
Setelah puas bermain air sambil minum air kelapa muda ditambah lagi melihat sunset yang indah, kini keenam orang itu sudah duduk di sebuah restoran dan bersiap untuk makan malam.
Seorang pelayan datang dan menyodorkan buku menu kepada mereka, keenamnya saling memperhatikan daftar menu di hadapan mereka.
"Kamu pesan apa, sayang?" Reino bertanya kepada Venus yang masih bingung memilih.
"Hmm ... aku pesan nasi campur khas bali pakai telur mata sapi yang merem ya, soalnya aku suka takut kalau mata sapinya melirik ke aku." Ucap Venus nyeleneh yang seketika disambut gelak tawa semua orang yang mendengar pesanan anehnya itu. Bahkan si pelayan wajahnya sudah memerah menahan tawa.
"Memangnya ada telur mata sapi yang bisa melirik?" Reino yang malu dengan tingkah konyol istrinya itu berusaha memprotes Venus.
"Ada, kau saja yang tidak tahu!" Ucap Venus santai tanpa rasa bersalah karena sudah membuat orang sakit perut karena ulahnya.
"Terserah kau sajalah!" Reino memutar malas bola matanya, pasrah akan tingkah konyol istrinya itu.
"Oh iya, aku pesan sate juga, tapi dagingnya jangan ditusuk ya, aku suka ngilu kalau lihat dagingnya ditusuk-tusuk gitu." Venus mulai lagi dengan pesanan anehmya. Membuat semua orang geleng-geleng kepala mendengar permintaan wanita cantik itu.
"Kau ini ada-ada saja! Yang namanya sate pasti ditusuk, kalau tidak ditusuk, bukan sate dong namanya!" Kali ini Vino yang ikut bersuara karena gemas melihat adiknya itu.
"Bapak kamu tukang sate ya?" Hanna seketika menggoda Vino dengan wajah jenakanya.
"Kok tahu?" Erik menjawab dengan cepat.
"Iya, kemarin lewat di depan rumah aku. Hahahaha ..." Hanna menjawab seenak, diakhiri dengan tawanya yang pecah. Begitu juga dengan Erik dan Ina yang ikut tergelak. Sementara Reino dan Venus yang tak mengerti bahwa kedua orang itu sedang meledek Vino hanya tersenyum dengan wajah bingung. Sedangkan Vino hanya tertunduk menahan malu dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus.
Akhirnya setelah mencatat semua pesanan keenam orang itu, si pelayan segera berlalu dengan wajah yang sudah memerah. Sesampainya di dapur, tawa si pelayan langsung pecah. Sungguh baru kali ini dia melihat pengungjung sekonyol itu.
Setengah jam kemudian, pesanan mereka pun tiba dan sudah terhidang di atas meja. Akhirnya pesanan nasi campur Venus datang dengan telur mata sapi yang kuningnya ditutupi dengan putihnya, untung saja setelah memutar otak, si koki mendapat ide itu. Dan sate pesanannya adalah sate lilit khas bali, jadi dagingnya tidak ditusuk. Dasar Venus, ada-ada saja permintaannya. Sementara kelima orang lainnya sepakat memesan sate plecing dan nasi jinggo khas bali.
"Kau mau mencicipi makananku? Enak loh!" Reino menyodorkan sesendok nasi jinggo miliknya ke depan mulut Venus, gadis cantik itu segera membuka mulutnya.
"Hmmm ... iya, enak sekali! Aku mau tukar!" Venus segera menukar piringnya dengan piring suaminya itu dan Reino hanya pasrah.
Melihat suap-suapan romantis ala Venus dan Reino, Vino pun tak mau kalah. Dia juga berinisiatif mengikuti pasangan suami istri aneh itu.
"Kau mau mencicipi makanan juga? Ini enak sekali." Vino dengan pedenya menyodorkan sesendok nasi jinggo miliknya ke depan mulut Hanna.
"Menu makanan kita kan sama, untuk apa mencicipi punyamu?" Hanna menunjuk piring dihadapannya yang berisi nasi jinggo juga.
__ADS_1
"Oh, iya!" Vino yang kalah malu segera memasukkan sendok nasi itu ke dalam mulutnya, yang disambut gelak tawa kelima orang lainnya.
"Uhuk ... uhuk ..." Karena keasyikan tertawa, Ina menjadi tersedak dan terbatuk-batuk. Erik yang panik, segera menepuk-nepuk pundak gadis itu lalu mengambilkannya minum.
"Sudah ...?" Erik bertanya kepada Ina dengan wajah yang cemas. Dan Ina hanya mengangguk pelan.
Reino, Venus, Vino dan Hanna sampai terheran melihat perhatian Erik kepada Ina itu.
"Ehemm ... ada yang cinlok!" Reino menyindir Erik dan Ina yang tertunduk malu.
"Sepertinya sebentar lagi ada yang menyusul jadi pengantin ini." Venus pun ikut-ikutan meledek kedua pasangan yang baru menjadi sepasang kekasih.
"Wah ... aku ketinggalan dong! Jadi iri deh!" Hanna memasang wajah gemas.
"Makanya cepatlah menikah!" Erik berbicara sambil melirik Vino.
"Belum ada yang melamar." Ucap Hanna berpura-pura sedih.
"Itu kan ada lajang tua, kaya lagi." Erik menunjuk ke arah Vino.
"Kau ini!" Vino melemparkan tusuk satenya yang sudah habis ke arah Erik. Dan disambung gelak tawa semua orang.
***
Setelah acara makan malam, Vino memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri di tepi pantai, sebenarnya hatinya sedikit galau karena tak berhasil menyampaikan isi hatinya kepada Hanna. Tapi dia berusaha menutupinya di hadapan semua orang, terutama di depan gadis yang dia sukai itu. Dan Vino merasa dirinya berubah saat di hadapan Hanna, entah mengapa untuk menutupi rasa gugupnya, Vino terkadang sampai bertingkah konyol di luar kendalinya.
Vino pun duduk di atas pasir di tepi pantai, dia membiarkan kakinya basah diterpa air yang terbawa ombak sambil memandang hamparan langit malam yang bertabur bintang. Namun seseorang dengan tiba-tiba duduk di samping Vino, membuat pria tampan itu sedikit terkejut.
"Hanna ..." Ucap Vino saat melihat seseorang yang sedang duduk di sampingnya itu adalah Hanna.
"Vin, lagi apa sendirian disini? Tidak takut diculik monster laut?" Kelakar Hanna untuk memecah keheningan.
"Monster lautnya sedang nonton konser beti es!" Jawab Vino seenaknya.
"Haaa ...? Apa itu beti es?" Tanya Hanna bingung.
"Itu loh boy band korea yang lagi viral, yang anggotanya jin jongkok dan siapa lagi ya? Aku lupa!" Vino semakin nyeleneh menyebutkan personil boy band itu, karena sesungguhnya dia sendiri pun tidak tahu dan hanya melihatnya di iklan-iklan yang berseliweran di internet.
__ADS_1
"Oh ... BTS???"
"Iya ... iya itu!" Vino mengangguk setuju.
"Hahaha ... kau ada-ada saja! Aku sampai bingung sendiri!" Hanna tergelak saat menyadari kekonyolan Vino, dan pria itu hanya tersenyum samar sambil memandang lekat wajah Hanna yang masih tertawa.
Sadar Vino sedang menatapnya, Hanna segera menutup mulutnya dan berhenti tertawa.
"Maaf ... Vin, aku tak bermaksud ..." Hanna mendadak tak enak hati.
"Ssstt ... sudah tak apa-apa!"
Setelah itu pandangan Vino beralih dari Hanna dan kini menatap lurus ke depan, memandang hamparan laut yang luas dan langit yang membentang dengan ribuan bintang.
"Vin, kau marah ya karena sedari tadi aku selalu meledek dan menertawakanmu? Aku minta maaf ya!" Hanna senakin merasa tak enak hati melihat sikap Vino.
"Kenapa harus marah? Aku senang bisa melihatmu tertawa dan bahagia!" Ucap Vino tanpa menoleh ke arah Hanna.
Ada jeda sejenak, kedua insan itu terdiam dalam sunyi, hanya ada suara deburan ombak yang menemani mereka berdua. Mendadak suasana menjadi dingin dan canggung.
Cuuupp ...
Satu kecupan mendarat di pipi Vino, tiba-tiba Hanna menciumnya, Vino yang kaget sontak terkesiap dan memandang Hanna sambil memegangi pipinya yang bekas di cium gadis itu.
"Terima kasih ya, Vin ... karena kau sudah menghiburku dan membuat aku bahagia sekali hari ini." Hanna menjadi kikuk dan segera beranjak pergi meninggalkan Vino untuk menutupi rasa malunya.
Vino yang masih terperangah hanya memandangi kepergian Hanna tanpa berkata-kata, kecupan dadakan dari Hanna membuat lidah pria tampan itu keluh seperti terserang struk.
***
Vino : Thor, bagian si Erik ada adegan ciuman romantis. Lah ... kenapa aku cuma di kecup pipinya doang?
Author : Syukur masih aku buat dikecup, mau kalau aku buat ditampar?
Vino : Nggak adil author ini!
Author : Berani ngatain author, aku buat menghadap ilahi baru tahu!
__ADS_1
Vino : Jangan thor, ampun ... 🙏😭😭