
Mendadak suasana kediaman Brahmansa menjadi tegang, bagaimana tidak, saat ini Vie sedang duduk berhadapan dengan Reino dan juga Venus. Kedua orang tua itu benar-benar murka kali ini, ups ... salah! Maksudnya salah satu dari orang tua itu benar-benar murka kali ini. Sementara yang satu lagi hanya ikut-ikutan marah.
Venus sedang menatap tajam putri semata wayangnya yang super duper menyebalkan itu, ini sudah kesekian kalinya Vie membuat ulah di sekolah dan mengaharuskan papanya datang.
"Apa kau lupa ultimatum yang mama dan papa berikan?" Venus bertanya dengan sorot mata mengancam.
"Tidak, ma. Aku ingat kok!"
"Lantas kenapa kau masih membuat ulah lagi di sekolah?"
"Maaf ... aku kan hanya bercanda, ma." Jawab Vie seenaknya.
"Bercanda katamu? Membohongi gurumu demi terbebas dari hukuman, kau bilang bercanda? Lalu bagaiamana dengan menarik celana gurumu? Apa itu juga bercanda, haa ...?" Venus mencak-mencak.
"Kalau yang itu aku tidak sengaja, ma. Sumpah ...! Aku juga sudah minta maaf kok." Vie mengangkat jarinya membentuk huruf V.
"Yang tadi bercanda dan kali ini kau bilang tidak sengaja. Kau sadar tidak, akibat bercanda dan ketidaksengajaanmu itu, orang lain jadi malu. Dan lihat dia sampai mengundurkan diri. Apa kau tidak merasa bersalah?" Venus berbicara dengan nada yang tinggi. Bahkan Reino saja sampai menelan salivanya melihat kemarahan sang istri.
"Ssstt ... sayang, jangan marah-marah terus, bisa sia-sia perawatan kulitmu selama ini. Lihat itu kan, keriput mulai bermunculan diwajahmu." Reino berkelakar sambil menunjuk wajah Venus, lelaki tampan ini berusaha menenangkan istrinya karena tak tega melihat sang putri dimarahi.
"Ah ... apa iya?" Venus meraba wajahnya. "Kalau begitu kau saja yang memarahinya, dia kan putrimu!" Venus menyerah dan meminta Reino melanjutkan memarahi Vie.
"Baiklah, nona muda! Sepertinya hukuman akan segera dijatuhkan." Ucap Reino dengan suara yang melembut.
"Pa, jangan ...!" Vie mulai ketakutan. Tapi Reino tak perduli.
"Mulai besok papa hanya akan memberimu uang saku lima ribu rupiah per hari selama satu bulan dan kartu ATMmu papa tahan." Reino menjatuhkan hukuman yang terdengar begitu mengerikan untuk Vie.
"Tidaaaaaaakk ...!" Vie berteriak histeris seperti di film-film.
"Tak usah berlebihan!" Venus melempar Vie dengan bantal sofa.
"Mama ... tolong aku! Aku tak ingin jatuh misquine, suruh papa membatalkan hukumannya! Ganti yang lain saja, jangan yang itu. Please ...!" Vie memohon sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di depan wajah. Namun sang mama tak menghiraukannya.
"Keputusan yang papa buat tak bisa diganggu gugat, semoga setelah ini kau sadar dan tidak membuat ulah lagi." Ucap Reino sambil beranjak dan berlalu pergi dari hadapan Vie.
"Mama ..." Rengek Vie. Tapi Venus hanya menaikkan kedua bahunya lalu mengikuti langakah Reino.
__ADS_1
"Hik ... hik ... tega! Mama dan papa tidak menyayangiku lagi. Atau jangan-jangan aku ini anak angkat, aku mau cari orang tua kandungku saja!" Vie berteriak penuh drama membuat para pelayan hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan anak majikan mereka itu.
***
Seperti biasa, sepulang sekolah Raja dan Dino selalu mampir ke rumah Vie. Kedua sahabat Vie itu masuk begitu saja ke kamar Vie, iya mereka sudah seperti bagian dari rumah ini.
"Ini dia yang lagi viral di sekolah! Hee ... kumis kucing, kenapa kau pulang tapi tasnya tidak dibawa sekalian sih?" Raja segera melemparkan tas Vie ke atas ranjang tepat di samping gadis itu duduk.
"Jadi guna kalian apa?"
"Sudahlah, Ja ... buang-buang tenaga saja kau protes. Jangankan menang, seri pun sulit jika sudah beradu mulut dengan ondel-ondel ini." Ucap Dino tanpa memandang kedua sahabatnya itu, bocah yang satu ini sedang fokus menatap layar ponselnya.
Kali ini Vie tak merespon ejekan kedua sahabatnya itu, hukuman dari Reino membuat dia bersedih dan malas meladeni mereka.
"Eh ... tumben sekali tidak melawan? Kesambet ya?" Raja meletakkan punggung tangannya di dahi Vie. "Tapi dahinya masih hangat kok, belum dingin." Lanjut Raja lagi.
"Obatnya habis kali, Ja." Celetuk Dino.
"Kalian berdua berisik!" Vie berteriak. "Aku sedang berduka!" Wajah gadis itu menyedih.
"Innalillahi ... memang siapa yang meninggal, Vie?" Tanya Raja panik.
"Lalu apa?" Tanya Raja bingung. Sementara Dino yang fokus pada ponselnya tak menghiraukan obrolan dua sahabat gesreknya itu.
"Aku jatuh misquine ... huuuaaaaaa ..." Vie menangis dengan penuh drama.
"Apaaa ...? Papamu bangkrut ya?" Raja melotot tak percaya.
"Bukan itu!"
"Jadi apa dong? Bicara yang jelas!" Raja mulai kesal.
"Aku dihukum papa, mulai besok sampai sebulan ke depan aku hanya diberi uang saku lima ribu saja dan kartu ATMku juga disita. Terus bagaimana aku menjalani hidup ini tanpa uang dan ATM? Aku bisa mati muda kalau begini." Vie mengadu kepada Raja dengan berlebihan.
"Yaelah ... kirain apa? Kau kan tinggal minta maaf dan merengek kepada papamu, pasti hukumanmu itu dicabut." Ucap Raja enteng.
"Tidak semudah itu, Pulgoso!"
__ADS_1
"Enak saja! Memangnya aku piaraannya Tante Marimar?" Raja tak terima di panggil begitu.
"Memang bukan! Kau itu piaraannya Dulce Maria." Vie membalas ucapan Raja.
"Ciripa dong?" Tanya Raja.
"Iya kali!"
"Huuuuaaaa ..." Dino tiba-tiba menangis sambil memandangi layar ponselnya, mengagetkan Vie dan Raja.
"Yang ini kenapa lagi sih?" Raja bertanya dengan raut wajah malas. Tapi Dino tak menghiraukannya, bocah aneh itu masih menangis.
"Mungkin dia terharu dengan kisah hidupku, tapi telat sekali menangisnya?" Ujar Vie pede sekaligus bingung.
"Aku sedih. Aku tak terima dia mati. Huuuaaaa ..." Dino mengoceh tidak jelas lalu kembali menangis. Vie dan Raja semakin bingung melihat sahabat mereka itu.
"Siapa yang mati, Din?" Tanya Raja penasaran.
"Naruto, Ja. Naruto mati ...!" Dino menjawab dengan pilu.
"Innalillahi ... Naruto sakit apa, Din?" Raja pun ikut-ikutan heboh.
"Dia terbunuh saat bertarung dengan Otsutsuki. Kasihan Boruto dan Himawari jadi anak yatim." Dino menjawab sambil menangis.
"Yang sabar ya, Din. Ikhlaskan Naruto menghadap yang maha kuasa." Raja merangkul pundak Dino.
Sementara Vie hanya memutar bola matanya melihat kelakuan aneh kedua sahabatnya itu.
"Aku sedih, Ja. Aku tak terima."
"Jadi bagaimana? Mau melayat juga tak bisa." Ucap Dino meladeni kehaluan tingkat tinggi Dino yang ngefans banget dengan Naruto.
"Aku mau cari tiket ke Konoha. Biar bisa melayat, Ja." Dino semakin parah menghalunya.
Raja melepaskan rangkulannya dipundak Dino dan menoyor kepala sahabatnya itu, "Halumu kelewatan!"
"Dasar gila!" Vie melengos dan pergi meninggalkan sahabat somplaknya. Gadis itu sepertinya lupa dengan kesedihan hatinya tadi gara-gara tingkah konyol dua sahabatnya itu. Begitulah keseharian trio gesrek, walaupun kelakuannya aneh, tapi mereka selalu bisa menjadi penghibur satu sama lain. Itulah persahabatan ketiganya yang bagaikan kecebong.
__ADS_1
***