Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bonus episode 2


__ADS_3

Reino masih melamun membayangkan tragedi bika ambon itu, rasanya saat itu dia ingin sekali berteriak untuk meluapkan kekesalan hatinya tapi dia sadar, sebagai seorang suami yang baik, dia harus bisa membahagiakan istri dan anaknya. Melihat Venus bahagia adalah sesuatu yang membanggakan untuknya, karena itu tandanya dia berhasil menjadi suami yang baik.


"Sayang, kenapa kau diam saja?" Venus mendongak dan menepuk pelan pipi Reino.


"Ah ... eh ... tidak apa-apa? Aku hanya teringat saat-saat bulan madu kita." Ucap Reino gugup.


"Oh ... aku kira kau sedang latihan jadi patung. Hahaha ...!" Venus tertawa sambil kembali memeluk Reino.


Reino merasa lega, karena sepertinya Venus lupa dengan penawaran yang sempat dia katakan tadi. Paling tidak saat ini Reino merasa aman dari permintaan aneh sang istri.


"Sayang ..." Venus memanggil dengan suara yang manja sambil memainkan jari telunjuknya di dada bidang Reino.


"Hemmm ..."


"Tadikan kau tanya aku mau apa?"


Deg ...


Yang ditakuti Reino pun terjadi, ternyata Venus ingat tawarannya tadi. Jantung Reino jadi berdetak tak karuan, mendadak pria itu merasa menyesal setengah mati karena memberi tawaran seperti tadi.


"Iya, sayang." Reino mulai ketakutan.


"Aku ingin minum air kelapa muda, sayang." Ucap Venus manja.


"Oh, cuma minum air kelapa muda saja. Gampang, nanti aku belikan!" Reino menghela nafas lega, ketegangannya seketika hilang.


"Tapi aku tak mau minum disini!"


"Jadi dimana?" Reino memandang bingung istrinya itu, mendadak perasaannya tak enak.


"Pantai Kuta!" Jawab Venus enteng.


"Apaaaaa ...?" Reino berteriak kaget. Benar dugaannya, ngidam istrinya selalu menyusahkan.


"Kenapa berteriak? Kau tidak mau? Ya sudah, tidak apa-apa!" Venus melepaskan pelukannya dan mendorong tubuh Reino lalu segera berbaring membelakangi suaminya yang sedang syok itu.


"Tapi, sayang ... kita baru saja kembali dari Paris, apa kau tidak lelah? Aku takut kau sakit!" Reino berbicara dengan lembut sambil mengelus-elus pundak Venus.


"Tapi kan ini kemauan anakmu, aku ngidam!" Suara Venus mulai bergetar. Kalau sudah mengatasnamakan ngidam, Reino hanya bisa pasrah menuruti kemauan istri tercintanya itu, walau kadang hatinya menolak mati-matian.


"Baiklah, minggu depan kita akan berangkat ke Bali."

__ADS_1


"Lama sekali? Aku maunya besok!" Venus masih merajuk.


"Tapi aku kan harus bekerja, sayang. Sudah seminggu aku tidak masuk." Reino mencoba memberi pengertian, berharap sang istri mengerti.


"Tapi jangan minggu depan, kelamaan. Bagaimana kalau lusa?" Kali ini Venus yang bernego.


"Baiklah, biar adil ... kita pergi tiga hari lagi. Sayang ... aku mohon pengertianmu." Reino membalikkan tubuh Venus agar menghadapnya lalu memandang wajah sang istri dengan penuh harap.


"Ya sudahlah, aku tahan ngidamnya sampai tiga hari lagi. Tapi ajak Kakak dan Hanna juga ya? Biar ramai!" Ucap Venus.


"Hmmm ... baiklah! Terserah kau saja!" Reino pasrah.


"Kau tidak mengajak Erik? Kasihan dia, sudah lama tidak liburan! Mana tahu disana dia bertemu jodoh wanita-wanita bule. Hahaha ..." Venus tergelak membayangkan Erik dengan wanita bule.


"Kau ini! Ya sudah, nanti aku akan mengajak Erik. Oh, satu lagi, aku akan mengajak Ina juga." Reino berbicara sambil mengelus-elus kepala Venus.


"Kenapa harus mengajak Ina juga?" Tanya Venus bingung.


"Tidak apa, dia kan juga butuh liburan."


"Agar aku tidak repot sendiri mengurus semua permintaanmu itu!"Batin Reino.


Reino hanya tersenyum melihat tingkah istrinya itu, dia menjadi sangat penasaran, seperti apa anaknya jika telah lahir nanti?


Dari didalam perut saja anaknya itu sudah membuat repot semua orang.


***


Setelah memberi kabar kepada semua orang dan mempersiapkan segalanya, akhirnya mereka berenam pun tiba di pantai Kuta Bali. Walaupun Erik dan Vino sempat menolak, tapi akhirnya pasrah karena Venus merengek bahkan sampai terisak.


Reino memesan kamar untuk dirinya dan Venus dengan pemandangan laut yang mempesona dari jendela kamarnya, Erik dan Vino sekamar sedangkan Hanna bersama dengan Ina.


"Haaaa ... aku lelah sekali!" Reino membanting badannya di atas ranjang lalu memejamkan mata.


"Hey ... kenapa kau tidur? Bukankah tujuan kita kesini ingin minum air kelapa muda?" Venus menarik lengan Reino agar bangun.


"Ayolah, sayang ... biarkan aku tidur sebentar saja! Aku lelah sekali." Reino berbicara tanpa bergerak dari posisinya itu.


"Ya, sudah ... nanti aku ajak kakak dan yang lain saja!" Venus beranjak dari tempatnya dan keluar kamarnya menuju kamar Erik dan Vino.


"Kakak ...! Buka pintunya!" Venus berteriak sambil menggedor pintu kamar Erik dan Vino, tapi tak ada tanda-tanda ada yang akan membuka. Venus memutar handle pintunya dan terbuka, ternyata pintunya tidak dikunci.

__ADS_1


"Kakak ...!" Venus masuk ke dalam kamar Erik dan Vino, tapi tak ada siapa-siapa di dalam kamar itu. Venus mencari ke kamar mandi, juga tak ada siapapun, Venus menjadi bingung sendiri.


"Kemana kakak dan Erik? Apa mereka sudah lebih dulu ke pantai? Tapi kenapa pintu kamarnya tidak dikunci? Teledor sekali sih mereka!" Venus akhirnya keluar dari kamar itu dan mencabut kunci yang tergantung di pintu lalu menguncinya dari luar.


Setelah kepergian Venus, tiba-tiba dua sosok pria keluar dari dalam lemari pakaian yang masih kosong, mereka adalah Erik dan Vino.


"Huuu ... akhirnya dia pergi juga! Aku hampir mati sesak nafas di dalam sana!" Vino menghela nafas lega sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah.


"Siapa suruh kau ikut aku bersembunyi disana?" Ucap Erik malas.


"Lalu mau dimana lagi? Apa aku harus masuk ke dalam kloset? Cuma lemari itu tempat yang aman untuk bersembunyi dari adikku, aku belum siap direpotkan lagi olehnya. Baru saja aku kembali dari Paris sekarang dia memaksaku ke Bali, aku lelah sekali." Vino meluapkan isi hatinya dengan wajah masam.


"Hahaha ... dia kan adikmu, nikmati sajalah. Anggap ini permintaan keponakanmu." Erik terkekeh melihat wajah sebal Vino.


"Itu juga keponakanmu, kenapa kau pun bersembunyi?" Tanya Vino.


"Apa lagi? Sama sepertimu, aku belum siap direpotkan olehnya lagi! Gara-gara permintaannya aku harus menunggu berjam-jam untuk sebuah bika ambon yang masih dalam proses pembuatan, saat aku sampai di toko kue itu, mereka sudah kehabisan stok bika ambonnya, aku terpaksa meminta mereka membuatnya lagi. Ada-ada saja!" Erik pun ikut meluapkan kekesalan hatinya.


"Hahaha ... kau lebih apes dariku rupanya!" Kali ini Vino gantian menertawakan Erik.


"Eh ... kira-kira tadi dia mau apa cari-cari kita?"


"Entahlah, biarkan saja Reino yang mengurusnya!" Ucap Vino tak acuh.


"Tunggu ...! Tadi Venus bilang pintu kamar kita tidak dikunci, harusnya kunci itu masih tergantung disana kan?" Erik menunjuk ke arah pintu saat dia mengingat sesuatu.


"Iya, tapi kenapa kuncinya tidak ada?"


"Jangan-jangan ..." Ucap Erik dan Vino berbarengan, kedua pria itu saling pandang dengan wajah panik. Lalu keduanya berlari mendekati pintu dan Erik segera memutar handlenya namun tak bisa dibuka, pintu mereka terkunci atau tepatnya dikunci oleh Venus dari luar.


"Yaaaa ... kita terkunci di dalam!" Erik mengantuk-antukkan kepalanya di pintu.


"Kita kualat dengan ibu hamil." Vino meremas kuat rambutnya.


***


Hmmm ... kira-kira apa yang terjadi selanjutnya ya denga Erik dan Vino?


Lanjut nggak ni ...?


Likenya dulu dong sayang akuh ...💜

__ADS_1


__ADS_2