
Reino sudah tiba di rumah sakit dan dia segera melangkah ke ruang jenazah, Erik juga mengikuti langkahnya.
Di depan ruang jenazah, orang suruhannya sudah menunggu bersama seorang polisi yang Reino kenal. Dia polisi yang juga menangani kasus penusukan Venus waktu itu.
"Bagaimana?" Tanya Reino kepada orang suruhannya dan polisi itu.
"Saya sudah menceritakan kronologisnya kepada Pak Polisi, Tuan. Ternyata korban mantan reporter yang dipecat dari salah satu surat kabar. Dan diponselnya hanya ada pesan yang korban kirim kepada seseorang, isi pesan itu bahwa si korban sudah menuruti perintah seseorang dan meminta bayarannya. Pesan itu dikirim tepat satu hari setelah berita hoax itu tersebar." Orang suruhannya itu menjelaskan.
"Siapa kira-kira orang yang menyuruhnya? Apa sudah ada gambaran?"Reino menjadi bingung sekaligus penasaran.
"Belum, Tuan! Kami akan segera menyelidiki kasus ini dan melacak nomor ponsel itu. Sepertinya kecelakaan ini memang disengaja. Dan kami juga sudah menghubungi pihak keluarga korban." Ucap polisi itu.
"Baiklah, saya akan menunggu kabar dari pihak polisi."
Erik terdiam sejenak, berusaha mencerna semua kejadian yang terjadi dan saling mengaitkannya satu sama lain. Dan hatinya seperti menemukan jawaban atas semua kejadian ini.
Aku yakin ini juga ulahmu! Kau pasti dalang dibalik semua ini. Dasar manusia nggak punya hati!
***
Mobil yang dikendarai Erik melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan parkiran rumah sakit, Reino memutuskan kembali ke kamar hotel untuk mengambil beberapa barangnya yang masih tertinggal disana, sebelum dia pulang ke rumah bersama Venus.
Namun tiba-tiba dari arah belakang, ada sebuah mobil hitam tanpa plat nomor polisi melaju dengan kecepatan tinggi dan menabrak bagian belakang mobil Reino.
Braaakk ...
"Ada apa ini?" Reino terkejut.
"Sepertinya mobil kita sengaja ditabrak dari belakang, Tuan." Erik melirik dari kaca spion.
"Apaaa ...?"
Bruukk ...
Sekali lagi mobil itu menabrak bagian belakang mobil Reino dengan sangat kuat. Erik mempercepat laju mobil yang dikendarainya, dan mobil hitam itu terus melaju mengikuti mobil Reino.
"Siapa mereka ...? Apa maunya ...?" Reino sedikit panik. Dia berbalik melihat ke arah mobil hitam itu.
"Entahlah, Tuan ... saya pun tidak tahu!" Erik berbohong. Dia tahu pasti ini ulah siapa.
Erik semakin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, namun tiba-tiba di hadapannya ada kemacetan karena lampu merah, Erik berusaha mengerem laju mobilnya, tapi mobil itu tidak bisa berhenti, rem mobil yang dikendarai Erik blong.
Tanpa sepengetahuan Reino dan Erik, mobil mereka sudah disabotase oleh seseorang saat di parkiran rumah sakit tadi. Dan mobil hitam itu sengaja menabrak mereka dari belakang hanya untuk mengelabui mereka.
Erik yang panik karena mobilnya tidak bisa direm, segera membanting stir ke kiri dan menabrakan mobilnya kepembatas jalan agar berhenti.
Brrrraaaaaakk ...
__ADS_1
Benturan antara mobil Reino dan pembatas jalan cukup kuat, bagian depan mobil hancur. Tapi syukurnya Erik dan Reino tidak terluka parah, karena airbag mobil berfungsi tepat waktu.
Sementara mobil hitam yang menabrak mereka berbalik arah dan melaju meninggalkan mobil Reino yang rusak parah.
"Tuan, tidak apa-apa?" Tanya Erik cemas.
"Tidak ... aku tidak apa-apa! Hanya sedikit sakit ditanganku saja karena terbentur sandaran jok mobil. Kau sendiri tidak apa-apa?" Tanya Reino tak kalah cemas.
"Tidak, Tuan! Saya baik-baik saja!"
"Siapa mereka ...? Kenapa sampai seperti ini ...?" Reino bingung.
"Hmmm ... saya juga tidak tahu, Tuan." Ucap Erik masih berusaha menutupi dan merahasiakan rem mobil yang blong. Hatinya semakin yakin ini ulah siapa.
Tiba-tiba ponselnya berdering, ada pesan masuk dari seseorang.
"Permainannya cukup menegangkan bukan? Bergabunglah denganku atau kau akan melihat yang lebih dari ini."
"Kau benar-benar keterlaluan kali ini! Kau benar-benar seperti iblis!" Gumam Erik dalam hati.
Reino dan Erik pun segera turun dari mobil, di luar mobil sudah banyak orang-orang yang berdatangan untuk membantu mereka.
Reino menghubungi pengawal di rumahnya untuk segera datang menjemputnya, mobil polisi juga sudah menuju ke tempat kejadian kecelakaan.
Erik memutuskan tidak ikut Reino dengan alasan akan ikut ke kantor polisi untuk memberi keterangan, akhirnya Reino kembali ke hotel seorang diri.
***
"Diana ...? Sedang apa dia disini ...? Siapa orang itu ...?" Reino menautkan kedua alisnya, merasa bingung sekaligus penasaran dengan kejadian di depan matanya itu.
"Lepaskan aku!!! Aku nggak mau masuk! Kau pasti ingin berbuat jahat kepadaku ...!" Diana memberontak, berusaha melepaskan tangannya yang di cengkeram seorang pria.
"Kita akan bicara di dalam! Ikutlah denganku!" Pria itu menarik lengan Diana dan memaksanya ikut.
"Aku nggak mau! Lepaskan ...!!!"
"Hey ... kau tidak dengar apa katanya? Lepaskan dia ...!" Reino berjalan mendekati mereka dan berteriak mengagetkan Diana dan pria itu.
"Reino ...? Rein, tolong aku ...! Aku nggak mau ikut dengan dia!" Diana semakin memberontak berusaha melepaskan diri.
"Kau dengar itu? Sekali lagi aku katakan, kepaskan dia ...!!!" Reino membentak pria itu. Bahkan beberapa pengunjung memandang ke arah mereka.
"Baiklah ... baiklah ... aku akan melepaskannya. Tapi aku pasti akan mencarimu lagi nanti!" Pria itu melepaskan cengkeraman tangannya dilengan Diana dan berbicara dengan nada mengancam. Lalu berlalu pergi dari hotel meninggalkan Reino dan Diana.
"Rein, terima kasih karena kau sudah menolongku. Aku takut sekali ...!" Diana segera berhambur memeluk Reino.
"Diana jangan begini ...!!" Reino berusaha melepaskan pelukan Diana.
__ADS_1
"Maaf, Rein." Diana melepaskan pelukannya dan tertunduk malu.
"Apa yang kau lakukan disini? Dan siapa pria tadi?" Tanya Reino penasaran.
"Aku mengenalnya dari temanku, kata temanku dia pemilik agency model. Dia ingin menawarkanku kerja sama untuk menjadi model di agencynya. Tapi dia membawaku kesini, katanya ingin membicarakan kerja sama kami, aku tahu dia ingin berbuat jahat kepadaku, makanya aku menolak ikut bersamanya." Diana menjelaskan.
"Harusnya kau lebih berhati-hati, jangan mudah percaya. Kalau begitu biar supir mengantarmu pulang!" Ucap Reino.
"Iya, Rein. Aaakkhh ..." Diana memekik kesakitan sambil memegangi kepalanya.
"Kau kenapa?" Reino memegangi pundak Diana dengan perasaan cemas.
"Entahlah, tiba-tiba kepalaku sakit sekali, Rein. Tubuhku juga mendadak lemas" Diana nyaris terduduk di lantai, untung saja Reino sigap menangkapnya.
"Kita kerumah sakit ya?"
"Tidak usah! Aku cuma ingin berbaring sebentar saja, bisakah pesankan aku kamar hotel disini?" Diana semakin lemas.
"Baiklah, ikut aku!" Reino segera menggendong Diana dan membawa gadis itu ke kamarnya.
Reino berfikir, sebentar lagi dia akan keluar dari hotel ini, jadi biar Diana yang menempati kamarnya sampai dia merasa baikan.
Setelah masuk ke dalam kamarnya, Reino membaringkan Diana di atas ranjang dan dia segera mengemas barang-barang yang akan dia ambil.
Diana meraih ponselnya dan menghubungi pelayan hotel untuk mengantarkan 2 cangkir teh dan cemilan. Sepuluh menit kemudian, seorang pria yang tak lain adalah pelayan hotel datang dan membawa pesanan Diana.
Reino segera membuka pintu kamarnya saat mendengar ada ketukan dari luar.
"Permisi Tuan, ini pesanannya." Seorang pelayan membawa dua cangkir teh diatas nampan.
"Siapa yang pesan?" Tanya Reino bingung.
"Aku ...! Aku ingin minum teh hangat, Rein." Ucap Diana.
"Oh."
Pelayan itu meletakkan pesanan Diana di atas meja, dan segera berlalu pergi sambil melirik Diana.
"Minum dulu, Rein!" Diana duduk di tepi ranjang dan menyodorkan secangkir teh kepada Reino.
"Iya." Reino segera menenggak teh itu sampai habis tak bersisa.
"Kenapa banyak barang-barangmu disini?" Tanya Diana.
"Kemarin aku menginap disini, tapi setelah ini aku akan pulang." Jawab Reino.
Tiba-tiba Reino mendekati Diana dan menjatuhkan tubuhnya di samping gadis itu.
__ADS_1
***