Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 64


__ADS_3

Sudah dua hari berlalu setelah kejadian menegangkan itu, Venus masih setia menemani Vino di rumah sakit. Venus tak pernah pulang ke rumah, dia tidur bahkan mandi pun di rumah sakit.


Robby selalu datang membawakan pakaian ganti untuk keponakannya itu, bahkan pria paruh baya itu sampai mengutus pengawal untuk menjaga Venus di rumah sakit. Begitu pun dengan Alvin, dia juga selalu datang membawakan makanan dan menemani Venus siang dan malam.


Sebenarnya Robby dan Alvin sudah meminta Venus untuk pulang dan beristirahat di rumah orang tuanya, tapi gadis itu bersikeras ingin menjaga Vino, untuk menebus rasa bersalahnya karena menolak Vino waktu itu.


Malam ini Venus tengah duduk di tepi ranjang Vino, dia menggenggam erat tangan Kakaknya itu dan mulai berceloteh. Iya, beginilah Venus setiap hari, dia akan mengajak Vino mengobrol dan bercerita, walaupun Kakaknya itu tidak merespon sama sekali. Sementara Alvin pulang ke rumah untuk berganti pakaian.


"Ternyata Kakak tukang tidur ya? Seperti beruang lagi hibernasi deh."


"Kak, bangun dong! Katanya Kakak nyariin aku, trus kemarin juga ngajakin aku pulang. Tapi sekarang Kakak malah tidur dan nggak bangun-bangun." Venus menggenggam tangan Vino sambil memainkan jari-jarinya.


"Kak, kalau besok Kakak nggak bangun juga, aku akan ambil alih perusahaan Kakak terus aku buat bangkrut. Biar Kakak jatuh miskin." Kelakar Venus dengan nada mengancam, tapi Vino tetap tidak merespon sama sekali.


Akhirnya karena kelelahan, Venus pun tertidur di samping ranjang Vino dan masih menggenggam tangan Kakaknya itu.


Tiba-tiba Vino menggerakkan jari tangannya yang dipegang oleh Venus, lalu dengan perlahan-lahan Vino membuka matanya dan berusaha memfokuskan pandangannya yang masih sedikit buram.


Saking mengantuknya, Venus tidak sadar bahwa Vino telah bangun dari komanya. Vino merasakan ada yang menahan tangannya, pria itu menolehkan kepalanya dan melihat Venus yang sedang tertidur sambil menggenggam tangannya.


Vino mengangkat tangannya yang sebelah lagi, dan dengan pelan mengelus kepala Venus. membuat gadis itu tersentak bangun.


"Kakak ...?" Bola mata Venus membulat sempurna, rasa kantuknya mendadak hilang.


"Adikku." Ucap Vino pelan, bahkan suaranya hampir tak terdengar.


"Kakak sudah bangun? Dokter ...!" Venus segera berlari keluar memanggil dokter.


"Ada apa, Nona ...?" Pengawal yang berjaga di depan ruangan Vino menghampiri Venus.


"Kakak sudah bangun! Panggil dokter ... cepat!!!"

__ADS_1


Pengawal itu segera berlari memanggil dokter. Tanpa menunggu lama, dokter pun datang dan memeriksa kondisi Vino.


"Selamat ya Tuan Vino, Anda sudah berhasil melewati masa kritis dan bangun dari koma." dokter itu tersenyum kepada Vino.


"Kondisi Tuan Vino sudah berangsur membaik, dia juga sudah melewati masa kritisnya. Tapi dia masih sangat lemah, jadi jangan membuatnya terlalu lelah. Besok saya akan memeriksa perkembangan luka dan saraf Tuan Vino, lalu memindahkannya ke ruang pemulihan. Sekarang biarkan dia beristirahat dulu. Saya permisi!" Ucap dokter itu.


"Baik, dok! Terima kasih ya."


Dokter itu pun berlalu keluar dari ruangan Vino.


Venus mendekati Vino dan tersenyum. "Terima kasih ya Kakak sudah mau bangun. Sekarang Kakak istirahat, aku ingin mengabari Om Robby dan Tuan Kenan dulu."


Venus hendak melangkah pergi, tapi Vino menahan tangannya.


"Jangan pergi!" Ucap Vino pelan dengan wajah yang penuh harap. Dia takut adiknya itu pergi meninggalkanya lagi.


"Kak, aku hanya ingin mengambil ponselku di meja sana, aku tidak akan meninggalkan Kakak." Venus menunjuk ponselnya yang tergeletak di atas meja tak jauh dari ranjang Vino.


Venus pun meraih ponselnya lalu menghubungi Robby dan juga Kenan untuk memberitahukan keadaan Vino.


Lima belas menit kemudian Kenan datang dan segera masuk ke ruangan Vino tanpa permisi, wajahnya terlihat senang tak terkira.


Sementara Robby menunggu besok untuk datang, mengingat tidak baik bagi kesehatannya untuk keluar malam-malam begini.


"Hey ... Bro, akhirnya kau bangun juga! Aku hampir saja menikahi Adikmu ini kalau kau tidak bangun-bangun." Kelakar Kenan dengan wajah jenakanya.


"Emang aku mau apa menikah denganmu? Tak sudi ...! Huuu ..." Venus memalingkan wajahnya dengan angkuh membalas candaan Kenan.


"Oh ... My preety, kenapa kau mematahkan hatiku? Huu ... hu ... hu ..." Kenan bercanda sambil berpura-pura menangis. Venus pun tergelak mendengar ucapan dramatis Kenan, sementara Vino hanya bisa tersenyum melihat tingkah Adik dan teman baiknya itu, dirinya masih terlalu lemah untuk ikut berbicara.


***

__ADS_1


Sejak Diana datang lagi kerumahnya, Reino memutuskan untuk tinggal di hotel milik keluarganya. Dia tak ingin memberikan Diana kesempatan untuk mendekatinya lagi, apalagi saat ini Venus tidak ada di sampingnya.


Sudah beberapa hari ini juga Reino tidak pergi ke kantor, dia hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar sambil mengotak atik ponsel, dia berusaha menghubungi Venus tapi istrinya itu tak pernah mau menjawab, bahkan dia juga mengirim banyak pesan, tapi tak satupun dibalas oleh Venus. Hati Reino benar-benar gundah gulana, dia sangat merindukan istrinya itu. Reino bahkan pernah datang kerunah sakit tapi dia hanya melihat Venus dari jauh, entah mengapa mendadak Reino menjadi pengecut saat akan menemui Venus.


Erik yang selalu menemani Reino merasa iba melihat majikannya itu, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa.


"Maaf, Tuan .... Saya akan memesan makannan dari aplikasi si hijau online, apa Tuan tidak ingin memesan sesuatu juga untuk makan siang?" Hati-hati Erik bertanya kepada majikannya yang sedang galau tingkat dewa itu. Erik tahu Reino tidak suka dengan makanan dari hotel.


"Tidak ...! Aku tidak menginginkan apapun!" Reino menjawab tanpa mengalihkan pandanganya dari ponsel.


"Tapi Tuan belum makan." Erik mengingatkan Reino.


"Aku tidak berselera! Aku hanya mau istriku, aku sangat merindukannya." Ucap Reino dengan polosnya.


Erik hanya menghela nafas melihat budak cinta yang sedang patah hati ini.


Apa sebegitu dahsyatnya cinta, hingga melemahkan manusia sedingin dan setegasmu, Reino?


Erik berlalu dari hadapan Reino, dia meraih ponselnya dan membuka aplikasi si hijau online lalu memesan beberapa makanan.


Tiga puluh menit kemudian, pintu kamar hotel yang ditempati Reino di ketuk dari luar, kebetulan Erik sedang berada di kamar mandi. Dengan malas Reino berjalan dan membukakan pintu, terlihat seorang pria berjaket hijau sedang beridiri dengan senyum ramah dan menenteng beberapa bungkusan yang berisi makanan.


"Ada apa?"


"Selamat siang, Tuan ... ini pesanan Anda." Pria itu menyodorkan bungkusan ditangannya ke hadapan Reino.


Bukannya mengambil bungkusan itu, Reino malah tertegun memandang pria berjaket hijau itu dengan senyum yang sulit diartikan.


"Silahkan masuk!" Reino mempersilahkan pria itu masuk tanpa menagambil bungkusannya. Mendadak driver si hijau online itu bingung dengan tingkah aneh horang kaya yang satu ini.


***

__ADS_1


Jangan lupa like nya ya guys ...


__ADS_2