
Keesokan harinya, Liana tak terlihat keluar dari kamarnya, sepertinya wanita itu sedang tidak enak badan, Reino meminta Ina untuk mengantarkan sarapan Liana ke kamarnya.
Ina mengetuk pintu kamar Liana dan masuk setelah suara wanita itu terdengar mempersilahkannya.
"Selamat pagi, Nyonya. Tuan Muda meminta saya untuk mengantarkan sarapan Nyonya." Ina meletak nampan berisi semangkuk bubur dan segelas susu hangat di atas meja.
"Aku tidak berselera untuk makan! Bawa saja kembali!"
"Nyonya harus makan! Ini perintah Tuan Muda." Ina sedikit memaksa.
"Ya sudah, letak saja disitu! Nanti akan ku makan."
"Baik, Nyonya ... saya permisi!" Ina pamit dari kamar Liana, tapi langkah pelayan itu terhenti saat Liana memanggilnya.
"Hey ...Ina!"
"Iya, Nyonya." Ina berbalik mengahadap Liana.
"Apakah hantu itu memang benar-benar ada?" Liana menatap lekat wajah Ina dengan penuh rasa penasaran.
"Tentu saja ada, Nyonya! Hantu itu adalah arwah orang yang mati tragis dan penasaran, biasanya karena dibunuh atau bunuh diri. Mereka pasti gentayangan menuntut balas kepada orang-orang yang menyakitinya." Ina menjelaskan dengan raut wajah serius, Liana pun mendengarkan dengan seksama.
"Benarkah begitu?" Seketika Liana merinding mendengar pernyataan Ina.
"Benar, Nyonya! Dulu di kampung saya, ada seorang gadis mati dibunuh. Setiap malam hantunya datang untuk membalas orang-orang yang membunuhnya, sampai pembunuhnya juga mati, baru dia berhenti." Ina melanjutkan kembali cerita seramnya itu. Benar atau tidak, hanya Ina dan Tuhanlah yang tahu.
"Hantu bisa membunuh juga?" Wajah Liana sudah pucat pasi, jantungnya berdebar ketakutan.
"Bisa, Nyonya ... hantu bisa mencekik korbannya." Lagi-lagi ucapan Ina membuat Liana semakin merinding ketakutan.
"Kau jangan mempermainkanku!" Bentak Liana untuk menutupi rasa takutnya.
"Mana berani saya mempermainkan Nyonya." Ina tersenyum sedikit memaksa.
"Ya, sudah sana pergi!" Liana mengusir pelayan itu dengan sangat angkuh.
"Nyonya kenapa bertanya tentang hantu? Apa Nyonya melihat hantu? Dimana?" Ina bertanya lagi tanpa menggubris bentakan Liana yang mengusirnya.
"Kau banyak tanya! Sudah sama keluar!" Liana kembali berteriak mengusir pelayan bawelnya itu.
"Maaf, Nyonya ...saya permisi." Ina pun akhirnya melangkah meninggalkan kamar Liana.
__ADS_1
Sepeninggalan Ina dari kamarnya, Liana masih termenung memikirkan kata-kata pelayannya itu. Dia semakin merasa takut setelah mendengar cerita Ina tadi, seketika udara di dalam kamar Liana terasa dingin sehingga membuat Liana merinding.
Apa dia akan balas dendam?
Tapi bukan aku yang membunuhnya.
Aku tidak melakukannya!
Rasanya Liana sangat frustasi karena ketakutan, kata-kata Ina tadi berhasil mensugesti otaknya untuk berfikir yang aneh-aneh.
***
Reino berjalan pelan menuju ruangannya, dia berpas-pasan dengan Alvin yang hendak keluar dari ruangan Reino setelah meletakkan berkas-berkas penting. Sudah 3 hari Reino tidak masuk tanpa alasan, begitu banyak berkas-berkas yang harus dia tanda tangan.
"Selamat pagi, Tuan!" Alvin menyapa Reino sambil menundukkan kepalanya.
"Pagi" Reino hanya menjawab singkat.
"Maaf, Tuan ... apakah hari ini Venus tidak masuk lagi?" Alvin memberanikan diri untuk bertanya agar menjawab rasa penasarannya.
"Dia sudah resigne. Memangnya kenapa?" Reino menampilkan wajah dingin tak bersahabat, sepertinya dia tak senang jika Alvin bertanya tentang istrinya.
"Sudah, kembali bekerja!"
"Ba ... baik, Tuan!" Alvin berlalu dari hadapan Reino dengan perasaan lega.
Reino mendudukkan tubuhnya di atas sofa, rasanya hari ini dia malas sekali untuk bekerja. Reino seperti kehilangan semangat hidupnya karena harus berpisah dari Venus, bagaimana pun juga Venus adalah istrinya yang seharusnya dia lindungi, tapi dia telah lalai. Berbagai penyesalan hadir dibenak Reino, harusnya hari itu dia tidak meninggalkan Venus dan menemaninya, mungkin ini nggak akan terjadi.
Kenapa mereka begitu kejam?
Kenapa mereka menginginkan kematianmu?
Maafkan aku ... ini semua karena aku!
Sudut mata Reino mulai basah, dia bingung dengan semua ini. Dia benar-benar diposisi yang serba salah. Dia harus membela sekaligus melawan orang-orang yang dia sayangi.
Deringan ponselnya mengagetkan Reino dari lamunannya, dia segera meraih benda itu dan menjawab panggilan dari seseorang dan mendengarkan perkataannya dengan serius.
"Kalau begitu tetap awasi dia dan jangan macam-macam." Reino memerintah sekakigus mengancam seseorang yang menelponnya lalu mematikan panggilannya itu. Lalu beralih menelpon Erik.
"Hallo, Erik ... katakan kepada polisi untuk melakukan pemeriksaan ulang! Cek ulang darah yang ada di TKP, aku yakin disana ada darah pelakunya juga." Reino memberi titahnya.
__ADS_1
"Baik, Tuan!" Erik
"Kemana pun kau berlari, aku akan mendapatkanmu, bajing4n!" Gumam Reino dalam hati setelah mengakhiri pembicaraannya dengan Erik.
***
Malam ini suasana Kediaman Brahmansa sangat sunyi, Reino tidak pulang kerumah, dia memutuskan untuk bermalam dirumah sahabatnya agar bisa sedikit terhibur dan menghilangkan rasa galaunya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00, tapi Liana masih belum terlelap, dia masih memikirkan ucapan Ina, sudah beberapa hari ini Liana mengurung dirinya di kamar.
Tiba-tiba Liana tersentak saat dia mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar, Liana penasaran siapa yang malam-malam begini mengetuk pintu kamarnya tapi dia juga takut untuk keluar memastikannya.
Tapi ketukan itu terus berulang, membuat Liana terganggu dan akhirnya memberanikan diri untuk melangkah mendekati pintu lalu memutar handle pintunya dengan ragu-ragu, perlahan Liana membuka daun pintu itu, tapi tak ada siapapun di depan kamarnya.
Liana menghela nafas lega, dia bermaksud hendak kembali masuk tapi dia urungkan saat suara ketukan itu terdengar lagi dan kali ini berasal dari pintu kamar Venus.
Liana terpaku ketakutan di depan pintu kamarnya dan melirik kearah pintu kamar Venus, namun seketika jantungnya mencelos dan lututnya serasa lemas tak sanggup menopang badannya saat dia melihat seorang wanita berambut panjang dan bergaun putih keluar dari kamar Venus, seluruh wajahnya tertutup dengan rambut.
"Aaaaaaarrgghh ...!!!" Liana berteriak sekuatnya lalu ambruk tak sadarkan diri.
Pengawal yang mendengar teriakan Liana segera berlari menghampiri Nyonya Besarnya itu dan mengangkat tubuhnya ke atas ranjang, Diana juga tak kalah terkejut mendengar teriakan Liana langsung berlari ke kamar calon mertuanya itu.
"Ada apa?" Tanya Diana panik.
"Tidak tahu, Nona! Kamu mendengar Nyonya berteriak dan medapatinya sudah pingsan di depan pintu." Seoarang pengawal yang bernama Boy menjelaskan dengan panik.
"Coba periksa CCTV! Lihat yang terjadi!" Diana memerintah layaknya Nyonya rumah itu.
"Baik, Nona!" Boy segera berlalu dan mengerjakan perintah Diana.
Diana meraih ponsel Liana dan menghubungi Reino, dia ingin mengabari kejadian itu kepada Reino tapi ponsel pria itu tidak dapat dihubungi. Dia mencoba berulang kali, tapi tetap tak bisa.
Lalu Boy kembali dari ruangan CCTV dengan wajah cemasnya, "Maaf, Nona ...CCTV nya mati dan nggak ada rekaman apa-apa."
"Apa ...? Bagaimana bisa?"
Semua pengawal dan pelayan hanya tertunduk tak bersuara.
***
Jangan lupa vote dan likenya ya sayang akuh...
__ADS_1