Tumbal Cinta Tuan Muda

Tumbal Cinta Tuan Muda
Bab 14 (S2)


__ADS_3

Andra masih menunggu dengan gelisah di depan ruang operasi, lelaki itu tak henti-hentinya berdoa untuk sang ibu. Tiba-tiba dia dikejutkan dengan kedatangan seorang perawat.


"Maaf, apa anda keluarga ibu Mirna?" Tanya perawat itu.


"Iya, saya anaknya." Jawab Andra.


"Saya hanya ingin memberikan ini, tadi tertinggal di ruang administrasi. Kalau begitu saya permisi." Perawat itu menyodorkan sebuah kertas yang tak lain adalah kwitansi pembayaran dan berlalu pergi.


Andra menerima kertas kwitansi itu dengan bingung, dia segera membaca tulisannya dan matanya membulat sempurna saat melihat bahwa biaya operasi ibunya sudah lunas dibayar oleh Venus.


Tanpa sepengetahuan siapapun, Venus mentransfer pembayaran biaya operasi Mirna kepada pihak rumah sakit.


"Kenapa dia melakukan ini? Bagaimana aku akan menggantinya nanti?" Andra termenung.


Beberapa saat kemudian, pintu ruang operasi pun terbuka dan seorang dokter keluar, Andra segera menghampiri dokter itu.


"Bagaimana ibu saya, dok?" Tanya Andra dengan raut wajah cemas.


"Syukurlah, operasi berjalan lancar. Untung saja gadis itu dan ibunya cepat membawa pasien ke rumah sakit, sehingga kita tidak terlambat menangani pasien. Karena kalau telat sedikit saja, kita akan kehilangan dia." Dokter itu menjelaskan.


"Iya, saya bersyukur sekali, dok." Balas Andra.


"Pasien akan segera dipindahkan ke ruang pemulihan. Kalau begitu saya permisi dulu." Dokter itu beralalu pergi.


Lagi-lagi Andra merasa berhutang budi kepada Vie dan keluarganya, dia mendadak merasa tak enak hati karena telah bersikap kasar kepada gadis itu. Tapi hatinya juga merasa bingung, bagaimana harus membayar semua ini?


***


Hari sudah mulai gelap, Andra masih menunggu Mirna sadar dari pengaruh obat bius, bahkan lelaki tampan itu sampai tertidur sambil memegangai tangan ibunya.


Mirna mulai tersadar, dia membuka matanya dengan pelan dan berusaha menggerakkan tangannya yang digenggam oleh Andra.


Andrapun terbangun saat menyadari sang ibu telah sadar.


"Ibu ...? Alhamdulillah ibu sudah sadar." Andra merasa senang dan bersyukur.


"Anakku." Mirna berusaha menyentuh wajah putranya itu.


"Iya, bu."


"Ibu fikir ibu tak bisa melihatmu lagi." Ucap Mirna dengan suara yang lemah.


"Ibu jangan bicara seperti itu! Ibu pasti baik-baik saja!" Andra memeluk Mirna.


"Nak ..."

__ADS_1


"Ada apa, bu?" Andra melepaskan pelukannya dan memandang lekat wajah pucat Mirna.


"Dimana dia dan ibunya?" Tanya Mirna sambil melirik ke arah pintu ruangan perawatannya.


Andra yang mengerti siapa yang Mirna maksud pun tersadar bahwa sejak dari ruang UGD tadi, dia tak melihat Vie lagi.


"Hmmm ... mungkin mereka sudah pulang, bu. Karena sejak ibu dioperasi tadi, aku tidak melihat mereka." Andra berbicara apa adanya.


"Ibu belum berterima kasih kepadanya." Mirna berbicara dengan pelan dan sedikit sesak.


"Sudahlah, bu. Besok aku akan menemuinya. Sekarang ibu istirahat ya, ibukan masih belum pulih."


Andra kembali termenung, ada sedikit penyesalan dihatinya karena sudah bersikap tidak baik kepada Vie.


"Apa dia marah karena aku terlalu kasar kepadanya? Tapi aku sendiri tak mengerti, mengapa susah sekali untuk bersikap manis di hadapannya? Aku merasa egois, aku tetap marah kepadanya meskipun dia sudah meminta maaf." Gumam Andra di dalam hati. Dia bingung sendiri dengan sikapnya.


"Nak, kenapa melamun?" Tanya Mirna yang sedari tadi memperhatikan putranya itu.


"Hmm ... anu ... tidak ada apa-apa, bu." Andra yang tersentak kaget pun menjadi gugup, dia berusaha mengulas senyum dibibirnya.


"Jadi bagaimana biaya operasi ibu?" Mirna bertanya lagi dengan raut wajah cemas.


"Ibu tenang saja, tidak usah difikirkan. Aku akan atasi semuanya. Yang terpenting ibu harus semangat untuk sembuh." Andra berusaha menenangkan sang ibu.


"Ssstt ... sudah! Ibu jangan bicara lagi! Nanti semakin sesak, sekarang ibu istirahat ya." Pinta Andra sambil menggenggam dan mencium tangan Mirna.


***


Reino, Venus dan Vie sedang makan malam bersama. Disela-sela kegiatan makan Venus membuka cerita tentang aksi sang putri hari ini.


"Sayang, kau pasti bangga dengan apa yang dilakukan putrimu hari ini." Ucap Venus dengan senyum mengembang.


"Memangnya apa yang dia lakukan sehingga aku bangga? Bukankah selama ini dia hanya melakukan hal-hal yang menyebalkan?" Reino meledek Vie yang pura-pura tidak mendengar ocehan sang papa. Gadis itu malas menanggapi obrolan kedua orang tuanya.


"Hari ini untuk pertama kalinya putrimu perduli dengan orang lain. Dia menolong dan membawa seorang ibu yang terkena serangan jantung ke rumah sakit." Venus menceritakan aksi putrinya dengan bangga. Tanpa dia ketahui jika sebelumnya Vie juga sudah pernah menolong Mirna.


"Wah ... kesambet apa dia sampai bisa seperti itu?" Reino semakin mengejek Vie. Tapi yang di ejek masih dalam mode santuy dan pura-pura cuek.


"Kau ini!" Venus melotot.


"Iya ... iya." Reino melengos.


"Dan kau tahu siapa ibu itu?"


"Siapa?" Reino memandang Venus penuh tanya.

__ADS_1


"Dia ibu dari mantan guru BP Vie waktu itu." Lanjut Venus.


"Apaaa ...?" Reino terkejut.


"Iya, kebetulan sekali kan? Dan aku baru tahu jika mantan gurunya itu masih mudah dan tampan." Venus berbicara dengan antusias. Mendadak wajah Reino masam karena sang istri memuji pria lain.


"Uhuk ... uhuk ... uhuk." Vie yang sedang makanpun sampai terbatuk-batuk mendengar Venus memuji mantan gurunya itu.


"Pelan-pelan dong, sayang. Ini minum!" Venus segera menyodorkan air minum ke hadapan putrinya itu.


"Dan tadi tanpa sepengetahuannya, aku juga sudah melunasi biaya operasi ibunya." Lanjut Venus lagi. Dia tak ingin merahasiakan itu dari suami dan juga putrinya.


"Jadi mama sudah melunasinya? Kenapa tidak katakan kepadaku?" Vie tersentak kaget dengan bola mata yang nyaris keluar.


"Inikan mama sudah katakan!"


"Iya, maksudku kenapa bukan dari tadi, ma?" Vie berbicara dengan wajah malas.


"Hehehe ... mama lupa!" Jawab Venus seadanya. "Sayang, kenapa kau tidak makan?" Tanya Venus, dia bingung melihat sang suami yang hanya mengaduk-aduk makanannya dengan wajah masam.


"Aku tidak berselera untuk makan saat mendengar istriku memuji pria lain. Bahkan kau berbaik hati melunasi biaya operasi ibunya. Aku curiga jangan-jangan kau tertarik dengan dia." Reino merajuk dan menuduh Venus seenaknya.


"Hey ... bicara apa kau ini? Aku memuji dan membantunya bukan karena aku tertarik dengannya! Aku ini sudah tua dan dia itu lebih pantas menjadi menantuku!" Venus mengomel sambil berkancak pinggang.


"Uhuk ... uhuk ... uhuk." Sekali lagi Vie yang sedang makanpun kembali tersedak mendengar kata-kata Venus. Dia buru-buru meraih gelas di hadapannya dan menenggak isinya sampai habis.


"Pelan-pelan dong, sayang! Kenapa kau jadi hobi sekali tersedak sih?" Venus menepuk-nepuk pelan pundak Vie.


"Aku sudah selesai. Aku ke kamar dulu." Vie beranjak dan segera berlalu dari meja makan.


"Ini semua karena kau! Lihat, putri kita sampai tidak berselera untuk makan." Venus menatapa tajam ke arah Reino.


"Akukan hanya cemburu! Habis kau memuji pria lain di hadapanku dan juga membantunya."


"Ya ... ampun, Reino!!! Walaupun aku memuji seribu lelaki, tapi cintaku tetap untukmu seorang! Jadi buanglah fikiran kotormu itu!" Venus tak habis fikir dengan suaminya itu.


"Aku minta maaf! Jangan marah ya sayang." Reino berbicara dengan memasang wajah imut. Venus hanya menghela nafas melihat tingkah sang suami.


Sementara itu di dalam kamarnya Vie sedang melamun, dia sedang menerka-nerka apa yang ada difikiran Andra jika tahu mamanya sudah melunasi biaya operasi bu Mirna. Vie takut Andra salah paham dan berfikir jika Vie dan keluarganya mengasihani mereka.


***


Guys ... maaf ya kalau author hanya bisa up 1 episode sehari. Author lagi banyak kerjaan, jadi lagi sibuk banget. Tapi author akan tetap usahakan up walau cuma sedikit.


Mohon pengertiannya ya guys ...🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2