberadaan Reino. Bayangan Reino saja kalau bisa di sembunyikan, pasti akan dia sembunyikan. Reino pasti sudah menutup mulutnya." Liana memasang wajah sebal kala mengingat Erik yang selalu patuh kepada Reino.
"Iya juga sih, Tan. Percuma saja bertanya kepada supir sialan itu!" Diana berbicara dengan gaya angkuhnya.
Tomi hanya melirik kedua wanita itu, dia tidak ingin mencampuri obrolan mereka tentang Erik.
"Hmmm ... besok aku akan pulang." Tomi memotong obrolan Liana dan Diana.
Kedua wanita itu serentak memandang Tomi dengan pandangan heran.
"Kenapa cepat sekali? Bukankah pekerjaanmu belum selesai?" Tanya Liana.
"Ada perubahan rencana, jadi aku putuskan untuk pulang saja!" Jawab Tomi dengan wajah yang serius.
"Tapi apa kau tidak ingin bertemu Reino dulu?"
"Lain kali saja, mungkin Reino sedang ada masalah, jadi biarkan dia menyelesaikan masalahnya itu dulu." Lanjut Tomi.
Liana dan Diana hanya terdiam, tanpa melanjutkan pembicaraan mereka dengan Tomi. Sementara Ina yang sedang membereskan meja makan yang tak jauh dari ruang keluarga, hanya melirik ke arah ketiga orang itu.
"Kau punya nomor telepon Erik?" Tomi bertanya kepada Liana.
"Bisa berikan kepadaku?"
"Untuk apa kau meminta nomor supir itu?" Liana mengerutkan dahinya, merasa bingung.
"Tidak ada! Aku hanya ingin bertanya tentang Reino kepadanya. Dia pasti tahu banyak tentang bocah itu." Tomi memaksakan sedikit senyuman dibibirnya.
"Baiklah, aku akan mengirimnya keponselmu." Ucap Liana.
"Dan kau Diana, jika kau mau tahu dimana Reino, ikuti Erik. Dan bergeraklah lebih cepat!" Kini Tomi beralih ke Diana.
"Oh iya, kenapa aku tidak terfikir begitu ya?" Diana menepuk pelan dahinya.
"Terus kau mau cari Erik dimana? Bukankah supir itu juga menghilang tanpa jejak." Liana menyadarkan Diana.
"Iya juga sih! Lalu bagaimana?"
"Dia akan datang kesini besok!" Tomi berucap dengan yakin.
"Darimana Om tahu?"
"Feeling saja!" Tomi pun beranjak dari duduknya dan berlalu meninggalkan kedua wanita yang memandang heran kepadanya.
__ADS_1
***
Venus buru-buru masuk ke dalam ruangan Vino, terlihat Sang Kakak sedang duduk bersandar menatap lurus ke arahnya.
"Adikku ini dari mana saja sih?" Tanya Vino.
"Tadi cuma makan bersama dokter Kenan saja, Kak. Maaf ya karena aku tidak minta izin, tadi Kakak sedang tidur." Venus berjalan mendekati Vino dengan wajah yang sendu karena merasa bersalah telah meninggalkan Kakaknya itu.
"Hey ... tidak apa-apa! Kenapa kau jadi sedih begitu? Aku tahu kau pasti merasa bosan terus-terusan berada disini, aku hanya takut kau menjumpai Si berengsek itu." Vino menarik Venus agar duduk di sampingnya.
"Kakak masih marah ya dengan dia?" Hati-hati Venus bertanya.
"Tentu saja aku marah! Dia telah menyembunyikan dan menjadikan Adikku sebagai tumbal keluarganya. Rasanya ingin sekali aku menghajarnya kalau kondisiku tidak begini." Wajah Vino mendadak berubah penuh kemarahan.
"Apa Kakak percaya dengan kutukan itu?"
"Antara percaya atau tidak sih, tapi aku hanya tidak ingin mengambil resiko! Aku takut nasibmu sama seperti istri-istri pertama di keluarga itu." Vino mengusak pucuk kepala Venus dengan penuh kasih sayang.
"Kak, jika dia datang menjelaskan dan meminta maaf kepadamu, apa kau mau memaafkannya?" Tanya Venus lagi.
"Apa yang mau dia jelaskan? Dia menyembunyikan jati dirimu dan menjadikanmu tumbal itu sudah cukup menjadi alasan untuk aku membencinya. Aku akan segera membatalkan kerja sama perusahaan kami!" Vino berbicara dengan raut wajah serius.
"Tapi Kak, kita juga harus mendengarkan penjelasannya! Dia pasti punya alasan menyembunyikan jati diriku, bisa saja dia memang tidak tahu bahwa kita saudara kandung." Venus mencoba membela Reino. Gadis itu teringat kata-kata Erik tadi.
"Kenapa kau membelanya seperti itu?" Vino manautkan kedua alisnya, memandang Venus dengan tatapan menyelidik.
"Bukan begitu, Kak!" Venus berusaha menyangkal.
"Apa kau mencintainya?" Vino menatap dalam-dalam netra hitam milik Venus, membuat Venus gugup.
"Ak ... aku ..."
"Aku harap kau tidak berubah fikiran untuk berpisah darinya!" Ucapan Vino ini membuat jantung Venus berdebar tak karuan, ada rasa sakit dan ketidakrelaan disana. Tapi Venus tak berani mengakui isi hatinya, mengingat kondisi Vino yang masih belum pulih, dia takut menyakiti hati Kakaknya itu.
Alvin hanya memandangi Venus dengan tatapan curiga.
***
Hai ... author udah tepati janji untuk crazy up 3 episode ya hari ini...
Terima kasih banyak buat semua yang sudah mengucapkan selamat buat author.
Semoga Tuhan memberikan kebahagiaan untuk kita semua ... aamiin.
Jangan lupa like nya ya dan bagi yang belum kasih bintang, kuy rate bintang 5 ya untuk author... happy reading...💜
__ADS_1